Wedding Drama

Wedding Drama
Bagian 53_Discharge


__ADS_3

“Kamu itu jadi wanita gak tahu diri banget, ya. Bisa-bisanya kamu main sama pria lain di belakang ku!” bentak seorang pria dengan rambut tidak terurus dan wajah yang berantakan. Banyak sekali jambang di wajahnya karena sudah lama tidak diurus. Dia terlalu sibuk meratapi hidupnya yang berubah seratus delapan puluh derajat.


“Kamu pikir aku mau hidup susah sama kamu? Aku milih sama dia yang jauh lebih kaya dari kamu. Seenggaknya dia gak bakal biarin aku hidup susah,” ucap wanita dengan pakaian glamour yang menatapnya dengan pandangan merendahkan.


Seorang gadis kecil yang baru menginjakan kakinya di bangku perkuliahan semester lima tengah menatap mereka dengan wajah khawatir. Matanya sesekali melirik pintu besar yang ada di belakangnya, takut kalau sang pemilik kamar keluar dan menyaksikan dua orang di hadapannya bertengkar hebat.


“Kamu, setelah menghabiskan uang ku, kamu merasa aku tidak melakukan apa pun, hah?” teriak pria tersebut dengan emosi.


Wanita tersebut hanya tersenyum dan menatap ke arah pria yang sejak tadi mengepalkan tangan menahan emosi. “Terserah. Yang pasti aku mau pergi dan akan mengurus perpisahan kita. Kamu urus mereka berdua karena aku tidak mau direpotkan dengan kehidupan mereka. Lagi pula aku tidak suka jika harus membiayainya,” ucap wanita tersebut sembari menatap gadis tersebut sinis.


Gadis tersebut hanya diam dengan air mata berlinang, menyaksikan mamanya meninggalkannya seorang diri. Wanita tersebut bahkan sudah melangkah keluar rumah dan pergi menaiki mobil kekasihnya. Matanya beralih menatap pria yang sejak tadi menggeram penuh amarah.


“Papa,” panggilnya pelan.


“Arrrggghh! Sialan!” teriak papanya dan langsung membanting seluruh perabotan.


Lagi, mata gadis tersebut menatap papanya yang meninggalkan rumah. Ketika dia mengejar, hanya pukulan kecil yang membuatnya tersungkur. Di malam pekat tersebut, hanya air mata yang menjadi saksi penderitaannya di mulai. Matanya bahkan sudah begitu sembab menyadari kedua orang tuanya telah pergi meninggalkannya. Sedangkan dia hanya bersama dengan adiknya.


“Papa!” teriak Rika yang sudah kembali ke alam nyata dan langsung membuka mata lebar. Matanya sudah berair ketika ingatan buruk yang terus menghantuinya kembali datang.


Rika mengusap wajahnya kasar. Sudah lama dia tidak mengingat hal tersebut. Hidupnya cukup tentram meski dengan uang yang menurutnya pas-pasan karena dia tetap harus mengirim uang ke Bara. Meski pun adiknya selalu melarang, dia tetap melakukan. Bagaimana pun dia masih memiliki tanggung jawab untuk mengurus adik semata wayangnya.


“Rika,” sahut Bara yang sudah membuka pintu kamar Rika yang memang tidak pernah dikuci.


Rika menatap Bara yang datang dengan wajah khawatir dan langsung duduk di ranjang. Matanya masih menatap lekat kakaknya dan menghapus air matanya dengan ibu jari. Rika bahkan masih terisak karena air matanya masih tidak bisa berhenti.


“Kamu mimpi buruk lagi?” tanya Bara khawatir.


Rika menghela napas dan mengangguk. “Kenangan itu muncul lagi,” ucap Rika di sela tangisnya.


“Sudahlah, Rika. Jangan kamu ingat terus. Mereka sudah mati dan kita tidak perlu mengingat seseorang yang tidak ada,” ujar Bara masih mendendam dengan kedua orang tua yang dengan tega menelantarkan anak-anaknya.


Rika hanya menghela napas panjang dan menatap adiknya yang sudah menggeram kesal. Matanya melirik tangan yang mengepal dan menahan perasaannnya. Dengan lembut, Rika mulai mengelus dan membuat Bara kembali tersadar lalu menatapnya.


“Jangan membenci mereka, Bara. Bagaimana pun, mereka tetaplah orang tua kita,” ujar Rika mengingatkan.


“Aku hanya membenci mereka dengan porsi yang sepantasnya, Rika. Tidak ada orang tua yang baik yang akan meninggalkan anaknya dan tidak bertanggung jawab. Jika mereka memang baik dan benar, mereka akan mengurus kita dan kita tidak perlu hidup susah seperti sekarang,” celetuk Bara dengan nada suara ketus.


