Wedding Drama

Wedding Drama
Bagian 50_Surprise


__ADS_3

Seharusnya tidak menjadi masalah ketika Randy memilih wanita lain untuk hidup bersamanya, menjalani hari dan kehidupan bersama sampai menua. Seharusnya itu yang dilakukan Rika ketika mendengar Randy akan segera bertunangan. Namun, nyatanya berbeda. Dia merasa terganggu dan bahkan terus memikirkannya hingga pagi. Sudah ribuan kali dia mencoba bersikap cuek dan tidak peduli, tetapi semua tidaklah mudah. Rika harus merasakan sakit yang berulang hanya untuk sebuah cinta yang sudah tidak lagi menyapanya.


Rika menghela napas panjang dan menatap langit-langit kontrakannya yang sudah mulai rapuh. Bahkan untuk sebuah rumah rapuh saja dia harus menyewa? Rasanya Rika benar-benar kesal karena dia hanya mampu menggunakan gajinya untuk hidup sehari-hari dan juga menabung. Dia memang berencana membeli rumah dan membangun usaha nantinya. Setidaknya dengan begitu dia tidak akan melihat Randy yang sering keluar masuk ke kantornya.


“Semangat, Rika. Kamu pasti bisa,” ucapnya menyemangati diri sendiri.


Rika menyingkirkan selimutnya dan segera bangkit. Dia harus segera memasak untuk sarapan karena jam sudah menujukan pukul 05.30 dan kantor mulai aktiv bekerja pukul delapan tepat. Jika dia sampai terlambat, dapat dipastikan bahwa dia akan mendapatkan hukuman pertamanya karena selama dia bekerja, Rika belum pernah terlambat satu kali pun.


Rika melangkah menuju dapur kecil yang hanya berisi kompor dan peralatan masak lainnya. Dia benar-benar bersyukur karena masih ada wanita baik yang menyewakan rumahnya dengan harga murah dan meninggalkan seluruh perabotannya. Setidaknya dengan begitu dia tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli begitu banyak peralatan.


Rika membuka lemari es yang ada di ujung ruangan dan menatap apa yang ada di dalam lemari tersebut. Hanya ada sosis, telur dan bakso. Keningnya mulai berkerut memikirkan apa yang akan di masaknya hari ini.


“Masak apa kita hari ini?” tanyanya kepada diri sendiri.


“Mungkin nasi goreng bisa. Lagi pula Randy begitu menyukainya,” ucapnya dengan senyum sumringah.


“Idih, lupakan-lupakan,” kata Rika ketika dia sadar dengan pikiran konyolnya, “ngapain masih mikirin dia sih. Udah deh, lupakan. Lebih baik kita menyongsong masa depan seorang diri,” lanjutnya dengan semangat menggebu. Bahkan, perasaan mellow yang sejak tadi dirasakannya sudah menguap begitu saja.


Rika akhirnya memutuskan untuk membuat nasi goreng. Hanya sebentar dan dia sudah menghidangkannya di meja makan. Karena saking asyiknya, dia bahkan lupa telah membuat sarapan yang cukup untuk dua orang.


“Mungkin nanti dikasih Bu Mei aja deh. Kebanyakan masaknya,” ujar Rika dan langsung menarik kursi dan duduk.


Rika baru menyuap satu sendok sarapannya dan mendengar suara bel rumahnya. Dia mencoba mengabaikan, tetapi berulang kali sang pelaku menekan dan membuat suara berisik di rumahnya. Masih untung hanya kontrakannya saja yang berdiri di belakang bangunan besar yang selalu ramai setiap malam. Jadi, sebanyak apa pun tamu yang menekannya tanpa ampun, hanya Rika seorang yang mendengar.


“Permisi,” teriak seseorang dari arah depan.


Rika mengabaikannya dan masih tetap menyantap makanannya. Namun, karena tamu di rumahnya tidak juga berhenti, akhirnya dia memilih untuk menyudahi acara sarapannya dan segera melangkah ke luar. Dia penasaran siapa orang yang berani mengganggu waktu santainya pagi ini?


“Sebentar,” ucap Rika sembari membuka pintu. Rika baru saja mendongak dan langsung membelalakan mata menatap tamunya kali ini. Mulutnya menganga lebar dan merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“Surprise,” ucap seorang pria dengan tubuh tinggi dan badan kurus yang sudah merentangkan tangan di hadapan Rika.


