
Randy memarkirkan mobil di pelataran rumah keluarganya. Sudah dua mingu dia tinggal di apartemen dan tak menginjakan kaki di rumah orang tuanya. Terlalu sibuk dengan pekerjaan membuatnya lupa dengan keluarga yang juga mulai merindukannya.
Randy keluar dari mobil dan menatap mobil lain berwarna merah yang terparkir di sebelahnya. Matanya menatap mobil di sebelah dengan kening berkerut. Pasalnya itu bukanlah mobil milik keluarganya. Suara tawa di dalam rumah juga menjadi pusat perhatiannya saat ini. Dengan langkah cepat dan rasa penasaran yang menggebu, Randy langsung melangkah memasuki ruangan utama.
“Randy.”
Baru beberapa langkah memasuki rumahnya, teriakan melengking membuatnya mengalihkan pandangan. Netranya menatap seorang gadis yang sudah duduk di pojok ruangan bersama dengan kedua orang tuanya. Wajah sumringahnya membuat Randy diam dengan mulut terbuka hingga membentuk huruf O.
“Randy, mau bengong aja?” teriak gadis tersebut membuat Randy sadar dari lamunannya.
Randy mengubah rasa terkejutnya menjadi kembali normal dan melangkah ke arah mamanya. Matanya masih menatap gadis yang sejak tadi tersenyum senang ke arahnya. Helaan napas terdengar beberapa kali, terasa ada beban yang menimpanya saat ini.
“Hai, Ma,” sapa Randy segera duduk di sebelah mamanya dan mencium mamanya mesra. Senyumnya tercetak begitu tulus dan menimbulkan senyum di bibir wanita dewasa tersebut.
“Hai, sayang. Bagaimana kabarmu?” tanya Vera, wanita yang sudah melahirkan Randy.
“Baik, Ma,” jawab Randy lembut.
“Memangnya di sini hanya ada tante Vera saja, ya?” sindir gadis berambut pirang dengan panjang sebahu tersebut. Bibirnya sudah manyun dan menatap tak senang karena dia diacuhkan oleh Randy.
Randy yang mendengar hanya tersenyum lembut. “Hai Alice. Aku rasa kamu baik-baik saja,” ucap Randy lembut.
“Randy,” teriak Alice tak suka.
Randy yang mendengar hanya tersenyum melihat sahabat dari kecilnya datang dan tak ada yang berubah sama sekali. Hanya ada sebagian dari sahabatnya yang berubah, yaitu wajahnya yang semakim cantik. Namun, selain itu sifatnya masih tetap sama. Manja. Saat ini dia malah memeluk erat lengan Randy dan menampilkan senyum termanisnya. Membuat Randy merasa begitu tak karuan.
“Randy, aku itu kangen kamu, tahu. Aku juga kangen Michael,” celetuk Alice dengan senyum sumringah. Matanya menatap Randy yang menatapnya acuh.
“Alice,bisa lepaskan tanganmu?” pinta Randy karena risih. Meski sudah berteman sejak lama, dia tidak tahu jika pria yang saat ini ada dalam genggamannya juga pernah merasakan cinta untuknya.
Alice yang mendengar langsung memberengut kesal dan melepaskan tangan Randy. Dia merasa kesal karna pemuda di sebelahnya saat ini terasa berbeda. Dia menatap Randy lamat dan mencoba memasuki matanya yang juga tampak berbeda ketika melihatnya. Namun, ternyata tak berhasil. Randy seakan membentuk benteng yang begitu tinggi dari semua orang yang dekat dengannya. Hingga rasanya Alice sendiri tak mampu merasuki kawasan tersebut.
“Randy, aku baru datang dan kamu tidak merindukan aku?” tanya Alice dengan mata penuh harap.
Randy yang mendengar hanya tersenyum dan mengangguk. “Jelas aku rindu denganmu, Alice. Sudah hampir tiga tahun kamu berada di belahan dunia lain. Aku senang karena akhirnya kamu kembali dan tak melupakan di mana kamu tinggal.”
Alice yang mendengar langsung memeluk sahabatnya erat. Dia melupakan keberadaan kedua orang tua Randy yang akhirnya memilih untuk pergi dan meninggalkan keduanya. Mereka masih cukup sadar diri untuk tidak mengganggu kedua insan yang baru saja dipertemukan.
Alice melepasan genggaman tangannya dan menatap Randy dengan senyum manis. “Aku juga ingin bertemu Michael. Aku merindukannya.”
“Jangan macam-macam dengannya, Alice. Dia sudah memiliki istri sekarang,” ucap Randy takut jika Alice masih memiliki perasaan kepada Michael. Dia tidak bisa membiarkan hubungan Michael dan Vinda yang baru saja membaik menjadi berantakan kembali.