“Tetapi, merek....”


“Sudahlah,” potong Bara cepat, “kita tidak harus membahas mereka di malam begini, kan? Tidurlah. Besok kamu harus bekerja,” lanjut Bara tidak ingin membuat masalah kakaknya bertambah. Dia tahu, hari ini cukup berat bagi Rika karena melihat seseorang yang dicintainya akan menikah dengan orang lain.


Rika yang mendengar akhirnya menghentikan pembahasan mengenai orang tua mereka yang entah di mana kebaradaannya. Dia sendiri tidak pernah tahu apakah mereka semua baik-baik saja atau sebaliknya. Aku harap kalian akan baik-baik saja, pinta Rika dalam hati yang begitu tulus.


Matanya kembali memejam dengan Bara yang masih menungguinya. Biasanya memang begitu. Bara akan menungguinya sampai Rika benar-benar lelap dan akan keluar setelahnya. Bara memperhatikan air mata kakaknya dan mengusapnya pelan.


Bara menghela napas dan segera bangkit setelah deru napas teratur terdengar, menandakan bahwa kakaknya sudah tidur dengan begitu pulas. Bara menatap kakaknya dan mengecup keningnya penuh kasih sayang.


“Baik-baiklah, Kak. Lupakan mereka dan kita mulai hidup yang lebih baik,” ucapnya dan segera keluar, meninggalkan Rika yang sudah memasuki alam bawah sadarnya.


_____


Vinda menatap Michael yang masih memandangnya lekat. Pagi ini dia mendapatkan kabar bahwa Randy dan Alice akan bertunangan malam ini. Pikirannya langsung kacau dan kembali mengingat Rika. Apa benar mereka tidak saling mencintai? Benarkah sudah tidak ada perasaan diantara mereka atau salah satunya? Saat ini pikirannya bahkan sudah benar-benar kacau. Padahal tidak ada diantara mereka yang memang dekat dengannya.


Vinda menghela napas panjang dan itu menarik perhatian Michael yang tengah menyendok sarapannya. Matanya yang langsung menatap Vinda dengan lekat dan mengunyah makanannya pelan.


“Sayang, ada yang kamu pikirkan? Kamu ada masalah?” tanya Michael menyelidik.


Vinda yang mendengar menatap Michael dengan wajah yang menujukan semua pikirannya. Dia menatap Michael dan menaruh sendok yang sejak tadi hanya dipegang dan tidak digunakan untuk menyendok sarapan. Kali ini dia lebih tertarik untuk mengetahui mengenai kehidupan Randy dan Alice.


“Aku boleh tanya, Mas?” tanya Vinda penuh kehati-hatian. Dia takut jika nantinya Michael malah mengamuk, meski itu adalah hal yang mustahil.


“Boleh. Apa?” ucap Michael dan menghentikan seluruh aktivitasnya dan fokus dengan apa yang akan dikatakan Vinda kepadanya.


Vinda menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. “Kamu tahu bagaimana perasaan dokter Randy kepada Alice?” tanyanya dengan wajah yang benar-benar penasaran.


“Randy? Sejak kapan kamu tertarik dengan kehidupannya, sayang?” kata Michael dengan pandangan menyelidik.

__ADS_1


“Aku hanya bertanya karena rasanya aneh saja, Alice sudah begitu yakin akan bertunangan padahal dokter Randy tidak tahu mengenai rencana ini,” jawab Vinda dengan wajah santai. Dia masih menatap Michael yang mengangguk paham.


Michael menyeruput sedikit minumanya dan kembali menatap Vinda. “Randy memang sudah mencintai Alice sejak kecil. Aku gak tahu kalau Randy mencintainya. Jadi, aku yang merasa nyaman dengan Alice langsung jadian saja. Tetapi itu hanya sebentar. Setelahnya, aku mendengar Randy menjauhi semua wanita dan memendam perasaannya kepada Alice sampai pada akhirnya, rencana pertunangan ini ada. Aku saja tidak menyangka jika Alice menyetujuinya.”


“Apa kamu pernah dengar jika dokter Randy berpacaran ketika kuliah?” tanya Vinda lagi.


“Oh iya?” ucap Michael dengan wajah terkejut, “jika dia memang berpacaran lagi, berarti dia sudah mempercayakan hatinya kepada orang tersebut. Memangnya siapa, sayang? Kamu dengar gosip semacam itu dari siapa? Aku aja gak tahu.”


