Wedding Drama

Wedding Drama
Bagian 41_Penyelamatan Vinda


__ADS_3

Suara ketukan pintu membuat Adelardo yang tengah sibuk dengan tumpukan berkas merasa terganggu. Matanya menatap ke arah pintu yang dengan jelas tertulis ‘Jangan mengganggu’. Namun, masih ada saja karyawan yang mengganggunya. Setelah berulang kali ketukan terdengar, Adelardo akhirnya memilih untuk mengizinkan sang pelaku masuk. Sudah tiga hari dia berada jauh dari rumah dan dia ingin secepatnya kembali, berkumpul dengan istri yang pasti begitu merindukannya.


Tidak lama kemudian, seorang pria yang sangat dikenalnya muncul dari belakang pintu dan menatap Adelardo dengan wajah datar dan terkesan dingin. Adelardo yang menatapnya langsung menghentikan aktivitas dan menutup semua dokumen yang tengah dikoreksinya.


“Ada apa, Adam? Jika informasi tidak penting, maka kamu akan menerima akibatnya,” ucap Adelardo memperingatkan karena Adam sudah menggangu pekerjaannya. Padahal dia sudah memperingatkan agar membiarkannya sendiri.


“Maaf, Tuan. Saya mengganggu waktu anda. Tetapi ada informasi penting mengenai Nona Vinda,” sahut Adam dengan kepala tertunduk.


“Apa kamu sudah mendapatkan informasi mengenai Vinda?” Adelardo memusatkan perhatiannya kepada Adam yang masih berdiri di depannya. Sudah beberapa hari dia ikut mencari Vinda. Awalnya dia membiarkan Michael mencarinya sendiri, tetapi istrinya merasa tidak tenang karena Michael yang tidak mencintai Vinda, membuat Tasya was-was. Dia takut jika nanti Michael tidak mencari Vinda sama sekali.


Adam mengangguk dan menatap tuannya lekat. “Baru saja Roy mengirimkan titik di mana Vinda di sekap. Nona Vinda berhasil mengirim pesan pada tuan muda Michael.”


“Lalu, apa Michael sudah bergerak ke sana?” tanya Adelardo lagi. Dia penasaran apa yang akan dilakukan anaknya.


“Iya, Tuan. Tuan muda Michael sudah bergerak ke sana dan membawa sekitar empat puluh anak buah. Roy mengatakan bahwa tempat di mana Nona Vinda berada sekaranga dalah pedesaan terpencil dan tidak ada penghuni sama sekali.”


“Baik. Kita ikuti ke mana Michael pergi. Siapkan anak buah kita. Ingat, Adam. Kita hanya akan melihat pergerakan Michael. Jika dia membutuhkan bantuan, kita akan membantunya,” perintah Adelardo dengan nada tegas.


“Baik, tuan.” Adam segera undur diri dan keluar dari ruangan. Tangannya menutup pintu sepelan mungkin dan segera menghubungi semua anak buahnya. Usianya masih setara dengan Michael, tetapi dia memiliki kemampuan yang begitu memukau. Adelardo sendiri sampai menjadikan Adam sebagai tangan kanannya. Kejujuran dan kegigihan yang dimiliki menjadi nilai plus dalam pandangan Adelardo.


Adelardo segera membereskan berkas yang berserakan di meja. Dia segera bangkit dan keluar dari ruangan. Sebelum pergi, dia menitipkan pesan kepada sekretarisnya agar mengatakan bahwa dia keluar ruangan. Setelahnya, dia segera melangkah ke parkiran dan menuju ke lokasi yang sudah dikirimkan Adam kepadanya.


“Jalan,” kata Adeladro dengan nada dingin. Matanya menatap lurus dengan rahang mengeras.


“Aku menikahkanya denganmu untuk dijadikan istri, Ael. Bukan malah menjadi tameng untuk masalahmu,” geram Adelardo dengan bibir terkatup rapat. Dia merasa ingin sekali menghajar Michael setiap kali mengingatnya. Gadis tak bersalah selalu menjadi sasaran semua masalah anaknya. Terlebih alasannya hanya untuk menyelamatkan Rensi. Dia benar-benar muak dengan sikap egois Michael.