Rika menutup mulutnya dan tersenyum penuh kebahagiaan. Tanpa rasa canggung dia langsung berhambur dan memeluk pria tersebut erat, menyalurkan rasa rindu yang kian membuncah. Dia bahkan masih merasa kejadian di hadapannya seperti mimpi indah dan dia tidak akan bangun dari tidurnya.


“Hei, kamu pulang?” tanya Rika masih memeluk erat.


“Iya dong. Aku kan juga rindu sama Kakak,” jawab pemuda tersebut sembari memeluk tubuh Rika erat.


_____


“Masakan Kakak emang terbaik,” ucap Bara, adik semata wayang Rika dengan wajah antusias. Dia sudah memasukan nasi goreng ke dalam mulutnya dengan rakus. Bahkan, Rika yang melihatnya hanya menggeleng tidak percaya dengan antusias adiknya tersebut.


“Hei, pelan-pelan. Gak ada yang mau minta makanannya kali, Bar,” tegur Rika memperingatkan karena adiknya makan dengan begitu lahap dan mirip orang kelaparan.


Bara yang mendapatkan teguran hanya tersenyum dan kembali menikmati makanannya. Dia bahkan tidak peduli dengan barang bawaan yang masih tergeletak di ruang tamu. Sekarang tugasnya hanya mengisi perut dan memberi makan cacing-cacingnya agar tidak terus-menerus mendemo untuk diberikan makan.


Rika menatap Bara dengan senyum sumringah. Namun, wajahnya menunjukan kecurigaan kepada adik lelaki yang masih duduk di hadapannya. Bukankah ini belum masa liburan? Kenapa dia pulang?


“Bar,” panggil Rika pelan, “kamu gak dikeluarin dari kampus, kan?” tanya Rika khawatir.


Bara yang mendengar langsung tersedak dan menatap protes kakaknya. Rika mengulurkan gelas berisi air putih dan langsung diteguk habis oleh Bara. Setelahnya dia menatap Rika dengan pandangan memprotes

__ADS_1


“Kakak ini bicaranya ngawur. Ya jelas gaklah,” jawab Bara kesal.


“Ya kakak cuma nebak aja. Ini belum jadwal kamu libur, kok udah pulang aja,” ucap Rika sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Bara berdecih kesal dan menatap kakaknya tajam. “Aku memang pulang, tetapi bukan karena beasiswa ku dicabut. Aku pulang karena memang pengen aja. Kebetulan ada yang mau bayarin tiket pesawat.”


Rika yang mendengar hanya mengangguk. Setidaknya masalahnya sudah berkurang dan dia bisa bernapas lega. “Terus kamu berapa hari di sini?”


“Kenapa? Gak suka adiknya pulang?” tebak Bara kesal.


“Bukannya gitu. Kakak cuma tanya aja. Sensitif amat jadi orang.”


“Ya lagian, tanyanya gitu. Tapi tenang aja, Kak. Aku Cuma empat hari kok di sini.”


Rika membereskan meja makan dan melirik ke arah jam dinding yang masih menunjukan pukul enam pagi. “Sebentar amat.”


“Iya, soalnya temanku pulangnya empat hari lagi,” jawab Bara santai, “besok Kakak temani aku jalan-jalan, ya? Aku kan cuma sebentar di sini.”


“Gak bisa,” tolak Rike cepat, “Kakak harus bekerja.”


Bara akhirnya mengalah dan diam. Dia tidak bisa memaksa kakaknya untuk menemani karena memang kakaknya juga memerlukan uang untuk membiayai kehidupan mereka. Bara sadar, sejak orang tuanya pergi, Rika lah yang menjadi tumpuan hidupnya.


“Kalau pulang setelah liburan, Kakak usahakan ajak kamu jalan-jalan, ya,” ucap Rika sembari mengacak rambut adiknya.


Bara hanya menghela napas dan mengangguk patuh. Dia tidak bisa memaksa kakaknya karena nyatanya memang kakaknya harus bekerja. Bahkan dia masih tetap mendapat kiriman setiap bulan meski sudah melarang kakaknya. Rika selalu bilang bahwa dia adalah tanggung jawabnya apa pun kondisinya. Bara menatap Rika yang sudah memasuki kamar mandi tunggal di rumahnya dan tersenyum lembut.


“Aku bangga memiliki Kakak selama ini,” ucapnya dengan senyum sumringah.


_____


Aku kuliah gak cuma mau cari ijasah, tetapi juga ilmu. Jadi, kalau kamu mau lulusin aku cepet, mendingan ditunda aja deh.


