
Vinda sudah membuka matanya. Untuk pertama kalinya, dia menatap Michael yang ada di dekatnya ketika membuka mata. Semuanya terasa membaik, termasuk hubungannya dengan Michael saat ini. Pria tersebut tidak berbicara sinis dan ketus kepadanya lagi. Bahkan, dia suka sekali membantu Vinda menyelesaikan tugas dan menjadi layaknya suami.
Vinda tersenyum menyaksikan pahatan indah yang ada di hadapannya. Wajah mulus, hidung mancung, alis mata tebal dan dia tidak akan lupa dengan lesung pipi yang jelas ketara ketika Michael tersenyum kepadanya. Ya, hanya kepadanya dan Vinda merasa itu sebuah kemajuan. Namun, masih ada satu sifat yang jelas tidak bisa dirubah, yaitu pemaksa dan suka mengatur.
Vinda menghela napas pelan. “Ternyata kamu tumbuh sesempurna ini, ya? Dikelilingi orang yang menyayangi dan banyak sekali yang mengagumi,” ucapnya pelan agar tidak terdengar Michael.
Vinda tersenyum kecil dan menggeleng beberapa kali. “Bicara apa kamu, Vin. Lagi pula bukan kamu yang diinginkan. Jadi, jangan terlalu menikmati peran,” katanya dengan wajah sedih.
Vinda akhirnya memutuskan untuk turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan segera turun ke lantai dasar. Tampak ruangan tersebut masih gelap dan saat dihidupkan, hanya dia sendiri yang ada di ruangan tersebut. Helaan napas terdengar dan Vinda segera melangkahkan kakinya ke dapur. Dia berniat membuatkan sarapan untuk Michael hari ini karena sudah beberapa hari pria tersebut merawatnya dengan sangat baik.
Vinda membuka lemari pendingin dan menemukan beberapa macam sayuran dan langsung mengeluarkannya. Dia mulai mempersiapkan semuanya dan mulai memasak. Tangannya dengan lincah memainkan alat dapur. Senyumnya terukir. Dia merindukan saat di mana dia bisa melakukan hal yang biasanya dia lakukan.
_____
Michael menggeliat dalam tidurnya. Tangannya menggapai tempat tidur di sebelahnya dan tidak mendapati apa pun. Matanya langsung membuka dan tak mendapati Vinda di sampingnya. Ya, sudah hampir satu minggu dia memutuskan untuk menjalani kehidupan layaknya suami istri bersama dengan Vinda. Matanya menatap seisi ruangan dan tidak menemukan Vinda di kamar tersebut.
“Kemana dia?” tanya Michael dan langsung bangkit. Langkahnya menuju ke kamar mandi yang ada di kamar tersebut dan tidak menemukan Vinda sama sekali.
“Haduh, susah banget ini anak di cari,” keluh Michael kesal.
Michael akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar dan segera mencari Vinda. Dia berjalan ke kamar Vinda dan tidak mendapati wanita tersebut di sana. Kakinya melangkah menuruni anak tangga. Belum sepenuhnya dia mengakhiri langkahnya, sebuah aroma lezat tercium, membuat Michael mengerutkan kening heran.
“Sejak kapan Ria masak jam segini?” Michael akhirnya memutuskan untuk mendatangi dapur dan mendapati Vinda tengah memasak. Awalnya dia ingin memprotes karena menurutnya, Vinda masih membutuhkan waktu istirahat agar segera pulih. Namun, keinginanya segera di urungkan, melihat Vinda yang begitu bahagia ketika melakukan tugasnya.
Michael hanya **** senyum dan memilih untuk kembali ke kamarnya. Dia harus segera bersiap ke kantor karena ada beberapa urusan yang harus diselesaikannya.
_____
Vinda tersenyum melihat hidangan di atas meja yang sudah ditata dengan rapi. Matanya berbinar. Ini adalah ke dua kalinya dia menyiapkan makanan untuk Michael dan dia berharap agar pria tersebut tidak akan membuangnya lagi. Dulu dia benar-benar merasa sakit hati karena Michael dengan tega meninggalkan makananya, menuduhnya akan memberikan sesuatu yang mematikan. Sekarang, dia benar-benar berharap Michael mempercayainya.
