Wedding Drama

Wedding Drama
Bagian 42_Kembali


__ADS_3

“Ada yang sakit?” tanya Michael dengan wajah khawtair karena melihat darah di beberapa bagian tubuh Vinda.


Vinda yang sudah duduk dan merasakan lukanya hanya menggeleng dan tersenyum. Rasanya dia benar-benar bahagia melihat Michael begitu peduli padanya. Namun, ada rasa nyeri dalam dirinya karena ucapan cintanya ternyata masih tak berbalas. Senyumnya mulai menghilang ketika di tatapnya wajah Michael yang ternyata sudah tidak menatapnya. Karena penasaran, Vinda ikut menengok dan melihat apa yang dilihat Michael sejak tadi.


Rensi. Melihatnya membuat Vinda merasa begitu nyeri dan sakit. Dia tahu apa yang sudah ditetapkan Michael dan dia sudah berjanji akan menerima apa pun yang menjadi keputusannya. Meski pada akhirnya, perasaannya tak berbalas sama sekali. Vinda jauh lebih memilih untuk menatap sekeliling dan mendapati Dave tengah menjadi tawanan dengan penjagaan ketat.


“Michael,” panggil Vinda pelan dan membuat Michael mengalihkan pandangannya, “kamu menangkap Dave?” Vinda menatap Michael yang juga menatapnya.


“Dia pantas mendapatkannya, Vinda,” celetuk Michael tanpa perasaan.


“Tetapi dia tidak jahat, Michael. Jadi, tolong lepaskan dia,” pinta Vinda dengan wajah memelas.


“Tidak, Vinda. Dia hanya akan berulah dan membuat masalah. Jadi, biarkan dia menerima akibatnya.” Michael menatap kembali luka Vinda.


Vinda menghentikan tangan Michael yang tengah memegang kapas dan hendak membersihkan lukanya. Matanya menatap pilu ke arah Michael. “Dia hanya ingin semua miliknya kembali, Ael. Dia bahkan tidak menyakitiku sama sekali,” jelas Vinda dengan wajah dipenuhi luka. Dia hanya menyakiti Rensi dan apa semua yang kamu lakukan memang untuk Rensi? Menyadari hal tersebut membuat Vinda kembali merasa lelah. Kenapa pikirannya tidak pernah berprasangka baik sama sekali.


“Itu balasan untuknya yang sudah mengusik hidupku,” desis Michael dengan wajah dingin.


Vinda yang melihat langsung bungkam. Dia hanya ingin pergi dari kukungan Dave dan bukan malah membuat pria tersebut berada dalam masalah. Apa kali ini dia juga salah mengambil keputusan?


Michael bangkit dan menatap Dave yang masih berontak berusaha melepaskan kurungan Roy. Matanya menatap tajam dengan tangan mengepal sempurna. “Roy, bawa dia ke penjara dan buat dia dikurung seumur hidupnya,” teriak Michael membuat seluruh anggota yang ada di sana diam membeku, “itu balasan telah mengusik hidup Michael.”


“Hentikan!”


Michael langsung berbalik dan menatap pria yang sudah berdiri di belakangnya. Vinda sendiri langsung bangkit dan menelan salivanya susah payah. Dia menatap pria yang sudah melangkah mendekati Michael dengan mata menajam.


“Hentikan semua kekonyolan yang sudah kamu perbuat, Michael Aditama.”


“Papa,” ucap Michael dengan wajah datar.


_____


“Hentikan semua kekonyolan yang sudah kamu perbuat, Michael Aditama.”


Adelardo yang baru sampai melihat anaknya tengah berteriak dan bersiap memasukan Dave ke dalam penjara. Dia sudah lama memendam emosi karena ulah Michael yang semakin menjadi-jadi. Dia membuat semua orang menjadi sasaran tanpa memikirkan kehidupan orang lain sama sekali.