“Menurutmu apa dokter Randy masih mencintainya?” tanay Vinda semakin aneh.


Michael yang mendengar terkekeh dan menatap istrinya dengan pandangan gemas. “Sayang, aku mana tahu hati seseorang. Lagi pula, Randy tidak pernah mengatakan apa pun sama aku. Jadi, bagaimana bisa aku tahu isi hatinya?”


Vinda yang mendengar hanya manyun dan menatap Micahel dalam. “Michael, apa kamu mau membantuku menanyakan perihal perasaan dokter Randy kepada mantan kekasihnya?” pinta Vinda dengan pandangan memohon.


“Memangnya siapa mantan kekasih, Randy? Apa dia teman kamu? Sahabat kamu?” tanya Micahel sembari melemparkan tatapan lembut.


Vinda menatap ragu kepada Michael dan menghela napas panjang. “Rika. Dia adalah mantan kekasih dokter Randy dan mereka berpisah karena sebuah kesalah pahaman,” ucap Vinda dan menggenggam tangan Michael erat, “tetapi jangan pecat Rika. Dia tidak ada niatan jahat, kok.” Vinda benar-benar takut jika nantinya Michael berpikiran buruk mengenai Rika.


“Rika?” tanya Micahel dengan kening berkerut tidak percaya, “kamu yakin, sayang?”


Vinda menganggk. “Rika yang mengatakannya kepadaku.”


“Bagaimana jika dia menipumu?”


“Tidak mungkin. Rika orang baik dan dia tidak akan menipuku,” ucap Vinda masih teguh pendirian.


“Kamu terlalu baik menilai seseorang, sayang,” celetuk Michael dengan wajah tanpa antusias.


“Dan kamu terlalu buruk karena menilai semua orang dengan pandangan yang buruk,” jawab Vinda dengan wajah yang menunjukan kekesalan, “kalau gak mau tanyain gak masalah kok. Aku akan tanya sendiri.”


Michael hanya mampu menghela napas dan mengangguk. “Baiklah. Kalau ketemu aku akan tanyakan,” sahutnya mengalah. Dia enggan melihat raut kesal istrinya dan akan lebih baik jika menurutinya saja.


Vinda yang mendengar langsung tersenyum senang. “Terima kasih sayang,” ucapnya malu-malu.


Michael hanya mengangguk mengiyakan. Sekarang pikirannya kembali melayang menerka apa yang dirasakan Randy. Apa dia masih mencintai Alice atau malah Rika? Karena dia tidak mau saudaranya merasakan sakit karena melakukan hal yang tidak diinginkan sama sekali. Dia tidak ingin saudara dan sahabatnya merasakan luka pada akhirnya.


_____


Rika yang tengah sibuk memakai pelembab menatap adiknya dan tersenyum menenangkan. “Aku harus datang, Bara. Nona Alice sudah mengundangku secara langsung. Akan tidak sopan jika aku menolak dan malah tidak datang.”


“Tetapi apa kamu yakin akan kuat di sana nanti?” Bara masih terlalu khawatir dengan kondisi kakaknya. Dia menatap Rika dengan pandangan menyelidik.


Rika tersenyum tipis dengan mata masih menatap Bara dan segera membuang tatapannya. Dia menatap pantulan dirinya di kaca dan mengabaikan tatapan khawatir dan tidak percaya dari adiknya.


“Tenanglah, Bara. Aku akan baik-baik saja,” ucap Rika yang sudah selesai menggunakan make up tipis dan lipstik yang senada dengan warna kulitnya.


“Apa aku perlu ikut? Setidaknya aku bisa menjagamu di sana,” celetuk Bara dengan wajah penuh harap. Setidaknya jika kakaknya menangis, dia akan ada untuk berbagi pundak dan menenangkannya.


Rika menggeleng dan mendekat ke arah Bara. “Percayalah, aku akan baik-baik saja.”


Bara menghela napas panjang dan mengangguk pasrah. Percuma dia melarang Rika karena semua akan percuma. Dia akan tetap bersikeras untuk datang dan menghadiri pesta pertunangan Randy. Padahal, jelas-jelas itu akan membuatnya terluka.


“Kenapa kamu tetap memaksa untuk datang, Kak? Padahal itu hanya akan membuatmu terluka,” tanya Bara penasaran.


“Setidaknya ini yang bisa aku lakukan untuk terakhir kali, Bara. Kakak ingin melihat Randy dengan seluruh cinta yang masih ada untuk terakhir kalinya dan berusaha melupakan dia. Itu akan membuatku merasa jauh lebih baik,” jawab Rika sembari menerawang ke depan dengan senyum tipis yang sudah tersungging. Dia hanya ingin meyakinkan dirinya untuk melepaskan Randy dan menata kembali hidupnya menjadi lebih baik.


