
Rika menatap Randy dengan air mata yang terus mengalir. Ingatannya kembali berputar di saat Randy dengan tanpa perasaan mengambil harta berharga yang selalu dijaganya selama ini. Hancur. Perih. Dia bahkan menyesali perbuatannya karena sudah peduli dengan pria tersebut. Jika saja dia mengabaikan keberadaan Randy di klub malam depan kontrakannya, dia tidak akan berakhir di apartemen pria tersebut dan mengalami kejadian yang benar-benar tidak diharapkan.
Rika mulai memungut pakaiannya yang sudah bercecer kemana-mana dan mulai mengenakannya. Menahan rasa nyeri yang menyerang. Helaan napas frustasi terdengar dari arahnya dan kembali menatap Randy yang sudah terlelap tanpa beban, bahkan senyumnya terukir di bibir.
Rika mengambil selimut yang sudah tergeletak di dekat Randy saat ini berbaring dan meyelimuti pria tersebut. Meski dia begitu membenci semua perbuatan Randy malam ini, tetapi hatinya masih merasa manusiawi dan tidak tega membiarkan Randy kedinginan.
Rika baru akan menarik tangannya ketika sebuah genggaman membuatnya menghentikan gerakannya. Matanya menatap Randy yang masih memejamkan mata.
“Rika, jangan tinggalkan aku,” gumam Randy masih dengan mata memejam.
Mendengarnya membuat Rika benar-benar terenyuh. Perlahan, dia mulai melepaskan genggaman tangan Randy da meletakannya pelan. “Aku harus pergi, Randy. Aku harus mulai melupakanmu. Tentang malam ini, anggap semua hanya mimpi karena aku juga tidak ingin mengingatnya.”
Randy hanya diam tidak menjawab dan terlelap dalam mimpi indahnya. Rika yang melihat semakin teriris. Malam pertamanya telah direnggut dengan pria yang bukanlah suaminya, telebih dalam kondisi yang tidak sadar.
Rika mengecup pelan kening Randy dan kembali menjauhkan tubuhnya. “Mulai besok, hiduplah dengan baik, Randy. Aku akan melupakanmu dan memulai kehidupan baru. Hiduplah berbahagia dengan Alice dan aku akan mendoakan kebahagiaan kalian berdua.”
Rika menatap sekilas dan mulai bangkit. Dia membuka pintu apartemen Randy dengan nyeri yang masih menyerang. Sekuat mungkin dia harus menahannya. Berlari dan menjauh secepatnya adalah pilihan terakhirnya kali ini.
Rika menutup kembali pintu apartemen. Air matanya masih mengalir meski tidak sederas tadi. Setelah sampai di luar, dia mendongak dan menatap nanar langit yang mulai mendung. Semilir angin menerpa tubuh ringkihnya yang terlalu lama menderita.
“Tuhan, kuatkan aku,” batin Rika sembari menyusuri jalanan yang tampak begitu sepi. Dia mengabaikan hawa dingn yang semakin menyerang. Dia yakin, di ruah Bara sudah menunggu kabarnya. Dia sudah terlalu lama pergi, padahal niat awalnya hanya untuk membeli barang di supermarket.
“Aduh,” pekik Rika ketika bagian bawahnya terasa begitu sakit. Langkahnya terhenti dan Rika mendongakan kepala, menatap langit pekat guna menghilangkan rasa sakit yang semakin bertambah.
“Aduh, gimana pulangnya kalau gini?” gumam Rika sembari duduk di trotoar jalanan. Kepalanya menoleh kesana-sini untuk mencari pertolongan. Namun, jalanan tampak begitu sepi dan membuatnya kembali mendesah frustasi. Meski sulit, Rika tetap memaksakan untuk tetap berdiri. Dalam hati dia benar-benar merutuki kebodohan Randy yang bersikap kasar.
“Ada yang bisa saya bantu?”
_____
Dave baru keluar dari rumah sakit menjenguk mamanya saat jam menunjukan pukul satu dini hari. Dia harus menunggu mamanya yang tengah menjalani masa kritis. Namun, dia harus kembali karena di rumah ada Sam yang menunggunya. Namun, baru seperempat jalan, matanya melihat seorang gadis tengah terduduk di pinggir jalan. Tanpa rasa ragu, dia segera menepikan mobil dan keluar. Matanya menangkap gerakan menyakitkan yang dirasakan gadis tersebut.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Dave yang sudah berada di belakang gadis tersebut.
