Wedding Drama

Wedding Drama
Bagian 71_Please, Wake up


__ADS_3

Sudah satu tahun sejak Vinda mengalami koma setelah melahirkan anaknya. Dokter mengatakan ada sesuatu yang pecah entah karena apa. Michael selalu datang ke rumah sakit dan menunggu istrinya dengan lantunan do’a dan harapan agar istrinya segera bangun dari tidur panjang yang terasa menyebalkan. Dia merindukan saat di mana Vinda bermanja dengannya. Dia merindukan saat di mana dia bisa menggoda istri kecilnya. Michael tidak sekali pun meninggalkan Vinda, kecuali dia ada urusan mendadak yang memang tidak bisa diwakilkan. Bahkan, dia memilih untuk menyerahkan perusahaan ke tangan papanya. Dia hanya ingin menjadi orang pertama yang dilihat ketika Vinda membuka mata.


Saat ini Michael tengah berada di dalam ruangan yang sama dengan kondisi Vinda yang tidak juga membaik. Tuhan seakan memberikan cobaan yang sekian lama semakin bertubi. Sekarang pun, Michael sudah tidak peduli lagi dengan penampilannya. Rambut yang mulai memanjang hingga leher, kumis yang mulai tumbuh dan juga penampilan acak yang ditunjukan.


Michael menatap istrinya dengan pandangan lekat. Matanya sudah siap mengeluarkan air mata ketika melihat Vinda masih tetap terpejam dengan wajah yang kian mengurus. Jemarinya mengelus pelan wajah istrinya yang masih tampak begitu ayu. Sekuat yang dia bisa, Michael menunjukan senyum agar Vinda juga merasa tenang. Dia yakin, meski jasad Vinda tidak membuka mata, jiwanya masih tetap bisa melihatnya.


“Apa kabar, sayang?” sapa Michael dengan wajah tenang. “Apa harimu baik? Aku harap ada orang yang membuatmu tidak betah di sana. Dengan begitu, kamu akan kembali ke sisi ku kembali.”


Michael membersihkan wajah Vinda yang tampak begitu menyedihkan. “Kamu tahu? Sampai sekarang aku belum menamai anak kita. Aku ingin kita memberikan nama yang pas untuknya. Kita bisa berdiskusi untuk itu.”


“Kamu tahu?” Michael menahan air matanya yang sudah menggenang, “dia tumbuh menjadi seorang Michael junior yang benar-benar aktif. Tunggu sebentar.” Michael mengeluarkan ponselnya dan menekan salah satu vidio yang sudah disiapkan beberapa bulan yang lalu.


Tampak bayi laki-laki dengan tumbuh gembul bergerak ke sana-sini, menangis dan juga mulai tertawa ketika Michael menyapanya. Michael menggendong bayi tersebut dan mengecup keningnya pelan. Menunjukan senyum bahagia meski dia merasakan luka. Dia tidak ingin anaknya tahu semua beban yang diderita. Meski Michael tahu, bayinya bisa merasakan apa yang terjadi dengan ibunya.


“Mama, lihat deh baby Ael, dia tumbuh dengan sehat. Tangisnya juga terdengar begitu nyaring, membuat neneknya kesusahan,” ucap Michael dengan menunjukan wajah anaknya yang tersenyum kecil ke arah kamera.


“Mama cepat bangun, ya. Kita nanti main bersama. Kita buat keluarga kita semakin sempurna, ya,” ujar Michael dengan suara tertahan karena air matanya hendak jatuh. Michael selalu merasa terluka setiap kali melihat kondisi Vinda yang tidak juga merespon perbuatannya.


Michael menghentikan putaran vidio yang dibuatnya dan menatap Vinda dengan air mata yang sudah berlinang. Tangannya meremas pelan jemari Vinda yang mulai mengurus.


“Bangunlah, Vinda. Mau sampai kapan kamu membuatku merasa tersiksa? Aku mencintaimu. Aku ingin kamu tetap berada di sampingku. Bangunlah, Vinda. Aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk pergi dari sisiku,” ucap Michael dengan suara tergugu, “aku tidak akan pernah mengizinkanmu.”