Itulah kalimat yang diucapkan Vinda setiap kali Michael mengatakan akan meluluskan Vinda tanpa harus bersusah payah menyusun tesis yang begitu dipersulit. Michael baru melangkahkan kaki hendak menyusul Vinda yang belum juga datang, tetapi sebuah tangan membuatnya menghentikan langkah. Michael langsung membalik tubuh dan mendapati seseorang tengah menatapnya tidak kalah tajam.


“Dave!” geram Michael masih memiliki dendam terhadap pria di hadapannya saat ini.


Dave yang mendengar hanya diam dan melepaskan genggamannya. Dia bisa melihat ada raut kebencian dan juga dendam yang tengah dipendam Michael kepada dirinya.


“Beraninya kamu datang ke rumahku,” ucap Michael dengan kemarahan yang menggebu dan menunjuk Dave dengan penuh rasa benci.


“Aku harus berbicara denganmu, Michael,” ujar Dave dengan wajah memelas. Dia tahu jika terus melawan, dia akan semakin tidak bisa mengatakan maaf kepada Michael dan memperbaiki hubungannya yang semua tidak saling kenal.


“Aku sudah tidak memiliki masalah apa pun denganmu, Dave. Jadi, pergi atau aku akan membuangmu ke jalanan,” desis Michael dengan mata menggelap.


Dave yang merasa buntu menatap Michael dengan menggelengkan kepala. Dia sudah bersikeras dan sejauh ini untuk bertemu dengan Michael. Jadi, dia tidak akan menyerah. Dave mengikuti Michael yang sudah melangkah masuk. Dia tahu jika dia terus melakukannya, Dave sama saja menggali lubang kuburnya sendiri. Namun, dia tetap tidak merasa tenang dan merasa ada yang perlu dibicarakan dengan Michael. Ada hal yang perlu diluruskan agar tidak ada lagi masalah diantara keduanya.


Michael yang merasa gerah langsung berbalik dan siap melayangkan kepalan tinjunya, tetapi terhenti karena teriakan di belakangnya.


“Michael!” teriak Vinda yang masih di ujung tangga sprila di rumahnya, membuat pukulan Michael hanya melayang di udara.


Michael menurunkan tangannya ketika suara sepatu Vinda sudah terdengar melangkah ke arahnya.

__ADS_1


“Apa yang kalian lakukan? Ini masih terlalu pagi untuk kalian bertengkar,” ucap Vinda sembari menatap Dave dan Michael secara bergantian.


“Aku hanya ingin berbicara denganmu Michael,” jawab Dave tegas.


“Dan aku terlalu sibuk untuk mengurusi orang sepertimu,” desis Michael tidak suka.


“Tetapi aku merasa ada hal yang perlu kita luruskan. Mengenai Rensi,” kata Dave masih tidak mau mengalah.


Michael membuang napas kasar dan menarik tangan Vinda. Dia siap keluar dan membawa istrinya pergi dari rumah, tetapi bukannya menurut, Vinda malah berhenti dan menatap Michael dengan tatapan tajam.


“Ayo kita ke kampus. Kamu bisa terlambat,” ucap Michael mengabaikan tatapan Vinda.


“Aku siap terlambat asal kamu berbicara terlebih dahulu dengan Dave. Aku ingin semua masalah mengenai Rensi beres dan tidak ada lagi kemarahan diantara kalian berdua,” ujar Vinda dengan nada lembut.


“Aku tidak mau,” tolak Michael sembari melepaskan genggaman tangannya.


“Ael, please,” mohon Vinda dengan mata berbinar, “aku ingin ketika aku menjadi istrimu, kamu sudah tidak memikirkan Rensi sama sekali. Aku ingin semua yang berhubungan dengannya selesai, termasuk dengan Dave.”


Michael yang mendengar menghela napas panjang dan menatap Vinda lekat. Dia melihat mata penuh permohonan yang ditunjukan Vinda kepadanya. “Baiklah. Kita selesaikan hari ini,” ucap Michael merasa lemah dengan tatapan memohon Vinda kali ini.


Vinda langsung tersenyum senang dan menggandeng lengan Michael. Dia sendiri tidak menyangka jika pada akhirnya, Michael mau menuruti ucapannya. Matanya melirik suaminya yang sudah memasang wajah kesal, tetapi tetap menuruti keinginanya.


I love you, sayang, batinnya sembari memperhatikan Michael lekat.


