
Dave menggunakan kacamata hitam beserta topi hitam yang sengaja dipakai untuk menutupi wajahnya. Langkahnya membawa masuk ke gedung yang sama dengan yang Michael baru saja masuki. Setelah dia memastikan tidak ada anak buah dari pria tersebut, dia segera masuk dan melapor ingin bertemu dengan papanya, pastinya tanpa menunjukan identitasnya. Bergerak dengan hati-hati adalah tujuannya agar Michael tidak akan bisa melacak di mana keberadaannya saat ini. Dave benar-benar hidup bagaikan buronan. Dave yakin, bukan hanya satu dua orang yang ditugaskan untuk mecarinya.
Dave melirik ke arah penjaga yang tengah menunggunya di ruang tunggu. Helaan napas terdengar dan dia kembali menundukan kepala, menatap lantai bangunan yang tampak begitu kotor. Tidak lama, bunyi gesekan besi terdengar dan itu membuatnya kembali mendongak. Ditatapanya pria yang tampak begitu rapuh di hadapannya saat ini. Dave menghela napas mendapati keadaan papanya yang jauh dari kata baik.
Dave hendak bangkit dan memeluk papanya erat, tetapi dihentikan ketika tatapan pria yang begitu dihormatinya terkesan begitu dingin kepadanya. Dave memutuskan untuk kembali mendudukan diri dan menatap Wijaya yang sudah duduk di kursi seberangnya.
“Bisa tolong tinggalkan kami berdua?” ucap Wijaya dan langsung diangguki. Petugas yang berjaga langsung keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Wijaya bersama dengan Dave.
Hening. Dave bingung harus memulai percakapannya dari mana. Selama ini dia tidak begitu dekat dengan papanya. Namun, membiarkan papanya tinggal di jeruji besi yang kejam bukanlah keinginannya. Matanya menatap Wijaya dengan pandangan memohon ampun. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan papanya jika tahu semua ini adalah perbuatannya.
“Perusahaan bangkrut. Rumah utama di sita. Mama mu masuk rumah sakit dan koma hingga saat ini. Bahkan, kabar terbaru yang Papa dapat adalah perusahaan sudah jatuh ke tangan Michael,” ucap Wijaya memecahkan keheningan. Matanya masih menatap datar ke arah Dave saat ini duduk.
Dave menelan ludahnya kasar. Dia merasa kalimat papanya tertuju untuknya dan itu membuatnya semakin khawatir. Apa yang akan dilakukan papanya nanti? Atau lebih tepatnya adalah apa yang akan dilakukannya untuk mengembalikan semua fasilitas keluarganya dan mengeluarkan papanya dari jeruji besi saat ini?
“Selama ini papa memberikan fasilitas lengkap sama kamu, Dave. Tetapi sekarang kamu bahkan tidak bisa mempertahankan perusahaan agar tetap menjadi milik kita,” lanjut Wijaya dengan mata yang mengarah tajam memperhatikan gerak-gerik anaknya.
“Maaf, Pa. Dave masih berusaha untuk mengembalikan perusahaan kita,” jawab Dave yakin. Bersama Vinda, dia akan meraih semuanya, batin Dave dengan wajah yang tak menunjukan seluruh idenya.
“Oh iya? Bagaimana caranya kamu mengembalikan perusahaan ketika alasan hancurnya perusahaan hanya karena kebodohanmu, Dave?” desis Wijaya sinis. Matanya menangkap gerakan terkejut anaknya dan itu membuatnya semakin sakit. Jadi, benar yang dikatakan Michael? Alangkah bodohnya Dave berurusan dengan seorang Michael Aditama, batin Wijaya merutuki kebodohan anaknya.
“A..apa maksud Papa?” tanya Dave tergagap. Dia bahkan sudah menatap papanya dengan pandangan horor.
“Jangan kira Papa tidak tahu apa yang sudah kamu perbuat, Dave. Kamu membawa kabur calon istri Michael,” jelas Wijaya agar anaknya lebih paham dengan keadaan sekarang, “apa penjelasan papa kurang bisa membuatmu sadar, Dave?” Wijaya menatap Dave dengan pandangan tegas dan benar-benar mematikan.
“Papa dengar dari Michael?” Dave malah berbalik dan menatap tak kalah tajam.
“Jadi, kamu sudah tahu Michael datang?”
Dave langsung mengangguk dan menatap papanya lekat. “Dave tidak sengaja bertemu dengannya ketika di halaman,” jawab Dave, “apa pun yang dikatakannya tidaklah benar, Pa. Rensi yang mengajakku dan bukan aku yang mengajaknya.”
