
Randy baru saja selesai melakukan operasi dan mengantarkan salah satu rekan kerjanya untuk ke sebuah percetakan, mengambil undangan pernikahan yang sudah mendekati hari H. Namun, ketika dirinya melewati salah satu cafe tidak jauh dari tempat tersebut, matanya menatap siluet yang sangat dihafalnya. Alice. Tanpa sadar dia langsung memasuki pelataran cafe dan masuk begitu saja.
Randy membuka pintu dan melangkah mendekati Alice yang masih asyik berbincang. Keningnya sempat berkerut ketika matanya menangkap seseorang lain yang berada di depan Alice. Tanpa sadar dia mulai melangkah dan semakin mendekati gadis tersebut.
“Alice, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Randy masih mengamati Alice.
“Randy,” ucap Alice dengan senyum sumringah. Gadis tersebut lalu bangkit dan mendatanginya. Tanpa aba-aba, tubuhnya sudah dipeluk begitu erat.
Randy hanya diam dengan mata yang masih menyelidiki gadis lain yang terasa tidak asing untuknya. Dia bahkan tidak membalas pelukan Alice yang menuntut untuk mendapatkan balasan. Dia masih fokus dengan gadis yang saat ini berada di hadapannya, tetapi hanya terlihat punggungnya saja.
“Kamu ngapain di sini? Terus itu sama siapa?” tanya Randy masih memperhatikan lekat.
Alice mengendorkan pelukannya dan menatap Rika sekilas. Dia langsung tersenyum dan kembali menatap Randy yang sudah menatapnya. Namun, sebelum dia menjawab pertanyaan Randy, Rika sudah lebih dahulu bangkit dan berbalik, membuat pria tersebut langsung membelalakan mata.
Rika menundukan kepala dengan senyum tipis yang dipaksakan. Melihat sepasang kekasih yang tampak begitu mesra membuatnya merasa sakit. Patah, lebih tepatnya.
“Kamu,” desis Randy kesal karena setiap melihat wajah Rika, dia kembali merasakan penghianatan yang dilakukan gadis tersebut. “Untuk apa kamu bersama Alice?”
“Maaf, Tuan. Saya hanya menemani Nona Alice jalan-jalan,” jawab Rika masih dengan kepala menunduk.
“Bukannya kamu....”
“Sudahlah, Randy. Aku sudah bilang sama Ael, kok. Lagi pula dia mengizinkannya,” potong Alice dan segera menggelanyut manja kepada Randy.
Rika yang melihat hanya diam dengan seribu bahasa. Mata Randy bahkan masih menatapnya dengan pandangan yang begitu menusuk. Apa dia masih membenci? Jika itu yang ada di kepala Rika saat ini, dia sudah begitu tahu apa jawabannya. Randy begitu membencinya. Sangat.
“Memangnya tidak ada orang lain yang bisa menemani kamu sampai Michael menyuruh staff seperti dia?” tanya Randy dengan mata yang masih memandang Rika, membuat gadis tersebut semakin ciut untuk mendongakan kepala.
“Randy,” panggil Alice pelan dan menatap Randy bingung, “kamu itu ngomong apa, sih? Dia baik dan banyak ngebantu aku, kok.”
Randy yang mendengar mengalihkan pandangannya dan menatap Alice dingin. “Itu karena kamu baru mengenalnya. Saat kamu mengenalnya jauh, aku berharap kamu tidak akan menjadi sepertinya,” celetuk Randy.
Rika yang mendengar memejamkan mata, meresapi tiap kesakitan yang didasarkan padanya. Rasanya dia sudah seperti tidak mampu merasakan semua luka yang diakibatkan pria tersebut.
“Randy, kamu ada masalah dengannya?” tanya Alice mulai curiga karena sosok Randy yang berubah. Dia tidak pernah melihat pria di hadapannya memandang dengan perasaan benci. Benci? Jika dia menilik terlalu jauh, bukan kebencian yang ditunjukan. Ada hal lain yang tidak dapat diartikan Alice dalam masalah ini.
“Masalah?” tanya Randy sinis dan menatap Rika dengan senyum merendahkan, “aku bahkan tidak mau dekat dengannya. Aku tidak akan sudi memiliki masalah dengan wanita macam dia.”
Alice yang mendengar semakin bingung dan menatap Rika yang hanya menunduk sejak tadi. Dia merasa memang ada masalah diantara keduanya. “Rika,” panggil Alice dan membuat Rika mendongak menatapnya.
“Kamu ada masalah dengan Randy?” tanya Alice mencoba mencari kebenaran dari pihak lain.
