
Michael duduk sembari menatap kotak belundru yang sejak tadi digenggamnya. Matanya tidak beralih bahkan seminit pun. Dia tetap setia menatap dengan senyum sumringah yang bahkan orang-orang tidak akan tega merusaknya. Apalagi ditambah dengan kesan dominan Michael yang saat ini meluntur dan digantikan dengan wajah ramah bak dewa khayangan.
Hidup dalam kekayaan yang sudah ada sejak lahir membuatnya menyadari, apapun dapat didapatkan dengan memanfaatkan sedikit yang dimilikinya. Termasuk mendapatkan cinta. Dia yakin, Rensi berbeda. Namun, memberikan sedikit hadiah dengan hargar mahal bukanlah hal yang salah, kan? Michael menatap kalung berlian yang ada di tangannya dan tersenyum senang.
“Aku membawakanmu kalung, malaikat,” ucapnya dengan senyum yang sudah merekah.
Michael menghela nafas panjang dan menyadarkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Setelah kedua temannya pergi meninggalkan ruangannya, dia segera menelfon sekretarisnya untuk mengambilkannya kalung yang sudah dipesan. Dia tau, kalung dengan bandul kecil berbentuk bunga adalah kesenangan malaikatnya.
“Aku masih ingat untuk membawakanmu kalung seperti ini,” ucap Michael dengan senyum yang kembali mengembang. Dia ingat ketika ada seorang penjual kalung imitasi lewat dan malaikatnya begitu menyukainya. Dia masih mengingat bentuk tersebut dengan jelas dan dia mewujudkannya saat ini.
“Aku yakin kamu akan bahagia menerimanya,” katanya yakin.
Michael menghela nafas panjang dan merubah waut wajahnya menjadi serius ketika terdengar ketukan pintu. Tidak lama, seorang gadis dengan kemeja yang dimasukan di dalam rok sepan pendek masuk ke dalam ruangannya. Senyumnya mengembang dan bunyi ketukan sepatunya terdengar menggema.
“Ada apa, Rika?” tanya Michael dengan suara ketus dan wajah datar. Matanya hanya melirik sekretarisnya yang membawa beberapa map di tangan.
“Maaf, Pak. Saya hanya mau memberikan map berisikan data semua klien perusahaan,” ucapnya dan langsung meletakan map tersebut di meja kerja Michael.
“Ada lagi?” tanya Michael dengan suara yang masih sama. Tidak ada keramahan didalamnya.
“Jam lima nanti anda ada pertemuan dengan Tuan Ronald di cafe Tuan Dika.” Sinta menatap atasannya dengan wajah bersemi.
“Baiklah. Silahkan keluar jika tidak ada yang dibicarakan,” jelas Michael masih dengan raut dingin.
“Baik. Saya permisi,” ucap Rika setengah membungkuk dan langsung keluar ruangan.
Setelah kepergian Rika dari ruangan, Michael segera menatap jam ruangan yang menunjukan sudah pukul 14.00, kurang tiga jam sebelum bertemu dengan Ronald. Michael meraih ponselnya dan menekan salah satu kontak. Dia menunggu sang penerima mengangkat panggilannya. Tidak lama, karen setelahnya suara orang kepercayaannya terdengar.
“Roy, kamu di mana?” tanya Micahel ketika Roy sudah mengangkat panggilannya.
__ADS_1
“Di danau tidak jauh dari kantor, Bos,” jawab Roy dengan suara datar dan tegas.
“Kembali ke kantor. Lima menit.”
“Baik, Bos.”
Panggilan dimatikan. Michael langsung bangkit dan meraih jas yang sejak tadi disampirkan di kursi kebesarannya dan segera mengenakannya. Tidak lupa, dia menatap kembali kalung yang benar-benar memikat hatinya dan memasukannya ke kotak kecil berwarna merah, memasukannya ke dalam kantong jas dan melangkah.
Michael tersenyum kilat dan segera melangkah. Dia membayangkan bahwa nanti ketika Rensi mengenakannya akan terlihat cantik. Dia segera keluar dari ruang kerja dan turun melalui lift menuju lantai dasar.
Tiga menit. Baru tiga menit dan Roy sudah datang dengan mobil tepat di pintu depan perusahaan. Roy segera melangkah masuk dan menatap Roy yang masih tersenyum kegirangan.
“Apa hari ini kamu menang lotre, Roy? Hari ini kamu banyak tersenyum,” komentar Michael membuat Roy segera menormalkan kembali wajahnya.
“Maaf, Tuan,” jawabnya dengan suara tegas dan wajah kembali kaku.