Vinda baru melangkah dan siap membangunkan Michael, tetapi pria tersebut sudah melangkah ke arahnya dengan pakaian rapi. Senyum terukir di wajahnya yang membuatnya semakin tampan.
“Morning,” sapa Michael ramah.
“Morning Tuan Michel,” jawab Vinda dengan suara ramah.
Michael hanya tersenyum mendengarnya dan langsung duduk di kursi kebesarannya. Vinda yang melihat langsung menyiapkan piring serta lauk pauk yang ada di hadapannya. Michael yang melihat hanya tersenyum dan menikmatinya. Rasanya, dia merasa nyaman bersama dengan Vinda.
Nyaman? Menyadari kesalahan yang dibuatnya, Michael memutuskan untuk segera melahap makanannya. Mulutnya mengunyah perlahan dan menelannya cepat. Beberapa kali sendokan sampai matanya beralih menatap Vinda yang hanya memperhatikannya sejak tadi.
“Gimana? Enak?” tanya Vinda dengan perasaan ragu. Pasalnya, Michael hanya diam dan tidak berkomentar.
Michael diam sejenak dan menghentikan kunyahannya. Dia menatap Vinda yang masih berharap cemas, layaknya seorang murid menunggu nilai dari sang chef dan menilai masakannya. Bukannya menjawab, dia malah memilih mengacak rambut Vinda dan membuat wanita tersebut memberengut.
“Enak,” jawab Michael menghentikan Vinda yang masih asik menyisir rambutnya dengan jari.
Vinda tersenyum menunjukan wajah bangganya. Dia merasa mendapatkan pujian dari seorang master dan mulai yakin akan mendapatkan nilai plus nantinya. Michael melanjutkan kembali acara sarapannya ketika Roy, tiba-tiba datang dan berdiri di sebelah meja makannya.
“Ada apa?” tanya Michael dengan wajah yang terlihat datar seperti biasanya. Wajah cerah dan hangat sudah tidak ada lagi saat ini.
__ADS_1
“Nona Rika sudah datang, Bos. Dia ingin memberikan beberapa berkas yang akan digunakan untuk menemui klien pagi ini,” jelas Roy datar.
“Suruh dia masuk,” jawab Michael.
Roy hanya mengangguk mengiyakan. Dia langsung pergi dan tidak beberapa lama kemudian, Rika datang, bertepatan dengan Michael yang juga sudah menyelesaikan makanannya.
“Pagi, Tuan,” sapa Rika dengan tubuh sedikit membungkuk.
“Mana berkas yang saya minta?” ucap Michael dingin.
Rika hanya diam dan menyerahkan beberapa map berisi berkas yang sudah disiapkan sejak kemarin. Dia bahkan merelakan dirinya datang pagi-pagi buta dan tidak sempat sarapan terlebih dahulu. Kepalanya menunduk dan tidak berani berbicara sepatah kata pun.
“Kamu yakin tidak ada yang tertinggal lagi?” tanya Michael ketika sudah selesai mengoreksi. Hanya sekilas karena dia tidak bisa mengoreksinya secara detail.
“Sudah, Tuan. Seluruh data perusahaan yang akan menjadi klien kita hari ini sudah saya siapkan,” jelas Rika singkat.
“Baik, kita berangkat,” perintah Michael dan siap pergi. Namun, sebuah suara membuatnya menghentikan langkah dan berbalik, tampak Vinda tengah berdiri dan menatap ke duanya dengan senyum sumringah.
“Apa lagi, Vinda?” tanya Michael geram. Pasalnya, dia sudah siap untuk berangkat dan mengalahkan lawan-lawannya.
“Michael, kenapa kamu itu kejam sekali,” ucap Vinda tanpa rasa takut dan membuat Michael bingung, “kamu menyuruh Rika datang di pagi buta dan tidak membiarkannya sarapan terlebih dahulu? Kejam sekali anda menjadi seorang atasan.”
