
Michael masih menikmati sarapan ketika pintu rumahnya dibuka keras oleh seseorang yang begitu dikenal. Matanya menatap kesal pada pria yang sudah melangkah mendekatinya di meja makan. Vinda yang masih sibuk di dapur untuk menyeduh kopi langsung terlonjak dan segera keluar. Matanya menatap Randy yang sudah datang dengan mata memendam amarah. Berbeda dengan Michael yang bersikap santai meski dia marah dengan kelakuan Randy yang dinilai kurang sopan. Vinda malah merasa takut jika terjadi pertengkaran diantara keduanya.
“Dokter Randy, ada apa?” tanya Vinda yang langsung mendekat ke arah Michael duduk.
Randy hanya mengabaikannya dan mendekati Michael yang masih mengunyah makan santai dan menatapnya datar. “Michael, aku butuh penjelasan dari mu. Ke mana Rika pergi, hah?” tanya Randy dengan emosi yang sudah berada di ubun-ubun.
“Kenapa kamu menanyakannya? Bukannya itu tidak penting lagi untukmu?” ucap Michael yang membalikan perkataan Randy tempo hari.
“Jawab saja, Ael. Jangan malah membalikan kata-kata,” desis Randy yang menataap Michael lekat.
Michael menghembuskan napas keras dan berdecih kesal. Jemarinya melepaskan sendok yang sejak tadi digenggamnya. “Aku hanya mengingatkan seseorang yang pernah mengatakan hal tersebut, Randy. Apa itu salah? Dan mengenai Rika, aku sendiri tidak tahu dia ada di mana. Aku tidak peduli ke mana dia akan pergi karena itu bukan urusanku.”
Randy yang mendengar langsung menggeram kesal dan menarik kerah pakaian Michael, membuat pria tersebut membanting sendoknya keras. Mata menyala diantara keduanya membuat Vinda menelan ludahnya susah. Matanya bergantian menatap Randy dan juga Michael yang sudah diambang emosi.
“Lepaskan tanganmu, sialan!” desis Michael dengan wajah yang mulai menunjukan kemurkaannya.
“Katakan di mana alamat yang dituju Rika, Ael. Atau aku akan menyakitimu,” desis Randy tepat di depan wajah Michael.
“Aku bukan kekasihnya yang harus menanyakan secara detail ke mana dia akan pergi, Randy. Aku hanya tau dia ke rumah neneknya untuk karena neneknya membutuhkannya,” jawab Michael yang langsung menyentak tangan Randy dan membuat genggamannya terlepas.
“Apa? Nenek?” ulang Randy dengan kening berkerut, “nenek dia sudah meninggal, Ael.”
“Mana aku tahu, dia bilangnya gitu,” celetuk Michael santai, “lagi pula kemarin aku mendengarmu menyesal telah menjadikan dia kekasih. Kenapa sekarang kamu mencarinya? Sudahlah, Randy. Lebih baik kamu berusaha memba....”
“Aku sudah mengambil keperawananya,” sahut Randy lirih dan dengan mata yang menatap kosong ke depan.
“Apa?” teriak Michael dengan mata membelalak. Hal yang sama dilakukan Vinda. Dia benar-benar shock mendengar kebenaran yang baru saja diucapkan Randy dengan wajah penuh rasa bersalah.
“Kamu sudah gila, Randy? Kamu benar-benar sudah tidak waras,” tambah Michael dengan amarah yang menggebu.
“Aku tidak sadar, Ael. Aku benar-benar sedang dalam keadaan mabuk dan melakukannya dengan Rika. Sekarang aku benar-benar ingin mencarinya. Aku ingin meminta maaf untuk semua yang pernah aku ucapkan. Aku benar-benar menyesali semua yang aku lakukan kepadanya selama beberapa tahun ini,” jawab Randy dengan wajah gusar. Dia bahkan masih tampak begitu kacau dengan semua kejadian yang pagi ini. Tentang kenyataan yang datang kepadanya secara bertubi dan tentang kepergian Rika yang membuatnya semakin hancur.
“Aku salah menilainya, Ael. Dia bukan wanita seperti yang aku kira selama ini,” desah Randy dengan mata tertutup merasakan luka.
“Jadi, kamu sudah tahu mengenai Rika?” tanay Vinda membuat keduanya menatap dengan tanda tanya.
_____
“Jadi, kamu sudah tahu mengenai Rika?”
