
“Bisa pelankan suaramu dan jangan membentaknya? Atau kamu akan menerima hukuman atas kelancanganmu kepada Rensi?”
Michael menatap Dave yang saat ini berada di hadapannya dengan tatapan membunuh. Sedangkan orang yang sejak tadi menjadi masalah tengah meringkuk di belakang sang pria dengan wajah menahan takut. Siapa lagi kalau bukan Vinda. Gadis tersebut menatap Michael yang memandangnya dengan tatapan yang tak kalah menakutkan.
Adelardo yang melihat hanya diam menyaksikan drama mengerikan yang pernah dilihatnya. Dia menyaksikan bagaimana seorang ‘malaikat’ yang dikatakan anaknya baik tengah menghajar gadis lemah yang hanya meringkuk diam. Berbeda dengan sang istri yang sudah mati-matian menahan emosi ketika melihat Vinda memiliki beberapa memar di bibir dan keningnya.
Anastasya memandang Rensi dengan harapan apa yang dilihatnya hanya sebuah kebetulan semata. Belum lagi anaknya yang mencintai gadis tersebut dengan sangat. Apa dia akan sadar bahwa Rensi tidak akan baik untuknya? Rasa takutnya mulai menjalar menyadari bahwa Rensi tidak akan bisa mengendalikan emosi dan tingkah anaknya. Mereka memiliki kepribadian yang sama. Kejam.
“Siapa kamu? Aku tidak ada urusan denganmu,” desis Dave tidak suka dengan tatapan Michael. Dia tau siapa pria yang ada di belakang Michael. Adelardo. Dia tau dan sangat tau.
“Apa aku perlu memperkenalkan diri agar kamu tau siapa aku?” tanya Michael dengan nada angkuh dan tersenyum dengan bibir menyungging, “dan aku tidak mau kamu membentak wanita ku.”
Wanita ku. Rensi yang mendengar langsung membelalak kaget. Apa yang dikatakan pria di hadapannya ini? Dia bahkan enggan berdekatan dengan Michael meski dia tau wajahnya begitu tampan dan digilai. Namun, dibalik wajah tampan tersebut, ada hal lain yang disembunyikan. Michael tidak akan segan menyingkirkan lawan meski harus menyakiti. Rensi bergidik ngeri jia harus bersama dengan Michael.
Dave menatap Rensi yang hanya diam dan tertawa kecil. “Jadi ini pria yang sebenarnya kamu cintai? Konyol. Kamu mempermainkan ku, Rensi,” ucapnya dengan nada tegas.
Rensi yang mendengar langsung menggeleng. Dia tidak ingin bersama dengan Michael bahkan dalam mimpinya. Dia tidak ingin dipenggal jika melakukan sedikit saja kesalahan.
“Oke. Kita berakhir,” ucap Dave tanpa pikir panjang karena dia memang muak melihat Rensi yang ternyata tidak sebaik yang dipikirkan.
“No,” sahut Rensi cepat dan mencekal tangan Dave yang hendak pergi, kepalanya menggeleng pelan sebagai tanda dia tidak setuju dengan keputusan tersebut.
Dave hendak melepaskan genggaman Rensi, tetapi gerakannya sudah didahului Michael. Pria tersebut langsung menyentak tangan ke duanya dan menatap geram ke arah Dave. Dia tidak mau wanitanya disentuh siapa pun.
“Aku mau kamu meninggalkan Rensi saat ini juga. Karena setelah ini aku akan menikahinya,” ucap Michael tanpa rasa bersalah.
Vinda yang mendengar langsung membelalak kaget dan menatap tidak percaya. Apa Michael sudah gila? Dia bahkan tidak memperkenalkan diri kepada Rensi terlebih dahulu. Belum lagi, perkataannya diucapkan tepat di hadapan Dave, kekasih resmi Rensi.
__ADS_1
“Apa?” teriak Rensi dengan mata membulat sempurna. Dia tidak terima dengan apa yang dikatakan Michael saat ini. Bahkan saat pendapatnya juga tidak diperhitungkan. “Aku bahkan tidak mengenalmu dan kamu bilang akan menikahi ku?” Rensi tertawa pelan dan menatap Michael tidak percaya.
“Iya dan aku tidak membutuhkan pendapatmu. Aku, Michael Aditama memilihmu menjadi pendampingku.” Michael menatap Rensi dengan wajah tegas dan tidak mau dibantah. Bahkan dalam setiap ucapannya tidak mengandung keraguan sama sekali.
“Diterima.”
_____
“Diterima.”
Nani yang baru keluar melihat keluarga Michael dengan wajah berseri. Dia awalnya ingin keluar dan memarahi siapa pun yang menggangu tidurnya. Namun, saat dia melihat segerombolan orang berjas berdiri di depan rumah dan membuat keributan, dia mulai penasaran. Rasa penasarannya membuncah ketika dia melihat seseorang yang sudah wara-wiri di berita dan media lainnya. Adelardo Aditama. Hatinya semakin membuncah ketkka Michael mengartakan akan menikahi anaknya. Dia benar-benar merasa beruntung dibuatnya.