“Papa.” Michael menatap papanya dengan wajah menentang. Tidak ada keramahan dan kehangatan diantara keduanya. Vinda yang tengah menahan pusing hanya diam dan memperhatikan.


“Kembalikan apa yang seharusnya menjadi milknya, Ael. Apa yang kamu lakukan kali ini keterlaluan. Papa tidak akan membiarkanmu merusak hidup orang lain lagi,” ucap Adelardo masih dengan wajah dingin, "apalagi hanya untuk gadis rendah sepertinya." Adelardo menatap Rensi yang berada tak jauh dari mereka.


“Michael hanya membalas siapa saja yang sudah mengusik hidup Ael, Pa.”


“Dan semua yang kamu lakukan, salah,” sahut Adelardo cepat, “kembalikan semua atau kamu harus berhadapan dengan papa.”


Michael menghela napas panjang. Bagaimana pun pria yang di hadapannya saat ini adalah papanya. Orang tua yang sudah membesarkan dan merawatnya. Rasanya akan sulit melawan papa yang sangat dihormati.


“Pa, ini urusan Michael. Jadi, Ael harap, Papa gak ikut campur dalam hal ini,” ucap Michael tidak suka dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit.


Adelardo hanya diam dan melangkah mendekati Dave yang sudah menatapnya dengan wajah tak suka. Anak buah Michael juga langsung melepaskan karena perintah Adelardo dan itu membuat anaknya geram. Michael baru akan melangkah dan melarang tindakan papanya, tetapi dihentikan karena genggaman lemah di lengannya. Michael menatap Vinda yang memegangi kepalanya yang berdarah.


“Vinda, kamu kenapa?” tanay Michael langsung mendudukan Vinda. Wajahnya sudah benar-benar memucat.


Adelardo yang melihat langsung membelalak dan melangkah cepat ke arah Michael mengguncang tubuh Vinda. “Apa kamu gila, Ael? Cepat bawa dia ke rumah dan panggil Randy untuk mengobatinya,” bentak Adelardo dengan wajah mengeras.


Michael baru sadar dengan teriakan papanya dan langsung membopong Vinda, membawa gadis tersebut masuk ke dalam mobil yang segera melaju. Meninggalkan Adelardo beserta kawanannya dan Dave. Rensi yang merasa posisinya tidak aman langsung mengendap dan pergi dari tempat tersebut. Dia belum pernah berbincang dengan Adelardo sama sekali dan dia benar-benar takut. Rumornya, Adelardo selalu bertingkah kejam dan hanya lembut kepada istrinya saja, Tasya.


Adelardo membiarkan Rensi pergi dan fokus menatap Dave yang sudah menatapnya dengan penuh kebencian. “Adam, bawa dia. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengannya,” perintah Adelardo dan langsung diaangguki Adam.

__ADS_1


Adelardo melangkah lebih dahulu dan membiarkan Adam menyeret Dave yang begitu susah untuk diajak berdiskusi. Dasar keras kepala, pikir Adelardo tanpa menjelaskan apa yang hendak disampaikannya.


_____


“Vinda, bangun,” ucap Michael sembari menepuk pelan pipi Vinda. Matanya masih menampilkan kecemasan karena wanita di pangkuannya tak kunjung membuka mata. Sudah hampir dua jam dan mobilnya masih belum juga menyentuh halaman rumah.


Michael menatap Roy yang saat ini menjadi sopirnya dengan cemas. Apa Roy tidak tahu seberapa khawatirnya dia melihat keadaan Vinda. Mata memejam dan bibir terkatup rapat. Belum lagi ada beberapa luka di bagian tubuh dan juga kening. Rasanya dia ingin menghajar Roy, jika saja dia tidak dalam keadaan darurat.


“Roy, apa kamu tidak bisa melajukannya lebih cepat!” bentak Michael kehilangan kesabaran. Tangannya masih menggenggam tangan Vinda erat. Dia benar-benar enggan melepaskannya. Dia takut jika nanti Vinda pergi dari pangkuannya.