Rika yang saat itu tengah menekan perutnya langsung menatap ke sumber suara dengan bibir yang menahan sakit dan tidak menjawab apa pun. Dia hanya tersenyum canggung dan menatap Dave dengan tatapan meneliti. Apa dia orang baik?, pikirnya dalam hati.
Dave yang tahu apa yang tengah dipikirkan Rika langsung berkata, “tenang, saya orang baik. Saya gak akan macam-macam sama kamu. Jadi, mau pulang bareng?” tawar Dave dengan nada ramah.
Rika menatap risau. Dia sebenarnya ragu, tetapi menyadari rasa sakit yang dirasakan, akhirnya dia memilih untuk mengiyakan ajakan Dave. Dia tahu ini salah karena bahkan dia tidak mengenal siapa yang saat ini berada di depannya. Namun, dia juga enggan jika harus tertidur di jalanan sepanjang malam.
Dave yang melihat Rika menerima ajakannya langsung tersenyum dan dengan antusias. Dia membuatnya untuk masuk. Setelah di rasa sudah aman, Dave segera masuk dan menjalankan mobil.
“Siapa nama kamu?” tanya Dave masih fokus dengan jalanan.
“Rika,” jawab Rika pelan. Dia menempelkan punggungnya dan mencari tempat ternyaman untuknya.
“Aku Dave,” sahut Dava dengan tangan yang masih mengemudikan setir, “jadi, kenapa kamu malam-malam ada di luar?”
Rika menunduk dan tersenyum. “Hanya menemui seorang teman,” ucapnya lirih.
“Terus, kenapa kamu pulang sendiri? Padahal aku melihat kamu sedang sakit,” celetuk Dave dengan mata yang menatap Rika bingung. Apa benar yang dikatakan gadis di dekatnya? Tetapi dia mengabaikan rasa penasaran tersebut karena memang itu bukan urusannya.
“Dia masih ada urusan lain tadi,” jawab Rika berbohong.
Dave hanya mengangguk dan kembali fokus. Setelah menanyakan alamat, dia segera menancapkan gas dan menuju ke alamat yang dituju. Tidak lama kemudian dia sudah sampai.
__ADS_1
“Sudah sam....” ucapan Dave terpotong. Matanya menatap Rika yang sudah terlelap di dalam mobil.
“Udah tidur malahan,” kata Dave dan langsung melepaskan sabuk pengaman. Dia keluar dan mengitari mobil, menuju pintu Rika. Dengan cekatakan dia membukanya dan menggendong Rika, tidak berniat membangunkan gadis yang tengah tertidur dengan nyenyak.
Dava sendiri tidak tahu di mana rumah gadis tersebut. Namun, ketika dia baru saja membawa Rika keluar, sebuah panggilan membuatnya membalik tubuh dan menatap bingung. Matanya menangkap sosok tinggi dengan badan kurus berlari ke arahnya.
“Rika,” panggilnya dengan wajah khawatir.
“Kamu siapa?” tanya Dave curiga. Dia takut jika pria di hadapannya adalah orang jahat.
“Aku adiknya,” jawab Bara dengan napas tersengal. Sudah beberapa jam dia mencari kakaknya an malah mendapatinya pulang bersama dengan pria asing dalam keadaan tidak sadar. “Apa yang kamu lakukan kepada kakakku?” tanya Bara dengan pandangan menyelidik.
Dava yang tahu maksud ucapan Bara langsung tersenyum. “Aku menemukannya dipinggi jalan dan menawarinya untuk pulang bersama. Dia hanya tidur, bukannya pingsan,” jelas Dave dengan senyum sumringah.
Bara hanya mengangguk paham. Setelahnya, dia langsung mengambil alih tubuh kakaknya dan mengucapkan terima kasih. Dia membawa Rika kembali ke rumah dan akan membangunkannya ketika hari sudah mulai terang kembali. Dave yang melihat hanya tersenyum dan kembali melanjutkan perjalanan.
_____
Matahari sudah mulai bersinar ketika Randy membuka mata. Tubuhnya terasa lelah dan kepalanya mulai berdenyut pusing. Matanya menatap nanar ruangan yang sudah sangat dikenalinya. Dia mendesah menahan rasa sakit yang menyerang. Semalam, dia tanpa sadar melakukan hal bodoh yang membuat kesadarannya berada diambang batas. Membutnya merasakan mimpi yang tidak akan pernah terjadi kepadanya.
