
“Sial!” teriak Vera dengan emosi yang masih meluap.
Sejak kembali dari rumah Randy, dia merasa begitu kesal karena untuk pertama kalinya, Randy enggan menuruti kemauannya. Anaknya memilih wanita yang jelas-jelas tidak pernah diharapkan oleh keluarga.
“Silvi!” teriak Vera dengan mata yang masih memancarkan kemarahan. Tangannya masih mengepal sempura dan menatap lurus ke depan.
Tidak lama kemudian, seorang gadis muda dengan pakaian biasa berlari terpogoh-pogoh menuju ke arahnya. Vera yang melihat langsung menggeram kesal dan menatap dengan mata membesar dan bibir terkatup rapat.
“Kamu itu bisa kerja gak sih? Dipanggil lama banget,” bentak Vera melampiaskan perasaan kesalnya.
“Jangan marah-marah begitu Kakak Ipar.”
Silvi, asisten rumah tangga yang masih hendak menjawab langsung diam dengan perasaan bercampur. Vera yang mendengar langsung menatap ke asal suara dan melihat Tasya dengan pakaian santai melangkah ke arahnya.
“Apa kabar, Kak?” tanya Tasya dengan senyum sumringah dan tatapan lembut.
Vera menghela napas kasar dan mengibaskan tangan, menyuruh Silvi kembali bekerja. “Untuk apa kamu datang ke rumahku?” tanya Vera dengan nada sinis.
Tasya haya tertawa kecil dan menatap Vera dengan santai. “Aku hanya ingin menyapa saudara yang sudah lama tidak terdengar kabarnya. Jadi, apa aku salah?” ucap Tasya tanpa permusuhan.
Vera yang mendengar berdecih kesal dan menatap ke arah Tasya dengan pandangan tidak suka. “Kamu kira aku percaya? Kamu bukan orang yang bisa bermain ke sana-sini, Tasya. Kamu bukan orang yang memiliki waktu bebas hanya untuk menengok orang lain.”
“Jangan seperti itu, Kakak Ipar. Aku juga manusia yang membutuhkan waktu untuk sendiri dan bermain. Aku memang hanya ingin menjengukmu.”
“Dan kita tidak sedekat itu untuk saling menyapa,” celetuk Vera dengan wajah serius dan tatapan penuh dendam. Dia memang tidak pernah akur dengan Tasya karena permasalahan di masa lalu.
“Tetapi kita juga tidak sejauh itu sampai tidak bisa menyapa, Vera,” tegas Tasya dengan tatapan menajam. Namun, sedetik kemudian dia tersenyum dan memanang Vera tanpa rasa bersalah sama sekali. Dia menunjukan wajah ramah seperti semula.
“Cepat katakan apa yang sebenarnya ingin kamu katakan, Tasya. Aku tidak memilki waktu hanya untuk meladenimu,” ujar Vera tidak suka dengan kedatangan Tasya, “aku tahu apa yang ingin kamu katakan. Kamu ingin membela Randy agar bisa menikah dengan wanita yang tidak jelas asal-usulnya, kan?” tebak Vera dengan wajah datar.
“Ah, tepat,” sahut Tasya dengan wajah riang, “kamu masih tetap cerdas seperti dulu, Kak.”
Vera berdecih dan menatap Tasya dengan pandangan merendahkan. “Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menyetujuinya. Aku berbeda denganmu, Tasya. Dalam garis keturunanku, aku tidak menerima wanita yang tidak sama dengan kita.”
Tasya menarik napas keras dan menghembuskannya perlahan. “Aku rasa kamu harus mulai berubah, Kak. Kamu harus menilai seseorang dari hatinya juga. Rika adalah gadis baik dan aku yakin, Randy akan bahagia dengannya.”
“Apa pun ucapanmu, aku tidak akan berubah. Jika dia tidak mau dengan Alice, dia bisa meninggalkan semua fasilitas yang kami berikan.”
Tasya menatap Vera lembut. Dia juga bingung bagaimana cara meluluhkan keegoisan seorang Vera yang jelas-jelas sudah ada dari lahir. “Tetapi dia sudah mengandung anak dari Randy yang berarti dia tengah mengandung cucumu.”
“Terserah apa yang ingin kamu katakan, Tasya. Aku tetap tidak akan pernah merestuinya,” jawab Vera dengan emosi yang semakin meningkat.
“Tetapi aku merestuinya,” kata seseorang yang sejak tadi bersembunyi di balik dinding.
Vera dan Tasya yang mendengar langsung menatap ke asal suara. Tampak seorang dengan badan kekar tengah melangkah mendekati keduanya. Vera hanya bisa diam dengan kekesalan yang masih terpancar. Sedangkan Tasya, dia tersenyum dan memberikan salam ketika pria tersebut sudah di hadapannya.
“Apa kabar, Kak?” tanya Tasya ramah.
“Tasya, apa yang kamu katakan benar? Randy akan memiliki seorang anak?” tanya Stev, papa Randy dengan wajah berbinar.
Tasya yang mendengar mengangguk, tetapi senyumnya luntur begitu saja ketika melihat Stev tersenyum dengan begitu bahagia. “Tetapi mereka belum menikah, Kak,” jawabnya dengan wajah menunjukan rasa simpati.
__ADS_1
Stev mengangguk dan mengelus pelan kepala Tasya. “Mereka akan segera menikah. Aku merestui mereka jika memang wanita yang kamu katakan benar baik. Jika Randy mencintainya, aku akan memberikan restu sebanyak yang dia mau.”