Jika terjadi sesuatu padanya, aku pastikan kamu tidak akan pernah melihatnya lagi, Ael.


_____


Michael mengendarai mobilnya dengan kencang. Matanya menatap mobil lain yang juga ada di belakang. Matanya melirik kaca spion dan meneliti mobil merah di belakangnya. Rasanya dia tidak asing dengan plat nomor yang tertera. Namun, lagi-lagi dia mengabaikan apa yang ada di belakang dan melaju semakin kencang.


Di perbatasan jalan, Roy sudah berdiri dengan beberapa angota yang sudah diperintahkan untuk ikut dalam misi. Michael menghentikan mobil dan membuka jendela, menatap Roy yang langsung menundukan kepala memberi hormat.


“Bagaimana dengan lokasi? Apa masih aman?” tanya Michael takut jika Dave sudah membawa Vinda pergi karena mencium kedatangan mereka.


“Lokasi aman, Tuan. Butuh waktu tiga puluh menit hingga kita sampai di kediaman Tuan Dave,” jelas Roy.


“Berapa penjaga di sana?” Michael menatap Roy dengan wajah dingin. Anggotanya yang lain bahkan tidak ada yang berani menatapnya sama sekali. Mereka tahu dengan siapa mereka harus tunduk dan dengan siapa mereka harus menunjukan keberingasannya.


“Ada sekitar dua puluh, Tuan. Empat orang di gerbang utama, empat orang di gerbang belakang, empat orang di sudut kanan dan kiri. Sisanya mereka berjaga di sekitar tempat bagian dalam dan juga luar,” jawab Roy menerangkan. Dia tahu karena sebelum Michael datang, dia sudah lebih dulu datang dan menyelidik tempat yang dimaksud. Namun, dia tidak berani bertindak untuk langsung menyelamatkan. Dia masih harus menunggu hingga Michael memerintahkan mereka untuk bergerak.


“Bagus,” gumam Michael dengan tampang dingin.


Michael keluar dari mobil. Dia melemparkan kunci kepada Roy dan dengan sigap langsung diterima. “Kita, jalan,” perintah Roy dan segera masuk ke kursi penumpang.


Roy yang mendengar langsung masuk dan semua anggota melakukan hal yang sama. Mereka mulai melajukan mobil di jalan berliku untuk menuju ke tempat Dave mengurung Vinda. Sebenarnya mereka bisa saja melewati jalur air, tetapi itu akan memakan resiko yang tinggi.


Vinda, bertahanlan sebentar saja. Aku akan datang, batin Michael berusaha menenangkan ketakutannya.


______


“Vinda!” teriak Dave geram. Matanya membelalak dengan tangan yang mengepal karena marah.


Dave baru masuk kamar ketika selesai makan malam dan mulai melihat ponselnya. Awalnya dia biasa saja, tetapi saat tangannya melihat salah satu rekaman di CCTV yang tersambung dengan ponselnya, netranya melihat Vinda yang mengendap dan memasuki kamarnya. Matanya menajam ketika dilihatnya, Vinda benar-benar seperti maling saat sudah berada di kamarnya.


Dave mengerutkan kening ketika dilihatnya Vinda memegang ponsel. Dia menghentikan putaran vidio ketika dia melihat wanita tersebut mengetikan sesuatu. Dengan rasa penasaran membuncah, Dave memperbesarnya dan melihat apa yang ditulis. Dia merasa tidak sia-sia memasang kamera kecil di ujung ruangan dengan daya tangkap yang sangat baik.


Dave keluar dari kamar dan segera turun. Dilihatnya Vinda tengah mencuci piring bekas makannya. Tanpa ampun, dia menarik tangan Vinda kasar, membuat piring yang ada di tangan Vinda terjatuh, membuat suara gaduh di ruang dapur.


“Dave, apa yang kamu lakukan?” tanya Vinda tidak suka.

__ADS_1


“Harusnya aku yang bertanya. Apa yang kamu lakukan? Kamu bilang akan membantuku, tetapi kamu malah menghubungi Michael,” teriak Dave tidak sabar, "sebenarnya apa yang kamu rencanakan, Vinda!"


