
Vinda menatap orang yang berlalu-lalang di depannya. Bibirnya menyunggingkan senyum bahagia yang selalu ditunjukan. Meski hatinya tetap merasakan pedih yang teramat ketika mengingat kakinya yang masih belum juga bisa digerakan. Kembali, Vinda mulai berpasrah dengan takdir yang pernah membuatnya menyerah dan menyalahkan Tuhan.
Tanpa sadar, air matanya mulai mengalir, menitikan tetesan yang terasa memilukan. Vinda hanya menghela napas, tetapi setiap kali mengingat Michael yang merawatnya selama ini, rasa sakitnya kembali muncul. Rasanya dia belum bisa percaya dengan apa yang terjadi padanya. Harusnya dia yang merawat Michael dan anaknya.
“Mom, jangan menangis,” tegur seorang bocah kecil yang sudah menatap Vinda dengan pandangan datar. Namun, wajahnya menunjukan kasih sayang yang memang ditunjukan kepada kedua orang tuanya.
Vinda yang mendengar tersenyum kecil dan menghapus air matanya. Menatap Mikai, putra semata wayangnya dengan penuh cinta. “Kamu dari mana, sayang?” tanya Vinda lembut.
Mikail hanya diam dan memberikan es krim yang baru saja dibeli. Tangan kecilnya mengulur memberikan kepada Vinda dan langsung diterima dengan senang hati.
“Terima kasih, baby,” ucap Vinda dan mendapat anggukan. Matanya menatap sekeliling dan kembali menatap Mikail yang sudah duduk di dekatnya dan mulai menikmati es krimnya. “Sayang, kamu sendiri? Daddy ke mana?” tanya Vinda karena setahu dia, Mikail pergi bersama dengan suaminya.
Mikail hanya mengangkat bahu ringan dan masih menatap lurus pemandangan sebuah keluarga yang baru saja memiliki bayi berusia satu tahun. Sedangkan mulutnya masih asyik menikmati makanan yang ada di tangannya.
Vinda menghela napas perlahan dan mengelus puncak kepala Mikail pelan, membuat anaknya menatap ke arah Vinda dengan wajah tanpa ekspresi sama sekali.
Persis seperti Michael, batin Vinda menyadari sikap Mikail yang memang sama seperti Michael. Tetapi, Vinda berharap, Mikail akan jauh lebih bisa mengontrol emosi dan tidak melakukan semua sesukanya.
“Ada apa, Mom?” tanya Mikail dengan mata kecil yang menatap Vinda lekat.
Vinda hanya menggeleng dan tersenyum. “Kamu bahagia di sini?”
“Tentu,” jawab Mikail singkat.
“Baiklah. Kalau kamu mau main, main saja. Mom bisa di sini sendiri,” ujar Vinda tidak tega karena jika Michael pergi, Mikail tidak pernah mau pergi darinya.
Mikail menggeleng pelan. “Tidak perlu. Mikail suka sendiri.”
Vinda yang mendengar hanya menghela napas perlahan dan mulai menikmati es krim sore itu bersama dengan Mikail. Sesekali matanya melirik ke arah anak kesayangannya dan mengulum senyum karena apa pun yang ada di hadapannya, Mikail masih tetap saja sama. Tidak pernah terlihat senyumnya sama sekali.
“Apa karena keadaanku, dia jadi bocah kecil yang begitu dingin? Atau ini karena gen Michael yang terlalu banyak menyebar?” tanya Vinda dengan diri sendiri dan mengamati Mikail lekat. Namun, bagaimana pun dia menyangkal, semua orang juga akan tahu bahwa Mikail adalah anak Michael. Semua yang melekat padanya benar-benar mirip Michael, kecuali bagian mata Mikail yang sama seperti Vinda.
Vinda baru menutup mulut dan menatap ke depan untuk berpikir. Namun, tidak berselang lama, dia dikegatkan dengan seikat mawar merah dan putih yang diberikan oleh seseorang di belakangnya tepat di depan wajahnya.
Seketika, Vinda membalik badan dan menatap Michael tengah berada di belakangnya dan tersenyum begitu manis.
