
Selama perjalanan, Vinda hanya diam dan tidak berani melirik pria yang ada didekatnya. Dia terlalu takut untuk mengetahui apa yang saat ini tengah berada di otak kejamnya. Bahkan dia masih ingat dengan apa yang Michael katakan mengenai Rensi.
Apa dia mengenal Rensi? Vinda kembali melirik ke arah Michael dengan ribuan pertanyaan, tetapi tidak pernah terucapkan. Mengenai Rensi dan tentang semua yang dilakukan Michael kepadanya. Dia tidak mengenal siapa pria yang saat ini berada di sebelahnya, tetapi seperti ada kebencian yang terpancar setiap mata bening tersebut menatapnya.
“Ngapain lihatin terus-menerus?” tanya Michael dingin dan langsung menatap Vinda.
Vinda hanya diam dan terpaku ketika mata mereka bertatapan. Seperti terhipnotis, dia hanya diam dan merasa mengingat masa lalu kelam yang pernah dideritanya. Mata pria yang terasa sama dengan anak kecil yang dulu pernah ada dalam kehidupannya. Namun, sebuah deheman membuat mereka mengalihkan pandangan dan membuang wajah menatap luar jendela.
Roy yang sejak tadi menyetir hanya tersenyum kecil melihat keduanya. “Nona, apa sebaiknya anda makan dahulu. Sejak tadi anda belum makan,” ucap Roy tanpa senyum.
Vinda yang mendengar langsung menatap Roy dan menggeleng. Dia tidak ingin berlama-lama di suatu tempat bersama dengan Michael, pria gila yang entah sejak kapan selalu membuat masalah dengannya.
“Gak perlu, Pak. Saya sudah kenyang,” ucapnya sembari melirik Michael yang langsung menatapnya datar.
Sebenarnya Vinda benar-benar kesal karena Michael selalu membuatnya sengasara. Namun, dia bisa apa? Dia bahkan bersekolah dengan hasil kerja kerasnya selama ini. Jadi, yang bisa dilakukan hanya diam selagi tidak merugikannya.
Vinda menatap Michael yang duduk tegap disebelahnya. Pikirannya masih berkutat dengan apa yang baru didengarnya sebelum pingsan. Semua karena dia tidak bisa membahagiakan Rensi? Matanya menatap kembali Michael yang ada didekatnya. Menimang apa dia akan mengatakan atau hanya diam.
Tetapi aku tidak bisa mati penasaran, batin Vinda berkecambuk. Michael melirik Vinda yang masih berfikir, tetapi dia tidak tau apa yang ada di dalam benak gadis mungil tersebut. Awalnya dia mengabaikan, tetapi lirikan Vinda beberapa kali membuatnya menghela nafas panjang dan menatap tajam.
“Kamu itu kenapa? Ada yang mau ditanyakan?” tanya Michael dengan nada datar dan wajah yang masih terlihat dingin.
Vinda yang ditanya awalnya tersentak kaget. Jantungnya berdetak kencang karena terkejut. Tangannya mengusap dadanya pelan, membuat nafasnya kembali normal dan menatap tidak suka kepada Michael yang masih menatapnya.
“Bisa gak sih kalau gak ngagetin?” protes Vinda dengan wajah yang sudah benar-benar bad mood.
__ADS_1
“Kamu tidak berhak mengatur siapapun. Lagi pula mobilku bukan tempat untuk melamun dan mencari inspirasi,” ucap Michael dengan mata yang sudah tidak lagi menatapnya.
Vinda hanya diam dan menghela nafas panjang. Mencibir Michael yang masih bersikap arogan dan juga menunjukan ketegasan yang tidak dapat dibantah. Dengan susah payah, dia menelan salivanya dan menatap Michael memantapkan pilihannya.
“Aku mau bertanya sesuatu.” Akhinrya Vinda mengatakan apa yang sejak tadi berkeliling dalam benaknya.
“Katakan,” jawab Michael tanpa menoleh.
“Kenapa kamu melakukan semuanya? Maksudnya, kamu mengeluarkan aku dari Universitas, mencabut beasiswa dan aku yakin, tentang pekerjaanku juga semua ulahmu. Kenapa? Bahkan aku tidak mengenalmu sama sekali.” Vinda menatap tidak percaya kepada Michael. Dia tidak mengenal pria dihadapannya yang terasa tidak asing. Semua kesialannya terjadi dalam sehari dan sumber masalah hanya satu, Michael.
