
Pagi-pagi sekali Alice sudah sampai rumah Randy. Dia bahkan sudah berdiri di depan gerbang yang masih tertutup rapat. Sang penghuni belum juga menampilkan wujudnya padahal jam sudah menunjukan pukul tujuh pagi.
Alice berdiri dengan ponsel yang masih digenggamnya erat dan digunakan untuk menghubungi pria tersebut. Sayangnya, Randy masih tidak mengangkat telfonnya sama sekali. Bahkan, sudah hampir sepuluh kali panggilannya belum juga diangkat.
“Ini orang ke mana sih? Ditelfon gak diangkat-diangkat,” gerutunya karena kesal.
Alice menekan bel yang sudah dipasang di depan gerbang, tetapi tetap tidak ada jawaban. Namun, jika dia terus menekan, Alice takut akan mengganggu pemilik rumah yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya. Dia tidak mau ada penilaian buruk tentangnya.
Alice akhirnya menyerah dan memilih untuk duduk di depan rumah seperti gelandangan. Bibirnya dimanyunkan karena merasa kesal dengan apa yang terjadi pagi ini.
“Apa pulang aja, ya?” tanyanya dengan diri sendiri. Tangannya sudah dijadikan tumpuan untuk menahan kepalanya.
Alice menatap gerbang tersebut sekilas dan menghela napas panjang. Dia bangkit dan siap meninggalkan rumah Randy. Dia akan menemuinya nanti ketika di rumah sakit. Namun, baru beberapa langkah dia berjalan ke arah mobil, suara gesekan besi membuatnya berhenti dan berbalik, menatap siapa yang ada di belakang gerbang. Sampai ketika gerbang dibuka dengan lebar, Alice menghela napas lega.
“Alice,” panggil Vera dengan wajah terkejut.
“Tante,” panggil Alice dan melangkah mendekati Vera, memeluknya erat.
“Hei, kenapa?” tanya Vera bingung karena Alice tiba-tiba memeluknya.
“Untung Tante Vera keluar. Alice udah di sini hampir satu jam, Tante. Udah telfon Randy tetapi belum juga diangkat, bel rumah juga tetap gak ada yang buka,” ucap Alice mengadu.
Vera yang mendengar langsung tertawa kecil dan mengelus puncak kepala Alice. “Hei, Randy sudah berangkat ke rumah sakit sejak tadi subuh. Terus buat bel rumah, emang ini masih rusak. Tante belum sempat panggil orang buat benerin,” jelas Vera dengan wajah santai.
“Hah?” Alice melongo tidak percaya. Jadi, sejak tadi dia berada di depan rumah dan menunggu seseorang yang tidak ada? Terasa sia-sia.
“Kamu gak bilang sam Randy kalau mau ke sini?” tanya Vera sembari menatap Alice yang sudah melepaskan pelukannya.
Alice menggeleng. “Niatnya mau buat surprise buat Randy,” jawabnya dengan bibir manyun karena kesal.
Vera mengacak rambut Alice pelan dan tersenyum. “Memangnya mau ke mana kok tumben nemuin Randy pagi-pagi?”
“Mau ke tempat Wedding Organizer, Tante. Mau pastiin buat pertunangan nanti udah beres apa belum. Terus mau ke tempat percetakan undangan. Belum lagi Alice harus cari kue buat besok malam,” jawab Alice.
Vera diam sejenak dan menatap Alice lkat. “Kalau begitu bukannya Randy malah jadi tahu?”
“Terus gimana? Alice pergi sama siapa dong, Tante? Apa sama Tante aja?”
Vera diam sejenak dan mulai berpikir. Setelahnya, Vera langsung tersenyum menatap Alice yang masih ada di depannya. “Kamu ke kantor Michael, ya? Nanti tante minta dia buat cariin orang yang bisa bantuin kamu.”
Alice yang mendengar merasa begitu senang. Dia langsung mengangguk dan berpamitan dengan Vera. Selanjutnya dia segera melaju meninggalkan rumah calon mertuanya dengan wajah sennag.
_____
“Apa Michael melukaimu?”
Itulah pertanyaan yang dilontarkan Dika untuk pertama kalinya setelah tidak melihat Vinda cukup lama. Dia masih cukup ingat dengan tingkah Michael yang benar-benar tidak bersahabat kepada Vinda sebelumnya. Belum lagi, dia mendengar jika wanita di hadapannya baru saja menjadi korban penculikan.
Vinda yang ditanya langsung tersenyum dan menatap Dika lucu. “Pertanyaan kamu gak ada yang lain, Dik? Masa baru juga datang tanyanya apa Michael melukai aku atau tidak. Seharusnya kamu itu tanya bagaimana kabarku,” ucap Vinda protes.
