
“Jadi beneran si Michael Aditama, pemilik Aditama Group’s beserta semua kekayaan yang lainnya melamar Rensi?” tanya seorang gadis berkacamata yang saat ini tengah melongo mendengar cerita Vinda.
Vinda melebarkan matanya, menandakan bahwa suara sahabatnya harus di pelankan agar tidak ada yang mendengarnya. Tangannya di letakan di bibir, memberi isyarat tersebut dan menatap sekeliling dan memperhatikan mereka. Vinda hanya tersenyum meminta maaf karena ulah sang sahabat.
Vinda menatap Della-sahabatnya, yang saat ini masih menatapnya tidak percaya. Kali ini dia benar-benar menyesal telah menceritakan mengenai lamaran Michael kepda Rensi dan rencana pernikahan yang terkesan dadakan.
“Kamu gak bohong, kan?” tanyanya dengan wajah antuasias.
“Bisa pelankan suaramu, Della? Aku tidak mau jika nanti Rensi menyebutku tukang gosip karena ulah mulutmu itu,” gerutu Vinda yang kembali menyantap makanan di hadapannya.
Della yang mendengar hanya tersenyum kecil dan mengerlingkan mata memohon maaf. Gadis berambut sebahu itu memang selalu lebay dalam segala hal, termasuk mengenai Michael Aditama yang begitu dikaguminya.
“Jadi, sekarang dia memilih Rensi? Bagaimana bisa? Apa mereka sudah kenal lama?” tanya Delal berturut-turut, membuat Vinda berdecak kesal.
Vinda mengangkat bahunya pelan dan menggeleng. “Aku tidak sedekat itu dengan Rensi, Del. Kamu tau sendiri, kan, gimana dia? Jadi, untuk jawaban semua pertanyaanmu, aku tidak tau. Tanyakan saja sama anaknya.”
Della berdecih kesal. “Lalu, kapan akan dilangsungkan pernikahannya?”
“Dua hari lagi.”
“Apa? Dua hari lagi?” ucap Della dengan kening berkerut dan mulut menganga tidak percaya, “apa Rensi hamil duluan?”
Vinda yang mendengar langsung tersedak dan menatap sahabatnya tidak terima. Bagaimana pun dia tidak merasa bahwa Rensi hamil dan jika pun iya, dia yakin itu bukan anak Michael. Dia tau karena Rensi bahkan menolak lamaran tersebut dengan lantang.
“Apa Rensi mencintai Michael? Secara kamu dengar sendiri fakta mengerikan tentang dewa tampan nan kejam sepertinya,” celetuk Della dengan wajah memuja seorang Michael Aditama. Pahatan indah dari sang kuasa.
Vinda hanya mengangkat bahu ringan menggeleng tidak tahu. Dia tidak ingin berkomentar apa pun, termasuk menceritakan tentang penolakan Rensi. Dia tidak ingin keluarganya menanggung beban jika sampai ada yang tahu dan menyampaikannya kepada keluarga Aditama. Dia masih memiliki pikiran yang cukup waras untuk tidak lebih lanjut membuat masalah. Meski pun dia tau, Nyonya Aditama sangat baik kepadanya.
“Baiklah. Aku rasa aku tidak akan mendapatkan jawaban apa pun dari mu,” celetuk Della dengan wajah kesal. Bibirnya manyun beberapa senti.
__ADS_1
“Dan aku rasa, kelas mu akan segera di mulai,” sahut Vinda dengan ibu jari yang digunakan untuk menunjukan jam saat ini. Pukul 14.00.
“Ya Tuhan. Hari ini kelas Mr. Albert. Aku harus masuk.” Della langsung mengemasi barangnya dan keluar dengan terburu-buru, membuat Vinda menggeleng tidak percaya. Kenapa dia bisa memiliki teman seaneh Della?
_____
Rensi masih berjalan dengan langkah setengah berlari. Dia mengejar Dave yang bahkan tidak mau bertemu dengannya. Rasanya dia benar-benar ingin menenggelamkan keluarga Aditama dan menghilang. Sayangnya, dia tidak akan mampu, bahkan dalam mimpi sekali pun.
“Dave, tunggu. Kita harus bicara,”ucap Rensi masih tetap mengejar. Dia tidak mau jika Dave meninggalkannya nanti. Dia sangat mencintai pria yang saat ini menghindarinya.
Dave menghela napas panjang dan menghentikan langkah tepat di depan mobil hitam miliknya. Sudah dari pagi dia menghindari Rensi dan dia semakin tidak tahan saat mantan kekasihnya itu terus saja mengejar. Ya, mantan kekasih karena dia sudah resmi memutuskannya saat Michael melamarnya. Dia benar-benar merasa sakit hati.
Dave berbalik dan menatap Rensi yang sudah ada di belakangnya dengan pandangan berkaca. Dave membuang wajah dan mengusapnya gusar. Rensi benar-benar sudah bisa membuatnya semakin kacau. Dia tau, bahwa Dave tidak akan tahan melihat Rensi menatapnya dengan wajah memelas.