Randy bangkit dan hendak ke kamar mandi, tetapi langsung terhenti ketika matanya menatap selimut yang membungkus tubuhnya. Dengan cepat tangannya menyingkirkan selimut tebal yang membuat semakin tercengang. Dia menatap tubuhnya yang tanpa sehelai benang dengan senjata yang berlumur cairan bening mengering.
“Apa ini?” tanyanya dengan wajah mulai panik. Dia baru akan melangkah, tetapi dihentikan ketika matanya menatap noda merah di sofa ruang tamunya. Seketika, Randy langsung diam membeku.
“Sialan. Apa itu bukan mimpi? Lalu Rika?” ucapnya dengan jantung yang berdebar begitu keras.
Radny mengabaikan tubuhnya dan segera mencari ponsel yang diletakan di kantung celana. Dengan segera dia membuka salah satu aplikasi yang menyambungkan CCTV di ruang tamu dengan ponselnya. Jemarinya langsung menekannya dan mencari di tanggal kejadian. Dia merasa tidak sabar dan segera mempercepat putaran vidio. Tangannya berhenti tepat ketika dia melihat Rika yang mengurusnya, tetapi sayangnya dia melakukan hal yang membuat gadis tersebut malah menangis dan meronta.
“Sialan!” bentak Randy merasa begitu bersalah.
Randy langsung bngkit dan mengenakan pakaian dengan bau alkohol menyengat. Dia segera keluar dan mencari mobilnya. Perasaannya sudah tidak karuan, terlebih darah di sofa ruang tamu membuat Randy kembali berpikir. Apa benar selama ini Rika bekerja sebagai wanita malam atau dia menyembunyikan kebenarannya? Menyadari hal demikian membuat Randy merasa frutasi.
_____
Sebuah papan yang sudah terpampang di depan rumah megah yang dulu sering dihampirinya. Namun, setelah rasa sakit yang dirasakan karena penghianatan Rika, dia sudah tidak pernah datang dan bahkan hanya sekedar melihat.
“Sejak kapan ini di sita?” tanya Randy dengan mata menajam dan jantung yang semaikin berpacu.
“Nyari siapa, Nak?” tanya seseorang dengan pakaian rapi khas orang berusia enam puluhan. Rambut hitamnya sudah bercampur dengan warna putih di beberapa bagian.
“Saya mencari Rika, Nek,” jawab Randy dengan tatapan memohon.
“Loh, adik siapanya? Rika sudah pergi dari rumah ini lama banget. Tiga tahun lalu orang tuanya pergi dari rumah dan meninggalkannya bersama dengan Bara, adiknya. Lalu tidak lama kemudian rumah ini disita dan mereka berdua pergi. Saya juga gak tau perginya ke mana,” jelas wanita tersebut dan langsung pergi.
Randy yang mendengar hal demikian langsung merasakan hatinya bergemuruh. Ada apa ini? Apa memang selama ini dia salah? Terus kenapa Rika hanya diam dan menerima semua ucapannya? Seharusnya dia menjelaskan semua sejak awal. Rasanya kini Randy merasa menjadi orang paling jahat yang Tuhan ciptakan.
Randy mengusap wajahnya gusar dan segera kembali memasuki mobil. Dia hendak memutar mobilnya, tetapi suara panggilan membuatnya menghentikan gerakannya. Matanya menatap layar ponsel dan menampilkan nama ‘Alice’. Tangannya langsung meraih ponsel dan mengangkat panggilan tersebut.
“Halo, Alice,” sapa Randy dengan tangan yang masih sibuk mengemudikan mobil.
“Randy, kamu di mana?” tanya Alice dari seberang telfon.
“Aku di jalan. Ada apa?”
“Aku datang ke rumah orang tua kamu, ternyata kamu tidak pulang. Aku cari di rumah, kamu juga gak ada. Kamu di mana?” tanya Alice penasaran.
__ADS_1
“Aku menginap di rumah sakit karena terlalu banyak pasien,” jawabnya berbohong. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa semalam dia mabuk dan malah membuat seseorang kehilangan harta berharganya.
“Kalau begitu aku ke rumah sakit sekarang. Aku bawakan sarapan untuk kamu,” kata Alice dengan nada riang.
“Maaf, Alice, aku sedang tidak di rumah sakit. Aku ada urusan. Jadi, aku akan menelfonmu lagi nanti,” celetuk Randy dan mematikan panggilan dan meletakan ponselnya di sembarang tempat.