Michael mengelus pelan wajah Vinda dengan penuh kasih sayang. perlahan, Michael bangkit dan mencium kening istrinya lama. Hingga matanya menatap mata tertutup Vinda dan menciumnya singkat.


“Sampai kapan pun aku akan tetap menunggumu, Vinda. Jadi, cepatlah bangun,” kata Michael pelan.


_____


Tasya tengah menatap cucunya yang tertidur pulas. Sejak Vinda mengalami koma, dia memutuskan untuk pindah ke rumah Michael. Dia tidak tega melihat anaknya ke sana kemari. Mengurus Vinda dan juga anaknya. Bahkan, dia sudah melihat seberapa Michael menunjukan kecintaannya kepada Vinda.


“Kamu belum tidur?” tanya Adelardo ketika melihat istrinya tengah menatap cucunya yang diletakan di box sebelah ranjangnya.

__ADS_1


Tasya menatap Adelardo dan menggeleng. “Aku masih memikirkan nasib anak ini dan juga Michael. Aku tidak yakin jika Vinda akan bangun lagi, Mas. Ini sudah satu tahun sejak Vinda mengalami koma,” jawab Tasya dengan mata menatap lekat cucunya.


Adelardo menghela napas panjang dan memeluk istrinya dari arah samping. “Tenanglah. Apa pun nantinya, kita harus tetap memberi semangat kepada Michael. Apa pun keputusannya, kita harus tetap mendukung.”


“Tetapi aku merasa sakit setiap melihat Michael yang tidak memperhatikan dirinya sendiri,” keluh Tasya dengan air mata menetes.


“Kamu harus percaya dengan apa pun yang dirasakan Micahael. Kita tidak pantas membuat semangatnya menghilang. Apa pun nanti hasilnya, kita harus tetap berada di dekatnya,” saran Adelardo membuat Tasya semakin menunduk dengan air mata.


Tasya yang mendengar mengangguk dan memeluk suaminya dnegan erat. Dia pernah meminta Michael melepaskan semua alat yang terpasang di tubuh Vinda dan membiarkan istrinya pergi dengan tenang. Namun, saat itu Michael langsung mengamuk dan mengatakan bahwa Vinda akan bangun dan menemaninya kembali. Keyakinan Michael begitu besar. Dia takut jika nanti pada akhirnyaa Vinda tidak akan kembali bersama dengan mereka. Tasya takut anaknya merasakan luka yang semakin dalam.


Tasya menarik napas panjang dan menghebuskannya pelan. Belum cukup kamu menyiksanya, Vinda? Belum cukup kamu melihat seberapa besar Michael mencintaimu? Kembalilah, Vinda. Jangan buat kepercayaan suamimu menghilang, batin Tasya dengan penuh rasa pedih.


_____


Michael baru saja kembali dari rapat kantor yang tidak bisa diwakili oleh papanya. Langkahnya semakin cepat ketika memasuki rumah sakit yang selalu didatanginya selama satu tahun ini. Bahkan, banyak dokter dan suster yang mengenal dan melihatnya kagum dengan segala perjuangannya.


Michael baru melewati lorong menuju ke ruangan Vinda ketika matanya menatap beberapa dokter dan suster lari ke ruangan Vinda. Matanya langsung membelalak kaget dan segera berlari. Pikirannya semakin berkecambuk ketika melihat wajah yang tampak begitu tegang. Firasatnya benar-benar tidak enak.


Michael baru akan memasuki ruangan ketika seorang wanita dengan pakaian putih melarangnya masuk.


“Maaf, Pak. Anda dilarang masuk. Di dalam dokter sedang menangani istri anda,” ucap suster tersebut dan segera masuk.


Michael hanya bisa menunggu dengan perasaan gelisah. Beberapa kali dia duduk dan kembali bangkit dengan mata yang masih menujukan kecemasan yang kian kuat melanda. Dia takut Vinda-nya hilang. Dia takut wanita yang begitu dicintainya pergi meningalkannya seorang diri.


“Vinda, bangunlah. Aku menunggumu di sini,” ucap Michael dengan kedua telapak tangan yang sudah disatukan.