Rika menatap Randy sejenak dan menatap Alice. Senyumnya sudah kembali mengembang begitu lembut, membuat siapa saja yang melihatnya merasa bahwa dia benar-benar baik-baik saja.
“Seperti yang dikatakan Tuan Randy, Nona. Saya tidak memiliki masalah apa pun dengan beliau. Jadi, anda tidak perlu khawatir dengan hal semacam ini,” jawab Rika sembari melemparkan senyumnya.
“Kamu gak sedang menutupi sesuatu, kan?” tanya Alice ragu.
“Tidak ada yang saya tutupi, Nona. Saya berkata apa adanya,” ucap Rika sembari menekan rasa sakitnya.
“Kamu sudah selesai berurusan dengannya, Alice? Bisa kita pergi sekarang? Aku akan mengantarmu pulang,” potong Randy menghentikan Alice yang hendak melemparkan kembali pertanyaannya.
Alice yang melihat mendengus kesal dan menatap Rika penuh permohonan maaf. “Kamu mau pulang bareng kami?”
“Tidak perlu. Aku rasa dia akan dijempt kekasih tajirnya,” sahut Randy ketus. Dia masih menatap Rika yang malah menampilkan senyumnya dengan begitu lembut.
“Randy!” bentak Alice yang merasa Randy sudah keterlaluan. Dia menatap pria tersebut dengan mata mendelik dan kembali menatap Rika dengan wajah bahagia. “Kamu pulang sama aku. Aku gak mau menerima penolakan,” ujar Alice memaksa. Dia tidak mungkin meninggalkan Rika sendiri sedangkan dia yang mengajak.
“Tetapi, Alice. Dia....” Randy menghentikan ucapannya ketika Alice sudah memperhatikannya dengan mata menajam.
“Aku tidak mau menerima protes apa pun, Randy. Kalau kamu gak mau ya gak masalah. Aku pulang sendiri,” ancam Alice tidak main-main.
Randy yang mendengar menghela napas panjang dan menatap dua gadis di hadapannya tanpa minat. “Ya udah, ayo pulang,” ajak Randy yang langsung melangkah.
Alice langsung tersenyum dan penuh semangat. Dia mengambil tas di meja dan menarik Rika untuk ikut bersamanya. Rika sendiri hanya diam. Dia terlalu lelah menjalani kehidupan yang semakin menyakitkan. Keluarga yang berantakan, hidup yang serba pas-pasan dan pasangan yang meninggalkannya.
Rika menghela napas panjang menatap punggung Randy yang berada tepat di depannya. Jika saya tidak ada Alice diantara mereka, mungkin Rika sudah menangis sejadi-jadinya mengatakan kepada Randy seberapa tersiksanya dia selama ini. Namun, dia mengurungkan niatnya dan memilih bungkam.
Kamu berhak bahagia bersama siapa pun orangnya, Randy. Sedangkan aku, aku yakin semuanya perlahan akan membaik. Aku akan melupakanmu bersama dengan waktu yang kian terkikis, batin Rika mencoba menenangkan dirinya.
_____
__ADS_1
Vinda memasuki cafe tidak jauh dari kantor ayahnya. Matanya meneliti setiap sudut ruangan dan menemukan papanya tengah melambaikan tangan ke arahnya. Dengan langkah begitu bersemangat, Vinda langsung mendatangi ayahnya.
“Ayah,” panggil Vinda ketika sudah sampai di hadapan pria dewasa tersebut.
Beni bangkit dan memeluk anaknya penuh rindu. Selama Vinda menikah dan terjadi insiden penculikan, dia bahkan belum menanyakan kabar anaknya. Dia malah sibuk sendiri dengan usaha yang kian merosot, meski masih dibatas garis normal.
“Apa kabar, sayang?” tanya Beni sembari mengelus pelan punggung Vinda lembut.
“Baik, Ayah. Ayah sendiri bagaimana?” tanya Vinda balik dan melepaskan pelukannya.
“Seperti yang kamu lihat. Ayah sehat,” jawab Beni dengan senyum sumringah.
Vinda yang mendengar bernapas lega. Dia langsung duduk di kursi berhadapan dengan ayahnya. Setelah memesan makanan dan minuman, Vinda menatap ayahnya yang tampak lebih kurus. Matanya memperhatikan setiap gerakan ayahnya yang begitu dirindukannya. Bahkan, hatinya merasa begitu bahagia ketika ayahnya memeluk erat tubuhnya. Sudah berapa lama ayah tidak melakukannya?