Roy yang dibentak hanya mengangguk kecil dan mempercepat laju mobilnya. Namun, lagi-lagi terdengar decakan kesal dari arah belakang. Roy hanya melirik Michael di kaca dan **** senyum melihatnya. Jadi, ini sifat Michael ketika dia merasa cemas? Benar-benar berbeda.


“Ayolah, Roy. Lebih cepat lagi. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada Vinda. Jika itu terjadi, aku akan memenggalmu,” ancam Michael merasa kesal karena Roy hanya melajukan mobilnya santai. Padahal dia tidak sedang dalam keadaan pantas untuk bersantai.


“Tenanglah, Michael. Kamu benar-benar mengganggu tidurku,” sela Vinda yang langsung membuka matanya perlahan. Menatap mata hazel yang sudah memandangnya penuh khawatir. Michael-lah yang menjadi wajah pertama yang dilihat ketika membuka mata dan itu membuatnya benar-benar bahagia.


“Vinda. Kamu gak apa-apa?” tanya Michael menatap Vinda yang masih tidur di pangkuannya. Wajahnya benar-benar tampak panik dan itu membuat Vinda hendak tertawa, tetapi diurungkan. Dia takut Michael tersinggung.


Vinda tidak menjawab dan hendak bangkit dari pangkuan Michael, tetapi ditahan. Michael menekan punggung Vinda, sehingga dia tidak bisa bangkit. Matanya menangkap gelengan dari arah suaminya dengan wajah memperingatkan.


“Jangan coba bangkit. Biar seperti ini sampai rumah,” ucap Michael dengan wajah serius.


Vinda menghela napas dan menatap Michael dengan tatapan lembut. “Ael, aku hanya jatuh sedikit dan tidak akan mati. Lagian, hanya luka kecil aja kok. Nanti juga mendingan kalau udah dibersihin.”


Michael masih saja menggeleng dan menekan pundak Vinda agar tidak bangkit. Dia tahu seberapa keras kepalanya seorang Vinda. “Gak. Udah kamu tidur aja.”


Vinda hendak memperotes perilaku Michael, tetapi diurungkan ketika telapak tangan Micahel menutup matanya dan memaksanya untuk memejam. Vinda hanya tersenyum mendapat perlakuan manis dari pria arogan yang selalu bertindak tanpa memikrkan orang lain.


“Tidurlah. Aku akan bangunkan ketika sampai rumah,” ucapnya sembari mengelus kepala Vinda lembut.


Vinda akhirnya menurut dan menikmati sentuhan Michael. Padahal dia ingin menatap pria yang saat ini tengah berada di atasnya. Namun, dia memikirkan perasaan Michael. Pria itu mengkhawatirkannya dan dia benar-benar tersentuh dengan sikap manis pri tersebut. Kamu benar-benar khawatir kapadaku, kan, Ael, batin Vinda benar-benar berharap.


Semoga kalian selalu dalam kebahagiaan, batin Roy tulus.


_____


Rensi memukul setir mobilnya dengan keras dan berteriak histeris. Dia baru saja akan menjadi pembunuh. Dia bahkan kehilangan Dave dan Michael tepat di hadapannya. Mereka memilih untuk membela Vinda, wanita yang bahkan tidak pernah ada di hati mereka.


“Sial!” teriak Rensi dengan amarah memuncak.


Rensi menghela napas panjang dan mengacak wajahnya kasar. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Dia bahkan tidak yakin jika Michael akan menerimanya lagi. Apalagi Dave. Dia begitu yakin Dave sudah dalam genggaman Adelardo dan tidak akan pernah bisa kabur.


“Semua memang gara-gara Vinda,” desisnya dengan mata menajam menatap lurus ke depan. Tangannya *** setir mobilnya hingga urat-urat kecil di tangan terlihat begitu jelas. Jika saja Vinda tidak menikah dengan Michael, dia tidak akan kehilangan pria tersebut. Jika saja Vinda tidak menggoda Dave, dia yakin Dave akan melenyapkan Vinda.


