Wedding Drama

Wedding Drama
Bagian 54_Kesalahan


__ADS_3

Bara tengah menunggu Rika di ruang tamu. Sudah pukul sepuluh dan kakaknya masih belum juga kembali. Beberapa kali dia bangkit dan memastikan apakah Rika sudah datang atau belum. Tidak jarang Bara memilih untuk keluar gang dan menunggu Rika di depan klub malam dan mengabaikan beberapa wanita yang mencoba menggodanya. Dia tidak tertarik sama sekali.


Bara hendak keluar dari rumah ketika mendapati Rika sudah berada tidak jauh dari kontrakan dengan langkah lesu. Matanya tampak sembab dengan make up yang luntur. Dia tahu ini kesalahan kakaknya karena terlalu susah untuk move on dan melupakan Randy, pria yang bahkan sudah ribuan kali menyakitinya.


“Kak, kamu baik-baik saja?” tanya Bara yang langsung mendekati Rika.


Rika menghentikan langkah dan menatap Bara dengan pandangan yang mulai mengabur. Sejak keluar dari acara pertunangan Randy, dia sudah menitikan air mata. Selama di perjalanan, dia juga menangis tanpa henti. Rasanya dia masih belum bisa melepakan Randy seutuhnya meski sudah mencobanya.


“Hei, kamu baik-baik saja?” tanya Bara lagi dengan wajah yang tampak begitu khawatir.


Rika yang mendengar menundukan wajah dan menitikan kembali air matanya. “Apa melepaskan sesakit ini, Bara? Padahal aku sudah melepaskannya sejak lama,” keluh Rika dengan air mata yang mulai menetes.


Bara segera menarik kakaknya dan memeluknya erat. Dia tidak tega melihat kakaknya menangis setiap hari hanya karena pria lemah yang bahkan tidak berusaha mencari kebenaran dari ucapan kakaknya. Sejujurnya, Bara begitu membenci Randy karena sifatnya yang tidak pernah mencari tahu terlebih dahulu apa yang terjadi dan mempercayai semua perkatakan orang-orang terdekatnya. Andai saja. Andai saja Randy lebih pintar dan mencari tahu keberanannya, Bara yakin kakaknya tidak akan menderita seperti saat ini. Setidaknya dia akan bisa melepaskan dengan benar dan tanpa dibenci sedikitpun.


“Hei, kamu yang memilih jalan ini. Jadi, apa pun konsekuensinya, aku akan tetap bersamamu,” ucap Bara menenangkan.


“Tetapi rasanya jauh lebih sakit dari pada dia memutuskanku,” keluh Rika sembari meletakan kepalanya di dada bidang adiknya.


“Tenanglah. Perlahan, kamu harus mulai meninggalkannya. Itu adalah cara terbaik untuk melepaskan Randy secara penuh, Kak,” saran Bara membuat Rika diam.


Rika melepaskan pelukannya dan mulai berpikir. Apa yang dikatakan Bara memang ada benarnya. Jika dia masih tetap melihat pria tersbut, akan sulit baginya melepaskan. Salah satu cara terbaik untuknya adalah dengan pergi sejauh mungkin dari kehidupan Randy, membiarkan Alice sepenuhnya menjadi tunangan yang memang diinginkan pria tersebut.


“Mungkin aku akan pergi dari tempat ini, Bar,” celetuk Rika membuat Bara yang sejak tadi menatapnya khawatir semakin dibuat khawatir.


“Apa? Kamu yakin?” tanyanya merasa jika itu hanya pikiran sementara Rika karena terlalu terbawa suasana.


Rika mengangguk dengan mata memancarkan keyakinan. “Aku sudah memikirkan ini sejak lama. Aku memang berniat menjauh dari Bara sejak pertama kali melihatnya di kantor. Aku tahu, tidak selamanya aku bisa melupakannya jika masih terus bersama.”