Alice yang mendengar langsung berdecih kesal dan menatap Randy dengan pandangan kesal. “Kamu pikir aku akan merusak hubungan mereka, hah? Aku masih cukup waras untuk tidak merebutnya dari wanita lain, Ran. Aku masih memiliki harga diri yang tidak perlu diragukan.”
“Maaf. Aku hanya takut jika kamu masih mencintainya,” celetuk Randy santai.
“Sudahlah. Aku hanya ingin bertemu dengannya saja. Kalian ini sahabatku. Lagi pula aku harus menyambut istri dari sahabatku juga, kan? Aku harus memperkenalkan diri dengan baik,” ucap Alice dengan senyum manis.
Randy menghela napas panjang dan menatap Alice tanpa minat. “Baiklah. Ayo aku antar.”
Alice yang mendengar langsung berteriak penuh gembira. Dia langsung bangkit dan meninggalkan Randy yang masih duduk dan melihat tingkahnya. Kepalanya menggeleng heran melihat tingkah Alice yang memang masih tampak seperti dahulu. Manja dan keras kepala. Semua yang diinginkannya harus dituruti.
Randy menghela napas panjang dan segera bangkit. Dia tidak mau jika nanti Alice yang sudah ada di depan kembali masuk dan berteriak dengan suara yang menggelegar. Randy memutuskan untuk mengikuti Alice dan segera keluar dari rumah orang tuanya. Kembali melajukan mobil menuju tempat Michael berada.
_____
Dave menatap rumah di hadapannya dengan tatapan datar. Ini bukan rumahnya. Sudah beberapa kali dia datang ke rumah tersebut, tujuannya masih belum juga tercapai. Penghuni rumah tersebut benar-benar menghindarinya untuk bertemu. Jika bisa memilih, dia akan menerobos masuk dan berteriak sekeras mungkin. Namun, dia masih cukup sehat untuk tdiak membuat keributan dan membuatnya semakin dibenci. Jika orang tersebut tidak mau melihatnya, dia akan membuatnya menatap dan juga berbicara dengannya. Apa pun caranya.
Dave menghela napas panjang dan kembali menekan tombol di dekat pagar. Tak lama kemudian, sebuah cela kecil di gerbang terbuka, menampilkan sepasang mata yang menatapnya dengan perasaan lelah. Pasalnya, dua hari ini dia datang dan selalu membuat penjaganya merasa kesal.
__ADS_1
“Pak, Michael ada?” tanyanya dengan menatap mata yang sejak tadi menatapnya.
Tak ada jawaban. Namun, pintu kecil di sebelah pos satpam tiba-tiba saja terbuka, menampilkan sosok dengan wajah tegas dan juga penampilan yang tak berbeda jauh dengan Roy. Pakaian serba hitam dan menatapnya dengan wajah datar.
“Apa yang anda lakukan, tuan Dave? Anda mengusik tuan Michael yang sudah tak mempermasalahkan perbuatan anda,” ucapnya dengan nada datar.
Dave yang mendengar menghela napas dan menatap pria di hadapannya dengan wajah lelah. “Aku memiliki urusan dengannya. Jadi, biarkan aku bertemu dengannya.”
“Tuan Michael tidak di rumah.”
“Lalu, dia di mana?” tanya Dave juga merasa bosan karena terus-menerus datang ke rumah Michael dan tak berhasil menemui pria tersebut.
“Seharusnya anda tahu di mana tuan Michael berada sekarang.”
“Tuan Dave.”
Sebuah suara lain mengintrupsi Dave dan segera membalik tubuh. Tampak Roy tengah berdiri di dekat pintu mobil dan segera melangkah ke arahnya. Wajahnya masih tak begitu ramah, tetapi Dave bersyukur, setidaknya kaki tangan Michael akan bisa menolongnya.
“Apa yang anda lakukan di sini?” tanya Roy menatap curiga.
“Aku hanya ingin bertemu dengan Michael,” jawab Dave tenang.
“Untuk apa anda menemui Tuan Michael?” Roy masih menatap Dave penuh curiga.
“Aku ada urusan dan ingin bertemu dengannya. Jadi, katakan saja di mana Michael saat ini berada.”
“Saya harap anda jangan menampakan kembali wajah anda di hadapan tuan Michael. Saya hanya memperingatkan anda agar tidak ada kejadian seperti sebelumnya terjadi kepada anda. Sungguh sangat disayangkan karena kedekatakn kita harus berubah menjadi mala petaka, tuan Dave,” ucap Roy masih dengan wajah tenang.
“Tutup mulutmu dan beritahu di mana Michael saat ini,” desis Dave tak suka. Dia enggan diingatkan kembali tentang kebodohannya.