Vinda langsung membelalak kaget. Jadi, dia sudah ketahuan sekarang? Dengan cepat dia mendorong Dave agar genggaman tangannya terlepas dan akhirnya berhasil. Dave yang masih tidak siap langsung jatuh. Bukan pergi dari rumah yang menjadi tujuannya saat ini karena Vinda yakin, pengawal di depan akan dengan mudah menangkapnya. Jadi, Vinda memilih untuk kabur dan kembali ke kamar. Hanya itu tempat satu-satunya untuk bersembunyi hingga Michael datang.


Michael, datanglah, pinta Vinda sembari berlari.


Namun, sangat disayangkan karena Dave sudah lebih dulu menangkapnya. Dia mendekap Vinda dan segera menggendong ala bridal style. Vinda berontak, tetapi tidak didengarkan sama sekali.


“Kita pergi dari tempat ini. Michael akan datang sebentar lagi. Jadi, sebagian berjaga dan buat seolah aku masih ada di sini,” perintah Dave dan langsung diangguki. Salah satu dari mereka membuka gerbang dan membawa mobil keluar. Dave menyusul dengan membawa Vinda keluar secara paksa.


Vinda menatap sekitar dan langsung mengambil kesempatan ketika Dave hendak memasukannya ke mobil. Dengan cepat, dia memukul keras benda keramat Dave dengan kakinya dan membuat Dave langsung mengaduh. Itulah kesempatannya untuk kabur dan langsung digunakan Vinda.


“Vinda!” geram Dave dengan wajah menahan sakit.


Vinda tak menyahut sama sekali. Dia tetap berlari meninggalkan Dave yang masih mengumpatinya. Tujuannya hanya satu. Kabur.


______


“Ini orang mau ke mana, sih?” gerutu Rensi yang ternyata mengikuti Michael hingga ke tempat Vinda berada. Jalan berliku dan juga terjal membuatnya mengeluh terus-menerus.


Awalnya dia ingin datang ke rumah Michael dan berusaha mendekatinya. Namun, dia malah melihat pria tersebut pergi menggunakan mobil dengan tergesa-gesa. Jadilah dia mengikuti ke mana Michael pergi. Hingga pada akhirnya, dia sampai di tempat asing di tengah hutan.


“Dia mau ngerampok, ya?” ujarnya dengan kening berkerut.


Rensi menghela napas panjang dan menatap takut suasana di depannya. Dalam hati dia merutuki dirinya sendiri karena sudah terlalu bodoh mengikuti ke mana Michael pergi. Rasanya dia benar-benar ingin kembali. Namun, netranya melihat sosok yang begitu dikenalnya tengah berada tak jauh darinya. Membuat senyum iblis kembali terukir dengan jelas.


Rensi melepaskan sabuk pengaman dan segera keluar dari mobil. Langkahnya mengendap melihat seorang pria menarik paksa wanita dengan pakaian sederhana. Senyumnya semakin terukir ketika pandangannya semakin jelas menatap sosok di hadapannya.


“Woo. Vinda. Aku menemukanmu,” ucapnya dengan riang.


Tanpa menunggu lama, Rensi segera keluar dari persembunyian dan melangkah mendekati Dave yang sedang memaksa Vinda untuk pergi. Rensi menghentikan langkah dan menatapnya dengan senyum keji.


“Lepaskan, Dave. Aku gak mau pergi sama kamu lagi,” tolak Vinda dengan tangan yang berusaha melepaskan genggaman tangan Dave.


Rensi yang melihat langsung bertepuk tangan keras, membuat Dave dan Vinda menghentikan pertengkaran diantara keduanya. Dave masih menatap Rensi dingin, meski sebenarnya dia cukup kaget melihat wanita tersebut ada di hadapannya. Sedangkan Vinda, dia terasa berhenti bernapas. Tidak akan ada gunanya dia meminta pertolongan dari Rensi karena pada akhirnya, Rensi malah akan menghabisinya.