Michael yang mendengar hanya menghela napas panjang dan menatap Vinda malas. “Vinda, kita itu sibuk dan buru-buru. Aku gak akan sempat jika dia sarapan di rumah terlebih dahulu.”
Vinda mendengus kesal dan menatap Michael dengan bibir manyun. Namun, sekejap kemudian dia tersenyum. “Tunggu sebentar,” ucapnya dan langsung berlari ke dalam.
Vinda datang dari dalam dengan bekal makan dan menghampiri Michael. Awalnya, dia mengira bahwa itu untuknya, tetapi pikirannya salah. Vinda memberikan kotak nasi bekal tersebut kepada Rika.
“Ini maksudnya apa ya, Nyonya?” tanya Rika bingung karena tiba-tiba Vinda memberinya dua kotak makan.
“Ini bekal untuk sarapanmu hari ini. Yang satunya tolong berikan kepada Roy,” jelas Vinda dengan senyum sumringah.
“Tidak usah, Nyonya. Saya nanti....”
“Gak usah nolak. Ini semua juga karena pria di sebelah yang memaksa kalian untuk berangkat pagi-pagi sekali,” ujar Vinda sembari melirik Michael yang diam dengan wajah datarnya. Ini masih pukul enam pagi dan klien mana yang meminta bertemu dipagi buta? Bahkan, mereka masih asik tidur di kasur empuknya.
Michael hanya menatap tak peduli dengan sindiran Vinda dan menghela napas keras. “Sudah main anak dan ibunya? Sekarang kita berangkat,” kata Michael dengan wajah datar dan langsung melangkah.
Rika yang melihat langsung mengikuti Michael. Namun, sejenak dia berbalik dan tersenyum, mengucapkan terima kasih melalui gerakan mulut tanpa suara yang langsung dibalas dengan lambaian tangan penuh kebahagiaan dari arah Vinda.
_____
Dika masih sibuk dengan persiapan pembukaan restoran barunya, menatap dan merapikan kursi, mennghitung berapa jumlah tamu yang akan diundangnya nanti malam. Dia harus mempersiapkan semuanya seorang diri karena biasanya Vinda yang membantu dalam hal ini. Namun, karena ulah saudaranya, dia bahkan mulai segan meminta bantuan Vinda. Bagaimana tidak? Dulu dia memecat Vinda tanpa alasan yang jelas dan sekarang dengan tanpa malunya dia meminta bantuan? Tidak. Dika tidak segila itu.
Dika menghentikan aktivitasnya dan menghela napas panjang. “Kenapa juga dulu aku ngikutin kemauan Michael? Kalau gak, kan, sekarang gua gak usah repot-repot. Ada Vinda yang bakal bantu,” gerutunya kesal.
“Pagi-pagi sudah ngedumel aja sih kamu, Dik. Nanti restorannya gak laku lho.”
Teguran di belakangnya membuat Dika membalik badan, melihat gadis dengan kuncir kuda tengah berdiri di belakangnya. Senyumnya masih terukir ketika langkahnya mendekati Dika yang hanya menatap tak peduli.
__ADS_1
“Kamu ngapain di sini, Del?” tanya Dika malas bertemu dengan Della.
“Kejutan,” jawab Della dengan suara nyaring, membuat Dika harus menutup telinganya rapat, “aku mau kasih kejutan buat kamu.”
Dika berdecak kesal dan menatap sinis. “Kalau kamu yang datang, itu namanya bukan kejutan, tetapi musibah.”
Della yang mendengar hanya memberengut kesal dan menatap sinis ke arah Dika yang kembali sibuk. Akhirnya, dia memutuskan untuk duduk dan menjadi penonton setia, menyaksikan seorang bos sibuk merapikan isi restoran. Dika yang melihat menjadi kesal dan menatap Della sinis.
“Kamu kalau gak niat bantu, jangan di sini. Pulang sana. Ngerusak pemandangan aja,” celetuk Dika tanpa perasaan tidak enak hati.
“Ish, aku itu ada janji sama Vinda di sini. Jadi, tunggu sebentar lagi, ya.”
