
Vinda hanya diam dengan tatapan meminta penjelasan kepada Michael. Tasya dan Adelardo yang mendengar juga ada di antara mereka setelah mendengar kekacauan dari laporan Adam. Tidak hanya itu, Beni bahkan sudah menggeram marah kepada Rensi dan juga Nina yang hanya bersikap tenang mendapatkan tatapan mengintimidasi dari seisi ruangan. Alice hanya diam dan mendekap tangan Randy erat. Dave yang merasa bukan urusannya langsung keluar dan tidak ingin mengganggu masalah mereka semua.
“Apa-apaa, ini, Rensi? Kebohongan apalagi yang kamu lakukan sekarang, hah?” bentak Beni dengan suara menggelegar.
Nani yang mendengar anaknya dibentak langsung bangkit dan menatap Beni dengan amarah yang menyala. “Apa-apaan itu, Beni? Dia anakmu dan kamu tidak mempercayainya?” tanya Nani dengan emosi yang langsung ditunjukan dari tatapan matanya.
“Percaya?” ulang Beni dengan nada sinis, “bagaimana bisa aku mempercayainya sedangkan dia sudah banyak sekali membuat masalah.”
“Kamu,” geram Nani dengan telunjuuk yang langsung diarahkan ke depan wajah Beni. Dia tidak terima jika anaknya dikatakan buruk, meski oleh suaminya sekali pun.
Rensi yang mendengar menyentuh tangan mamanya dan menghapus air mata buayanya dengan telapak tangan. Matanya menatap Beni dengan pandangan mengiba, seakan disini dia adalah orang yang paling tersakiti dan teraniaya.
“Rensi benar-benar tidak percaya kalimat itu keluar dari mulut Papa. Jujur, Rensi bahkan begitu mempercayai kasih sayang yang Papa berikan selama ini. Tetapi sekarang Rensi sadar bahwa sejak awal memang aku tidak diharapkan siapa pun,” ucap Rensi dan langsung menghapus air mata yang mengalir. Matanya menatap Beni yang masih diam dengan pandangan lekat. Menunjukan seberapa besar rasa sakit yang diterimanya.
Beni hanya diam dan tidak menanggapi sama sekali. Pikirannya sudah terlalu lelah jika harus memikirkan segala kekacauan yang dibuat oleh anak dan istrinya. Terlebih, jika melihat wajah Vinda yang hanya diam dan menunduk pasrah, hatinya semakin teriris.
Tasya yang ada di dekat Vinda melepaskan pelukannya dan melangkah menghampiri Michael yang hanya diam dan tidak mengatakan apa pun. Dia masih begitu shock karena semua rencananya gagal berantakan. Dia hanya ingin mengakui anak yang dikandung Rensi tanpa ada yang mengetahui sama sekali, termasuk Vinda. Namun, semua prediksinya gagal karena Vinda datang dan disusul anggota keluarga yang lain.
Tasya yang melihat ketenangan Micahel tanpa sadar malah melayangkan tangan dan langsung mendaratkannya keras. Dia menitikan air mata karena ini adalah pertama kali Tasya melakukannya. Tangan yang biasanya digunakan untuk menyayangi anaknya sekarang berganti senjata yang melukai putra tunggalnya.
“Kamu sudah membuat Mama merasa malu, Ael. Kamu menikahi Vinda, tetapi menghamili Rensi. Apa yang kamu pikirkan?” kata Tasya dengan air mata yang berlinang.
Vinda menatap suaminya lekat. Dia melihat ada tatapan sedih yang juga ditunjukan Michael. Vinda bahkan tidak berniat untuk menitikan air mata untuk menangis atau memukul Michael guna menghilangkan kekecewaannya.
Sayang, apa pun yang orang lain katakan, tolong tetaplah percaya padaku. Aku begitu mencintaimu. Jadi, jangan percaya siapa pun selain aku.
Jadi, sekarang aku juga harus mempercayainya, Ael?, batin Vinda dengan perih. Terdengar helaan napas dari arahnya dan langsung bangkit. Dia menatap Michael dengan senyum manis yang dipaksakan. Kakinya semakin mendekat ke arah Michael dan menatap dengan perasaan perih yang benar-benar dirasakan.
“Apa pun yang orang lain katakan, aku tidak harus mempercayainya. Aku hanya boleh mempercayai kamu, kan?” ucap Vinda pelan dan masih mempertahankan senyumnya, “jadi, apa sekarang aku juga harus mempercayai kabar ini? Aku harus percaya bahwa suamiku akan memiliki seorang anak dari wanita lain?” tanya Vinda dengan suara yang semakin rendah.
