
Vinda menggeliat dalam tidurnya. Rasa nyaman dan hangat yang pertama kali dirasakannya. Matanya bahkan enggan membuka, tetapi perlahan tetap dipaksakan untuk terbuka dan melihat tempat asing yang baru pertama di lihatnya. Matanya meneliti ruangan tersebut dan langsung duduk. Namun, rasa pusing tiba-tiba menyerangnya. Ringisan kecil terdengar dari bibir mungil dan tangannya langsung memijit pelan pelipisnya.
“Aku di mana?” tanyanya kepada diri sendiri.
Vinda menghela napas panjang, menatap sekeliling dan tidak ada siapa pun. Ingatannya berputar saat Dave membawanya dengan paksa dan Michael mengejarnya. Namun, perlahan pandangannya mengabur dan dia jatuh pingsan.
Michael? Mengingat nama tersebut membuat Vinda langsung bangkit dan hendak turun dari ranjang. Dia mengabaikan rasa sakitnya. Ketika kakinya hendak menapak di lantai, suara pintu terbuka membuatnya berhenti. Vinda menatap siapa sosok di balik pintu ruangan yang saat ini ditempatinya.
“Kamu sudah bangun?” tanya Dave yang ternyata datang dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman. Dia langsung masuk dan mengunci pintu. Dia takut jika nanti Vinda kabur dari rumahnya. Meski dia tau, tidak ada tempat untuk gadis di hadapannya ini pergi karena dia sudah memperketat keamanan rumahnya.
“Dave,” panggil Vinda pelan dan menatap tubuh jangkung yang tengah mendekat ke arahnya.
“Makanlah.” Bukannya menjawab, Dave malah memberikan nampan tersebut kepada Vinda. Awalnya Vinda bingung dan mengerutkan kening, tetapi ketika Dave menyodorkannya kembali, dia meraih nampan tersebut dan memangkunya.
Vinda menelan ludahnya serat. Matanya menatap Dave yang masih berdiri dengan tangan dimasukan ke kantong dan menatapnya dengan tatapan datar. Rasanya dia masih tidak percaya dengan apa yang dlihatnya kemarin malam. Dave dengan segala amarahnya dan juga perasaan sakit hati yang ditunjukan. Sebenarnya dia sedikit takut jika mengingat kejadian malam itu.
“Makanlah. Aku tidak memberikan obat apa pun di makanan itu,” tegur Dave merasa Vinda tidak mempercayainya.
Vinda yang mendapat teguran langsung menyendok makanannya dan mengunyah dengan lahap. Dia tidak mau jika nanti Dave menyiksanya dan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukannya terhadap Rensi. Vinda masih bersyukur dia terbangun dengan tangan dan kaki yang tidak terikat dan bahkan tubuh yang tertidur di ranjang empuk.
“Tanganmu sakit?” tanya Dave memperhatikan pergelangan tangan Vinda yang semalam di genggamnya terlalu erat.
Vinda menatap luka memar di tangannya dan mengangguk. “Hanya sedikit.”
“Maaf,” ujar Dave tulus, “maaf karena aku membawamu pergi dari Michael. Aku hanya ingin menjadikanmu sebagai jaminan agar dia tidak macam-macam dengan keluargaku. Setidaknya jika mengancamnya dengan menggunakanmu, dia akan menurut dan patuh.”
Vinda yang masih menyendok makanannya langsung diam dan menatap Dave datar. “Kamu menjadikanku sebagai jaminan agar Michael tidak melakukan hal buruk dengan keluargamu?” tanya Vinda memastikan.
Dave mengangguk yakin. “Iya. Setidaknya saa istrinya ada bersamaku, dia tidak akan macam-macam. Dia akan memikirkan keselamatanmu.”
Apa benar yang dikatakan Dave? Tetapi melihat Michael yang ragu-ragu dalam bertindak dan menyelamatkannya membuat hatinya sakit. Bahkan, di hadapannya, Michael enggan melepaskan Rensi dalam pelukannya. Rasanya kali ini hatinya sudah benar-benar hancur. Vinda menunduk dengan air mata mengalir perlahan. Isak tangisnya membuat Dave yang diam menatapnya menjadi kaget.
“Vinda. Aku janji tidak akan menyakitimu. Aku melakukan ini karena Michael sudah mengancurkan hidupku. Menghancurkan keluargaku yang tidak tahu apa pun dengan masalah ini,” jelas Dave merasa kasihan karena Vinda malah menangis dengan air mata yang semakin mengalir deras.
Vinda menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia ingin melepaskan rasa sakit hatinya dan juga menahan air mata yang keluar dengan deras. Matanya menatap Dave yang masih memandanganya dengan wajah khawatir. Vinda menghapus air matanya dengan telapak tangan dan menatap Dave miris.