Roy mengabaikannya dan menyuruh Roy segera jalan. “Ke Tama University,” perintahnya dan langsung diangguki oleh Roy. Matanya menatap sekeliling dan memejam untuk mengistirahatkan tubuhnya. Dia benar-benar lelah karena sejak semalam belum tidur sama sekali. Semua kerjaannya menumpuk karena beberapa hari dia tidak fokus dengan pekerjaan.
_____
Rensi menghentikan langkah tepat di depan mading kampus dan membaca pengumuman yang sudah tertempel. Dia tengah mencari jadwal sidang yang sudah dikeluarkan. Mencari namanya di antara ribuan nama. Matanya menatap sekilas ketika dia tidak menemukan dirinya sama sekali.
“Apa-apaan ini. Aku gak ada?” ucapnya dengan nada kesal.
Rensi menghentakan kuat kakinya dan menggeram kesal. Pasalnya, dosen pembimbingnya sudah memberikan ACC untuk proposal yang dibuatnya. Ya, dia memang masih ada pada tahap proposal ketika Vinda sudah mulai menyusun tesis untuk kelulusan Pasca sarjananya. Menyandang gelas Master Ekonomi.
Rensi merengut kesal sampai sebuah tengah kekar memeluknya dari arah belakang dan dia tau siapa pelakunya. Dengan perlahan, Rensi melepaskan pelukannya dan berbalik, menatap pria dengan jambang tipis di dagu dan kulit coklat. Otot lengannya terlihat keras dan perut rata yang terlihat dari kaos ketat yang digunakan.
“Kamu baru datang, sayang?” tanya Rensi sembari mengalungkan tangannya manja. Dia sudah tidak peduli lagi dengan berapa banyak pasang mata yang menatap kemesraan mereka berdua. Matanya menatap pria dihadapannya dengan wajah menggoda.
__ADS_1
“Kamu merindukanku?” tanya pria tersebut dengan senyum miring.
“Tentu saja. Aku ini kekasihmu dan satu minggu itu adalah waktu yang lama,” ucap Rensi dan semakin mendekatkan tubuhnya, “aku rindu kamu, Dave,” bisiknya tepat di sebelah teliga Dave dan tersenyum.
Dave yang mendengar hanya tersenyum dan merapatkan tubuh Rensi agar semakin mendekat. Dia menatap wajah Rensi yang sudah benar-benar mengodanya. “Kalau begitu, ayo pergi. Aku ingin menikmati waktu bersamamu.”
Rensi mengangguk dan melepaskan gelanyutan tangannya di leher Dave. Pria tersebut beralih meraup jemari tangan Rensi dan menggenggamnya. Senyum angkuhnya tercetak jelas di wajah yang mengeras. Rensi sendiri menikmati genggaman tangan Dave yang hampir menyerupai remasan. Dia memilih untuk mengikuti pria tersebut ketika langkahnya menuntun ke parkiran kampus.
_____
Michael baru saja mengijakan kaki di depan kampus. Matanya menatap sekeliling dan mengamati tatapan wanita yang sedari tadi memandangnya tanpa berkedip. Dia memang tampak seperti dewa Yunani yang begitu sempurna. Pahatan indah dari sang kuasa.
Michael mengabaikan semuanya dan melangkah dengan satu tangan dimasukan ke dalam kantong celana. Baru dua langkah, matanya dikejutkan dengan pemandangan yang tak terduga. Rensi tengah bergandengan dengan pria lain dan tersenyum manja. Belum lagi, tangan wanitanya sudah bergelanyut di lengan pria tersebut.
Roy yang baru saja keluar dari mobil mendatangi Michael dan mendapati Tuannya sudah menatap dengan tatapan membunuh. Tangannya mengepal dengan tatapan mata tajam dan lurus tanpa berkedip. Dia mengamati wajah pria yang berani menyentuh miliknya.
“Tuan,” panggil Roy dengan wajah kaku yang tidak diubah sejak tadi.
“Cari tau pria yang bersama dengan Rensi. Laporkan secepatnya,” desis Michael dan lansung berbalik.
Roy hanya mengangguk patuh dan mengikuti Tuannya kembali ke dalam mobil. Michael mengurungkan niatnya untuk memberikan hadiahnya kepada Rensi. Matanya masih menatap mobil yang membawa wanitanya keluar dari kampus dengan rahang mengeras. Senyum liciknya kembali muncul dengan mata yang semakin menakutkan.
Roy menjalankan mobil dan mulai keluar dari kampus tersebut.
“Ke cafe Dika,” perintahnya tanpa menatap ke arah Roy.
“Baik,” jawab Roy singkat.
Michael masih memikirkan pria tersebut. Akan aku buat kamu menyesal telah menyentuh milik ku, ancamnya dalam hati dan diiringi dengan senyum mengerikan yang menandakan dia siap membunuh.
__ADS_1
_____