Roy menghela napas panjang. “Saya harap, jangan temui tuan Michael saat ini. Lain kali. Mungkin beliau akan menenui anda dengan keadaan yang sudah baik dan dapat berbicara baik-baik.”
“Aku butuh bertemu dia sekarang,” jawab Dave tak sabar.
Dave menghela napas panjang dan akhirnya menurut. Dia memilih untuk kembali ke rumahnya dan akan menemui Michael lain waktu. Dia ingin berbicara baik-baik dengan Michael nantinya. Roy yang melihat hanya diam dan kembali ke mobil. Dia hanya mampir untuk mengambil berkas yang diminta Michael di ruang kerjanya dan kembali ke kantor tuannya.
_____
Vinda sudah berada di mobil bersama dengan Michael yang sibuk mengendarai mobilnya. Sejak mereka masuk mobil dan menuju ke cafe Dika sesuai dengan permintaan Vinda, tak ada yang diucapkan sama sekali. Michael juga tampak bungkam dan tak mengatakan apa pun kepada wanita di sebelahnya. Dia memilih untuk diam dan menutup mulutnya rapat-rapat.
Vinda melirik Michael yang ada di sebelahnya dan menerka-nerka apa yang dipikirkan suaminya saat ini. Dia ingin bertanya, tetapi masih takut jika nantinya, Michael akan marah kepadanya. Bagaimana jika nanti dia mengamuk karena mengusik kehidupan saudaranya? Rasanya dia begitu ragu dan tanpa sadar, Michael menatapanya dengan pandangan penuh penasaran.
“Ada apa, Vinda?” tanya Michael penasaran. Lirikan berulang dari istrinya mampu membuyarkan fokusnya sejak tadi.
Vinda yang masih berpikir langsung terlonjak kaget karena Michael sudah menatapnya dengan tangan yang masih menggenggam kemudi. Dia hanya tersenyum canggung dan menatap Michael bingung. Bagaimana jika dia marah? Hanya satu kemungkinan itu yang selalu membuatnya benar-benar bingung.
“Hey, ada yang kamu pikirkan?” tanya Michael lagi karena tidak juga mendapatkan respon.
Vinda menghela napas panjang dan membenahi duduknya, menatap Michael yang masih fokus dengan jalanan.
“Michael, aku ingin bertanya sesuatu. Tetapi, kamu janji jangan marah, ya?” ucap Vinda dengan perasaan was-was.
“Memangnya kamu ingin bertanya apa?” Michael menatap Vinda dengan kening berkerut heran. Ada apa dengan wanita di dekatnya hari ini? Biasanya Vinda selalu mengungkapkan pendapatnya tanpa ragu.
“Janji dulu, jangan marah.” Vinda tidak mau mengambil resiko jika nantinya Michael marah.
Helaan napas terdengar dan Michael menepikan mobilnya. Matanya menatap Vinda yang tampak cemas. Perlahan, tangannya terulur dan mengelus pelan pipi Vinda dengan senyum menawan. Senyum yang bahkan mengalihkan dunia Vinda seutuhnya. Membuang perasaan cemas yang sempat melanda.
“Aku janji tidak akan marah,” jawab Michael dengan lembut. Baru kali ini dia bersikap begitu lembut kepada seorang wanita.
__ADS_1
“Janji?” Vinda masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Micahel. Bagaimana jika dia ditipu dan Michael marah kepadanya?
“Hey, suamimu ini bukanlah orang yang suka ingkar janji, sayang,” ucap Michael sembari mencubit kecil pipi Vinda. Dia benar-benar gemas dengan istrinya.
Vinda yang mendengar kata ‘suami’ merasa benar-benar malu. Dia yakin, wajahnya sudah benar-benar merah karena terasa panas menjalar di sekujur tubuh. Dia langsung mengalihkan pikirannya dan kembali fokus dengan tujuannya.
“Michael, jika ada karyawanmu yang bekerja di klub malam, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Vinda sembari menggigit bibir bawahnya, meredam rasa takut yang mulai menyerang.
“Apa? Memangnya ada?” Michael balik bertanya dan melemparkan tatapan terkejut. Keningnya berkerut bingung mendengar penuturan istrinya.
“Ish, ini hanya misal. Bukan berarti ada, Ael,” kilah Vinda tak mau membuat masalah.
Michael menggenggam tangan Vinda dan mengarahkan kembali mata wanita tersebut hingga menatapnya. “Aku akan memecatnya,” tegas Michael sembari menunjukan wajah serius.
“Apa?” Vinda benar-benar terkejut mendengar penuturan Michael.
Michael mengangguk. “Aku tidak pernah membiarkan salah satu pekerja klub bekerja di perusahaanku, sayang. Lagi pula mereka sudah mendapat cukup gaji hanya untuk makan satu bulan dan memenuhi kebutuhannya. Jadi, untuk apa mereka menjual diri di sebuah klub malam?” jelas Michael menatap Vinda yang sudah salah tingkah.