Vinda menatap Randy yang tengah mengusap wajahnya kasar. Bau alkohol bahkan masih tercium darinya karena dia mengenakan pakaian yang kemarin dipakainya. Randy tidak berniat membersihkan tubuhnya sama sekali. Bahkan hanya untuk sekedar berganti pakaian. Pikirannya masih melayang memikirkan wanita yang entah di mana keberadaannya.
“Kamu tahu apa, Vinda?” tanya Randy dengan pandangan menyelidik.
“Aku hanya tahu bahwa Rika tidak pernah kerja di klub malam seperti yang kamu katakan,” ucap Vinda dnegan mata yang masih menatap Randy bingung, “dia memamg sengaja gak bilang sama kamu karena dia gak mau kamu semakin susah. Untuk pria yang pernah dilihat di klub itu adalah adiknya yang saat itu sedang frustasi dan mabuk. Selama ini Rika hidup susah dan menderita seorang diri,” jelas Vinda dengan wajah yang menunjukan simpatinya kepada Rika.
Mendengarnya semakin membuat Randy merasa bersalah. Bahkan, bukannya membantu, dia malah melukai Rika, wanita yang masih dicintainya. Andai saja kamu mengatakannya, Rika, batin Randy penuh penyesalan.
Vinda yang melihat langsung pergi kembali ke dapur dan menyeduh kopi. Setelah selesai, dia langsung kembali ke meja makan dan meletakannya di depan Randy. “Minumlah dulu supaya lebih baik. Setelah ini bersihkan tubuhmu dan berganti pakaian. Kami akan membantu mencari Rika.”
Randy yang mendengar hanya mengangguk patuh. Michael menatap Randy dengan pandangan yang sulit diartikan. Bahkan, Vinda merasa begitu iba dengan apa yang terjadi dengan pria di hadapannya.
“Maaf, tetapi aku ingin bertanya, Randy. Untuk apa kamu mencari Rika sedangkan kamu sudah bersama dengan Alice?” tanya Vinda dengan wajah penasaran. Dia tidak mungkin bisa membiarkan keduanya terluka dengan orang yang sama. Jika Rika memutuskan pergi dan tidak ingin dekat dengan Randy, itu berarti dia menginginkan pria tersebut berbahagia dengan orang lain yang sudah dipilihnya.
__ADS_1
Randy mulai bingung untuk menjawab. Dia hanya diam dan memikirkan apa yang ditanyakan Vinda. Jujur, sejak pagi dia bahkan tidak memikirkan Alice sama sekali. Setelah mengetahui kebenaran, perasaannya semakin menggebu ingin mencari Rika.
Hening. Ruangan tersebut langsung tidak terdengar suara. Michael sendiri juga menanyakan hal yang sama dalam hatinya. Sampai sebuah dering ponsel membuat keheningannya membuyar dan langsung menatap ke sumber suara. Michael menatap ponselnya dan langsung mengangkatnya.
“Halo, Roy. Ada apa?” tanya Michael dengan nada tegas.
“Maaf, Tuan. Saya hanya ingin melaporkan bahwa semua persiapan untuk pesta perusahaan nanti malam sudah siap,” jawab Roy dari seberang telfon.
“Bagus. Kamu bisa pergi dari sana setelah memastikan semuanya aman, Roy,” perintah Michael dengan wajah datar.
“Baik, Tuan.”
Michael langsung mematikan panggilan dan menatap Vinda lembut. Senyumnya kembali mengembang dan menunjukan topeng berbeda dengan wajah biasanya.
“Sayang, kamu siap-siap, ya. Nanti malam kita akan datang ke pesta kantor sekaligus memperkenalkanmu secara baik kepada seluruh rekan bisnisku. Aku mau mereka tahu bahwa Nyonya Michael adalah orang yang sangat mengangumkan.”
“Dan kamu, Randy,” sambung Michael sembari menatap Randy tajam, “jangan buat macam-macam dan datanglah bersama dengan Alice. Dia akan menunggumu dan berharap tunangannya datang menjemput. Jangan buat dia merasakan sakit.”
“Tetapi....”
“Aku tahu kamu ingin mencari Rika, tetapi itu ada waktunya,” potong Michael tegas, “bagaimana pun sekarang kamu memiliki tunangan yang harus kamu jaga perasaannya. Jadi, jangan buat dua wanita merasakan luka yang sama.”
Randy hanya diam dan menunduk. Michael yang melihat hanya diam dan meninggalkan meja makan. Dia benar-benar lelah mengahadapi sikap Randy yang masih tetap sama. Egois dan keras kepala. Sedangkan Vinda, dia masih menemani Randy dan berusaha membuat perasaan pria tersebut menjadi lebih baik.