“Kamu menjadikanku sebagai tawanan untuk menaklukan Michael?” tanya Vinda pelan, “kamu salah memilih orang, Dave. Dia tidak akan pernah macam-macam lagi dengan keluargamu karena dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan selama ini.”
“Maksud kamu?” Dave mengerutkan kening bingung.
__ADS_1
Vinda tersenyum miris mengingat Dave seakan melupakan semua kesalahan yang telah diperbuatnya. Kejadian yang membuatnya harus menanggung cinta sepihak dan hanya dia yang tahu. “Kamu lupa kenapa aku bisa menjadi istri seorang Michael Aditama? Kamu lupa, Dave?”
Dave mengusap wajahnya kasar dan menghela napas keras. Dia menatap Vinda dengan emosi yang entah kenapa terasa ingin meluap. Dia selalu ingin marah jika mengingat betapa bodohnya dia dulu karena menuruti keinginan Rensi yang ingin melarikan diri. Andai saja dia tidak menurutinya. Dave selalu merutuki kesalahannya yang terlalu bodoh dan menganggap semua bisa diselesaikan.
“Dave, Michael tidak bersalah dalam hal ini. Ini semua karena kesalahanmu yang membawa lari orang yang dicintainya,” bela Vinda dengan air mata masih berlinang.
“Vinda!” teriak Dave yang langsung menodongkan benda hitam panjang tepat di kening Vinda. Dia benar-benar ingin marah untuk saat ini karena Vinda seakan memancing emosinya.
Vinda yang melihat memejamkan mata dan kembali membukanya. Senyumnya langsung terukir lembut dan menatap Dave pasrah. Dia tidak bergetar dan merasakan takut sama sekali.
“Kamu ingin membunuhku, Dave? Silahkan,” ucap Vinda pasrah, “aku tidak akan menghalangimu karena hidup pun, tak ada bedanya untukku. Aku lelah menghadapi semua cobaan yang terus mendera. Aku ingin mati saat ini, Dave,” lanjut Vinda dengan senyum sumringah, meski masih ada jejak air mata yang terus mengalir.
Dave yang mendengar membeku seketika. Dia baru melihat seseorang yang dengan keyakinan menyerahkan diri dengan kematian yang bahkan sudah di hadapannya. Helaan napas panjang terdengar dan Dave menurunkan senjatanya. Dia memilih pergi meninggalkan ruangan Vinda dan kembali menguncinya. Sedangkan Vinda, dia hanya diam dengan air mata yang semakin tergugu.
Tuhan, aku lelah menjalani kehidupan ini, batin Vinda lelah.
_____
Randy masih sibuk mengobati luka Rensi dan melihat wanita di hadapannya dengan geram. Beberapa kali dia mendengar umpatan dari mulut gadis tersebut, padahal lukanya hanya luka ringan. Setelah selesai, Randy keluar ruangan dan tampak Michael duduk di lantai dengan wajah yang tampak kacau. Ada beberapa bekas luka karena pukulan keras dari anak buah Dave.
“Kamu tidak mau mengobati lukamu?” tanya Randy yang sudah berdiri di hadapan Michael dengan wajah datar.
“Dia baik-baik saja. Tidak ada luka parah. Emosinya juga terkontrol. Kamu tidak perlu mengkahwatirkannya,” jelas Randy, “dia siapa, Michael?”
Michael menutup wajahnya dan menghela napas panjang. Dia bangkit dan mensejajarkan tubuhnya dengan Randy yang masih menatapnya dengan tanda tanya. “Dia wanita yang aku cintai,” jawabnya singkat.
“Apa?” Randy yang mendengar langsung menatap Michael dengan mata membelalak, “lalu Vinda?”
“Aku hanya menikahinya karena Rensi pergi di hari pernikahan.”
“Dan sekarang kamu menemukannya? Kamu akan menikahi dia dan menceraikan Vinda?” tebak Randy benar.
Michael hanya diam. Sekarang dia mulai ragu untuk melepaskan Vinda dan menggantikannya dengan Rensi. Keyakinan yang dulu diberikan untuk Rensi perlahan memudar setelah mendengar penjelasan Dave. Selama ini dia berpikir Rensi di paksa Dave untuk pergi. Namun, kenyataannya Rensi yang memang tidak ingin terikat dengannya. Semua keyakinan yang di bangunnya langsung hancur seketika.