“Kenapa kamu di sini?” tanya Dave dan tanpa sadar melepaskan tangan Vinda. Vinda yang melihat merasa lega dan perlahan menjauh. Dia harus segera kabur dari tempat menakutkan tersebut.


“Aku ke sini untuk mengambil apa yang aku inginkan, Dave,” jawab Rensi dengan sinis. Matanya menatap Vinda yang mengendap hendak kabur.


“Apa yang kamu inginkan?”


“Vinda,” ucap Rensi singkat.


Vinda yang hendak kabur langsung mengehntikan langkah. Dia menatap nanar ke arah Rensi yang sudah memandangnya dengan tatapan membunuh. Dave yang melihat Vinda hendak kabur langsung melangkah mendekatinya. Dia tidak bisa membuat jaminan keselamatannya pergi begitu saja.


“Kamu mau kabur, Vinda?” desis Dave tidak suka.


Vinda menelan ludahnya serat dan segera melangkah mundur. Dia harus kabur dari tempat tersebut. Ke mana pun dia pergi, hasilnya akan sama jika dia masih bersama dengan dua serigala yang siap memakanya. Namun, nasib naas terjadi padanya karena Rensi sudah menangkapnya dan menggenggam pergelangan tangannya erat.


“Lepas, Rensi,” teriak Vinda keras, “kamu itu mau apa?”


“Aku mau kamu mati, Vinda!” bentak Rensi dengan mata yang membelalak dan siap keluar.


“Mimpi,” desis Vinda sembari berusaha melepaskan genggaman tangan Rensi.


Rensi yang melihat Vinda berani melawannya semakin geram. Dia mencengkram tangan Vinda dan menggeram kesal. “Kamu berani melawanku, hah? Aku akan menghukummu, Vinda,” teriak Rensi dengan mata yang menajam.


Rensi yang melihat Vinda masih bertahan dan tak takut sedikit pun malah semakin beringas. Tangannya menggenggam leher Vinda erat dan mendorongnya hingga mencapai di ujung jurang. Senyumnya terukir dengan begitu beringas dan mengejek Vinda yang mulai merasa ketakutan.


“Kamu takut, Vinda? Bukannya hanya ada dalam mimpi ku saja tentang kematianmu?” tanya Rensi dan hendak mendorong Vinda ke belakang. Namun, dia menghentikannya karena suara teriakan di belakang yang membuatnya membeku.

__ADS_1


“Rensi, hentikan,” teriak Dave dan Michael bersamaan.


_____


“Rensi, hentikan.”


Rensi yang mendapat teriakan langsung diam dan membalik badan. Matanya menatap dua sosok pria dengan wajah begitu menakutkan. Melihat itu, dia tersenyum kecil dan memperhatikan Dave dan Michael yang menggeram memandangnya.


“Ada apa? Aku hanya ingin mengakhiri lukanya,” ucap Rensi tanpa rasa bersalah dan tak ada rasa iba sama sekali.


“Kamu gila, Rensi. Lepaskan dia,” bentak Dave dengan wajah khawatir. Dia hanya ingin mengurung Vinda dan bukan malah membunuhnya. Dia tidak cukup bodoh untuk berurusan dengan polisi lagi nantinya.


“Kenapa aku harus melepaskannya? Bukannya kamu menangkap untuk menghabisinya, Dave?” tanya Rensi dengan wajah mengejek.


“Jangan gila kamu, Rensi.”


“Hey, aku hanya membantumu untuk menyelesaikan tugas. Bukankah aku baik?” ujar Rensi dengan wajah bak malaikat.


Dave menggeram mendengar ucapan Rensi. Dia tidak habis pikir dengan apa yang ada di otak Rensi selama ini. Kenapa dia begitu membenci Vinda? Dia tidak peduli. Yang menjadi pedulinya kali ini adalah dia harus menghentikan Rensi. Dia tidak mau jika pada akhirnya, rencana untuk menyebunyikan Vinda malah menjadi petaka baginya nanti.


Rensi baru akan menjawab ucapan Dave, tetapi dihentikan. Dia menatap Michael yang masih menatapnya dengan dingin. “Kamu kenapa, Michael? Kamu ingin aku segera melepaskan genggaman tanganku ini?”