Vinda menatap Randy dengan senyum sumringah, meski sebenarnya dia benar-benar terluka melihat pria di hadapannya begitu terpuruk dengan keadaannya. Rika, pulanglah. Ada orang yang benar-benar merasa bersalah dan begitu membutuhkanmu. Dia masih mencintaimu. Jadi, aku mohon, kembalilah, pinta Vinda dalam hati.
_____
Rika menatap rumah kecil yang baru saja di belinya dengan sisa uang kerja yang sudah dikumpulkan selama ini. Dia menyisikan sebagian dari penghasilannya untuk membeli rumah tersebut. Meski di sebuah desa terpencil, dia masih bersyukur karena bisa memiliki rumah atas nama kepemilikannya sendiri. Matanya berbinar melihat semua hasil usahanya kali ini.
“Aku sengaja gak beli rumah di desa yang lebih terpencil dari ini karena kamu bilang mau buka usaha di tempat baru,” celetuk Bara yang sudah melihat Rika dengan wajah bahagia, “jadi aku memilih kota ini untuk kamu tinggali. Aku tidak mau nantinya kamu malah susah sendiri.”
Rika yang mendengar tersenyum santai dan mengacak rambut adiknya gemas. “Terima kasih. Perhatian banget sih.”
“Iya dong. Aku kan gak di sini terus. Aku harus kembali ke Jepang untuk melanjutkan kuliah dan membangun usaha biar bisa gantiin tugas kamu,” ucap Bara dengan wajah bangga.
Rika yang mendengar langsung tertawa kecil dan mengangguk mengerti. “Iya deh, iya. Adik yang pengertian.”
Bara langsung tertawa mendengar penuturan Rika. Setelah dia puas berkeliling dan menunjukan keindahan kota yang ditinggalinya sekarang, Rika memutuskan untuk ke supermarket untuk membeli peralatan yang dibutuhkan. Bara masih setia menemani kakaknya ke mana saja dia pergi.
“Sudah?” tanya Bara yang masih duduk di motor yang baru saja dibelinya. Dia sengaja mengumpulkan uang jajan dan akan digunakan ketika dia membutuhkan. Jadilah dia membelikan Rika motor untuk memeprmudah pekerjaan kakaknya ketika dia pergi nanti.
“Sudah,” jawab Rika dengan senyum sumringah dan menenteng beberapa bahan kue karena hanya itu keahliannya.
“Ayo kembali,” ujar Bara dan langsung diangguki Rika. Dia bahkan sudah merasa lelah sejak datang ke rumah tersebut. Rasa nyeri di bagian bawah juga sudah terasa lebih baik ketika dia membersihkan diri.
Randy, di kota ini aku akan memulai hidup baru. Aku dan kamu benar-benar sudah selesai. Kita mulai kehidupan kita yang jauh lebih baik. Batin Rika menenangkan diri, membuat perasaannya yakin dengan apa yang sudah diambil kali ini.
_____
Rensi menatap benda kecil di tangannya. Sudah hampir satu bulan yang lalu sejak dia melakukan kegiatan bersama dengan seseorang yang bahkan tidak dikenalnya sama sekali. Sejak saat itu pula dia merasakan hal aneh yang terjadi padanya setelah beberapa hari kemudian. Sekarang, dia berdiri di kamar mandi dengan mulut menganga dan pandangan yang mulai menatap kabur. Ada begitu banyak kabut dalam pandangannya. Bahkan tubuhnya sudah benar-benar membeku karena benda kecil yang digenggamnya saat ini.
“Mati aku,” gumam Rensi dengan wajah yang menunjukan kecemasan. Dia segera menyembunyikan di kantong celana dan keluar dari kamar.
__ADS_1
Rensi segera merapikan keperluannya dan segera melangkah keluar kamar. Dia hendak pergi, tetapi benda kecil tersebut dengan bodohnya jatuh dan sangat disayangkan, Nani melihat itu semua. Mamanya yang hendak menuruni anak tangga terpaksa berbalik ketika meilihat anaknya mengambil sesuati yang baru saja jatuh di lantai dengan tergesa-gesa.
“Apa itu, Rensi?” tanya Nani dengan wajah menyelidik.
“Bukan apa-apa, Ma,” jawab Rensi yang lansgung menyembunyikannya di dalam tas.
Nani yang merasa curiga langung merebut tas Rensi dan mencari benda tersebut. Setelah ditemukan, hal yang sama terjadi padanya. Tubuhnya langsung membeku dengan mata yang membulat sempurna. Sebuah alat tes kehamilan yang menujukan garis dua di bagian tengahnya.