Dika yang mendengar berdecih kesal. “Untuk apa aku tanya kabar kamu kalau nyatanya kamu semakin subur duduk di hadapanku,” celetuk Dika dengan wajah tanpa dosa.
“Ih, Dika,” jerit Vinda tidak terima dan menatap Dika penuh permusuhan.
“Aku jauh lebih suka mendengar ceritamu dengan Micahel. Apa dia melukaimu? Apa dia kasar sama kamu? Dia gak buat kamu terluka, kan?” tanya Dika beruntun.
Vinda yang mendengar langsung tersenyum senang. “Tenang aja, aku setiap hari dimanja sama Michael, kok. Tenang saja, saudaramu itu tidak cukup bodoh untuk menyakitiku,” jawab Vinda dengan wajah bangga.
“Heleh, waktu itu aja berantem gak karuan kok.”
“Tetapi sekarang kita udah baikan. Malah dia itu sosok yang romantis,” ujar Vinda membanggakan suami kesayangannya.
“Romantis?” ulang Dika sembari menyatukan kedua alisnya, “jangan mimpi. Seorang Michael yang dikenal kejam dan tidak memiliki hati bisa romantis? Sepertinya dia mulai kena sawan.”
“Hus,” bentak Vinda tidak suka, “dia suamiku, ya. Jadi, jangan coba-coba jelek-jelekin dia.”
“Iya-iya. Kamu makan deh itu orang biar gak buat masalah lagi,” ucap Dika masih kesal dengan tingkah Michael yang membuatnya berada dalam masalah.
Baru saja Vinda hendak menjawab, dering ponselnya membuat Vinda menghentikan ucapananya. Dia menatap layar ponsel yang menyala dan menampilkan nama ‘Ayah’. Dengan secepat kilat, Vinda langsung meraih ponselnya dan mengangkat panggilan ayahnya.
__ADS_1
“Halo, Ayah,” sapa Vinda dengan wajah bersemu gembira. Sudah lama dia tidak menghubungi ayahnya. Segala kejadian yang sudah menyita waktunya membuat Vinda lupa untuk sekedar memberikan kabar kepada ayahnya.
“Halo, Vinda? Apa kamu melupakan ayah?” tanya Beni dari seberang ponsel.
“Tidak. Kenapa Ayah bilang begitu?”
“Karena kamu sudah lama tidak memberi kabar sama ayah,” celetuk Beni membuat Vinda diam, “ayah merindukanmu, nak. Apa kamu baik-baik saja?”
“Tentu. Vinda juga sayang sama ayah,” jawab Vinda dengan wajah bahagia. Dia berpikir ayahnya sudah tidak peduli dengan segala kehidupannya.
Terdengar kekehan kecil dari arah Beni karena anaknya begitu bersemangat. “Kamu sibuk, sayang?”
Vinda menggeleng. “Tidak.”
“Bisa kamu temui ayah? Ada yang ingin ayah katakan sama kamu.”
Vinda langsung mengangguk senang. “Iya,” sahutnya cepat. Dia memang merindukan ayahnya. Sudah lama dia ingin menghubungi, tetapi takut kalau hanya mengganggu keluarga kecil ayahnya. Bagaimana pun, dia memang sudah merasa begitu jauh dari Beni sejak beberapa tahun yang lalu. Tepatnya sejak Rensi datang dikehidupan mereka berdua.
“Kalau begitu ayah tunggu di cafe dekat kantor ayah, sayang.”
Vinda mengiyakan dan langsung mematikan ponsel. Dia menatap Dika yang sejak tadi menatapnya dengan lekat. Senyumnya langsung terukir manis menujukan wajah paling ceria.
“Jika ada yang melihatmu seperti ini, dia akan mengira kamu baru ditelfon kekasih dan bukannya ayah,” komentar Dika yang melihat wajah Vinda terlalu hiperbola menunjukan kebahagiaan.
“Sudahlah, Dika. Kamu maklumi saja, aku sudah lama tidak mendengar suara beliau,” ucap Vindda tidak terima dengan penuturan sahabatnya.
“Iya, baiklah-baiklah. Silahkan pulang Nyonya Michael,” kata Dika sembari menunjukan jalan keluar yang padahal Vinda juga sudah tahu.
Vinda hanya cekikikan mendengarnya dan segera melangkah keluar. Dia mengurungkan niatnya bertemu dengan dosen pembimbing dan memilih untuk bertemu dengan ayahnya. Dia merindukan pria yang dulu selalu memeluknya dengan penuh cinta.
Vinda mencari taksi yang lewat dan tidak begitu lama dia mendapatkannya. Vinda langsung masuk dan menuju ke cafe yang sudah diperintahkan ayahnya. Sepanjang perjalanan dia bahkan selalu tersenyum karena saking bahagianya.
Ayah, aku rindu, batin Vinda dengan senyum yang tidak juga luntur dari wajahnya.