“Lalu, kamu sudah memikirkan ke mana akan pergi, Rika?” selidik Bara karena dia yakin, kakaknya belum memikirkan ke mana dia akan pergi.


Rika diam sejenak dan menatap Bara dengan senyum sumringah. “Aku rasa di desa nenek dulu akan menjadi tempat yang baik untuk tinggal. Setidaknya di sana jauh dari keramaian dan tidak ada yang mengenal kita.”


“Desa nenek?” ulang Bara mencoba menimang keinginan kakaknya, “tetapi kamu yakin akan tinggal di sana?”


Rika menghapus sisa air matanya dan mengangguk kembali. “Di sana masih terlalu hijau dan juga asri, Bara. Jadi aku bisa tinggal di sana dan memulai usahaku sendiri.”


Bara menghela napas keras dan mengagguk. “Baiklah kalau memang itu mau mu. Aku akan menunda kepulanganku ke Jepang dan membantumu merapikan barang. Besok aku akan ke sana dan mencari rumah yang bisa kamu tinggali.”


Rika tersenyum bahagia. “Terima kasih dan maaf malah merepotkanmu.”


“Tidak masalah. Sekarang kita hanya berdua, jadi semua masalah harus kita selesaikan bersama. Jangan merasa paling tua dan menanggung semua beban sendiri lagi, ya?” ujar Bara tidak suka dengan sifat tertutup Rika.


Rika mengangguk dan melangkah masuk. Dia masih mencoba menebarkan senyum agar Bara tidak mencurigainya. Mulai malam ini, aku akan benar-benar mencoba melepaskanmu, Randy. Aku akan menjalani hari-hari baru dan tanpa dirimu. Sama seperti ketika kamu belum datang dan menjadi alasanku terus bersemangat, batin Rika meyakinkan diri sendiri.


_____


Dua hari kemudian.


Rika melangkah ke kantor dengan langkah pasti. Beberapa kali menghela napas dan membuangnya pelan. Bara sudah kembali ke kontrakan dan merapikan barang-barang mereka karena sudah menemukan tempat tinggal yang baru. Rika tahu jika tempat tinggalnya kali ini begitu jauh dari keramaian dan bahkan hanya sekedar untuk ke supermarket. Di sana hanya ada pasar kecil yang akan tutup saat sore dan kembali beraktivitas ketika pagi hari.


Rika menggenggam erat ampolop yang sejak tadi dibawanya. Sudah dua hari dia tidak melihat Randy dan itu semakin membuat perasaannya membaik. Dengan begitu, dia akan bisa melupakan dengan cepat. Perlahan, Rika mulai menghapus semua kenangan mereka. Dia membuang semua barang yang berhubungan dengan pria tersebut. Rasanya jika dia masih menyimpannya, akan sulit untuk melupakan.


Rika menghela napas keras ketika sudah sampai di depan pintu bertuliskan ‘Direktur Utama’. Perlahan, dia mulai mengangkat tanganya dan mengetuk pintu perlahan, meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja. Tidak lama kemudian, suara keras Michael mengintrupsinya untuk masuk. Rika segera membuka dan menatap pria yang masih tampak begitu sibuk dengan pekerjaaannya.


Michael yang melihat Rika hanya menatap sekilas dan kembali sibuk dengan tugasnya. “Ada apa, Rika?” tanya Michael tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di meja.


Rika melangkah dan segera duduk di kursi berseberangan dengan Michael dan hanya di batasi meja kerja pria tersebut. Tangannya segera menyodorkan kertas tersebut dan berhasil membuat perhatian Michael beralih kepadanya. Michael menatap Rika dengan kening berkerut.


“Apa ini?” tanyanya dengan mata menajam.


“Maaf, Pak. Saya mengundurkan diri. Mulai besok saya sudah tidak bisa bekerja di perusahaan, Bapak,” jawab Rika dengan menundukan kepala.


“Apa? Kenapa?” tanya Michael bingung.