Nani menatap Rensi dengan amarah yang menggebu. Tangannya menarik anak kesayangannya kembali ke kamar dan mengunci pintu. Dia langsung membanting alat tersebut dengan amarah yang menggebu.
“Apa-apaan ini, Rensi? Apa yang sudah kamu lakukan, hah?” teriak Nani dengan mata yang sudah menggelap.
“Ma, Rensi bisa jelaskan,” cicit Rensi benar-benar takut karena mamanya datang dengan tampilan yang berbeda. Tidak ada kehangatan dari pancaran mata dan itu membuatnya semakin ciut.
“Cepat jelaskan. Kamu benar-benar pembawa masalah, Rensi. Kamu membuat Mama berada dalam masalah untuk kesekian kalinya!” bentak Nani yang sudah benar-benar diambang batas kesabaran. Dia tidak tahu lagi apa yang akan dikatakannya kali ini.
Rensi menghela napas dan segera menceritakan secara detail. Mengenai bagaimana dia bisa hamil. Nani yang mendengar semakin frustasi dibuatnya. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya kali ini. Rensi benar-benar sudah keterlaluan. Dia yakin Beni juga akan semakin membencinya karena salah dalam mendidik anak.
“Terus Rensi harus gimana, Ma? Rensi bingung,” keluhnya dengan wajah bingung, “atau Rensi gugurkan saja anak di dalam kandungan Rensi kali ini? Rensi benar-benar tidak mau melihatnya hadir di dunia.”
Nani menghela napas keras dan menatap Rensi dengan pandangan tajam. “Siapa pria yang sudah menghamili? Kamu masih ingat wajahnya?”
Rensi menggeleng dan menatap mamanya cemas. “Rensi melakukannya tanpa sadar. Jadi aku sendiri tidka tahu siapa ayah dari anak yang aku kandung saat ini.”
“Apa?” teriak Nani dengan mata melebar. “Apa kamu sudah gila, Rensi? Kamu menjajakan diri kepada orang yang tidak kamu kenal, hah?”
“Aku masih banyak masalah dan tanpa sadar malah melakukannya dengan orang asing,” celetuk Rensi tanpa dosa.
“Kamu memang gila, Rensi. Apa kamu lupa alasan ayah kamu tidak pernah mau sayang dan menganggapmu ada, hah? Kenapa kamu malah melakukan kesalah yang sama? Kamu benar-benar gila. Kamu nekad dan terlalu bodoh! Bagaimana bisa seorang janin hadir di rahim kamu yang jelas belum menikah? Mau ditaruh di mana muka keluarga kita? Papa pasti akan maraah besar dan mengusirmu keluar!” maki Nani dengan wajah memerah karena amarah yang langsung meluap.
“Apa kamu bahkan tolol dan tidak mengerti namanya pengaman, hah?”
“Diamlah, Ma,” bentak Rensi dengan amarah yang sama, “kalau Mama tidak bisa membantu Rensi sama sekali, jangan bicara apa pun. Tinggal diam dan aku akan menyelesaikan semuanya sendiri.”
“Apa yang akan kamu lakukan, Rensi?” tanya Nani menyelidik.
“Membunagnya dari dunia yang memang tidak mengharapkan kehadirannya," desis Rensi dengan wajah datar.
Nani yang mendengar hanya menghela napas kasar. Dia tampak gelisah dengan perkataan anaknya. Matanya menatap Rensi dengan otak yang semakin berpikir dan saat manik matanya menatap Rensi yang siap pergi, tangannya langsung mencegah dan menggenggam erat.
“Apalagi sih, Ma?” bentak Rensi yang langsung mengibaskan tangannya.
“Apa kamu punya foto intim dengan Dave selama pacaran?” tanya Nani dengan mata menatap lekat.
“Hmm. Memangnya kenapa?” tanya Rensi penasaran.
Nani yang mendegar langsung tersenyum. “Ikut Mama,” jawabnya dan langsung menarik Rensi keluar. Rensi yang mendengar hanya menurut dan mengikuti ke mana mamanya akan membawa pergi.
_____
🍁🍁🍁🍁🍁
Selamat membaca. Maaf kalau ada kesalahan. Jangan lupa like, comment, tambah ke favorit, vote dan follow Kim ya.
__ADS_1
Jangan lupa juga baca cerita baru Kim dan berikan dukungan ya. Terima kasih sayang-sayangku. 😘😘😘
🍁🍁🍁🍁🍁