Michael menatap Vinda semakin dingin. “Itu karena kamu tidak pernah melakukan hal baik untuk malaikat ku.”
“Hah?” Vinda mengerutkan kening heran. Malaikatnya? Siapa? Apa yang dimaksud adalah Rensi? Namun, memangnya dia siapa?
“Kamu sudah membuat Rensi menderita sejak dahulu, bahkan sampai sekarang. Kamu tidak pernah melakukan hal baik yang bisa membuatnya bahagia. Cukup penderitaannya selama ini dan aku akan melakukan apapun agar dia bahagia. Termasuk membalas semua yang menyakitinya,” ucap Michael dengan nada ditekan dan mata menatap tajam.
Vinda menatap Michael dengan tatapan pilu. Dia merasa iri dengan apa yang terjadi kepada Rensi. Sekarang, bahkan ada orang yang terkesan gila, tetapi sangat mencintainya. Betapa beruntungnya dia karena ada yang akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya. Takdir mereka memang berbeda. Vinda hanya seorang gadis yatim piatu yang bahkan tidak tau dimana orangtuanya.
Vinda tersenyum kecil dan mengalihkan pandangan. Helaan nafas terdengar sesak. Dia hanya berusaha menghilangkan beban berat yang tiba-tiba muncul dihadapannya. Matanya kembali menatap Michael ketikka dia sudah merasa baikan.
“Jadi kamu begitu mencintai Rensi?” tanya Vinda dan langsung diangguki oleh Michael, “senangnya ada yang mencintai dia dengan tulus.”
Michael yang mendengar menatap Vinda, tetapi dengan tatapan berbeda. Tidak ada lagi kesan membunuh dan permusuhan yang sejak tadi menguar. Dia merasa ada pilu yang dirasakan ketika dia mendengar ucapan Vinda. anehnya, dia seperti merasakan luka tersebut.
“Bagaimana kalau aku bantu kamu dekat sama Rensi?” tawar Vinda dengan semangat, “tetapi ada syaratnya. Tolong kembalikan pekerjaanku. Aku akan kesulitan jika kehilangan pekerjaan.”
__ADS_1
Michael menatap Vinda dan tersenyum meremehkan. “Aku tidak butuh bantuanmu.”
“Yakin?” tanya Vinda mencoba menggoyahkan pertahanan Michael. Dia harus kembali mendapatkan pekerjaannya.
“Sangat yakin,” jelas Michael dengan nada yang tidak bisa diganggu gugat.
Vinda akhirnya diam dan berdecih kesal. Dia bahkan tanpa sadar tidak merasa takut berada di dekat Michae. Malah rasanya nyaman dan menenangkan. Takutnya menguap setelah dia berbicara dengan pria disebelahnya.
Vinda melirik Michael yang hanya diam dan menatapnya mengejek. Dia harus mendapatkan pekerjaan lagi karena dia benar-benar membutuhkan uang tersebut. Dia cukup sadar diri yang tidak akan menyusahkan ayahnya yang sudah sejak bayi merawat dan menyayanginya.
“Ael,” panggil Vinda sembari menatap Michael memelas, “ayolah. Aku butuh pekerjaan.”
Michael menatap tak acuh. “Kalau butuh kerja cari saja. Masih banyak di luar sana.”
“Mana bisa? Aku bahkan tidak memiliki waktu untuk mencarinya,” tegas Vinda kesal karena permintaannya tidak didengarkan.
“Aku tidak peduli dengan hal tersebut.”
“Tapi…”
“Nona, sudah sampai,” potong Roy sembari menatap Vinda dari balik kaca spion.
Vinda yang mendengar hanya menghela nafas panjang dan langsung turun. Dia tidak mengatakan terima kasih atau bahkan menyuruhnya mampir. Masih merasa kesal karena Michael tidak membantunya. Akhirnya, dia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan membiarkan mobil tersebut pergi dari hadapannya.
“Manusia menyebalkan,” gerutu Vinda yang langsung melangkah masuk.
__ADS_1
*****