Michael menitikan air matanya dan menunduk menahan luka. Rasanya dia benar-benar sudah putus asa. Apa jadinya jika dia tanpa Vinda? Apa jadinya kehidupan yang dulu diimpikan menjadi begitu suram?


Tuhan, apa pun keadaan Vinda setelah ini, aku akan tetap mencintainya. Kembalikan dia diantara kami. Asalkan dia bisa bangun dan kembali, aku siap mencintainya meski dalam keadaan yang tidak sempurna. Aku rela menyerahkan semua untuk hidupnya, bahkan menukar hidupku, batin Michael dengan air mata yang semakin keluar.


Pintu ruangan terbuka bersama dengan do’a Micahel yang selesai. Michael menatap dokter yang sudah keluar dengan keringat bercucuran. Michael segera bangkit dan menatap dokter tersebut dengan pandangan menyelidik.

__ADS_1


“Bagaimana dengan istri saya, Dok?” tanya Michael dengan perasaan berdebar.


Dokter tersebut tersenyum dan mengusap punggung Michael lemah. “Selamat, Michael. Penantian anda berakhir. Istri anda sudah membuka mata,” ucap pria berjas putih tersebut. Namun, wajahnya kembali muran dan menatap Michael dengan tatapan iba. “Tetapi maaf, Ael. Aku harap jangan terlalu banyak membuatnya berbicara. Dia masih begitu lemah,” lanjutnya dengan pandangan tajam.


Michael sudah tidak mendengarkannya dengan jelas dan langsung masuk ke dalam. Dia ingin sekali melihat istrinya kembali. Dia merindukan senyum Vinda yang lama hilang. Michael menatap Vinda yang masih mendongak ke atas dengan tatapan penuh kebahagiaan.


“Sayang,” panggil Michael dengan suara lemah dan air mata mengalir.


_____


Vinda masih merasa lemah ketika pintu ruangannya terbuka. Pikirannya masih belum bisa digunakan dengan benar. Pandangannya menatap ke langit-langit kamar dan meresapi takdir yang begitu kejam untuknya


“Sayang.”


Vinda hapal dengan suara yang memanggilnya. Suara yang begitu dirindukan ketika sedang menutup mata dan dalam masa koma. Dengan perlahan, Vinda menoleh ke arah Michael saat ini berdiri. Matanya menatap pria yang sudah datang dengan tampilan acak-acakan.


“Kamu menangis?” tanya Vinda. Sebenarnya bukan itu yang ingin dikatakan, tetapi melihat keadaan Michael yang menurutnya berbeda, membuat dia mengatakan pertanyaan yang tidak seharusnya.


Michael yang mendengar langsung mengusap pipinya kasar dan menghilangkan air matanya agar tidak membekas. “Tidak, aku hanya kelilipan,” jawab Michael yang segera melangkah mendekat.


Vinda hanya tersenyum tipis ketika melihat Michael mati-matian menutupi bekas tangisannya. Matanya masih menatap pria yang begitu dirindukan. “Bagaimana dengan bayi kita?” tanya Vinda dengan tatapan khawatir.


Michael yang mendengar tersenyum dan mengusap rambut istrinya pelan. “Tenanglah. Dia baik-baik saja. Dia ada di rumah bersama dengan mama. Tetapi, aku belum memberinya nama. Aku ingin memberinya bersama denganmu.”


Vinda yang mendengar langsung tersenyum kecil. Tubuhnya masih begitu lemah, bahkan untuk menggerakan kaki saja dia tidak kuat.


Michael menatap Vinda lekat dan mengecup kening Vinda lama. Matanya memejam menikmati kebersamaan yang begitu dirindukan. “Terima kasih. Terima kasih sudah bangun dan tetap berada di sampingku. Terima kasih sudah memberiku kado terbaik. Terima kasih untuk semuanya, honey,” ucap Michael tanpa sadar menitikan air mata penuh kebahagiaan.


Vinda yang mendengar hanya tersenyum lemah. Tangannya meraih lengan Michael dan mengelus pelan. “Terima kasih sudah menungguku selama ini,” ucap Vinda dengan lemah.


_____

__ADS_1


__ADS_2