Randy mulai melaju dengan menembus jalanan dengan kecepatan di atas rata-rata. Hatinya merasa tidak tenang karena begitu banyak hal yang membuatnya kembali berpikir. Apa selama ini pikiranku salah?
Randy memarkirkan mobilnya di depan klub malam, tempat di mana dia melihat Rika bersama dengan pria lain yang tidak dikenalnya. Apa dia tinggal di sini? tanpa pikir panjang, Randy segera keluar dari mobil dan hendak masuk, tetapi ditahan oleh seseorang yang sudah berdiri di depannya.
“Maaf, klub belum buka,” peringatnya dengan nada tegas.
“Saya tidak ingin datang untuk mabuk dan sebagainya. Aku hanya ingin bertemu dengan Rika,” celetuk Randy yang masih kekeh ingin masuk ke dalam.
“Jika anda mencari Rika, jangan cari di sini. Dia tidak tinggal di sini. Dia tinggal di rumah belakang klub.”
“Apa?” Randy langsung menghentikan gerakannya dan menatap tidak percaya. Apalagi ini?
“Iya. Rika itu tinggalnya di rumah belakang dan bukan di sini. Tetapi sudah dua jam yang lalu dia pergi bersama dengan adiknya.”
“Bukannya dia bekerja di klub ini?” tanya Randy dengan degup jantung yang semakin tidak karuan. Dia takut jika kenyataan yang diyakininya selama ini adalah salah.
“Apa? Anda tidak salah bicara?” Pria di hadapannya berbalik bertanya dan tertawa kecil. “Rika gak pernah kerja di sini. Masuk aja gak pernah. Dia itu gadis baik-baik, mana mungkin dia mau bekerja di tempat semacam ini.”
Lagi. Hantaman keras membuat Randy merasakan pusing yang menyerang. Kenyataan bertubi yang diterima pagi ini membuat nalarnya kembali melayang entah ke mana. Semua ingatan mengenai Rika yang datang menghantam kepala membuat rasa sakitnya terasa semakin menggerogot.
“Kenapa kamu gak bilang,” geram Randy dengan tangan yang mengepal menahan amarah. Matanya sudah menatap lurus ke depan dan tanpa sadar menitikan air mata. Rasa bersalah yang bersarang membuatnya semakin merasakan luka yang begitu menyayat hatinya. Beberapa kali dia menyangkal kenyataan yang ada, tetapi nyatanya memang semua pemikirannya salah. Pandangannya mengenai gadis tersebut salah.
“Harusnya kamu bilang sejak awal,” ucapnya dan langsung melangkah meninggalkan klub. Randy masuk ke dalam mobil dan memukul stirnya keras.
“Sial!” teriaknya frustasi. Kini, dia menyesali semua yang pernah dikatakannya. Jijik? Bahkan dia begitu mencintai Rika, sangat. Sekarang dia bahkan tidak yakin akan menjalani kehidupannya dengan Alice.
“Rika, kamu di mana? Aku butuh penjelasan darimu,” ujarnya segera melajukan mobil.
Memangnya tidak ada orang lain yang bisa menemani kamu sampai Michael menyuruh staff seperti dia?
Masalah? Aku bahkan tidak mau dekat dengannya. Aku tidak akan sudi memiliki masalah dengan wanita macam dia.
Oh, jadi mempermainkan hati seseorang bukanlah hal baru untukmu?
Aku bahkan menyesal pernah mencintaimu.
Aku bahkan sudah menyesal pernah menjadikannya kekasih.
Ucapannya berkelebat dalam benaknya begitu saja, menimbulkan rasa sesak yang semakin membuatnya terluka. Jemarinya menggenggam erat setir mobilnya dan mengehntikannya di pinggir jalan. Randy mendongakan kepalanya dan menitikan air mata.
“Apa ini yang kamu inginkan, Rika? Apa kamu memang ingin membuatku merasa terluka dan bersalah sebesar ini?” ucapnya sembari memejamkan mata lelah.
Andai aku mencari tahu sejak dulu, aku tidak akan kehilanganmu dan merasakan luka sedalam ini, Rika. Sesalnya dalam hati.
_____
🍁🍁🍁🍁🍁
Selamat membaca. Jangan lupa like, comment, tambah ke favorit, vote dan follow Kim ya. 😄😄😄
__ADS_1
Oh iya, jangan lupa juga mampir ke cerita Kim yang satu ya. Ada Eiren dan Elio di sana. Terima kasih sayang-sayangkuh. 😚😚😚
🍁🍁🍁🍁🍁