“Rensi pasti akan menerimanya, Nak Michael,” lanjutnya dengan suara manis dan langsung mendekap tubuh Rensi dari samping, *** agar anaknya diam dan menurut.
Rensi memandang Nani dengan tatapan tidak mengerti karena saat dia ingin berontak, beberapa kali mendapatkan cubitan yang mendandakan harus segera diam.
“Baik. Kami menurut kepada anda saya,” jawab Nani dengan senang hati. Dia tidak menyangka bahwa pesona anaknya bisa memikat seorang Michael Aditama, seorang pengusaha sukses dari keluarga konglomerat.
Adelardo hanya diam memperhatikan. Dia sengaja membiarkan anaknya mengatakan apa yang ingin dikatakan. Selagi tidak ada kekerasan dan baku hantam, dia akan diam dan tidak mencegah. Berbeda dengan Anastasya yang sejak tadi menahan amarah ingin menggagalkan rencana anaknya. Melihat Rensi di butiknya saja sudah membuat dia yakin, bahwa Rensi tidak akan pernah menjadi apa yang diharapkannya. Bertingkah seenaknya dan melakukan kekerasan tanpa rasa bersalah. Benar-benar membuatnya muak.
Jika bukan karena suami ku yang memaksa datang, aku benar-benar akan memilih duduk di rumah dengan televisi menyala. Anastasya menatap Vinda yang menunduk dan merasa kasihan karena dia yakin, Vinda mengalami tindak kekerasan di dalam rumah tersebut.
“Kalau begitu, silahkan masuk terlebih dahulu,” ucap Nani yang langsung mempersilahkan masuk. Matanya menatap Vinda dan memberikan kode agar Vinda segera menyiapkan makanan untuk disajikan.
_____
Vinda menghela napas panjang dan mendudukan di kursi kayu dekat kolam renang. Setelah memberikan suguhan dan berbagai macam cemilan, Vinda harus memasak untuk makan malam. Dia mengerjakan semuanya sendiri sampai rasanya dia lupa, bahwa sejak siang perutnya juga belum terisi. Namun, Vinda juga sadar bahwa dia tidak bisa makan bersama dengan semuanya. Dia harus menunggu semua selesai dan barulah itu saatnya diizinkan untuk mengisi perutnya.
__ADS_1
Vinda menatap bintang yang bertebaran di langtit malam ini. Indah dan rasanya begitu menenangkan. Dia memilih untuk keluar dan tidak mendengarkan apa yang tengah dibicarakan oleh semua orang di ruang tamu. Kali ini dia benar-benar ingin diam dan memejamkan mata karena tubuhnya terasa lelah.
“Ternyata benar kamu di sini.”
Sebuah suara membuat mata Vinda kembali terbuka. Tampak Dave berjalan ke arahnya dengan kotak putih yang digenggam erat. Vinda langsung menegakan tubuhnya dan mengawasi sekitar. Takut-takut kalau Rensi melihat mereka berdua karena dia tau, bagaimana pun mereka saling mencintai.
“Kamu ngapain ke sini?” tanya Vinda dengan wajah cemas.
“Tenanglah, Rensi sedang ada di ruang tamu. Aku cuma mau kasih ini buat kamu,” ucap Dave sembari mengulurkan tangan dan memberikan kotak tersebut, “obati lukamu.”
Vinda menyentuh luka-luka di tubuhnya dan tersenyum. “Aku sampai lupa.” Vinda langsung menerimanya.
Dave hanya menggeleng tidak percaya. Gadis dihadapannya terluka dan dia sendiri tidak sadar? Bahkan membiarkan lukanya mengering dengan sendirinya. “Kamu itu unik, ya?” celetuk Dave dan membuat Vinda tersenyum pelan.
“Memangnya aku apa? Ada-ada aja.”
“Ya unik aja. Kamu kerja di rumah ini dan dihina seperti itu, tapi kamu cuma diam? Kamu gak ada niat pindah?” tanya Dave sembari menatap Vinda lekat.
Vinda diam dan tersenyum kecil. Matanya menatap Dave yang masih memandangnya. “Tidak ada alasan untuk aku pindah ke rumah orangtuaku sendiri.”
“Hah? Apa?” Dave melongo tidak percaya, “jadi kalian bersaudara?”
Vinda hanya mengangguk dan melihat Dave menepuk keningnya pelan. Dia hanya melihat pria di dekatnya yang terus-terusan mengomel tentang sikap Rensi. Sedangkan dia hanya sibuk membesihkan luka dan sesekali Dave membantunya. Kedekatan mereka berdua juga tidak luput dari pandangan seseorang di belakang mereka.
“Aku harap kamu akan terus bahagia, Vinda,” ucap Anastasya yang saat itu melihat mereka berdua tengah tertawa. Niatnya untuk mendatangi Vinda diurungkan dan dia langsung kembali ke ruang tamu, mengikuti apa saja yang akan dipersiapkan untuk pernikahan anaknya nanti.
_____
__ADS_1