Michael menatap Vinda yang berusaha melepaskan tangan Rensi di lehernya. Air matanya sudah meluncur dan itu membuat Ael merasa sakit. Matanya kembali tertuju menatap Rensi yang menampilkan wajah tak bersalahnya.


“Lepaskan dia, Rensi,” perintah Michael dan hanya di sahuti dengan tawa meledek.


“Kamu menyuruhku melepaskan dia, Michael?” ulang Rensi dengan wajah meledek, “tetapi aku memiliki dua pilihan untukmu.”


Michael hanya diam dan menatap Rensi dengan mata semakin menajam. Sayangnya, Rensi tidak gentar dengan tatapannya dan malah semakin tertawa tidak jelas. Sekarang dia mulai sadar. Harusnya sejak awal dia tidak pernah berurusan dengan Rensi yang benar-benar kurang waras.


“Kamu hanya tinggal memilih, menceraikan Vinda lalu menikahi aku, maka aku akan melepaskannya. Atau kamu memilih Vinda tetapi aku akan melemparnya.”


Michael diam dan menatap Vinda yang seolah tak merestui semua pilihannya. Beberapa kali istrinya memberi isyarat agar menolak ajakan Rensi. Namun, melihat mata Vinda yang masih terus mengeluarkan air mata, Michael merasa iba. Helaan napas terdengar dan dia menatap Rensi dengan pandangan datar seperti biasanya. Dia tidak menunjukan emosi sama sekali. Dave yang melihat hanya diam dengan emosi meningkat.


“Sampai kapan pun aku tidak akan menikahmu,” celetuk Michael membuat seluruh orang yang ada di sana membelalak. Terkecuali Vinda yang malah tersenyum ke arahnya.


Rensi menutup mulutnya rapat. Dia merasa terhina dengan penolakan Michael. Tanpa perasaan, dia mendorong Vinda hingga wanita tersebut oleng dan mulai terjatuh. Dave hendak menolong, tetapi terlambat. Dia hanya menatap tubuh Vinda yang mulai terjatuh ke jurang dengan mata membelalak.


“Itu pilihan kamu, Michael,” ujar Rensi dengan wajah sinis.


Michael hanya menghela napas panjang dan melangkah menjauh ke arah lain. Dave yang melihat hanya menatap Michael garang. Dia tidak menyangka bahwa Michael setega itu dengan seorang wanita. Namun, matanya menangkap gerakan Michael yang menuruni jurang tersebut. Rensi mengerutkan kening heran dan ikut melihat apa yang dilakukan Michael.


“Aduh, sakit.”


Rensi yang melihat Vinda masih terduduk di tanah dengan beberapa goresan langsung membelalak tak percaya. Matanya menatap Michael yang sudah duduk di depan Vinda dan menatapnya mengejek. Ternyata jurang tersebut tidak dalam dan ada beberapa busa yang entah milik siapa. Michael tertawa mengejek melihat wajah terkejut Rensi.


“Kamu gak kenapa-kenapa?” tanya Michael melihat Vinda yang mengaduh.


Vinda tidak menjawab dan malah memeluk Michael erat. Rasanya dia merindukan wangi tubuh pria yang tengah berada di hadapannya saat ini. Dia benar-benar merindukannya. “Michael, aku mencintaimu,” aku Vinda tanpa sadar.


Michael yang mendengar hanya tersenyum dan membalas pelukan Vinda erat. Aku juga mencintaimu, Vinda, ujarnya dalam hati.


_____


🍁🍁🍁🍁🍁


Maaf ya updatenya telat. Soalnya ini hari minggu jadi refresh otak bentarlah. Hehe 😆😆😆 berasa kayak anak muda gitu. 😄


Selamat membaca. Jangan lupa like, comment dan tambah ke favorit ya. Jangan lupa vote cerita ini juga. Follow Kim juga boleh biar bisa tahu cerita-cerita baru dari Kim nantinya. 😃😃😃😚😚😚


Sampai ketemu besok di bab selanjutnya 😇😇

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2