Rika menelan ludah dan terseyum manis seperti biasa. “Karena saya harus pindah ke kampung halaman nenek saya, Pak. Nenek saya membutuhkan saya untuk merawatnya,” ucap Rika sekenanya. Mengenai rumah di tempat neneknya dulu tinggal memang benar, tetapi tidak dengan mengurus neneknya karena neneknya sudah lama sekali meninggal.


Michael meletakan amplop tersebut dan menghela napas panjang. Matanya menatap Rika dengan tatapan menyelidik. “Apa ini semua karna Randy?” tanyanya membuat Rika mendongak.


“Apa?” ujar Rika merasa dia salah dengar. Bagaimana atasanya tahu mengenai masalahnya dengan Randy?


“Istri saya sudah mengatakan semuanya. Apa benar ini karena Randy?” jelas Michael tahu apa yang dipikirkan Rika karena gadis di hadapannya sudah menatap bingung.

__ADS_1


Ah, dia hampir lupa mengenai Vinda, batin Rika dengan senyum kecut dan menggeleng beberapa kali.


“Tidak, Pak. Ini tidak ada hubungannya dengan Tuan Randy,” sahut Rika lagi-lagi berbohong.


“Kamu yakin akan keluar?” tanya Michael sekali lagi, takut jika nantinya Rika menyesal telah meninggalkan perusahaannya.


Rika mengangguk. “Saya yakin, Pak.”


“Baiklah. Aku juga tidak bisa memaksamu untuk tetap tinggal. Mulai besok kamu tidak akan bekerja di perusahaan ini dan untuk gaji, Valen akan mengirimnya ke tabunganmu segera,” jelas Michael dengan nada santai.


“Terima kasih, Pak,” ujar Rika sembari menatap Michael dengan senyum lega.


“Sama-sama, Rika. Terima kasih sudah pernah menjadi bagian dari perusahaan ini. Saya harap kamu akan menjadi lebih sukses nantinya,” kata Michael dan menyalami Rika.


“Baik, Pak,” balas Rika sembari menjabat tangan Michael lembut.


Setelahnya, Rika kembali ke meja kerjanya dan menyelesaikan pekerjaannya sebelum pergi. Sedangkan Michael, dia memilih memainkan ponsel dan mencari nama seseorang. Setelah mendapatkannya, dia langsung menekan tulisan panggil.


“Halo, bisa bertemu,” ucap Michael setelah panggilannya tersambung.


“.....”


“Baiklah. Aku akan ke sana,” jawab Micahel dan segera mematikan panggilannya.


Michael membereskan kertas di mejanya dan keluar. Dia sudah menitipkan pesan bahwa dia sedang berada di luar kantor kepada Rika dan langsung diangguki. Langkahnya mulai meninggalkan bangunan kantornya dan melaju dengan kencang. Menembus jalanan dengan panas matahari yang bersinar.


_____


Randy baru saja keluar dari ruangannya ketika sudah memasuki jam makan siang. Dia melepaskan snelli-nya dan meletakan di bangku kebesarannya. Selanjutnya, dia melangkah menuju cafe depan rumah sakit. Hanya membutuhkan waktu lima menit dan dia akan sampai. Matanya juga sudah menangkap mobil seseorang yang akan ditemuinya kali ini.


Randy membuka pintu cafe dan mencari Micahel yang sudah berada di ujung ruangan dengan wajah sombong yang masih dibanggakan. Dengan langkah pasti, dia mulai mendekati saudaranya tersebut dan menatap dengan pandangan menyelidik.


“Kenapa kamu meminta bertemu denganku hari ini?” tanyanya ketika sudah duduk di depan Micahel. Dia merasa aneh saja karena Michael yang mengajaknya untuk bertemu. Padahal dia benar-benar susah untuk ditemui, bahkan ketika sudah membuat janji sekalipun.


