Wedding Drama

Wedding Drama
Bagian 19_Protes Rensi


__ADS_3

Rensi menatap mamanya yang tengah melambaikan tangan ke arah mobil Michael dan rombongan pergi. Matanya menggelap dengan tangan yang mengepal erat. Bahkan, kuku tangannya sampai memutih menahan emosi yang sejak tadi ingin terlontar. Dia tidak ingin secara langsung menolak Michael, tetapi dia juga enggan mengorbankan kehidupannya untuk bersama dengan pria keji yang tidak memilii hati.


Setelah mobil mereka tidak terlihat, Rensi memandang mamanya yang masih mengembangkan senyum manis. Sedangkan papanya, menatapnya dengan datar, seakan ada yang dipertanyakan dengan semua kejadian yang tengah dialami keluarganya. Papanya bahkan tidak tau dengan kedatangan keluarga Aditama yang begitu terkenal.


Nani melangkah ke arah Rensi dengan senyum mengembang. Dia akan menunjukan keapda semua teman-teman sosialitanya bahwa dia akan menjadi bagian dari keluarga Aditama. “Kamu memang hebat, sayang. Kamu bisa memikat seorang Michael Aditama dengan pesona cantikmu,” puji Nani dengan senyum yang masih belum menghilang.


Rensi mengangkat sebelah bibirnya, tersenyum sinis ke arah sang mama. “Dan Rensi baru lihat bahwa Mama benar-benar tidak waras.”


“Apa maksud kamu?” tanya Nani dengan kening mengerut dan mata menyipit. Dia tidak suka dengan apa yang baru saja didengarnya.


“Iya, Mama gila karena sudah menyerahkan Rensi sama Michael yang jelas-jelas sudah tersebar seluruh keburukannya di muka bumi,” tegas Rensi dengan wajah yang sudah mengeras.


Nani yang mendengar hanya tertawa kecil mendengarnya, matanya langssung menatap tegas dengan senyum yang mulai memudar. “Mama bukan orang gila yang akan menolak lamaran dari orang paling tersohor Rensi. Ingat, kesempatan tidak akan datang dua kali.”


“Iya, tetapi Mama sudah menghancurkan semuanya. Semua masa depan Rensi!” Rensi benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan mamanya. Persetujuannya bahkan tidak dipertanyakan terlebih dahulu.


“Jadi, kamu tidak ingin menikah dengannya?”


Suara Beni mengalihkan pertengkaran mereka berdua. Mereka bahkan tidak sadar jika sejak tadi Beni berada di antara mereka berdua. Rensi yang mendengar langsung membuang napas kasar dan menggeleng, membuat Beni mengusap wajahnya kasar.


“Ya Tuhan, apa yang sudah kalian lakukan hari ini?” geram Beni menyadari tindakan gila yang baru saja disaksikannya.


“Mama yang menjawab. Rensi bahkan tidak diperbolehkan untuk mengatakan apapun,” jelas Rensi sembari melirik mamanya yang masih terlihat santai.


Beni menatap Nani dengan pandangan lelah bercampur geram. “Apa yang sudah kamu lakukan, Nani. Kamu bahkan sudah membawa keluarga kita dalam kehancuran.”

__ADS_1


“Aku melakukan apa yang harusnya aku lakukan. Menerima tawaran mereka adalah pilihan terbaik dan itu bisa membantu mengembangkan perusahaan kecil keluarga kita,” ucap Nani tanpa rasa bersalah.


“Iya, tetapi kamu sudah benar-benar salah ambil langkah. Kamu memaksa Rensi hidup dengan orang yang tidak dicintainya. Kita akan hancur saat Michael tau semua itu,” ujar Beni geram.


Nani yang mendengar hanya tersenyum ringan dan menatap Rensi yang masih menatapnya acuh. Langkahnya mendekat dan saat sudah berada tepat di depan anak semata wayangnya, tangannya mencengkram erat pipi Rensi sehingga gadis tersebut menatapnya.


“Jika begitu, jangan coba berulah atau kamu akan hancur,” desis Nani tidak menanggapi ucapan sang suami. Setelahnya, dia melepaskannya dan menatap suaminya dengan senyum misterius.


“Menjadi anggota keluar Aditama adalah keuntungan terbesar. Jadi, kalau aku sampai menyiakan, itu sama saja dengan mengubur seluruh harta kita.” Nani tersenyum dan meninggalkan ruang tamu yang sudah terasa begitu panas.


