Wedding Drama

Wedding Drama
Bagian 17_Poor Vinda


__ADS_3

Vinda merebahkan tubuhnya di kasur empuk bermotif kuda poni. Matanya menatap palfon rumah dengan tatapan nanar. Beberapa kali helaan napas panjang dihembuskan. Tubuhnya lelah dan hatinya juga sama, mulai merasakan lelah. Pikirannya bingung mencari ide untuk memperbaiki kehidupannya. Bukan kehidupannya, tetapi memperbaiki keuangan yang akan semakin sulit diatasi.


Vinda merogoh buku tabungan yang ada di tas tepat di sebelah tempat tidurnya. Tangan mungilnya membuka perlahan buku biru tersebut dan menatap nominal yang tidak sedikit.


“Apa aku harus mulai menggunakanmu?” tanyanya dengan wajah ragu. Vinda menatap buku tabungan yang selalu mendapatkan transferan dari sang Ayah, tetapi tidak pernah digunakan. Dia selalu menggunakan gajinya untuk memenuhi segala kebutuhan. Berbeda dengan Rensi yang selalu kekurangan uang dan meminta kepada orangtuanya. Vinda jauh lebih mandiri dari segala hal.


Sekali lagi, Vinda menatapnya dengan wajah malas dan memasukannya kembali ke dalam tas. “Apa aku gunakan saja untuk modal usaha, ya? Aku rasa cukup.”


Vinda memilih memejamkan mata. Hari ini pikirannya lelah. Setelah pertemuan dengan Roy, dia langsung meluncur mencari pekerjaan, tetapi tidak juga dapat. Ternyata memang mencari pekerjaan tidak semudah membeli permen karet. Baru sebentar matanya tertutup, suara gebrakan pintu membuatnya kembali membuka mata.


Vinda menghela napas panjang dan menatap siapa yang membuat onar di kamarnya. Tampak seorang wanita dewasa dengan dress berwarna tosca dan rambut sang tersanggul rapi masuk ke dalam kamar. Sepatu hills yang digunakan membuat Vinda terpaksa menegakan tubuh dan menatap wanita tersebut dengan wajah malas.


“Pagi sudah pergi, siang tidak pulang dan sore malah asik-asikan. Kamu pikir kamu tinggal di rumah ini gratis, Vinda?” suara tajam tersebut mulai mengalun dalam indra pendengarnya.


Vinda hanya menunduk. Dia tidak lupa siapa dirinya. Dia hanya anak panti yang kebetulan bertemu dengan seorang pasangan baik dan berakhir di rumah yang hingga saat ini dijadikan tempatnya untuk berlindung. Hatinya sudah begitu kebal mendengar fakta yang tidak lagi dipungkirinya. Sudah ratusan bahkan ribuan kali dia mendengar sebuah dongeng yang sama dari wanita yang sama.


“Kamu tidak seharusnya ada di kamar dan bersantai, Vinda,” teriaknya tepat di depan wajah Vinda dan itu membuat gadis tersebut mengkerut menahan takut, “sekarang keluar dan bersihkan rumah. Jangan sampai ada yang tertinggal debu sedikit pun.”


Vinda baru saja hendak bangkit saat tangan tersebut mencengkramnya dengan erat dan menarik paksa tubuhnya. Bahkan, tidak jarang dia membentur tembok ketika dia berusaha memberontak dengan tindakan sang Ibu Tiri.


“Lepasin, Bu. Vinda akan ke sana,” ucapnya dengan tangan yang masih mencoba melepaskan genggaman tangan sang Ibu.


Nani geram mendengar ocehan Vinda yang tiada habisnya. Tangannya langsung menyentak Vinda ke depan, membuat gadis tersebut terhuyung dan membentur tembok dapur. Membuat goresan luka di dahi sebelah kiri. Vinda hanya memegangi lukanya dengan ringisan tertahan.


“Diam dan jangan membantah. Lakukan semua pekerjaan rumah dan jangan ada yang salah,” desis Nani dengan mata yang menunjukan amarah.


Vinda hanya menghela napas panjang menyadari tindakan Ibu Tiri yang semakin menjadi-jadi. Dia bukannya tidak ingin membantah dan mengadukannya kepada sang Ayah, tetapi hatinya mencegah semua itu. Ingatannya masih bergelung dengan kesedihan Ayahnya ketika istri yang sangat disayanginya pergi. Hidup terpuruk dan tidka memiliki semangat. Vinda masih ingat itu dan dia enggan mengulangi kepedihan yang dirasakan ayahnya. Dia memilih untuk bungkam agar tidak ada perpecahan yang membuat ayahnya kembali terpuruk.


Vinda bangkit dan mulai mengerjakan pekerjaan rumahnya, mengabaikan luka yang ada di keningnya. Dia hanya mengelap darah yang mengalir dengan punggung tangan.

__ADS_1


_____


Rensi memasukan mobilnya dan menghentikannya tepat di depan pintu halaman rumah. Wajahnya masih terlihat begitu angkuh dan keluar dengan dandanan yang sudah tidak berbentuk. Dia menatap Dave yang sejak tadi ada di bangku sebelah dan menggenggam tangannya. Senyumnya masih terukir lebar dengan wajah yang menunjukan kebahagiaan.


“Kamu menatapnya begitu?” tanya Rensi merasa malu diperhatikan Dave.


Dave menggeleng dan mengusap pipi Rensi lembut. “Aku hanya merasa beruntung mendapatkan kamu. Aku benar-benar mencintaimu.”