_____
Alice hanya diam dengan wajah memperhatikan tanda lantai yang akan dimasukinya. Tidak lama kemudian, pintu lift terbuka dan menampilkan ruangan lain yang tidak kalah megahnya. Dia keluar dan kembali melangkah melewati beberapa karyawan yang menatapnya bingung. matanya menangkap sosok yang tidak asing untuknya karena dia pernah melihatnya ketika bersama dengan Randy. Membuatnya melangkahkan kaki lebih cepat.
Rika yang saat itu melihat ada Alice tengah menuju ke arahnya langsung bangkit dan menujukan senyumnya. Matanya mengamati gadis berambut pirang yang saat ini ada di hadapannya.
“Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Rika dengan suara ramah. Dia berusaha seprofesional mungkin dalam menjalani pekerjaannya.
“Apa Michael ada?” tanya Alice balik.
“Tuan Michael ada di ruangannya. Tetapi apakah anda sudah membuat janji dengan beliau?”
Alice menghela napas panjang dan menatap Rika malas. “Bilang sama Michael, ada Alice di luar.”
“Baik, silahkan tunggu sebentar dan akan saya beritahukan kepada beliau.”
Alice menurut dan duduk di sofa ujung ruangan tidak jauh dari pintu Michael. Matanya menatap Rika yang sudah masuk dan melaksanakan tugasnya. Sepanjang dia menunggu, matanya mengamati seluruh ruangan dengan seksama. Dia masih begitu mengagumi kesukaan Michael dalam memilih sesuatu.
“Ada apa Alice?”
Sebuah suara berat membuat Alice menghentikan penilaiannya dan menatap Micahel yang sudah berdiri di belakangnya. Dia yang melihat langsung bangkit dan tersenyum riang karena melihat sahabatnya datang.
“Apa begini caramu menyapa teman lama yang bahkan jarang sekali datang, Ael?” tanya Alice kesal karena Michael tampak tidak suka dengan kehadirannya. Bahkan, wajah dinginnya kembali muncul dan membuatnya merasa tidak enak.
“Aku tidak memiliki begitu banyak waktu untuk sekedar berbasa-basi, Alice. Jadi, katakan apa keperluanmu datang ke sini,” celetuk Michael membuat Alice semakin kesal.
“Baiklah. Aku datang atas saran dari Tante Vera dan memintamu mencarikan seseorang yang bisa menemaniku untuk mengurus persiapan pertunanganku dengan Randy. Apa kamu bisa?”
Rika yang saat itu masih duduk di meja kerjanya dapat dengan jelas mendengar percakapan keduanya. Dia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Rasanya ada sesak yang menghimpit dadanya, menyadari bahwa Randy sudah melupakannya sedangkan dia masih terpaku dengan masa lalu.
Michael menatap Rika yang masih mencoba menyibukan diri agar tidak mendengar percakapan mereka berdua.
“Rika,” panggil Michael dengan suara datar.
“Iya, Tuan,” jawab Rika yang langsung bangkit dan menatap ke duanya bergantian.
__ADS_1
“Kamu temani Alice menyelesaikan persiapan pertunangannya. Setelah selesai, jika masih ada waktu kembali dan lanjutkan pekerjaanmu,” perintah Michael tegas dan tidak mau diganggu-gugat.
“Baik, Tuan,” jawab Rika kecil. Dia hanya bisa mengatakan hal tersebut tanpa berani membatah. Siapa dia sampai berani menolak perintah atasannya?
Rika mengemasi barangnya dan melangkah keluar dari balik meja dan mendekati Alice yang sudah tersenyum begitu senang.
“Baiklah, aku akan pergi sekarang. Terima kasih, Ael.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Alice langsung melangkah dan diikuti Rika yang berjalan di belakangnya. Dia sudah terlalu terbiasa berdiri di belakang Michael, itu sebabnya dia selalu berjalan di belakang seseorang yang menurutnya lebih berkuasa dibandingkan dirinya.
_____
Sakit. Itulah yang dapat digambarkan oleh perasaan Rika kali ini. Dia menemani kekasih dari mantan yang masih dicintainya guna mengurus acara pertunangan keduanya. Memilih bunga yang tepat, model dekor yang pas, bahkan sampai model kue yang menurutnya pantas digunakan oleh keluarga besar seperti keluarga Aditama. Alice begitu merasa senang karena ternyata Rika begitu banyak membantu persiapannya.
“Terima kasih, Rika. Kamu sangat membantu kali ini,” ucap Alice tulus.
Rika hanya mengangguk dengan senyum tipis. Meski dia tersenyum, dalam hati ada teriakan pilu yang tidak pernah diperdengarkannya kepada siapa pun. Ada rasa hancur yang tida akan ditunjukannya sampai kapan pun.