“Lalu setelahnya? Kamu yakin akan bisa melupakannya?” tanya Bara merasa apa yang dikatakan kakaknya bukanlah hal baik. Melupakan cinta tidak hanya belajar melepaskan, tetapi juga belajar untuk menghilangkan perasaan yang tidak akan hilang hanya dengan menunujukan semua perasaan. Menurutnya, teori yang digunakan Rika memang terlalu konyol.


“Aku tidak yakin dengan hal itu, tetapi aku akan mencobanya,” sahut Rika santai dan itu membuat Bara diam dan tidak banyak bertanya lagi.


“Kenapa kamu tidak mengatakannya saja? Jujur dengan apa yang sebenarnya terjadi.”


Rika menggeleng. “Itu hanya akan mempersulit hubungan kita, Bara. Aku tidak mau dia merasa terbebani dan menyalahkan diri sendiri. Jika itu yang ada dipikirannya, biarlah dia tetap berpikir demikian. Jujur pun sudah tidak ada artinya,” jelas Rika dan menatap Bara dengan pandangan penuh kesedihan, “kita juga harus mulai sadar siapa dia dan siapa kita. Sampai kapan pun tidak ada yang akan merestui hubungan kita. Karena pada dasarnya, aku dan Randy sudah benar-benar berada di dimensi yang berbeda. Jadi, diam adalah jawaban terbaik.”


_____


Sebuah gedung besar dengan hiasan megah tengah dikurubungi begitu banyak tamu undangan. Suasana sudah ramai sejak pukul lima sore. Seluruh tamu undangan sudah tampak antusias dengan acara yang akan berlangsung di dalamnya. Mereka bahkan sudah menunggu ratu dan raja yang akan menjadi perhatian seisi ruangan malam ini.

__ADS_1


Randy yang datang dengan pakaian resmi bersama dengan Alice hanya menatap bingung karena dia tidak tahu pesta siapa yang didatanginya kali ini. Belum lagi, orang tuanya sudah datang lebih dahulu dan tidak mengatakan siapa pemilik acara. Mereka hanya mengatakan bahwa acara yang didatangi kali ini adalah pesta pertunangan.


“Randy, kamu suka?” tanya Alice sembari menggandengan tangan Randy manja.


Randy yang ditanya langsung menatap Alice bingung. “Memangnya ini pesta siapa?” Randy balik bertanya dan menatap Alice bingung. Pasalnya, ketika dia masuk ke dalam ruangan, banyak sekali orang yang dikenalnya datang dan menatap dengan tersenyum, seakan menunjukan sesuatu yang tidak diketahuinya.


“Nanti juga kamu tahu,” jawab Alice masih menyembunyikan perihal acara yang dilangsungkan. Dia hanya **** senyum melihat Randy yang tampak begitu bingung karena merasa tidak asing dengan seisi ruangan.


Alice melangkah mendekati kedua orang tua mereka dan memberi salam. Randy juga melakukan hal yang sama, meski dalam hati dia merasa bingung dengan kedaan kali ini.


“Apa Randy menyakitimu, Alice?” tanya Vera yang sudah melirik ke arah anaknya yang tampak begitu cuek.


Alice menggeleng. “Dia bahkan menjaga Alice dengan sangat baik, Tante,” jawab Alice yang kembali menempal di lengan Randy.


“Mama kira Randy apa?” protes Randy masih menatap sekeliling ruangan dan kembali menatap mamanya yang masih tertawa kecil, “Ma, ini pesta siapa, ya? Kenapa semua orang yang Randy kenal ada di sini? Apa ini aniv Mama sama Papa?” tebak Randy dan malah membuat kedua orang tua mereka tertawa, termasuk Alice yang sudah menahan tawa. Takut Randy tersinggung nantinya.


“Kenapa?” tanya Randy bingung karena dia dijadikan bahan tertawaan.


“Apa kamu lupa bahwa baru dua bulan yang lalu Mama dan Papa mengadakan pesta perayaan ulang tahun pernikahan? Mana ada pesta aniv dilakukan dua kali dalam satu tahun, Randy,” celetuk Vera dengan nada mengejek.


“Terus?” tanyanya masih penasaran.


“Nanti juga kamu tahu sendiri,” sahut Alice dengan santai.


Randy akhirnya memilih diam dan menikmati hidangan. Sampai seseorang datang dan berdiri di bagian depan ruangan dengan microfon yang sudah digenggamnya. Seorang pria dengan pakaian rapi dan rambut klimis.


