Wedding Drama

Wedding Drama
Bagian 16_Amarah Michael


__ADS_3

“Kalian kalau keja bisa bener gak sih?” teriak Michael yang saat ini sedang emosi sampai ubun-ubun.


Tujuan awalnya datang ke cafe Dika dibatalkan karena sahabatnya mendadak mengatakan ada urusan. Jadilah saat ini Michael ada di ruangan dengan amarah yang meletup-letup. Dia tidak bisa menahana kekesalan tiap kali mengingat bagaimana Rensi tersenyum kepada pria yang tidak dikenalnya. Jika dulu dia mengenal gadis lucu yang begitu polos, saat ini dia melihat gadis dewasa yang sudah mulai melupakannya.


Michael *** kertas yang ada di hadapannya dengan penuh emosi. Dia bahkan belum mengatakan apapun ketika dia menemukan Rensi. Namun, sekarang dia malah melihatnya bersama dengan yang lain. Apa jika dia mengatakan siapa dirinya Rensi akan kembali? Rasanya dia benar-benar frustasi.


Michael menatap gadis berkacamata dihadapannya yang masih menunduk dengan tubuh bergetar. Tidak ada perasaan kasihan sama sekali dan malah menatap semakin tajam. Semua bercampur menjadi satu. Kekecewaan, kebahagiaan dan patah hati. Patah hati? Bahkan itu hanya kejadian hampir sepuluh tahun yang lalu dan semua perasaannya hanya dianggap angin lalu.


Michael terkekeh sendiri menyadari kebodohannya yang berusaha mencari Rensi kemana pun. Dia bahkan mengerahkan semua body guard-nya untuk menemukan malaikatnya. Semua pemikirannya membuat tawa keluar dari mulutnya dan itu semakin membuat gadis dihadapannya bergetar semakin takut.


Michael melirik dan mengerutkan kening heran. “Kamu ngapain masih di sini? Keluar dan benarkan semuanya,” perintah Michael dengan nada baritonnya, membuat gadis tersebit semakin melemas.


Gadis tersebut hanya mengangguk sejenak dan melangkah keluar. Dia memungut semua kertas yang berceceran dihadapannya karena ulah Michael yang membuang seluruh hasil kerja kerasnya. Jujur saja, jika dia bisa menghilang, mungkin akan dilakukan saat itu juga. Namun, sayangnya dia hanya manusia biasa. Dengan secepat mungkin dia segera bangkit dan keluar. Sayangnya, kakinya terlalu lemas untuk melangkah keluar.


Michael yang melihat mendengus kesal dan melempar map plastik ke hadapan gadis tersebut dengan senyum sinis yang langsung ditunjukan. “Aku bilang keluar!” bentak Michael berhasil membuat gadis tersebut keluar.


Gadis tersebut langsung menghela nafas panjang ketika sampai di luar dan mendudukan diri di depan pintu ruangan Michael. Dia benar-benar takut dan untung saja kakinya masih bisa digerakan.


“Rika, kamu ngapain duduk di lantai?”


_____

__ADS_1


“Rika, kamu ngapain duduk di lantai?”


Rika yang mendengar suara berat tersebut langsung mendongak dan menatap siapa yang baru saja datang. Setelah matanya menangkap siapa yang ada dihadapannya, dia langsung bangkit dan merapikan pakaiannya. Menundukan kepala hormat.


“Selamat siang, Tuan Adelardo,” sapanya dengan nada yang masih bergetar. Tangannya bahkan tanpa sadar *** map yang baru saja dipungutnya.


“Kamu ngapain duduk di lantai?” tanya Adelardo lagi karena sekretaris anaknya duduk dengan nafas terengah. Apa Michael berbuat onar lagi?


“Tidak apa, Pak. Saya hanya...” Rika diam sejenak karena tidak menemukan ide sama sekali. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa atasannya tengah mengamuk tanpa alasan. Padahal dia sudah memberikan proposal yang sama dengan yang diharapkan Michael, tetapi masih tetap saja salah.


Adelardo yang melihat wajah gusar Rika sudah mengira apa yang terjadi sebenarnya. Dia tau pasti semua ulah Michael dan membuat semua orang menjadi takut. Bahkan dia melihat beberapa orang yang kembali turun dan mengurungkan niat untuk masuk ke dalam ruangan anaknya.