“Sorry, Darl. Aku terlalu lama meninggalkanmu,” ucap Michael sembari mengecup pelan kening istrinya. Matanya menata Mikail menatapnya tanpa peduli apa pun. Tangannya mengelus pelan kepala anaknya dan tersenyum kecil.
“Jagoan, kamu menjadi mom dengan baik?” tanya Michael dengan nada mata menatap antusias.
“Yes, Dad.”
Michael yang mendengar jawaban dari Mikail hanya tersenyum kecil dan menatap Vinda kembali. Istrinya bahkan masih menatapnya dengan pandangan yang tidak beralih sama sekali.
“Ada apa, sayang?” tanya Michael dengan lembut.
“Bunga untukku?” Vinda balik bertanya dan menatap seikat bunga yang sudah dibawa Michael.
Michael yang mendengar hanya tersenyum dan mengagguk. “Untuk malaikatku dan Mikail. Seorang bidadari yang sudah mau bangun dari tidur panjangnya,” ucap Michael dengan suara lembut dan membuat Vinda menatap haru.
__ADS_1
Vinda yang mendengar langsung memeluk Michael yang ada di belakang kursi dengan tangis yang mulai mengalir. Michael tersenyum dan mengecup puncak kepala Vinda dengan begitu pelan.
“Terima kasih sudah bangun dan tetap berada di antara kami, sayang,” ujar Michael memberitahukan apa yang ada di isi hatinya. Dia merasa, benar-benar bahagia dengan semua yang sudah Tuhan gariskan.
Vinda hanya diam dan memeluk Michael dengan begitu erat. Rasanya dia benar-benar beruntung mendapatkan Michael dan Mikail dalam hidupnya. Mikail hanya tersenyum tipis dan kembali lagi bersikap datar dan menatap kolam tidak jauh dari tempat mereka saat ini. Michael memang sengaja menbawa Vinda dan Mikail ke tempat di mana dia bertemu dengan Vinda ketika dia kecil.
Tetaplah bersamaku, sayang. Dengan begitu aku akan tetap merasa sempurna.
_____
Michael menggendong Vinda dan meletakannya perlahan di ranjang. Kegiatan rutin ketika malam dan pagi hari. Namun, dia tidak pernah merasa lelah atau pun ingin meninggalkan Vinda. Dalam kondisi apa pun, dia hanya ingin bersama dengan Vinda.
“Mas,” panggil Vinda dengan pelan. Matanya menatap Michael yang masih dengan telaten merawatnya.
“Apa, sayang?” tanya Michael dengan lembut dan sudah menaiki ranjang. Memasukan sebagian tubuhnya ke dalam selimut.
Vinda menatap Michael yang ada di atasnya karena posisinya suaminya yang duduk. “Bagimana jika pada akhirnya, aku tidak akan bisa berjalan lagi?” tanya Vinda dengan perasaan bercampur.
“Aku tidak masalah dengan itu,” jawab Michael santai.
“Lalu, aku sudah tidak memiliki anak lagi. Aku hanya bisa melahirkan Mikail dan tidak bisa merawatnya,” sambung Vinda dengan perasaan tertekan, “jika kamu ingin menikah kembali, aku akan merestuimu, Mas,” lanjut Vinda dengan suara tercekat.
“Hus,” ucap Michael tidak suka dengan perkataan Vinda, “aku tidak berniat menikah lagi ataupun memaksamu untuk memiliki anak, sayang. Aku mencintaimu apa adanya.”
“Tetapi....”
“Tidak ada kata tetapi,” potong Michael yang segera memeluk Vinda erat. Dia takut jika dia akan kehilangan Vinda untuk kesekian kalinya. “Tidak akan ada tetapi untuk cinta, sayang. Aku mencintaimu dan akan selalu begitu. Tidak akan ada yang berubah apa pun keadaannya. Kamu akan tetap menjadi satu-satunya wanita yang aku nikahi. Tidak ada yang lain,” putus Michael tegas.