Dika yang mendengar langsung tersenyum. Setidaknya Vinda tidak akan setega Della yang hanya menjadikannya tontonan gratis. Dia yakin, Vinda akan membantunya merapikan restoran.
“Silahkan,” ucap Dika dengan senyum sumringah dan begitu ramah, membuat Della berdesis tidak suka.
_____
Vinda mematikan ponselnya dan masuk ke dalam mobil. Dia sudah menghubungi Michael dan mengatakan akan datang ke restoran baru Dika. Michael mengizinkannya dengan syarat tetap menggunakan sopir yang sudah disiapkan dan disetujui Vinda. Bagaimana pun, dia juga tidak ingin melawan Michael dan menurut saja apa kata pria tersebut.
Tidak lama, Vinda sudah sampai di bangunan berlantai tiga dan tampak begitu mewah. Dia keluar dan mulai melangkah masuk. Dari kejauhan, dia melihat Della tengah berbincang dengan Dika. Senyumnya terukir melihat pemandangan di hadapannya.
“Sejak kapan mereka akur?” tanyanya dan langsung mempercepat langkah.
Vinda memasuki restoran Dika dan menatap seisi ruangan. Matanya langsung dimanjakan dengan desain yang tampak begitu modern dan juga kekinian. Selain itu, di sudut lain juga diberikan sekat untuk ruangan yang terkesan romantis. Benar-benar desain yang membuat semua mata menjadi begitu segar. Belum lagi taman buatan yang ada di tengah ruangan. Seakan mereka tengah menikmati hidangan di tengah-tengah taman dan mata para pengunjung juga bisa melihat jalanan yang dipadati kendaraan.
“Gimana? Keren gak?” tanya Dika yang sudah berada di dekat Vinda. Sejak tadi dia sudah memperhatikan sahabatnya yang datang dan memandang dengan wajah takjub.
Vinda mengangguk dan tersenyum. “Banget. Aku gak nyangka kamu punya pikiran sampai ke sini,” ucapnya dengan senyum sumringah.
“Aku, kan, juga smart kayak kamu, Vin,” jawabnya dengan wajah bangga.
Della yang mendengar langsung tertawa mengejek, membuat Dika dan Vinda menatapnya dengan penuh tanya.
“Hey, kenapa?” tanya Dika dengan anda tidak suka.
Della menggeleng dan menahan tawanya. Dia menatap Dika masih dengan mulut yang dibekap dan berdehem sejenak untuk menormalkan suaranya, matanya menatap Dika dengan wajah jenaka. “Kamu kayak Vinda? Gak ngaca kamu, Dik? Vinda bahkan sudah hampir lulus kuliah dan mendapat gelas master. Sedangkan kamu, sarjana aja gak dapat-dapat. Sadar, Dik. Strata satu aja gak lulus-lulus.”
Dika yang ditertawakan langsung mengetuk kepala Della pelan. Matanya mendelik dan menyuruhnya diam. Vinda sendiri hanya diam dengan senyum ditahan. Dia takut jika nantinya Dika akan marah karena dia tau, Dika juga terlalu sensitif jika menyangkut pendidikannya.
Dika menatap Vinda yang langsung diam dan memasang wajah biasanya. “Kamu mau bantuin aku ngerapihin restoran, gak? Aku gak kuat sendirian. Yang lain pada sibuk di cafe.”
Vinda menatap sekitar. Padahal sudah ada enam orang yang membantu Dika membereskan restoran dan menyiapkan semuanya. Namun, dia hanya mengangguk karena memang biasanya Vinda yang memberikan masukan kepada Dika tentang tampilan di restoran tersebut.
Vinda baru akan melangkah, tetapi Della yang ada di sebelahnya mencegah dan menjadikan dirinya tameng tepat di depan tubuh Vinda. Tatapannya menunjukan ketidaksetujuan dengan keinginan Dika.
“Gak boleh. Vinda ini ke sini buat ketemu sama aku, bukan malah bantuin kamu,” protes Della tidak suka, “lagian, orang hamil juga masih di suruh bantuin. Sarap kamu, ya, Dik.”
_____
__ADS_1