Rensi masih diambang kemarahan ketika ponselnya berdering. Menampilkan nama ‘Mama’ di layar ponsel pintarnya. Dengan rasa malas yang melanda, Rensi langsung mengangkat panggilan tersebut.


“Rensi, kamu di mana?” tanya Nani dari seberang. Rensi yang mendengar sedikit menjauhkan ponselnya dan kembali mendekatkannya di telinga. Dia mendengus kesal mendengar suara mamanya.


“Di luar,” jawabnya singkat. Dia sedang tidak minat untuk menceritakan apa yang baru saja terjadi.


“Mama juga tahu. Tepatnya di mana kamu pergi? Kamu ke klub lagi?” tebak Nani membuat Rensi memutar bola matanya jengah.


“Aku baru saja dari tempat Dave dan hampir saja membunuh Vinda. Sayangnya, dia tidak jadi mati dan Michael menolongnya,” jelas Rensi dengan suara mengejek. Dia tidak suka mamanya selalu berpikir dia hanya bisa datang ke klub saja.


“Apa? Kamu sudah membunuh Vinda?” teriak Nani membuat telinga Rensi semakin membengkak.


Rensi menarik napas dalam dan menghembuskannya keras. “Mama kurang jelas? Aku hampir saja membunuh Vinda. Aku bahkan sudah mendorongnya ke jurang dan sangat disayangkan, da tidak jadi mati karena jurangnya tidak terlalu dalam,” jelasnya tanpa merasa berdosa.

__ADS_1


“Rensi!” bentak seseorang dari seberang dan membuat matanya membelalak. Rensi bahkan langsung berhenti bernapas dan tubuhnya benar-benar membeku. “Pulang sekarang juga atau Papa akan usir kamu dari rumah,” desis Beni dari seberang telfon.


Rensi diam dengan mata membelalak kaget. Apa mamanya baru saja menjebaknya? Apa mamanya berusaha membuatnya diusir dari rumah? Tanpa menunggu lama, dia langsung menjalankan mobilnya cepat. Matilah aku, batin Rensi denagn perasaan takut yang menyerang.


_____


“Begini caramu mendidikan anak, Nani?” tanya Beni dengan nada tajam. Tangannya masih *** ponsel istrinya dengan pandangan yang benar-benar terasa dingin. Tidak ada keramahan dan kehangatan yang biasanya ditunjukan.


Beni menatap istrinya yang hanya diam. Awalnya dia hanya ingin ke dapur dan mengambil minum, tetapi tidak disangka dia malah mendengar percakapan Nani dengan Rensi yang tengah membahas Vinda. Ketika dia mendengar nama Vinda dan sederetan kata yang membuat jantungnay benar-benar terasa mati. Tanpa diduga, langkahkanya malah mendekat dan meraih ponsel Nani kasar.


“Kamu gila ya, Nani? Kamu membencinya hingga berniat membunuhnya?” tanya Beni dengan nada bicara menunjukan ketidaksukaannya, “kamu benar-benar gila.”


Nani hanya diam. Dia tahu bagaimana jika Beni mengamuk. Dia merutuki dirinya yang berbicara kencang dan lupa tempat. Andai saja dia tidak berteriak, Beni pasti tidak akan tahu apa yang terjadi dengan anak angkatnya.


“Aku akan menceraikan kamu dan membuang kalian jika sampai terjadi apa-apa pada Vinda,” desis Beni membuat Nani melebarkan matanya.


“Apa kamu bilang? Kamu mau membuangku dan Rensi hanya demi seorang anak angkat yang sudah membuat istrimu meninggal, hah?” Nani menatap Beni yang masih menatapnya tajam.


“Iya,” jawab Beni tegas, “aku jauh lebih memilih dia dari pada kalian yang tidak memiliki hati sama sekali.”