Beni hanya menghela napas kasar. Sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Hari pertunangan yang dijadikan satu dengan resepsi pernikahan bahkan sudah ditentukan. Matanya menatap Rensi yang masih mengepalkan tinju dan mendengus kesal. Dia sudah tidak bisa berkata apa pun lagi atau kehilangan semuanya.


“Sial!” Rensi menghentak kesal dan langsung melangkah menuju tangga dengan tergesa. Dia bahkan mengabaikan Vinda yang saat itu hanya berdiam di balik tembok mendengar percakapan mereka semua.


_____


Michael benar-benar tengah berada di atas awan saat ini. Lamarannya di terima dan dengan semua yang diinginkan, keluarga Rensi setuju. Dia bahkan memilih untuk melangsungkan pesta secara besar-besaran dengan waktu yang sama agar tidak ada yang mengacaukan acaranya.


Michael duduk di sofa yang terletak di kamarnya dengan senyum yang masih tersungging. Matanya menatap lekat foto seorang gadis kecil bersama dengan pria dewasa yang saat itu tersenyum bahagia. Dia masih menyimpan foto yang didapatnya dari buku harian yang diyakini adalah milik malaikatnya, Rensi.


“Kita akan bersama, Sayang. Aku janji tidak akan pernah menyakitimu,” ucapnya dengan senyum sumringah.


Sebuah ketukan menyadarkannya dari lamunannya dan menatap pintunya yang masih tertutup. Tidak lama, pintu terbuka dan menghadirkan seorang bidadarinya dengan senyum lembut yang menghiasi wajah yang mulai menua, meski tidak ada keriput yang mampir di wajahnya.


“Boleh mama masuk?” tanya Anastasya dan diangguki Michael. Langkahnya langsung mendekat ke arah sang anak dan duduk didekatnya. Menatap Michael dalam. “Mama gak nyangka, Ael mama sudah besar.”

__ADS_1


Michael yang mendengar hanya tersenyum tipis mendengar ucapan sang mama. “Mama sudah merawat Ael sampai seperti ini.”


“Tetapi mama tetap tidak tau apa yang diinginkan anak mama sampai saat ini,” ucap Anastasya dengan wajah pilu, menandakan hatinya yang benar-benar sedang goyah saat ini.


“Apa maksud mama?” Michael menatap mamanya tidak mengerti. Dia tidak tau apa yang dimaksud mamanya.


Tasya tersenyum dan mengusap punggung tangan anaknya lembut. Menghela napas pelan dan menatap kembali Michael. “Kamu yakin akan menikahi Rensi, sayang? Mama melihat tidak ada cinta untuk mu di sana, Nak. Mama hanya takut kalau....”


“Cukup, Ma. Michael tidak mau mendengar apa pun mengenai pendapat mama dan papa. Michael cukup tau apa yang terbaik untuk Ael,” tegas Michael yang langsung mengalihkan pandangannya dari sang mama.


Tasya yang mendengar langsung menatap pasrah. “Apa kamu yakin Rensi mencintai dan akan menjadi istri yang baik, Ael?”


Michael menatap mamanya tajam dan tidak bersahabat. “Apa maksud Mama? Mama meragukan pilihan Ael?” desisnya tidak suka.


Tasya diam dan menggeleng. “Mama tidak meragukan apa yang kamu mau, Ael. Mama hanya takut kamu menyesal.”


Michael diam sesaat dan memandang mamanya dengan wajah dingin, menandakan saat ini dia tengah merasakan emosi yang membara. Bibirnya terkatup rapat mendengar ucapan sang mama. Tasya yang melihat akhirnya bangkit dan mendekati Ael. Tangannya mengusap pelan pundak anaknya lembut dan tersenyum.


“Mama aharap kamu benar-benar memilih wanita yang tepat,” ujar Tasya sudah tidak tau apa yang harus dikatakan.


Michael menatap mamanya masih dengan wajah mengeras dan datar. “Ae; tidak akan menyesal, Ma. Rensi adalah pilihan terbaik untuk menjadi pendamping Ael selamanya,” desis Ael yang langsung diangguki Tasya.


Tasya hanya diam dan mengangguk. Dia melangkahkan kaki keluar ruangan sang anak yang sudah tidak bersaahabat. Helaan napas pasrah mengiringinya dengan mata berkaca. Mama harap kamu akan bahagia bersamanya, Ael. Mama harap benar dia wanita yang kamu cari.


_____

__ADS_1


__ADS_2