Michael yang mendengar hanya diam dengan pikiran yang semakin berkecambuk. Jika ia membongkar semuanya, dia yakin akan menggagalkan rencana. Dia hanya butuh satu langkah untuk menghilangkan benalu dalam hubungan mereka. Namun, melihat Vinda yang mulai menitikan air mata dengan tersenyum membuatnya semakin terluka.
Vinda, untuk sekejap saja, percayai aku, batin Michael berteriak.
Vinda menghela napas lagi dan berjongkok. Dia menatap suaminya yang sudah menunduk dengan air mata yang mulai keluar. Jemarinya mengelus pelan pipi Michael dan tersenyum kembali. “Selamat, akhirnya kamu akan menjadi seorang Ayah, Ael. Aku berharap dia benar-benar anakmu.”
“Vinda!” teriak Rensi dengan air mata menggelap. Ucapan terakhir Vinda mampu menyulut emosi Rensi yang merasa bahwa dia adalah seorang wanita yang suka menjajakan diri kepada pria di luaran sana.
“Rensi!” sahut Micahel yang tidak terima dengan bentakan Rensi, “jangan lupakan bahwa Vinda dalah Nyonya Michael Aditama, Rensi. Jadi, jangan berani membentak dan menyakitinya.”
Tetapi kamu yang menyakitiku, Ael, batin Vinda yang bangkit dan menatap Rensi dengan pandangan tajam. Dia lelah sejak kecil harus mengalah dan memberikan semua kehidupannya untuk Rensi. Semua kasih sayang yang selalu dirasakan juga terampas tanpa sisa olehnya. Sekali saja, dia ingin mendapatkan apa yang Rensi inginkan.
“Jadi kamu membelanya?” ujar Rensi menodong, “aku tidak mau tahu, Ael. Kamu harus menceraikannya.”
“Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikannya, Rensi,” desis Michael dengan mata menatap nyalang.
__ADS_1
“Kalau kamu tidak mau menceraikannya, aku akan menggu....”
“Aku yang akan menceraikannya,” potong Vinda membuat seisi ruangan langsung menegang. Michael yang mendengar langsung membelalakan mata tidak percaya. Vinda menatap Michael dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Jika kamu tidak mau menceraikanku, maka aku yang akan menceraikanmu,” jelas Vinda dan langsung mengalihkan pandangan. Dia langsung mengalihkan tatapan dan melangkah keluar. Rasanya dia sudah benar-benar hancur hingga tidak tersisa.
Tasya dan yang lain yang melihat juga ikut keluar. Randy menatap Alice dan menunjuk pintu keluar dengan dagu langsung ikut menyusul keluar untuk menenangkan Vinda yang sudah tergugu di luar. Sedangkan Michael, dia hanya menatap Rensi dengan pandangan yang sulit diartikan.
Aku pastikan kamu akan menyesal telah membuat masalah denganku, Rensi, gumam Michael dengan emosi menggebu.
_____
Dua bulan kemudian.
Dua bulan adalah waktu panjang yang dibutuhkan Vinda untuk terus bersabar dan melihat semua kelakuan Rensi yang semakin menggila. Tidak jarang dia melihat wanita tersebt terus bergelanyut manja di hadapannya. Rasanya, jika dia melihat semuanya, ingin hatinya berteriak dan menghilangkan semua perasaan. Sudah ratusan kali dia meminta berpisah dengan Michael, tetapi jawabannya sama. Tidak akan pernah. Sedangkan nasib permohonan perpisahannya hanya menjadi butiran kertas yang langsung dirobek oleh Michael ketika mendapatkan.
“Sampai kapan aku harus menahan semua perasaan ini, Tuhan?” batinnya dengan nada pilu. Vinda masih diam di kamar mandi dengan air mata yang terus berlinang. Tangannya menggegam pinggiran closet dengan erat. Matanya mengabur karena terlalu sering menangis dan merasakan luka.
Vinda melihat benda kecil yang sudah dimasukan ke dalam cairan di gelas kecil. Sudah satu bulan dia tidak kedatangan tamu dan itu membuatnya semakin risau. Jemarinya meraih alat kecil tersebut dan melihat hasilnya.