“Dan jika itu terjadi, aku pastikan kamu akan kehilangannya. Aku akan melenyapkannya,” ancam Nani dengan telunjuk yang menuding ke arah Beni.


Beni menatap Nani dengan pandangan tidak suka. Mulutnya terkunci rapat dengan rahang mengeras. “Dan jika dia lenyap, maka kamu akan hidup dalam neraka yang tidak pernah kamu bayangkan, Nani.”


Setelah mengatakan hal tersebut, Beni langsung pergi ke kamar, meningalkan Nani yang masih diam di ruang keluarga. Beni memasuki kamar dan membanting pintunya keras. Nani hanya menggeram marah dan mengepalkan tangan mendengarnya.


“Lagi-lagi kamu, Vinda. Kamu berhasil membuat hidupku menderita,” ucap Nani denagn kebencian semakin meningkat.


_____


Roy sudah memarkirkan mobilnya di halam rumah Michael dan menatap tuannya yang masih mengusap kepala Vinda pelan. Rasanya dia senang karena tuannya sudah menemukan pendamping yang pas. “Tuan, sudah sampai,” ucap Roy menyadarkan Michael yang masih asik dengan elusannya.


Michael mengangguk dan segera membuka pintu. Dia berlari ke arah pintu lain dan segera membopong Vinda keluar dari mobil. Vinda yang awalnya tertidur terbangun karena gerakan dari Michael yang mengangkatnya. Vinda langsung membuka matanya dan menatap Michael dari bawah.


“Michael,” panggil Vinda dengan suara serak khas bangun tidur.


Michael yang dipanggil langsung menatap ke asal suara dan tersenyum. “Aku membangunkanmu?” tanyanya lembut.


Vinda menggeleng pelan. “Bisa kamu turunkan aku? Aku bisa jalan sendiri.”


“Tidak. Kamu harus mengistirahatkan tubuhmu. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa,” tolak Michael tak mau dibantah.


“Tetapi aku hanya luka di bagian kepala dan bukan kaki.”


“Diamlah. Aku tetap tidak mengizinkannya,” ucap Michael lebih tegas dan langsung membungkam Vinda.


Sepanjang menuju ke arah kamar, Vinda hanya diam. Namun, matanya kembali membelalak karena kamar yang dimasukinya sekarang bukanlah kamarnya, melainkan kamar Michael.


“Michael, ini bukan kamarku,” protes Vinda dan berniat turun.


Michael hanya diam dan meletakan Vinda di ranjang kamarnya. Dia menatap Vinda lekat dan hanya tersenyum, membuat wanita itu semakin dibuat bingung karena ulahnya. Vinda hendak protes, tetapi terhenti karena suara pintu terbuka yang menampilkan pria yang sama seperti yang mengobatinya ketika tertembak. Michael sendiri langsung keluar dan tak mengatakan apa pun.


“Hai, Vinda,” sapa Randy dengan senyum manisnya. Tanpa permisi, dia langsung masuk dan menuju ke arah Vinda duduk saat ini. “Apa kamu begitu suka terluka? Aku selalu bertemu denganmu dalam keadaan terluka,” candanya dan membuat Vinda merasa tidak enak hati.


“Maaf,” ucap Vinda lirih. Dia tahu saat ini bukanlah jam kerja Randy dan dia juga yakin jika Michael yang memaksa Randy datang ke rumah lalu mengobatinya.


“Tak masalah,” ucap Randy sembari mengobati lukanya, “asal kamu jangan terluka lagi. Kalau kamu sering menantang bahaya, bisa-bisa saudaraku mati muda karena ketakutan, Vinda.” Randy tersenyum menatap Vinda yang masih memandangnya dengan tidak percaya. "Dia sangat mengkhawatirkamu. Jangan tinggalkan dia," tambahnya denga suara pelan, tetapo Vinda masoh bisa mendengar.

__ADS_1


Benarkah? Vinda bahkan begitu ingin mempercayai ucapan dokter Randy. Sangat.


_____


__ADS_2