“Bodoh,” bentak Wijaya sembari menggebrak meja kayu di hadapannya, “kamu sama saja bodohnya karena menuruti gadis itu, Dave. Kamu gak pernah berpikir dalam bertindak. Bahkan papa sudah memperingatkan agar kamu menjauh dan jangan buat masalah dengan keluarga Aditama, terlebih dengan Michael!”
“Dave tidak tahu jika Michael akan benar-benar menghancurkan kita, Pa,” bentak Dave tidak terima dengan amukan papanya. Dia merasa tidak salah sama sekali.
__ADS_1
“Bodoh,” sahut Wijaya cepat, “kamu sudah sering papa peringatkan dan masih tidak menyangka Michael akan melakukannya? Memang selama ini kamu kira cerita papa hanya dongeng sebelum tidur?”
Dave yang mendengar hanya diam dengan kepala tertunduk. Dia tidak berani menatap mata papanya yang sudah menunjukan kebencian dan kekecewaan. Semua memang salahnya karena terlalu percaya diri. Andai dia tidak melakukan kesalahan, dia yakin keluarganya akan dalam keadaan damai. Menyadari hal tersebut, Dave mengepalkan tangan dengan bibir terkatup rapat.
“Dave akan mengembalikannya, Pa,” ucap Dave dengan amarah.
“Bagaimana caranya?” tanya Wijaya berpura-pura. Dia tahu apa yang ada di pikiran anaknya. Dia yakin, Dave akan menggunakan istri Michael sebagai jaminan agar perusahaannya kembali. Bodoh, pikir Wijaya karena trik kuno yang dilakukan Dave sudah jelas terbaca. Dia bukannya seorang paranormal, tetapi dia tahu seberapa besar volume pikiran anaknya.
“Vinda,” kata Dave menatap papanya tegas, “dengan Vinda, semua akan selesai. Michael begitu mencintai Vinda dan Dave yakin, dia akan melakukan apa pun untuk membebaskannya.”
“Bodoh,” jawab Wijaya meremehkan, “apa kamu bahkan belum mendengar jika semua pasangan seorang Aditama adalah wanita kuat yang bahkan bisa melawan siapa pun untuk keuntungannya? Michael tidak akan mau menikahi wanita tersebut jika tidak ada hal istimewa yang dimilikinya.”
“Tetapi....”
“Di mana kamu menyembunyikannya?” tanya Wijaya dengan tatapan tak ingin dibantah, “di mana kamu menyembunyikan istri Michael, Dave?”
Dave mengerutkan kening heran. Untuk apa papanya menanyakan mengenai keberadaan Vinda? Apa Micahel yang menyuruh. “Vinda aman bersama dengan Dave, Pa.” Dave jauh lebih memilih diam, dari pada mengatakan apa yang sudah direncakannya. Jika Michael mengetahuinya, semua dapat dipastikan akan gagal total.
“Di mana kamu membawanya?” tanya Wijaya sekali lagi dan dengan nada menggeram dan sudah menunjukan wajah marahnya.
“Sampai kapan pun, Dave tidak akan mengatakan di mana Vinda berada, Pa,” desis Dave dengan wajah tak suka.
Wijaya baru bersiap menjawab, tetapi ucapannya dihentikan karena petugas yang akan membawanya sudah kembali dan bersiap membawa ke tempatnya saat ini. Jam besuk yang ditentukan sudah habis dan dia belum menyelesaikan urusannya dengan Dave.
Dave hanya diam ketika mendapati tatapan tak suka dari papanya. Terutama ketika sang penjaga membawa papanya kembali ke ruangan penuh derita tersebut. Jujur, dia merasa sakit. Namun, dia harus melakukan rencananya dengan matang dan membebaskan papanya. Tetapi, ucapan papanya seakan menampar kenyataan yang semakin pahit untuknya.
“Kamu tidak mau memberi tahu di mana Vinda? Itu artinya kamu ingin melihat papa berada di jeruji besi semakin lama, Dave,” ucap Wijaya dan berlalu kembali ke dalam ruangannya. Dia meninggalkan Dave yang seakan tak percaya dengan pendengarannya.
_____
“Tuan, kami menemukan pelaku penembakan Nona Vinda tempo hari,” telfon Roy di seberang.
“Bawa dia ke markas, Roy,” perintah Michael.
__ADS_1
Michael baru akan pergi ke rumah orang tuanya karena mendapati kabar mamanya tengah sakit dan dirawat di rumah. Namun, dia harus membelokan kembali mobilnya dan menuju ke arah berbeda. Dia harus menunda pertemuannya dan melihat kondisi mamanya saat ini.