“Tenanglah. Aku akan selalu ada bersama denganmu. Aku tidak akan pernah meninggalkamu,” janji Michael dengan sepenuh hati.
Mikail yang mendengar hanya menatap dengan pandangan bahagia dan kembali ke kamar. Awalnya dia hanya ingin tidur bersama dengan orang tuanya, tetapi diurungkan karena dia merasa tidak ingin mengganggu waktu Daddy dan Mommy.
_____
Vinda menjalani terapi pemulihan yang selalu di jadwalkan oleh dokter pribadinya cukup lama. Michael juga selalu ada untuk menemaninya. Dia bahkan tidak pernah absen barang sekali pun untuk menemani Vinda dan memberikan selamat. Hingga pada akhirnya, Vinda perlahan bisa melangkah kecil. Perasaan syukur yang benar-benar membahagiakan untuknya.
“Mas, aku bisa melangkah,” teriak Vinda dengan wajah penuh kebahagiaan.
Michael yang mendengar langsung menitikan air mata kecil menatap haru istrinya yang tampak begitu bersemangat. Rasanya dia sudah lama tidak melihat wajah Vinda yang diselimuti dengan kebahagiaan. Dia tahu, meski dia selalu berusaha memberikan kebahagiaan untuk istrinya, tetap saja Vinda merasa sedih. Michael tahu apa yang ada di dalam benak istrinya.
Perlahan, Vinda mulai bisa melangkah satu per satu. Semakin jauh dan jauh. Butuh waktu untuk sampai di tahap, di mana Vinda sudah bisa melangkah meski sedikit tertatih. Michael sendiri selalu memberikan semangat dan mendukung Vinda. Mikail yang awalnya cuek juga perlahan mulai menyemangati ketika Vinda belajar di rumah.
“Semangat, Mom. Mikail akan menangkap Mom kalau nanti jatuh,” ucap Mikail membuat Vinda tertawa kecil karena meski anaknya memberi semangat, wajahnya tetap terlihat datar.
“Iya, jagoan kecil Mom,” jawab Vinda berusaha kembali melangkah perlahan.
Jatuh bangun sudah dijalani dengan begitu sabar. Dengan keluarga yang selalu mendukung sampai pada akhirnya, Vinda mampu melangkah dengan normal. Matanya menatap Michael dengan penuh haru dan menitikan air mata. Perlahan, dia melangkah mendekati Michael yang menunggunya di bangku taman dan tersenyum.
“Aku bisa jalan lagi,” ujar Vinda menujukan kaki yang sudah lama tidak pernah berfungsi dengan semestinya.
__ADS_1
“Selamat, sayang,” kata Michael sembari memeluk Vinda erat.
Vinda membalas pelukan Michael dan menghela napas lega. “Terima kasih, Mas. Terima kasih telah menemaniku di masa sulit. Aku benar-benar bersyukur memiliki kamu,” ucap Vinda dengan penuh kebahagiaan.
Michael hanya diam dan memeluk istrinya lebih erat. Terima kasih, Tuhan. Michael benar-benar lega melihat keadaan Vinda yang sudah membaik. Dia tidak peduli dengan kehamilan atau pun anak kedua yang pernah dirancangnya dulu. Dia hanya butuh Vinda dan Mikail untuk selalu ada bersama dengannya. Sudah cukup apa pun hasilnya.
Aku mencintaimu tanpa diduga, sayang. Sampai saat ini, berada di titik seperti ini pun aku tidak menyangka. Terima kasih telah membuat hatiku berubah. Terima kasih sudah menjadi pengganti Rensi waktu itu. Terima kasih karena sudah membuatku sadar dengan perasaan konyolku selama ini, batin Michael dengan segala kebahagiaan yang begitu besar.
“Terima kasih karena selalu menjadikan aku menjadi seorang wanita yang dipenuhi kebahagiaan, Mas,” gumam Vinda dengan senyum sumringah.
Terima kasih sudah menghadirkannya dalam hidupku, Tuhan.