“Minggir. Saya ingin bertemu dengannya,” ucap Adelardo sadar dengan ketakutan Rika.


“Siapa pun yang sudah membuatnya marah, aku benar-benar tidak akan mengampuninya,” ucapnya kesal.


_____


Adelardo berdecak kesal melihat beberapa berkas tergeletak di lantai tanpa perasaan. Dengan langkah tegas, dia mendekati Michael yang masih mendongak dengan mata tertutup. Rasanya dia melihat sisi lain dari anaknya. Ya, anak yang dulu suka membangkang dan marah kepadanya. Adelardo sendiri tidak bisa menyalahkan Michael dengan emosinya yang menggebu dan tidak pernah dapat dikontrol karena dia pun sama. Adelardo akan melampiaskan semua kekesalannya kepada siapa pun yang dapat dijadikan pelampiasannya.


Deheman keras berhasil menarik perhatian Michael sehingga mata indahnya langsung terbuka dan menatap ke arah sumber suara. Dia hanya menatap datar dan tidak menunjukan emosinya.

__ADS_1


“Apa ada masalah, Ael? Sampai semua dokumen bercecer tidak karuan, hah?” ucap Adelardo sembari melempar dokumen ke meja Michael.


Michael yang melihat hanya diam dengan wajah yang maish sulit diartikan. Apalagi ketika dia melihat sang Ayah duduk di kursi di depan, bersebrangan dengan meja kerja. Michael masih tetap santai dan tidak membuka mulutnya barang sedikit pun.


“Kalau kamu memiliki masalah dan melampiaskan kepada semua orang, bisa-bisa perusahaan kita kehilangan orang-orang hebat yang sudah bekerja kepada kita, Ael,” tegur Adelardo karena selama dia menjabat menjadi direktur di kantor yang saat ini dipimpin Michael, dia selalu memperlakukan karyawannya dengan cukup baik.


Michael yang mendengar hanya terkekeh geli mendengarnya. Dia menatap Adelardo dengan tatapan meremehkan dan bibir yang tersungging, membuat Adelardo semakin menatap datar ke arah Michael.


“Papa yakin mereka akan keluar dari perusahaan kita?” tanya Michael dengan tatapan meremehkan dan kembali menatap dengan senyum sinis, “mereka akan berfikir berulang kali untuk keluar dari perusahaan kita, Pa. Mereka tau, tidak ada tempat lain yang lebih menjanjikan ketimbang perusahaan kita.”


Adelardo hanya menghela nafas panjang mendengar ucapannya. Dia sendiri yakin tidak ada karyawan yang dengan suka rela mengundurkan diri dari perusahaannya. Secara, mereka memiliki perusahaan terbesar dengan gaji yang fantastis. Belum lagi, lowongan pekerjaan dan tes masuk terlampau sulit, membuat mereka semakin berfikir keras untuk melepaskan jabatannya.


Adelardo menghela nafas panjang dan menatap Michael masih dengan tatapan yang sama. “Meski begitu, bukan berarti kamu bisa bertindak seenaknya, Ael.”


“Aku hanya melakukan tugasku, Pa,” jawab Michael tidak kalah sinis.


Adelardo yang mendengar bangkit dari duduknya. Dia memutuskan untuk pergi dari hadapan Michael sebelum kesabarannya semakin menipis. Setelah melemparkan tatapan tajam ke arah anaknya, Adelardo membalik langkah dan berniat keluar. Namun, sebuah pernyataan Michael membuatnya berhenti melangkah dan berbalik menatapnya dengan tatapan tidak percaya.


“Aku ingin bertunangan dengan Rensi malam ini,” putusnya karena tidak ingin Rensi dimiliki orang lain, “aku tidak ingin Papa atau Mama melarangnya. Cukup ikut dan bantu aku Ael melamar, atau tidak usah datang sama sekali.”


Adelardo menatap mata anaknya dalam. Ada keseriusan yang belum pernah dilakukannya. Dia hanya mampu menghela nafas panjang dan mengangguk. “Datang ke mansion dan jemput kami,” ucap Adelardo dengan suara tenang dan segera melangkah keluar. Dia enggan berdebat dengan anaknya. Jika memang benar Rensi adalah malaikat yang ditunggu anaknya, itu akan jauh lebih baik. Setidaknya itu akan mengubah kepribadian buruk Michael dan akan ada yang mengendalikannya.

__ADS_1


_____


__ADS_2