Michael mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia menggeram marah ketika mengingat insiden beberap waktu yang lalu. Tangannya bahkan sudah *** setir dengan erat. Aku akan membelas perbuatanmu kepada Vinda, geramnya dengan mata yang sudah membelalak dan hampir keluar.
Hanya butuh waktu empat puluh lima menit untuk sampai di lokasi yang sudah diperintahkannya. Matanya menatap bangunan yang sebenarnya sudah dijadikan gudang olehnya. Namun, semua hanya sebagai penutup apa yang sering dilakukannya di dalam gedung tersebut. Netranya menatap begitu banyak mobil yang terparkir dan beberapa pria berseragam hitam dengan senjata di tangan sedang berjaga. Anak buahnya sudah datang.
Michael segera turun dan memasuki ruangan tersebut. Matanya menatap pria yang sudah duduk tenang di tengah ruangan. Tak ada pergerakan dan juga perlawanan sama sekali. Langkahnya semakin mendekati pria yang belum juga terlihat wajahnya. Namun, ketika dia sudah berdiri di depan pria tersebut, matanya dibuat membelalak tak percaya dengan pandangannya. Benarkan dia orangnya?
“Michael,” sapa pria di hadapannya dengan wajah yang terlihat begitu tenang.
“Sam,” jawab Michael dengan gigi yang sudah menggertak menahan amarah, “jadi kamu yang pernah mencelakai istriku, hah?” geram Michael dengan emosi memuncak. Tangannya bahkan sudah mengepal dan siap melayangkan pukulan, tetapi dia masih bisa menahan. Dia tidak lupa dengan siapa dia berurusan. Sam, salah satu anak buah papanya yang sampai saat ini masih terdengar begitu setia. Papanya bahkan sampai merahasiakan hubungan diantara keduanya. Entah apa tujuan papanya melakukan semua itu.
“Aku bisa jelaskan, Michael,” jawab Sam santai. Dia begitu tahu bagaimana sifat Michael yang juga memiliki sisi lembut, meski begitu jarang dari mereka yang tahu. Semua orang hanya tahu Michael yang begitu mematikan, licik dan tidak punya perasaan.
Michael menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. “Kalau begitu, jelaskan.” Michael akhirnya duduk dan siap mendengarkan apa yang akan dijelaskan Sam.
_____
“Jadi, dia menyuruhmu untuk menghabisiku?” tanya Michael ketika Sam sudah menjelaskan semuanya. Dia bahkan takjub karena meski dia juga dekat dengan keluarga Wijaya, Sam tak mengkhianati keluarganya sama sekali. Dia bahkan menembak tanpa minat dan sengaja memelesetkan arah tembaknya.
Sam mengangguk. “Aku benar-benar tidak tahu jika ada istrimu di sana, Ael. Aku hanya fokus menatapmu dan mengatur agar tembakanku meleset saat itu. Tetapi istrimu datang dan menghalanginya,” jelas Sam benar-benar merasa bersalah, “tetapi, istrimu memang hebat. Dia berani menghalau hanya untuk menyelamatkanmu.”
Michael yang mendengar langsung tersenyum. “Dia memang wanita yang hebat,” jawab Micahel setuju. Sekarang dia benar-benar merindukan Vinda untuk berada di sampingnya.
Sam mengangguk setuju. Dia sendiri yakin, tidak banyak wanita yang akan melakukan hal berbahaya seperti yang dilakukan Vinda kepada Michael. Dia yakin, kebanyakan wanita hanya akan berteriak memperingatinya saja. Namun, matanya menangkap wajah pedih yang ditunjukan Michael. Entah sengaja atau memang tanpa sadar karena setahunya, Michael bukanlah seorang yang selalu mengumbar masalahnya.
“Kamu ada masalah, Ael?” tanya Sam penasaran.
Michael yang mendengar hanya tersenyum kecil dan mengangguk. “Sudah beberapa minggu istriku tidak di rumah. Dave menangkapnya dan kini kami tidak tahu di mana keberadaannya.”
“Jadi, Vinda dijadikan tahanan?” tanya Sam memastikan dan mendapatkan anggukan dari Michael. “Aku akan membantumu mencari Vinda. Bagaimana pun, dia istri dari adik ku, kan?”
Michael yang mendegar hanya tersenyum kecil. Sejak kapan dia memiliki Kakak yang jauh lebih berbahaya darinya?
__ADS_1
_____