“Aku hanya ingin berbincang dengan saudaraku yang sebentar lagi akan menikah,” jawab Michael dengan wajah santai yang membuat Randy muak karena merasa begitu penasaran.


“Aku tidak percaya dengan ucapanmu, Michael. Setahuku, seorang Micahel Aditama tidak memiliki waktu sebanyak itu hanya untuk berbincang santai. Meskipun ada, dia pasti menggunakannya untuk menggoda istrinya,” celetuk Randy dengan nada sinis.


“Sudahlah, Michael. Aku tidak ada waktu untuk meladenimu. Jadi, katakan apa yang ingin kamu katakan,” ucap Randy tidak sabar dan mulai tidak suka dengan basa-basi yang dilakukan Michael. Jika saja bukan pria di hadapannya yang berbasa-basi, dia masih bisa memakuluminya.


Michael akhirnya menghentikan tawanya dan mengeluarkan kertas yang sudah dibawanya dari kantor. Dia menyodorkannya kepada Randy dan malah membuat pria tersebut semakin bingung.


“Ini apa?” tanya Randy dengan alis yang sudah saling bertaut.


“Surat pengunduran diri Rika,” jawab Michael santai.


Randy diam seketika. Matanya masih menatap lekat amplop yang digenggamya. Namun, sedetik kemudian, dia membantingnya dan menatap Michael datar. “Terus kenapa kamu memberikannya kepadaku? Dia karyawanmu dan bukan karyawanku. Jadi, aku tidak peduli sama sekali dengan kehidupannya.”


“Aku hanya berpikir mungkin mantan pacarnya berhak tahu,” celetuk Michael dan menatap Randy lekat.


“Apa? Aku bahkan tidak pernah mengatakannya kepadamu. Jadi, dari mana kamu tahu kalau dia adalah mantan kekasihku?” Randy sudah menatap pria di hadapannya dengan tatap curiga. Apa selama ini Michael mengikuti semua kegitaannya?


“Jangan berpikir aku menguntitmu, Randy,” celetuk Michael seperti paranormal. “Aku hanya mendengarnya dari Vinda mengenai hubungan kalian berdua dan aku merasa benar-benar seperti mendapat kejutan. Ternyata selama ini Rika yang selalu kamu abaikan adalah mantan kekasih saudaraku sendiri.”


“Apa kamu masih mencintainya?” tanya Michael langsung dan dengan tangan yang sudah bersedekap, matanya memandang Randy dengan tatapan lekat dan tidak mau berpaling sedikit pun.


Randy menghela napas panjang. “Aku bahkan sudah menyesal pernah menjadikannya kekasih,” ungkap Randy dengan amarah menggebu, “kalau sudah tidak ada lagi, aku akan kembali ke rumah sakit. Pekerjaanku masih banyak dan aku tidak mau membuat pasienku menunggu terlalu lama.” Randy langsung bangkit dan melangkah meninggalkan Michael yang masih memandangnya. Dia malas membahas mengenai Rika. Saat ini tujuannya adalah menjalani hidup dan mulai membiasakan diri bersama dengan Alice.


Michael hanya diam dan tak menanggapi apa pun. Mana mungkin dia sudah tidak mencintai, tetapi masih begitu peduli? Michael jadi ingat waktu Randy memohon ketika Rika mendaftar ke perusahaannya.


“Ayolah, Micahel, terima dia di perusahaan ini,” mohon Randy saat melihat biodata Rika berada di meja kerja Michael.


“Dia belum memiliki pengalaman untuk menjadi sekretarisku, Randy.”


“Kamu harus tahu, dia begitu pandai dan cepat belajar. Jadi dia tidak akan mengalami kesulitan untuk belajar.”


“Dari mana kamu tahu?” tanya Michael dengan tatapan menyelidik.


Randy awalnya diam dan meneguk salivanya kasar. Dia menatapa Micahel dan tersenyum. “Dia adalah teman satu sekolahku.”