“Ya Tuhan,” pekik Vinda dengan mata membelalak. Ada dua garis yang terlihat di sana. Jika saja hubungannya dengan Michael tidak diambang kehancuran, Vinda pasti akan memilih untuk menghubungi suaminya dan mengatakan kabar baik tentang kehamilannya. Namun, saat ini bahkan dia tidak dalam kondisi untuk mengatakan semua kebenaran tersebut.
Senyumnya terukir pilu da mengelus perut ratanya. “Kamu hadir, Nak? Maaf jika Mama akan memisahkanmu dengan papa. Tetapi, Mama sudah merasa begitu kecewa dengan apa yang dilakukan papa kamu. Meski mama masih mencintainya."
“Apa kabar, Vinda?” tanya Rensi dengan wajah dibuat seramah mungkin.
“Apa yang kamu lakukan di kamar ini, Rensi?” Vinda balik bertanya dengan nada tegas. Apa pun yang dikakukan Rensi, silahkan. Namun, tidak dengan kamar tidurnya. Rensi boleh melakukan dan memakainya sepuas mungkin, tetapi nanti ketika dirinya pergi dan sudah tidak bersama dengan Micahel.
“Kenapa? Aku hanya tidur di kamar yang akan manjaditempat tidurku kelak, Vinda. Apa itu salah?” tanya Rensi dengan wajah meledek dan mata yang menatap sinis.
Jika saja Rensi tidak dalam mengandung besar, Vinda benar-benar akan menariknya keluar dengan paksa. Namun, karena perut saudaranya yang mulai membuncit, hatinya memberontak dan Vinda hanya melangkah mendekati pintu kamar dan membuka lebar.
Vinda menatap Rensi datar dan berkata, “Keluarlah, Rensi. Ini kamarku dan bukan kamarmu. Kamu tidak memiliki hak apa pun untuk tinggal di ruangan ini.”
Rensi yang mendengar malah tersenyum dan bangkit. “Jadi, kita tentukan, siapa yang akan menjadi seorang Nyonya di rumah ini.”
“Dan aku tidak tertarik dengan apa yang kamu inginkan, Rensi. Aku masih tetap istri Michael yang sah di mata hukum dan dunia. Jadi, berhentilah untuk mengatakan apa pun yang tidak masuk akal.”
“Tidak masuk akal katamu?” ulang Rensi dengan nada meremehkan. Dia segera mengambil map yang sudah disediakan olehnya sejak datang dan melemparkannya kepada Vinda.
Vinda menerima dan mulai membuka. Matanya menatap setiap tulisan yang ada di dalamnya dan mulai merasa semakin terluka. Jemari kecilnya bahkan sudah *** keras map tersebut dan menahan agar air mata tidak juga luruh di hadapan Rensi.
“Jadi, Vinda. Apa sekarang kamu sudah sadar siapa yang sebenarnya Nyonya di rumah ini?” tanya Rensi lagi dan mencondongkan tubuh dan menatap Vinda dengan pandangan lekat. “Di sana, sudah ada tanda tangan dari Micahel dan itu cukup membuktikan bahwa dia sudah tidak mengharapkanmu. Jadi, bisa kamu tanda tangani surat ini dan segera pergi dari rumah? Aku sudah muak melihatmu terus saja menempel padanya.”
Vinda yang melihat menatap Rensi dengan amarah penuh. Kalah. Bahkan dia sudah kalah untuk mempertahankan miliknya. Meski sudah banyak sekali dia meminta hal yang sama, ternyata begitu menyakitkan ketika Michael yang akan memintanya untuk berpisah. Apa kita benar akan berakhir?, batin Vinda terasa pilu.
__ADS_1
Rensi yang melihat langsung terseyum dan menatap Vinda lekat. “Baiklah. Aku harap kamu segera keluar dari rumah ini karena aku akan segera pindah ke sini.” Rensi menepuk pelan pundak Vinda dan tersenyum sinis. Setelahnya, dia keluar dan menatap penuh kemenangan. Nani yang ada di bawah juga tampak begitu antusias dengan kedatangan anaknya.
“Gimana?” tanya Nani bersemangat.
“Berhasil. Dia percaya jika itu adalah tanda tangan Micahel,” sahut Rensi dengan wajah riang. Dia langsung tertawa kecil dan keluar. Mereka harus segera menguasai rumah Michael karena saat ini, Beni bahkan sudah tidak bisa menerimanya. Inilah alasan mengapa mereka memilih Michael menjadi target. Karena dia terlalu kaya dari pada Dave.