Sayang? Mengingatnya benar-benar membuat Vinda merasa bodoh. Bahkan dia sudah benar-benar malu dan enggan menunjukan wajahnya kepada Michael. Sejak kepulangannya dari penculikan Dave, tingkah Michael benar-benar berbeda. Sikap manis dan selalu memanjakan membuatnya dilanda rasa takut.
Bagaimana jika nantinya dia mencintai Michael dengan begitu dalam dan tanpa ada jawaban? Hanya itu yang ditakutkan Vinda. Dia takut jika harus bercinta dan terluka seorang diri. Akankah dia masih sekuat dulu? Entahlah. Dia sendiri tidak bisa menebak perasaan dan juga takdirnya kelak.
Aku berharap kamu benar takdirku, Ael, pinta Vinda dalam hati.
“Apa malaikatku sekarang menjadi mudah sekali malu?” celetuk Michael yang sejak tadi memperhatikan wajah bersemu Vinda. Dia bahkan sudah tidak tahan untuk menyerang istrinya tersebut. Jika saja waktu itu Rensi tidak meninggalkannya tepat pada hari pernikahan, dia yakin akan mendapatkan penyesalan karena menikahi orang yang salaj. Dia pernah berpikir mengabaikan malaikatnya jika benar itu Vinda, tetapi ketika wanita di dekatnya rela mengorbankan nyawa, dia merasa goyah dengan pilihannya.
Vinda yang mendengar hanya diam dan menatap Michael dengan wajah terkejut. Apa dia salah mendengar ucapan Michael? Lidahnya bahkan kelu dan tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun.
“Aku sudah tahu jika kamu adalah malaikatku. Kamu yang dulu pernah menyelamatkan aku,” ucap Michael dengan pandangan lembut, “maaf sudah menyakitimu.”
“Kamu tahu?” tanya Vinda tidak yakin. Dia masih menatap Michael dengan wajah tak percaya. Siapa yang mengatakannya?
Michael menganggguk. “Iya. Dan sekarang aku benar-benar ingin menghukum gadis yang sudah menyembunyikan rahasia sebesar ini dariku. Kenapa kamu melakukannya, Vinda? Kenapa kamu tidak menyapa dan memberitahukan kebenarannya?”
“Aku merasa percuma. Karena bagaimana pun kenyataannya, Rensi jauh lebih berarti dari aku. Kamu mencintainya begitu dalam,” ucap Vinda miris. Dia masih ingat apa alasannya menyembunyikan kebenaran bahwa dia lah orang yang dicari Ael, bukan Rensi.
Michael menghela napas panjang dan menggenggam erat tangan Vinda. “Maaf jika waktu itu aku melukaimu. Aku tak mengenalimu sama sekali.”
“Tidak masalah. Yang penting, sekarang kamu sudah tahu jika itu aku. Tetapi siapa yang memberitahumu?” Vinda makin penasaran. Siapa yang tahu tentang rahasianya?
“Rahasia,” jawab Ael dengan mengumbar senyum. Senyum yang tak pernah ditunjukan kepada siapa pun, termasuk orang tuanya.
“Jahat,” keluh Vinda dengan bibir manyun.
“Bukannya jahatan kamu? Kamu menyembunyikan sebuah kebenaran besar dariku.”
“Itu karena kamu yang terlalu buta dengan penampilan seseorang,” celetuk Vinda kesal.
“Jadi suamimu ini seorang tuna netra sayang?” Michael menatap Vinda dengan wajah meneliti. Dia benar-benar menyukai saat di mana Vinda merona malu karena sebutan ‘sayang’ yang sering dilontarkannya. Dia sendiri tidak sadar dengan tindakan konyol yang baru pertama kali dilakukan. Benarkah ini dia?
Vinda yang mendengar hanya mendengus kesal. Dia membuang wajahnya menghadap jalanan yang tampak ramai. Sedangkan Michael, dia masih senang menggoda Vinda yang terus-menerus menyuruhnya diam dan mengganti sebutan. Hingga akhirnya, mereka hanya sibuk melempar kalimat dan membatalkan rencananya ke cafe Dika. Michael membawa Vinda kembali ke rumah.
_____
🍁🍁🍁🍁🍁
Hayoo..tebak apa yang akan terjadi nantinya. Ada Alice nih. Siapakah dia? Sahabat Michael dan Randy. Eh kok dijawab sendiri hahahaha
Jangan lupa like, comment, tambah ke favotit, vote dan follow kim.
__ADS_1
Selamat membaca sayang-sayangkuh 😚😚😚😚
🍁🍁🍁🍁🍁