Mengingat kenangan itu membuat Michael baru sadar dengan kenyataan yang sebanarnya. Itu dilakukan Randy karena dia masih ingin melihat Rika dan membuat gadis tersebut tetap berada di dekatnya.

__ADS_1


“Dasar bodoh. Seharusnya kamu mengatakan kepadanya mengenai perasaanmu. Cari tahu apa yang sebanarnya terjadi. Jangan main asal tuduh aja,” gerutu Michael kesal melihat Randy yang ternyata bodoh.


Kamu hanya melukai dirimu sendiri ketika menerima pertunangan dengan Alice, batin Michael dan meneguk kembali kopinya. Akhirnya, waktu sorenya di habiskan hanya untuk diam di cafe dekat rumah sakit Randy dan tanpa teman.


_____


Apa yang dikatakan tidak penting untuk Randy ternyata adalah hal yang begitu penting dan mampu mengusik ketenangannya. Bahkan, sejak keluar dari cafe tersebut, pikirannya masih terus terfokus dengan surat pengunduran diri yang diajukan Rika kepada Micahel.


Apa ini karenanya? Apa semua karena Rika sudah akan menikah dengan pria yang dilihatnya? Atau ternyata malah Rika memang tidak ingin dekat dengannya? Pertanyaan-pertanyaan yang pasti tidak akan ditemukan jawabannya jika hanya diam di tempat.


Randy yang meras frustasi malah datang ke tempat yang menurutnya menjijikan. Untuk pertama kalinya, dia masuk ke dalam klub malam. Dia ingin melupakan semua masalahnya dan juga menghilangkan kenangannya bersama dengan Rika.


“Kamu benar-benar kurang ajar, Rika,” desis Randy yang sudah berada di bar dan memesan minuman.


Randy merasa aneh dengan minuman yang sudah merembes masuk ke dalam mulutnya dan mengalir melalui tenggorokan. Namun, bukannya berhenti, dia malah mengulanginya lagi dan lagi, sampai mulai kehilangan akal dan kepalanya terasa berat.


“Kamu membuatku terluka, Rika. Kamu berhasil membuat hidupku berantakan,” gumamnya dengan kesadaran di ambang batas.


Randy hanya tersenyum kecil dan lagi-lagi menenggak minuman tersebut, sampai sebuah suara yang tidak asing untuknya terdengar begitu nyata di telinganya. Bahkan, gambaran yang begitu sama terpampang di depannya.


“Randy.”


_____


Rika awalnya keluar untuk ke supemarket menghentikan langkah ketika dilihatnya mobil hitam dengan plat nomor yang terasa tidak asing. Langkahnya berbalik dan melihat semakin dekat, takut jika pandangannya mulai tidak benar. Setelah mendekat, dia membelalak mengingat siapa pemilik mobil tersebut.


“Randy. Untuk apa dia datang ke tempat seperti ini?”


Rika yang merasa penasaran langsung masuk, mengabaikan tatapan orang-orang yang merendahkannya karena dia hanya mengenakan kaos dan juga celana pendek. Ditambah Rika hanya menggunakan sandal biasanya karena dia memang selalu berpenampilan seperti itu ketika berada di rumah.


Dentuman keras membuat telinga Rika terasa hampir pecah. Matanya menatap sekeliling dan mulai melangkah semakin masuk, matanya menyisir satu per satu pengujuung dan mencari keberadaan pria yang dikenalnya. Awalnya dia hanya memastikan bahwa Randy baik-baik saja dan akan pergi. Namun, setelah menemukan pria tersebut dengan kondisi mengenaskan membuat niat awalnya berubah. Rika malah melangkah mendekati Randy yang sudah mulai mabuk.


“Randy,” panggil Rika dengan mata menatap lekat.


Randy yang tengah menidurkan kepalanya di meja bar langsung mendongak dan tersenyum ke arahnya. “Kenapa kamu ada di sini? Bukannya kamu harusnya melayani seluruh tamu di ruangan ini? Dan aku tidak membutuhkan pelayananmu.”