_____
“Bagaimana perkembangannya, Randy?” tanya Michael yang masih sibuk dengan kerjaannya.
Randy yang ditanya hanya diam dan masih begitu resah. Sampai saat ini, dia masih memikirkan Rika yang entah di mana kebaradaannya. Namun, di sisi lain dia juga harus menjaga perasaan Alice yang juga tunangannya. Dia bahkan begitu sulit dalam mengambil keputusan untuk hidupnya.
Michael yang merasa diabaikan langsung mendongak dan dan menatap Randy yang menunjukan wajah bodoh. Dia langsung meletakan pulpennya dan menegekan tubuh. Matanya menatap Randy yang hanya diam dan tampak berpikir.
“Randy,” panggil Michael dengan nada suara yang lebih tegas dan berhasil membuat Randy mendongak.
“Apa?” tanya Randy gelagapan dan menatap Michael bingung. Apa yang dikatakan oleh Michael? Sejak tadi dia hanya diam dan memikirkan mengenai perasaannya yang masih terombang-ambing ke sana kemari. Mencari keberadan Rika ternyata lebih sulit dari perkiraannya.
“Kamu tidak mendengarku?” tanya Michael dengan nada sinis.
Randy yang mendengar langsung menghela napas keras. “Sorry,” cicitnya mengakui kesalahan.
“Masih mengenai Rika?” tanya Michael lagi dan langsung mendapatkan anggukan.
“Aku bingung mencarinya, Michael. Aku sudah kerahkan semua anak buah dan masih tidak menemukannya. Aku bahkan sudah benar-benar frustasi mencari Rika,” ujar Randy mengungkapkan seluruh isi hatinya.
“Sebenarnya untuk apa kamu mencarinya, Randy? Dia pergi darimu karena terluka dengan tindakanmu dan jika kamu mencari hanya untuk memberikan luka yang lain kepadanya, aku sarankan kamu untuk menghentikan pencarian,” celetuk Mihael dengan nada tegas.
Randy menggeleng. “Aku masih harus tetap mencarinya. Aku ingin menanyakan kenapa dia melakukan semua ini kepadaku.”
“Dan kembali melukainya?” tanya Michael dengan mata menyelidik.
Randy diam sejenak. Benarkah dia akan melukai Rika lagi jika nanti bertemu? Dia hanya ingin menanyakan perihal tindakan wanita tersebut dan meminta maaf. Mungkin hanya itu yang akan dilakukannya jika nanti Rika ditemukan. Atau sebenarnya aku mencarimu untuk menggantkan posisi Alice dan menjadikanmu pengantinku?, tanya Randy dalam hati.
“Aku hanya mengatakan kepadamu, Randy. Sudah ada Alice yang menunggumu selama ini. Dia sudah menjadi tunanganmu. Jadi, ketika kamu melalukan sebuah tindakan, kamu juga memikirkan dampak untuk keduanya. Jangan buat semuanya menjadi terluka, Randy,” saran Michael dengan wajah tenang.
“Entahlah. Aku bahkan bingung harus bersikap seperti apa kepada Alice. Aku sendiri masih tidak menyangka bahwa dia adalah calon istriku. Aku masih mengira dia hanya sahabat kita,” keluh Randy dengan jemari yang memijit pelan pelipisnya.
Michael yang mendengar langsung tertawa kecil dan mulai berbincang dengan Randy. Mereka mengabaikan sosok lain di balik pintu kerja Michael. Alice yang datang dan mendengar semuanya hanya mampu *** keras gagang pintu tersebut. Rasanya dia seperti terhantam oleh kenyataan yang membuatnya hancur bereping-keping.
Rika? Nama itu langsung terlintas dalam benaknya dan mengingat semua pertemuan mereka. Dia baru tahu alasan mengapa Randy bisa menatap Rika dengan pandangan yang sulit diartikan waktu itu. Alice baru sadar jika selama ini dia salah mengartikan ucapan Randy yang selalu terkesan ketus kepada Rika. Dia tahu, masih ada rasa yang tertinggal dalam hati pria tersebut.
“Apa kamu sebegitu mencintainya, Randy? Tetapi maaf, aku tidak bisa melepaskanmu. Mungkin ini saatnya aku berjuang untuk mendapatkanmu, seperti dulu kamu berusaha mengejarku,” putus Alice dan segera keluar kantor. Setelah ini, dia akan mencoba melupakan semua yang didengarnya hari ini. Semua.
_____
__ADS_1