Aku harus menekan perasaan konyol ini dengan begitu keras. Aku harus menghilangkan perasaan cinta yang memang seharusnya sudah menghilang sejak pertama kita memutuskan untuk berpisah. Itulah mantra penguat dan keyakinan yang sudah ditanamkan Rika guna meredam rasa sakitnya.
“Oh iya, Rika. Kamu sudah memiliki kekasih? Kalau kamu nanti bertunangan atau menikah, kasih tahu aku. Aku akan membantumu untuk menyelesaikan persiapannya,” ucap Alice dengan senyum sumringah.
“Iya, Nona,” jawab Rika singkat.
Alice yang melihat Rika selalu bersikap begitu formal hanya berdecih kesal. Pasalnya dia tidak bisa mengajaknya bercanda atau sebagainya karena sifat Riks yang terlaky kaku. Akhirnya, setelah mengambil undangan, Alice langsung mengajak Rika ke sebuah restoran tidak jauh dari percetaka . Di sana, dia mengajak Rika untuk makan. Awalnya jelas ditolak, tetapi Alice tetap memaksa dan akhirnya dia menurutinya.
“Rika, bisa kamu bersikap biasa saja? Aku bukanlah atasanmu seperti Michael. Jadi, bisa kamu menganggapku orang biasa saja, kan?” ujar Alice risih karena Rika terlalu formal. Bahkan dia serasa mengajak budak dan bukan teman.
“Maaf, Nona. Saya hanya bersikap profesional saja,” jawab Rika masih dengan wajah sopannya.
Alice yang mendengar berdecak kesal dan menatap Rika tajam. “Tetapi kalau kamu masih bersikap seperti itu, aku akan melaporkanmu kepada Micahel dan mengatakan bahwa kamu membuatku tidak nyaman selama perjalanan,” ancam Alicemembuat Rika bungkam.
Rika hanya menggerutu dalam hati karena melihat sosok pemaksa yang sama seperti Vinda. “Baik, maaf atas ketidaknyamananya. Saya akan memperbaikinya.”
“Kalau begitu panggil aku Alice,” perintah Alice dengan wajah penuh kebahagiaan.
“Iya, Alice,” ucap Rika dan langsung membuat Alice begitu senang.
Alice dan Rika langsung mengobrol panjang lebar, meski hanya Alice yang terlalu mendominasi dalam percakapan mereka berdua dan Rika hanya menanggapi sekedarnya. Rika memang tidak selalu banyak berbicara. Apalagi saat ini pikirannya tengah berjalan entah ke mana. Dia merasa begitu resah dan ingin segera pergi dari dekat Alice. Bukan karena dia benci, tetapi karena dia merasa terluka setiap Alice menceritakan persiapan pertunangannya. Menceritakan tentang Randy yang begitu mencintainya sejak kecil.
Kamu mendapatkan orang yang tepat ternyata, Randy, bisik Rika dengan hati yang semakin pilu.
“Rika, aku tidak tahu kamu mau datang atau tidak dalam acara pertunanganku, tetapi aku harap kamu mau datang. Terima undangan ini dan jangan sampai lupa untuk hadir. Aku menunggumu,” ucap Alice sembari menyerahkan satu buah undangan tebal ke arah Rika.
Rika menatapnya dengan senyum pahit dan mengangguk. “Akan saya usahakan,” ucapnya dan langsung menerima undangan tersebut.
“Jangan sampai Randy tahu. Ini masih menjadi rahasia untuknya,” jelas Alice sembari mengerdipkan mata.
Rika hanya mengangguk lemah dan memasukannya ke dalam tas. Baru saja dia akan mengatakan terima kasih kepada Alice, sebuah suara yang begitu dikenalnya terdengar dari belakang tubuhnya. Membuat Rika kembali membeku ketika mendengarnya.
“Alice, apa yang kamu lakukan di sini?”
Alice yang mendengar langsung tersenyum senang. Berbeda dengan Rika yang sudah memejamkan mata dan merasakan ngilu di hatinya. Alice bahkan sudah berlari dan mendekati Randy yang sudah ada di belakangnya.
Tuhan, kenapa engkau begitu kejam pertemukan aku dengannya di saat ada wanita lain yang dicintanya, keluh Rika dengan tangan yang *** erat ujung pakaiannya. Dia benar-benar merasa ingin keluar dari situasi buruk saat ini.
_____
🍁🍁🍁🍁🍁
Hallo, maaf ya kemarin Kim.gak sempat update. Bukan karena sinyal, tetapi karena kuota yang pas sekarat 😄😄
Selamat membaca. Jangan lupa like, comment, tambah ke favorit, vote dan follow Kim ya. Terima kasih sayang-sayangkuh 😚😚😚😚
Oh iya, Kim punya cerita baru loh. Jangan lupa mampir ya. Terima kasih.
Selamat membaca. Semoga kalian suka ya dan jangan lupa mampir😊😊😊
__ADS_1