_____
Michael membawa Vinda masuk ke dalam rumah. Suasana sepi dan bahkan tidak ada seorang pun yang datang menghampiri membuat Vinda merasa aneh. Matanya menatap sekeliling dengan tangan yang masih berpegang dengan tangan Michael.
“Sayang, semuanya ke mana? Mikail?” tanya Vinda merasa khawatir. Pengasuh anaknya juga tidak ada. Di luar juga tidak ada satpam yang berjaga. Michael bahkan harus membuka gerbang rumahnya sendiri.
“Tenanglah, sayang. Mungkin mereka pergi ke sebuah tempat,” ujar Michael tidak ambil pusing.
Vinda mulai menitikan air mata, takut jika terjadi apa-apa dengan anaknya. “Mas, Mikail,” ucap Vinda dengan air mata mengalir deras.
Michael segera memeluk Vinda dan menenangkannya. “Tenanglah. Kita akan cari.”
Michael membawa Vinda melangkah semakin dalam memasuki rumahnya. Dia tahu di mana anak dan seluruh penghuni rumahnya. Perlahan, dia membuka pintu dan memberikan sebuah kejutan lain untuk istrinya. Kejutan kecil yang sudah disiapkan oleh seluruh penghuni rumahnya.
Vinda yang sejak tadi meletakan kepalanya di dada bidang Michael dengan air mata mengalir langsung menatap dengan perasaan bercampur. Matanya menatap bagian kolam dengan taman kecil yang sudah terias. Ada sebuah kue besar di meja tidah jauh dari pendopo dan juga ucapan selamat untuk semua pencapaiannya.
Matanya berganti menatap bocah kecil dengan pakaian rapi melangkah ke arahnya, membuat Vinda menundukan diri dan menatap Mikail yang sudah berada di depannya. Berusaha menujukan wajah ramah dan mengekpresikan seluruh kebahagiaan. Namun, semua tampak kaku karena memang sikap Mikail yang sudah dingin dari orok-nya.
“Jangan dipaksakan, Mom tau kamu bahagia dengan semuanya,” ucap Vinda dengan tangan yang mengelus pelan puncak kepala anaknya.
Mikail yang mendengar kembali datar dan hanya menunjukan senyum tipisnya ke arah Vinda. Tangan kecilnya memberikan seikat bunga mawar yang langsung diterima oleh Vinda dengan rasa haru.
“Selamat, Mom. Terima kasih karena sudah berjuang untuk kami dan terima kasih karena tidak pernah putus asa. Mikail sayang Mommy.”
Vinda yang mendengar segera menghela napas keras dan menitikan air mata. Tetapi, sedetik kemudian tangan kecil Mikail menghapus air mata yang melewati pipinya dan mengecup pipi dan kening Vinda bergantian.
“Jangan pernah menangis, Mom. Mikail lebih suka Mom yang begitu ceria dan tidak pernah bersedih sama sekali. Karena kalau Mom menangis, Mikail dan Dad akan merasakan sedih yang sama,” ucap Mikail dengan mata polos yang menatap Vinda erat.
Michael yang mendengar tersenyum langsung ikut duduk berjongkok dan mengacak pelan rambut anaknya. “Siapa yang mengajarimu berkata seperti itu?” tanya Michael dengan bibir mengulum senyum.
“Daddy.”
Jawaban Mikail membuat seisi ruangan tertawa. Vinda juga mulai menghapus air matanya dan tersenyum lega. Dengan cepat dia memeluk Mikail dan meresapi kebersamaan. Michael yang melihat langsung ikut memeluk kedua orang tersayangnya. Meresapi setiap kebersamaan yang terasa membahagiakan untuknya. Keluarga kecil yang sempurna yang tidak pernah terbayangkan olehnya.
Mikail segera menarik Vinda untuk bangkit setelah pelukan mereka terlepas. Mengajaknya untuk mendekat ke arah para pegawainya berkumpul dan meniupkan lilin di hari yang cerah. Sampai sebuah tepuk tangan datang dan membuat Vinda lega.
Terima kasih karena sudah menghadirkan mereka dalam kehidupanku, Tuhan, batin Vinda penuh rasa syukur.
__ADS_1
_____