“Selamat malam semua tamu undangan. Apa kabar semuanya?” sapa pria tersebut membuat seluruh perhatian seisi ruangan langsung tertuju padanya, termasuk Randy yang juga mulai penasaran.


“Malam ini, saya dipercaya untuk menjadi pemandu dalam cara pertunangan antara Tuan Randy Aditama dan Nona Alice Setya Madja. Kepada pasangan di harapkan maju ke depan untuk bertukar cincin.”


_____


“Malam ini, saya dipercaya untuk menjadi pemandu dalam cara pertunangan antara Tuan Randy Aditama dan Nona Alice Setya Madja. Kepada pasangan di harapkan maju ke depan untuk bertukar cincin.”


Randy yang saat itu mendengar langsung diam dan membeku. Bukankah itu namaku? Itulah yang dipikirkan Randy saat ini. Alice yang mendengar langsung tersenyum dan menggandeng lengan Randy manja. Matanya menatap seisi ruangan dan melemparkan senyum termanis. Namun, ketika dia hendak melangkah, tangannya ditahan pria di sebelahnya dan mendapatkan tatapan sinis.


“Kenapa, Randy?” tanya Alice bingung karena Randy tidak menunjukan kebahagiaan sama sekali.


“Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, Alice. Apa ini?” tanya Randy dengan pandangan bingung.


“Kami sudah setuju untuk menikahkan kamu dengan Alice, sayang,” jelas Vera yang sudah datang dari arah belakang.


“Tetapi Randy bahkan tidak tahu dengan hal ini,” protes Randy dengan wajah masih tidak percaya. Dia menatap orang tuanya dan Alice bergantian. Dia benar-benar tampak seperti orang bodoh saat ini.


“Alice memang berniat merahasiakannya dari kamu dan memberikan kejutan tepat saat pesta pertunangan kalian,” tambah Vera dengan wajah santai.


Randy mengerutkan kening heran. Apa mamanya juga tidak memikirkan perasaannya terlebih dahulu? Bagaimana jika nantinya dia akan menolak? Kini, matanya menatap Alkce yang masih bergelanyut manja kepadanya.


“Apa yang kamu pikirkan, Alice? Apa yang kamu pikirkan sampai melakukan hal konyol seperti ini? Kamu pikir menikah itu hanya permainan, hah?” tanya Randy masih mampu mengontrol emosinya.


“Memangnya aku salah memberikan kejutan kepada orang yang sudah dengan senang hati mencintaiku sejak kecil tanpa mengharapkan hal lain dari aku?” celetuk Alice dengan pandangan memelas, “aku tahu kamu sudah mencintaiku sejak dahulu, Randy. Itu sebabnya aku menerima dan melakukan pertunangan kali ini. Aku juga mencintaimu dan aku terlalu sering mengabaikanmu selama ini. Maaf karena aku baru menyadari semuanya,” lanjut Alice sembari memeluk tubuh Randy erat.


Randy yang merasa resah hanya mendesah pasrah. Dia tidak mungkin menggagalkan rencana pertunangan yang akan membuat malu keluarganya. Jika dulu dia akan menerima dengan perasaan berbunga, tetapi sekarang sudah berbeda. Dia sudah memberikan perasaannya kepada seseorang yang sejak tadi menatap kedekatan diantara keduanya.


Randy memilih untuk tetap melaksanakan pertunangan karena memang takdir tidak memberikanya pilihan. Namun, saat dia sudah selesai memasukan cincin di jari manis Alice dan mendapatkan tepuk tangan bergemuruh dari seluruh tamu undangan, matanya menangkap sosok yang tidak asing untuknya. Rika berdiri di tengah-tengah para tamu dan tersenyum ke arahnya. Senyum termanis yang selalu dirindukannya. Tetapi, ada secercah air mata yang dapat dilihat Randy dengan jelas.


Rika, kenapa kamu menangis? Bukankah ini yang terbaik untuk kita?, batin Randy merasa ragu dengan perasaannya. Terlebih ketika dirinya melihat kepergian Rika dari gedung. Perasaannya semakin bercampur. Tidak ada kebahagiaan seperti yang seharusnya dirasakan seseorang yang sudah resmi bertunangan dengan gadis yang begit dicintainya.


Apa aku memang tidak mencintaimu, Alice, batin Randy merasa bimbang.


_____


🍁🍁🍁🍁🍁


Selamat membaca. Jangan lupa like, comment, tambah favorit, vote dan follow Kim ya.


Sampai ketemu di bab selanjutnya 😚😚😚😚

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2