“Berhentilah menatap dengan wajah memelas, Rensi. Aku tidak suka,” gerutu Dave dengan wajah yang sudah mengeras.
Bukannya mengganti, Rensi malah semakin menjadi. Matanya mengelurkan tetes bening dan langsung mengusapnya dengan punggung tangan. “Dave, aku mencintaimu. Aku gak mau kamu pergi dari ku.”
“Tetapi aku tidak menyukainya,” tegas Rensi dengan mata yang sudah menunjukan kebencian.
“Tetapi dia sudah memilihmu. Jadi, jangan buat masalah dan jadilah anak yang baik. Jauhi aku dan hiduplah dengan dia.” Dave benar-benar kesal dengan tingkah Rensi. Tidak tahukan apa yang akan terjadi jika berurusan degan keluarga Aditama? Dia akan hancur meski kekayaannya juag banyak.
“Tapi aku tidak mengharapkannya!” bentak Rensi yang sudah terlampau kesal. Semua orang menyuruhnya untuk memilih Michael tanpa mendengarkan apa keinginannya. Semua hidupnya terasa tidak ada yang peduli sama sekali.
Dave menghela napas panjang dan menatap Rensi lemah. “Ayolah, Rensi. Jadilah dewasa dan sadar dengan keadaan. Jangan buat aku semakin sulit,” pinta Dave dengan wajah yang sudah menunjukan kelelahan.
Rensi diam dan mendekati Dave yang saat itu tengah memijit keningnya pelan. Tangannya langsung memeluk tubuh pemuda dihadapanya erat. Dia tidak mau melepaskannya, sedangkan Dave yang merasakannya semakin gelisah. Dia tidak mau hidup menggelandang di jalanan hanya karena mempertahankan seorang Rensi
“Lepas, Ren,”ucap Dave yang berusaha melepaskan pelukan Rensi, tetapi gadis tersebut cukup pintar tetap memeluknya. Bahkan semakin erat.
__ADS_1
“Rensi, jangan....”
“Sebentar, sebentar saja. Aku ingin seperti ini,” ucap Rensi dengan suara lirih. Dave yang mendengar bahkan tidak tega melihatnya. Dia akhirnya memilih diam dan membiarkannya memeluk erat. Dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada Rensi.
Rensi diam meresapi pelukan yang tak kunjung mendapat balasan. Biasanya, Dave akan membalasa pelukannya dengan hangat. “Aku ingin bersamamu sebelum besok. Karena besok, aku tidak yakin masih bisa menatap dunia,” ucap Rensi parau.
Dave yang mendengar melirik Rensi dengan kening berkerut. “Apa maksudmu?”
Rensi melepaskan pelukannya dan menatap Dave lekat. “Tidak ada yang mendengarkan pendapatku. Keinginanku bukanlah prioritas. Jadi, untuk apa aku tetap hidup? Aku memilih mengakhiri hidupku ketimbang bersama dengan Michael. Aku tidak mencintainya sama sekali.”
“Apa? Jangan aneh-aneh kamu, Ren. Hidup mu masih panjang,” tolak Dave tidak suka. Matanya menatap tajam gadis yang saat ini hanya tertawa kecil sembari menatapnya.
“Iya. Jika aku menikah denganmu. Tetapi, tidak jika aku menikah dengan Michael,” jelas Rensi dan menghela napas panjang.
Dave mengacak rambutnya sampai berantakan. Dia tidak ingin membuat masalah dengan Michael, tetapi dia juga tidak akan membiarkan gadis yang pernah dicintainya meninggal dengan cara tragis. Rasanya, saat ini dia berada di ujung tombak dengan ke dua sisi yang sama runcingnya. Tak ada jalan untuk keluar dari masalahnya.
“Jadi, mau mu apa?” tanya Dave mengalah. Dia masih tidak bisa membiarkan Rensi bunuh diri karena dirinya yang merasa tidak berguna.
“Bawa aku pergi. Aku tidak mau menikah dengannya. Aku hanya mencintaimu,” ucap Rensi dengan tegas dan penuh keyakinan.
“Apa? Kamu gila, hah?” Dave menatap horor pada gadis di hadapannya. Rensi akan membuatnya masuk dalam lubang neraka.
“Tidak ada cara lain, Dave. Bawa aku pergi atau nantinya kamu akan melihat kabar bunuh diri ku di koran,” ancam Rensi dengan wajah serius.
Dave menghela napas panjang dan menatap Rensi lekat. “Baiklah. Siapkan semuanya dan kita akan pergi besok malam. Tepat sebelum pernikahan kamu berlangsung.”
Rensi yang mendengarnya tersenyum menang. Dia langsung memeluk Dave yang hanya diam dan tidak membalasnya. Dia tau ini gila, bahkan bisa saja orangtuanya tinggal di jalanan setelahnya. Namun, dia tidak pedulu. Dia hanya ingin mendapatkan kebahagiaannya tanpa paksaan siapa pun.
Tidak ada yang berhak mengatur dan memerintahku, ucapnya dalam hati.
__ADS_1
_____