“Ayah,” panggil Vinda pelan, “ayah baik-baik saja? Ayah tampak lebih kurus,” ujar Vinda meyakinkan.
Beni yang mendengar mengangguk. “Ayah sehat, Nak. Akhir-akhir ini perusahaan masih mengalami kesulitan. Jadi, ayah sering lembur dan menyelesaikannya. Selebihnya, semua aman.”
“Syukurlah. Tetapi jangan lupa istirahat ya, Ayah,” sahit Vinda mengingatkan.
Tidak lama kemudian, pesanan mereka datang. Vinda segera menyantap makanan di hadapannya dengan lahap. Ini juga pertama kalinya dia makan bersama dengan papanya. Biasanya dia selalu saja sendiri dan merasa tidak memiliki teman untuk berbincang. Vinda merasa air matanya akan menetes karna ulah hatinya yang terlalu rapuh. Dengan cepat, dia mendongakan kepala dan mencegah air matanya metes. Dia harus tetap kuat di hadapan pria yang sangat disayangi.
“Nak, kamu sudah lama tidak main ke rumah. Apa kamu marah sama Ayah karena tidak membelamu waktu pernikahan dengan Michael?” tanya Beni sembari menatap Vinda yang masih menyantap makanannya.
Vinda menghentikan kunyahannya dan menatap ayahnya dengan senyum manis. “Vinda sudah berniat untuk berkunjung ke rumah, Yah. Tetapi Michael masih sibuk. Jadi Vinda harus menunggunya,” ucap Vinda berbohong. Padahal dia tidak mengatakan apa pun kepada Michael. Dia memilih menjauh dari pada menyakiti dan mengganggu kehidupan ayahnya.
“Sesekali mampir ke rumah. Ayah rindu masakan kamu,” ucap Beni membuat Vinda tersenyum pilu.
Vinda mengangguk dan menatap ayahnya dengan riang. Hari ini, dia hanya ingin berbahagia dengan ayahnya. Dia tidak ingin ada air mata yang mewakili perasaannya saat ini. Mereka asyik berbincang saat dering ponsel Vinda menghentikan percakapan mereka. Michael. Nama pria yang tersebut sudah terpampang jelas beserta fotonya. Senyum Vinda langsung mengembang semakin lebar dan meminta izin kepada ayahnya. Setelah mendapat anggukan, dia langsung menggeser layar untuk mengangkat panggilan suaminya dengan cepat.
“Sayang, kamu di mana?” tanya Michael dari seberang telfon.
“Aku di cafe dekat kantor Ayah,” jawab Vinda sembari melirik ayahnya yang masih memperhatikan.
“Kamu ngapain ke situ? Kenapa gak bilang-bilang?”
Vinda yang mendengar menghela napas panjang dan tersenyum lucu menghadapi tingkah Michael yang kadang seperti anak kecil. Bahkan, dia sering merasa heran dengan tingkah suaminya yang berbeda tiga ratus derajat.
“Sayang,” panggil Michael gusar karena sejak tadi Vinda tidak menjawab panggilannya.
Terdengar helaan napas dari arah Michael. “Lain kali kasih tahu aku, ya? Aku takut kamu kenapa-kenapa. Kalau tidak, kamu bisa hubungi Roy untuk ikut. Dia akan menjagamu dengan baik.”
“Iya, Ael, iya. Kamu jangan terlaku khawatir. Aku baik-baik saja.”
“Kalau begitu aku akan ke sana. Jangan kemana-mana.”
Vinda baru akan menjawab dan melarang, tetapi Michael malah memutuskan sambungan telfonnya. Vinda akhirnya pasrah dan melihat ayahnya yang sudah **** senyum ke arahnya.
“Ayah kenapa, sih?” gerutu Vinda merasa begitu malu.
“Ayah hanya senang, ternyata anak ayah bahagia bersama suaminya. Apa kamu mencintainya?”
Vinda yang ditanya langsung diam dan menatap ayahnya serius. Setelahnya, dia mengangguk antusias dan langsung menyunggingkan senyumnya. “Tentu saja aku bahagia. Sangat-sangat bahagia. Michael memperlakukanku dengan sangat baik, Ayah,” jawab Vinda dengan wajah berbinar dan itu membuat Beni lega. Setidaknya ia tidak terlalu mengkhawatirkan mengenai Rensi karena dia yakin, Michael akan menjaganya.