_____


Dave sudah duduk di ruang tamu rumah Michael dan menatap pria angkuh di hadapannya. Dia meredam semua emosi yang muncul setiap dia mengingat apa yang dilakukan pria tersebut kepadanya. Namun, lagi-lagi dia kembali berpikir. Semua memang salahnya yang mengusik singa tidur yang bahkan tidak pernah berbuat salah kepadanya.


“Apa yang ingin kamu katakan?” tanya Michael dengan nada tegas dan dingin, “aku tidak memiliki banyak waktu untuk meladeni orang sepertimu, Dave.”


“Aku tahu,” jawab Dave lirih, “aku tahu kamu adalah orang sibuk yang bahkan tidak memiliki waktu hanya sekedar berbicara denganku. Tetapi, aku hanya ingin mengatakan, maaf dengan semua kesalahan yang telah aku perbuat selama ini. Aku yang menyekap Vinda, aku yang membawa kabur Rensi dan aku yang berusaha membunuhmu.”


Michael masih diam dan memperhatikan Dave tanpa berkedip. Wajahnya menunjukan ketegasan yang sudah menguar kesegala ruangan. Bahkan, Vinda yang sejak tadi berada di dekatnya memilih untuk diam dan tidak mengusik ketenangan suaminya.


Dave menghela napas panjang dan kembali melanjutkan ucapannya, “Rensi mengajakku kabur karena dia takut dengan kenyataan yang sering dikatakan orang mengenai dirimu, Ael. Dia takut kamu aksn melukainya dan menghajarnya, bertingkah kasar seperti yang orang-orang bilang. Awalnya ajakan gila itu sudah ku tolak, tetapi dia memaksa. Aku tidak tega melihatnya dan pada akhirnya aku menerima permintaannya. Membuat kita yang awalnya tidak memiliki masalah apa pun menjadi bermusuhan.”


“Aku tidak menyalahkanmu karena sudah membuat perusahaan papa ku hancur. Meski awalnya aku benar-benar mendendam. Ibu ku masuk rumah sakit dan mengalami koma, papa masuk penjara dan rumah utama sudah tidak bisa ditinggali. Namun sekarang aku sadar, kamu hanya membalaskan dendam karena kesalahan yang aku perbuat, tidak seharusnya aku memendam perasaan dendam kepadamu. Itu sebabnya aku datang untuk meminta maaf atas semua kesalahanku.”


Michael yang mendengar dan masih tetap diam, sampai elusan ringan di bahunya membuatnya kembali tersadar. Matanya menatap wanita yang sudah tersenyum lembut menatap ke arahnya, membuat bibir Michael juga menyunggingkan senyum tulus. Dia menatap Dave yang masih menatapnya lekat dan menghela napas panjang.


“Mungkin benar katanya, kita harus melupakan semua. Aku cukup berterima kasih kepadamu, karena dengan begitu aku mendapatkan cintaku. Aku mendapatkan wanita yang sebenarnya aku cari selama ini,” ucap Michael membuat Dave tercengang tidak percaya.


Dave membelalakan mata heran. Seorang Michael bisa berterima kasih dan berbicara lembut? Ah, memang cinta mampu mengubah segalanya.


“Dan Dave, mungkin aku tidak bisa mengembalikan perusahaanmu menjadi milik keluargamu kembali. Tetapi jika kamu mau, kamu bisa bekerja di sana. Masih ada lowongan yang aku buka. Jika mau, kamu bisa datang dan katakan kamu sudah diterima olehku,” ucap Michael dengan wajah kembali normal.


Vinda yang mendengar langsung tersenyum senang. Inilah yang diinginkannya, tidak ada permusuhan antara Dave dan juga Michael karena pada dasarnya, Dave bukanlah orang jahat yang patut dibenci. Tangannya memeluk erat lengan Michael dan menatap suaminya lekat.


“Teirma kasih karena kamu tidak mempermasalahkannya kembali,” ucap Vinda bahagia.


“Aku menjalani kehidupanku bersamamu. Jadi, aku mencoba membuang perasaan yang sudah tidak lagi berhubungan dengan orang lain selain kamu. Aku tidak mau kamu merasa aku tetap mencintainya,” jawab Michael membuat Dave yang ada di depannya terpaku sejenak. Merasa sosok baru yang jauh berbeda dari sebelumnya.

__ADS_1


Michael tidak sejahat yang mereka katakan, batin Dave yang tengah menatap Michael yang memandang Vinda dengan penuh cinta


_____


__ADS_2