Rensi yang dipuji sedemikian merasa benar-benar melayang. Tangannya mencubit lengan kekar Dave dan mengerlingkan mata. Tanpa mengajak, Rensi membuka pintu mobil dan keluar. Disusul Dave yang berjalan mendekatinya.


“Kita ngapain ke sini, sayang?” tanya Dave sembari mengamati rumah Rensi yang terlihat begitu sepi.


“Aku ingin kamu bertemu dengan Mama. Aku ingin mengenalkan bahwa aku sudah memiliki kekasih yang baik hati,” ucapnya pada Dave yang langsung membuat tercengang.


Dave menatap kaget, tetapi hanya sepersekian detik dan langsung menormalkan kembali tatapannya. Senyumnya mengambang dan mengikuti langkah Rensi yang membawanya masuk. Matanya menatap rumah yang begitu besar dengan kolam ikan kecil di tangga kecil hendak masuk. Belum juga dia puas mengagumi keindahan rumah yang terlihat begitu asri dengan pepohonan hijau, langkahnya terhenti karena Rensi berteriak cukup keras.


Dave yang melihat langsung menatap Rensi dengan kening berkerut. Dia merasa aneh dengan sikap Rensi yang benar-benar berbeda. Rensi melepaskan gamitan tangannya dan mendekat ke arah Vinda yang sejak tadi merutuki dirinya.


“Kamu cari masalah lagi, Vinda? Kamu benar-benar gak guna, ya,” ucapnya sembari mendorong Vinda hingga hampir terjatuh. Namun, Dave berlari dan menopang Vinda agar tidak jatuh.


Rensi yang melihat langsung melongo melihatnya dan mengepalkan tangan kesal. Terlebih ketika Vinda tersenyum ke arah Dave dan mengucapkan terima kasih. Rensi benar-benar merasa kesal dibuat olehnya.


“Sayang, kamu ngapain tolong dia!” bentak Rensi tidak terima. Rasanya dia benar-benar akan menghabisi Vinda saat ini juga.


Dave yang mendengar suara menggelegar Rensi langsung menatap kekasihnya tajam. Dilepaskan pegangan tangannya ketika dirasa Vinda sudah berdiri dengan tegap. “Kamu ngapain teriak-teriak, Rensi? Aku baru tau kamu yang seperti ini. Kamu gak harus menyakiti dia Cuma buat kesalahan kecil seperti itu.”


“Apa?” Rensi menajamkan telinganya dan tersenyum mengejek, “sekarang kamu bela dia? Sejak kapan kamu peduli sama orang lain?”


Dave menghela napas menghadapi kekasihnya. “Aku bukannya tidak peduli dengan seseorang. Aku hanya malas berusan dengan hal yang menyangkut orang lain. Tapi hari ini, kamu benar-benar keterlaluan.”

__ADS_1


“Aku keterlaluan? Dia sudah mengotori pakaian ku dan kamu bilang aku keterlaluan? Kamu memilih dia ketimbang aku?”


Vinda yang melihat hanya diam sembari meneguk salivanya serat. Rasanya dia tidak berniat ada dalam pertengkaran keluarga yang saat ini tersuguh dihadapannya. Matanya melirik Dave yang masih menatap Rensi dengan urat yang menegang. Apa dia marah? Menyadari apa yang dipikir, Vinda memilih untuk membuang wajahnya sehingga menatap Rensi yang tengah menatapnya sinis.


“Kamu suka Dave membelamu? Kamu suka, hah!” Rensi membentak Vinda yang langsung membelalak.


“Rensi! Kamu keterlaluan!” Dave tidak habis pikir dengan apa yang terjadi pada Rensi. Selama dia mengenal Rensi, dia adalah wanita lembut yang tidak pernah membentak siapapun. Dia selalu menutup perilaku tersebut ketika ada dihadapannya.


Rensi menaatp Vinda dengan tangan yang mengepal putih. Matanya membelalak dengan napas memburu dan siap menerkam. Vinda bingung harus bagaimana. Sembunyi? Tidak ada gunanya.


“Sorry. Aku gak sengaja,” ucap Vinda dengan raut wajah kikuk, “nanti aku cucikan.” Vinda tersenyum ragu. Padahal memang setiap hari dia yang mencuci pakaiannya.


Rensi hanya diam dan tanpa aba-aba melayangkan tangannya, menampar Vinda keras dan sampai menimbulkan bunyi yang cukup memekakan telinga.


“Aww.” Vinda meringis memegang pipi yang meras dan darah yang keluar dari sudut bibirnya. Rasanya tamparannya lebih kencang dari tamparan ayahnya tadi malam.


“Rensi!” bentak Dave dengan mata menatap nyalang. Dia menatap Vinda yang masih menahan perih di sudut bibir. Dia tercengang dengan apa yang dilihatnya saat ini. Hanya karena masalah kecil dia menyiksa pembantu?, pikir Dave dan langsung mendatangi Vinda.


“Are you oke?” tanyanya dengan wajah cemas.


Vinda mengangguk. “I’m fine.”


Dave masih hendak memarahi Rensi, tetapi deheman seseorang membuatnya mengalihkan tatapannya. Matanya menatap beberapa orang yang tengah berdiri dan menatap drama diantara mereka bertiga dengan tatapan datar. Hanya seorang wanita yang ada diantara mereka yang menatap Vinda dengan pandangan cemas.


“Bisa pelankan suaramu dan jangan membentaknya? Atau kamu akan menerima hukuman atas kelancanganmu kepada Rensi?” ucap Michael dengan tatapan membunuh.


Dave yang melihat hanya mengerutkan kening heran. Orang gila mana lagi yang datang?


_____

__ADS_1


__ADS_2