_____
Sepanjang perjalanan Rika hanya diam memperhatikan dua orang yang asyik berbicara dan berbincang. Meski sesekali Alice manatapnya dan ikut berbincang. Namun, Rika hanya menanggapi sebiasanya saja dan kembali diam. Terkadang, tanpa sengaja mata Randy yang tengah sibuk dengan kemudi bertemu dengan matanya, membuat Rika kembali menundukan kepala dan menjauhi pandangan yang begitu menyakitkan untuknya.
Randy memutuskan untuk mengantar Alice kembali ke rumah dan baru mengantar Vinda kembali ke kantor. Dia memilih jalur seperti itu karena rumah Alice yang tidak searah dengan kantor dan rumah sakit tempat kerja Randy dan kantor Rika.
Randy menghentikan mobilnya di depan rumah megah yang membuat Rika begitu terpana. Dia tahu mereka adalah orang-orang kaya dan itu membuatnya semakin yakin harus melepaskan Randy seutuhnya. Dia berada di dimensi yang terasa berbeda.
“Kamu harus mengantar dia sampai kantor dengan selamat. Awas kalau sampai ditinggal di pinggir jalan,” ancam Alice yang sudah memperingati Randy.
Rika yang mendengar berusaha tidak peduli dan menatap langit yang sudah begitu gelap. Padahal baru beberapa menit yang lalu cuaca begitu cerah. Setelah Alice berpamitan, Randy kembali melajukan mobilnya, menembus jalanan yang tampak begitu sepi.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Rika yang berada di sebelah Randy, menggantikan tempat duduk Alice juga hanya fokus dengan pemandangan jalan di hadapannya. Dia enggan bertatap mata dengan Randy.
Randy melirik Rika dan menghela napas panjang. “Kenapa kamu harus kembali?” tanya Randy membuat Rika mengalihkan pandangannya.
“Maksudmu?” tanya Rika tidak mengerti. Keningnya mengerut dan membuat alisnya hampir menyatu.
__ADS_1
Randy menghentikan mobilnya dan menatap Rika dengan pandangan tajam. “Kenapa kamu kembali setelah semua yang kamu lakukan kepadaku dulu, Rika? Kenapa? Kamu ingin melihat aku yang hancur karena kamu tinggalkan?” bentak Randy membuat Rika menatap terluka.
“Aku sudah susah mencoba melupakanmu, tetapi kamu dengan entengnya datang dan mengusik hidupku. Aku mohon, pergilah dari kehidupanku.”
Bukan hanya kamu yang hancur, Randy. Aku juga sama, batin Rika perih.
“Aku kembali atau tidak, bukan urusan kamu, Randy,” jawab Rika pelan.
“Oh, jadi mempermainkan hati seseorang bukanlah hal baru untukmu?” tanya Radny dengan tampang sinis, “aku bahkan menyesal pernah mencintaimu.”
“Kalau kamu menyesal, maka jangan pernah ingat kita pernah bersama,” ujarnya dengan tangan menggenggam erat tasnya. Dia hanya menguatkan diri dan membiarkan Randy semakin membencinya.
Randy yang mendengar hanya tersenyum sinis dan mengangguk paham. Tangannya langsung membuka kunci pintu mobilnya. Matanya menatap lurus ke depan. Rika yang sadar langsung menghela napas dan membuka pintu. Rika keluar dari mobil Randy dengan perasaan yang sudah bercampur aduk.
Randy segera melajukan mobilnya, meninggalkan Rika yang hanya menatapnya dengan pandangan nanar. Bahkan, dia tidak menghiraukan tetesan air yang mulai mengguyur jalanan. Padahal dia tahu, Rika berada di jalanan, seorang diri dan tak ada tempat berteduh.
“Aku harus melupakanmu,” ucap Rika dan Randy bersamaan, tetapi di tempat yang berbeda.
“Aku membencimu, Rika.”
“Aku mencintaimu, Randy.”
“Sangat,” lanjutnya secara bersamaan.
_____
Bara baru saja membuka pintu ketika terdengar tiga kali ketukan dan langsung dibuat terkejut. Kakaknya datang dengan pakaian yang basah kuyup karena menerjang hujan lebat yang mengguyur. Dengan cepat dia mengambilkan handuk dan menyuruh Rika membersihkan diri dengan air hangat.
Tidak lama kemudian, Rika sudah datang dan berganti pakaian.
“Minumlah,” ucap Bara sembari menyodorkan gelas berisi teh hangat.
“Terima kasih,” jawab Rika pelan.
Bara hanya diam dan memperhatikan kakaknya yang masih menggenggam gelas kaca berisi teh hangat. Rika menjadikannya sebagai penghangat tubuh dengan pandangan menunduk. Terdengar suara serak karena terlalu lama menangis. Dia hanya menangisi takdir yang terasa membuatnya semakin pilu.