Randy tersenyum kecil dan menepuk pundak saudaranya pelan. “Semua pilihan ada di kamu, Ael. Tetapi, kalau aku berada di posisimu, aku tidak akan pernah melepaskan wanita sebaik Vinda. Aku akan menjaganya dengan baik,” ucapnya dan langsung meninggalkan Michael.
Michael hanya diam dan menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan. Dia hendak melangkah ke ruangan Rensi dan melihat keadaan gadis tersebut, tetapi suara gaduh di lorong membuatnya harus mengalihkan pandangan. Tampak empat orang dewasa tengah melangkah cepat ke arahnya. Akhirnya, Michael mengurungkan niatnya dan menunggu rombongan yang tengah berjalan semakin dekat dengannya.
“Di mana Rensi?” tanya Nani yang baru saja datang.
__ADS_1
“Di dalam, Ma,” jawab Michael tanpa tenaga.
Nani langsung masuk dan menutup pintu rapat. Beni yang hendak menyusul langsung terhenti dan mencari salah satu putrinya. “Di mana Vinda?” tanya Beni sembari menatap Michael yang menunduk.
Tasya yang ada di sana juga mencari keberadaan Vinda yang tidak ada di sekitar anaknya. Matanya menatap Michael dengan tatapan penuh tanya. Seperti ada ketakutan yang melanda saat ini. Melihat Michael menunduk dan tidak berani menatapnya, dia yakin ada hal lain yang terjadi.
“Michael, jawab. Di mana Vinda?” tanyanya dengan suara yang bergetar menahan rasa takut.
Michael mendongak dan menghela napas panjang. Dia menatap tiga orang yang tengah memperhatikannya. “Vinda tertangkap oleh Dave, Ma,” ucapnya lirih.
Plaak!!
Tasya memberikan usapan keras di pipi Michael setelah anaknya menjawab pertanyaannya. Air matanya langsung luruh dan tubuhnya melemas, untung saja Adelardo langsung menangkapnya dan menjadi penopang tubuhnya saat ini.
Michael yang menerima tamparan keras hanya memejamkan mata dan diam. Dia memang salah dalam hal ini. Dia gagal melindungi Vinda dan itu menjadi pukulan keras untuknya.
“Kamu membiarkan Vinda tertangkap dan tidak mencoba mencarinya, Ael?” teriak Tasya seperti kesetanan, “Mama sudah bilang, kamu jaga Vinda. Mau sampai kapan dia menjadi pelindungmu? Mau sampai kapan dia jadi malaikatmu dan kamu tidak pernah menjadi malaikatnya?” tambahnya dengan suara melengking dan lepas kendali.
Michael yang melihat langsung menatap mamanya dengan wajah bingung. Matanya membelalak dan bertanya-tanya. Apa maksud mamanya.
“Iya, selama ini Mama tahu bahwa Vinda adalah anak perempuan yang pernah menolongmu. Dia pernah menerima sakit hanya karena dia mencoba menyelamatkanmu. Dia yang menjadi malaikatmu dan bukan Rensi,” bentak Tasya dan perlahan suaranya mengecil. Air matanya luruh seketika, “dia yang selama ini kamu cari, bukan Rensi,” tambahnya dengan suara lirih.
Seketika Michael membeku. Rasanya sekarang dia benar-benar berhenti bernapas. Dia kembali merasakan hantaman keras dalam ulu hatinya. Dia kembali mengorbankan Vinda demi kebahagiaannya. Michael menatap mamanya dengan tatapan tidak percaya, tetapi tangis tergugu dan angukan dari arah Beni memperkuat kenyataan tersebut.
Tanpa permisi, Michael langsung berlari meninggalkan lorong rumah sakit dan pergi. Aku harus mencarimu, Vinda. Aku harus menyelamatkanmu. Aku salah pernah membencimu. Seharunya sejak awal aku percaya bahwa kamu adalah malaikatku. Malaikat yang harusnya aku bahagiakan. Michael terus berlari menembus lorong yang sesak. Langkahnya keluar rumah sakit dan segera mengendarai mobilnya menyusuri jalanan, mencari Vinda dengan perasaan penuh penyesalan.
_____
🍁🍁🍁🍁🍁
Permisi-permisi...ada air panas. 😆😆
Kim bingung mau bilang apa. Kim benar-benar bahagia memiliki kalian yang tetap setia mengikuti cerit ini. Jangan bosen-bosen ya. Oh iya, kemarin ada yang minta biar update gila, kan? Kim akan usahakan buat semuanya update gila-gilaan ya. Jadi, please stay with my story ya 😍😍😍
Pokoknya love kalian semua deh. Jangan lupa tambah ke favorit, like dan comment ya. Love sayang-sayangkuh 😘😘
Kim berasa ngartis banget deh 😅😅
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1