Rika yang mendengar berdecih kesal dan menarik tangan Randy untuk turun dari kursi dan dituruti. Randy dengan kesadaran yang hanya segaris pena tersenyum memperhatikan Rika.


“Ayo pulang,” ajak Rika dan langsung membawanya keluar dari kerumunan.


Rika membawa Randy keluar dari klub malam tersebut dan meletakannya di sebelah mobil pria tersebut. Dia mencari kunci dan setelah ketemu, dia memasukan Randy di kursi penumpang. Pria tersebut sudah berbcicara tidak jelas dan Rika yang sibuk mengemudi. Sesekali matanya menatap Randy yang sudah tampak seperti orang gila.


Kamu kenapa, Randy? Kenapa kamu berbuat hal konyol seperti ini?, batin Rika merasa nelangsa.


_____


Dengan susah payah, Rika membawa Randy masuk ke dalam apartemen pria tersebut. Dia segera memasukan pin yang memang belum diganti sejak Rika menjadi kekasihnya. Bahkan, pin tersebut adalah tanggal lahirnya dan itu membuatnya tersenyum riang. Ada secercah rasa yang terasa masih dihargai oleh pria yang sudah mabuk di sebelahnya.


Rika memasukan Randy dan segera membaringkannya di sofa ruang tamu. Tanganya mulai melepaskan sepatu dan kaos kaki dan meletakannya di rak sepatu yang sudah disediakan. Selanjutnya, dia masuk ke kamar dan mengambil selimut. Rika bahkan begitu hafal dengan susunanya karena apartemen tersebut memang didesain olehnya. Bahkan, sampai semua yang ada adalah hasil pemikirannya.


Rika segera menyelimuti Randy dan hendak pergi. Dia berniat membuatkan sup untuk pria tersebut, tetapi terhenti karena tangan Randy yang sudah menggenggamnya erat dan mata yang terasa menajam, membuat Rika menciut ketika dipandang.


“Randy,” cicit Rika pelan.


“Kenapa kamu pergi, Rika?” tanya Randy dengan kesadaran yang hanya seperempat, “KENAPA KAMU MEMILIH PERGI DARI PERUSAHAAN MICHAEL!” teriak Randy denagn emosi menggebu.


“Randy, aku....”


“Apa kamu membenciku? Apa kamu sebegitu tidak ingin melihatku? Apa pria tersebut membuatmu merasa lebih nyaman? Berapa dia memberimu uang, hah?” ucap Randy membuat Rika kesal.


“Hentikan omong kosong ini, Randy,” sahut Rika dan langsung melepaskan genggaman tangan Randy. Dia bangkit dan siap pergi, tetapi Randy malah menariknya, membuat Rika jatuh tepat di dada bidang Randy.


“Lepas, Randy!” teriak Rika ketika Randy sudah membalik tubuhnya dan menjadi di bawahnya.


“Lepas? Aku ingin menyentuhmu seperti pria tersebut menyentuhmu, Rika,” desis Randy dan langsung dibarengi dengan gerakan lincah tangannya.


Rika berusaha melepaskan kukungan tangan Randy. Menggigit, berteriak dan memukul sudah dilakukan, tetapi Randy masih dengan kegiatannya yang membuat Rika menangis tersedu. Dia bahkan tidak menikmati setiap sentuhan yang diberikan pria tersebut. Sampai ketika Randy menyatukan tubuh mereka dan mengeluarkan seluruh cairannya ke dalam rahim Rika tanpa perasaan. Saat itu Rika hanya mampu menangis mengingat nasib hidupnya.


Kamu membuatku hancur, Randy, batin Rika dengan isak tangis yang masih terdengar. Sedangkan pria tersebut sudah berbaring di karpet ruang tamu dan tak menghiraukan keadaannya sama sekali.


_____

__ADS_1


__ADS_2