“Kamu menangis?” tebak Bara tepat sasaran.
Rika yang mendengar hanya tersenyum kecut dan menggeleng. “Tidak. Aku sepertinya mau batuk saja.”
“Bohong,” celetuk Bara dengan nada tajam, “kamu habis menangis. Mata bengkak dan suara serak. Berhentilah membohongiku, Rika. Aku sudah cukup dewasa untuk tahu apa kesulitanmu.”
Rika yang mendengar langsung menghela napas panjang dan menatap adiknya dengan senyum tanpa beban. “Aku baik-baik saja.”
Muak. Perasaan itu yang membuat Bara enggan dekat dengan Rika. Rika hanya menanggung semua bebannya sendiri, tidak menceritakan apa pun dan kepada siapa pun, termasuk dirinya. Bara bahkan begitu muak ketika Rika hanya mengatakan dia baik-baik saja dengan senyum tanpa beban. Padahal, dia ingin membantu meringankan segala beban yang diderita kakaknya selama ini.
“Itu yang membuatku muak denganmu, Rika. Kamu berusaha menjadi kuat seorang diri dan tidak mau menceritakan kesusahanmu dengan orang lain. Kamu tidak pernah mau berbagi dengan siapa pun, termasuk aku,” kata Bara dengan wajah tenang, tetapi menyelipkan amarahnya.
“Aku sudah cukup dewasa untuk membantumu dan bukan hanya berpangku tangan tanpa tahu apa kesulitanmu. Aku tidak mau menjadi beban untukmu lagi,” tambah Bara masih dengan amarah.
Rika yang mendengar menghela napas panjang dan menatap adiknya lekat. “Bara, aku hanya....”
“Kamu hanya tidak mempercayaiku bahwa aku sudah cukup dewasa untuk membantu, Rika?” potong Bara dan segera bangkit, “aku tahu dan mulai sekarang aku akan menjadi adik seperti itu. Aku tidak akan lagi menanyakan apa masalahmu. Selesaikan saja sendiri karena kamu memang hebat.”
Rika yang mendengar langsung menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Dia menatap adiknya yang sudah menjauh dan masuk ke kamar. Padahal niatnya hanya tidak ingin membuat Bara menjadi kepikiran, tetapi ternyata pikirannya selama ini salah. Bara malah menyalahkan pemikirannya dan merasa tidak diharapkan sama sekali.
Rika menghembuskan napasnya berulang kali dan mulai bangkit. Dia melangkah mendekati tas kerjanya dan mengambil selembar kertas yang diberikan Alice. Matanya menatap gambar yang dijadikan sampul dalam undangan tersebut. Rika menatap pintu kamar adiknya dan melangkah mendekat. Tangannya mengetuk pintu kamar Bara dan tidak mendapatkan jawaban apa pun.
“Bara, bisa kita bicara sebentar?” tanya Rika pelan.
“Gak. Udah gak usah bicara sama aku lagi,” teriak Bara dari dalam kamar.
Rika yang mendengar tertawa kecil dan mulai jongkok. Dia memasukan kertas tersebut ke dalam kamar Bara melalui lubang pintu bagian bawah. Selanjutnya, dia memilih untuk duduk dan bersandar pada kusen pintu.
“Itu undangan pertunangan. Dia sudah menemukan pendampingnya, Bara,” ucap Rika tanpa menahan air matanya. Dia memeluk kakinya sendiri dan mulai mengeluarkan apa yang ada di hatinya selama ini.
“Aku masih mencintai dia padahal aku yang melukainya. Aku yang membuatnya membenci, tetapi aku tidak rela mendapat tatapan penuh luka darinya. Bahkan, terkadang aku berdoa semoga dia bisa kembali lagi padaku. Bukahkah aku egois?” ucap Rika di sela tangisnya.
Cekrek.
Suara pintu terbuka, menampilkan wajah Bara yang tercengang dengan tangan menggenggam undangan yang diberikan. Rika tersenyum pilu dan bangkit. Dia menatap Bara dengan pandangan penuh kepedihan.
__ADS_1
“Aku patah, Bar. Aku patah,” ucapnya sembari meletakan kepalanya di pundak Bara lesu. Hari ini, untuk pertama kalinya Rika menujukan tangis penuh luka kepada orang lain. Rika mengeluarkan seluruh isi hatinya, menagis sejadi-jadinya dan meluapkan semuanya. Sudah terlalu banyak penderitaan yang diterima selama ini.
_____