Vera yang mendengar membelalak tidak percaya. Suaminya merestui anaknya dengan Rika? Dia sendiri bahkan enggan melihat wajah wanita tersebut.
“Aku tidak merestuinya,” desis Vera membuat keduanya berbalik menatapnya.
“Sampai kapan pun, aku tidak akan merestuinya, Stev. Dia tidak sama dengan kita!” teriaknya kesal.
“Apa yang tidak sama dengan kita? Dia juga manusia, kan?” ujar Stev kesal dengan istrinya, “kamu tetap saja tidak berubah, Vera. Ini yang membuatku dulu berniat mengajukan gugatan cerai. Karena kamu masih saja bersikap membedakan dan menilai seseroang dari hartanya.”
Stev menatap Vera dengan pandangan dingin. “Aku lelah menghadapi sifat kamu yang seperti ini. Jika kamu tidak mau menerimanya sebagai menantu, biar aku saja yang menerima. Kamu tidak perlu ikut dan menyaksikan mereka menikah. Lagi pula aku rasa Randy tidak butuh seorang Mama yang tidak memikirkan kebahagiaannya.”
Vera yang mendengar menggeram marah dan langsung membanting tasnya keras. Dia mengabaikan harga tasnya yang terlalu mahal. Sedangkan Tasya dan Stev, mereka melaju ke rumah Randy. Stev ingin melihat wanita mana yang bisa meluluhkan hati anaknya dan menggantikan posisi Alice.
_____
Pekat malam mulai berganti dengan sinar mentari yang menyelimuti dunia. Randy dan Rika yang sudah bangun sejak tadi tengah sibuk mengemasi pakaian yang akan dibawa pindah. Rika sendiri baru tahu bahwa Randy memiliki rumah. Dia hanya tahu bahwa pria yang saat ini sudah sah menjadi suaminya tersebut tinggal di sebuah apartemen megah di tengah kota.
Rika tersenyum kecil setiap mengingat status barunya. Sekarang dia sudah sah menjadi istri Randy. Ya, semalam papa Randy datang dan langsung ngotot menikahkannya. Randy yang memang berniat melakukan langsung setuju. Disaksikan oleh keluarga Randy dan tanpa Bara, mereka akhirnya sah menjadi pasangan. Meski Rika menyesalkan ketidakhadiran adiknya.
“Hayo, senyum-senyum sendiri. Lagi mikirin apa?” tanya Randy yang sudah memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Rika yang mendengar menatap Randy dari samping dan mengelus pelan pipi suaminya. “Aku masih gak menyangka kalau kamu jadi suami aku,” ucapnya dengan tawa kecil.
Randy hanya tertawa kecil dan mengecup pelan kening istrinya. “Maaf ya, semalam aku nikahin kamunya dadakan. Nanti, setelah baby kita lahir, aku janji akan buat pesta untuk perayaan kita,” ujar Randy dengan perasaan bersalah.
Rika mengangguk lembut. “Iya, gak masalah. Aku udah seneng kok dapat restu dari papa kamu. Tetapi mama kamu...” Rika menghentikan ucapannya. Dia tidak tega mengatakan isi hatinya karena dia tahu, Randy-lah orang yang paling merasakan luka. Dia harus menjauh dari mamanya hanya untuk mempertahkannya.
Randy yang mendengar menghela napas keras dan membalik tubuh Rika menjadi menatapnya. Dia memeluk istrinya dengan lembut. “Jangan pikirkan. Sebentar lagi Mama pasti akan luluh. Dia hanya masih shock aja. Lambat laun, dia akan tahu dan menerima hubungan kita. Percayalah.”
Rika yang mendengar mengangguk dan meremas pelan tangan suaminya. Rasanya dia benar-benar merasakan kebahagiaan yang sempat pergi darinya. Tuhan, luluhkan hati Ibu mertuaku. Buat dia menerima kehadiranku dan anak kami. Jangan pisahkan suamiku dari mamanya, pinta Rika dalam hati. Dia pernah merasakan bagaimana sakitnya berpisah dengan keluarga yang begitu dicintai.
_____
Alice menatap nanar jendela kamarnya. Dia tersenyum mengingat seberapa bodohnya dia malam itu. Dengan tidak tahu malunya, dia malah mengeluarkan air mata dengan orang yang tidak dikenalnya sama sekali. Dia hanya tahu bahwa pria yang sudah mendengarkan tangisnya semalam adalah adik Rika.
“Dasar bodoh. Kamu harusnya gak perlu dengerin dia bilang dan gak usah nangis,” runtuk Alice dengan wajah kesal.
Alice menutup wajahnya dengan bantal dan membukanya kembali. Helaan napas keras terdengar lelah. “Apa sih yang aku pikirkan sekarang? Dengan bodohnya malah ingin menikah dengan Randy. Padahal dulu aku tidak pernah mencintainya.”
Alice berdecak kesal menyadari hatinya yang mulai tidak tentu arah. “Coba aku gak pernah terlambat untuk mencintainya. Pasti saat ini aku yang sedang merasakan bahagia.”
“Aish, sudahlah, Alice. Kamu memang membutuhkan refreshing. Otakmu benar-benar konyol pagi ini,” ucap Alice bermonolog.
Alice segera bangkit dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak lama kemudian dia sudah keluar dengan baju handuk dan segera memilih pakaian. Pandangannya jatuh pada dres hijau di atas lutut. Dengan wajah riang dia segera mengganti pakiannya dan duduk di depan meja rias.
“Kamu harus melupakan Randy, Alice. Sudahlah, biarkan dia bahagia. Lebih baik kamu juga bahagia dengan caramu sendiri.”
Setelah selesai, Alice segera keluar dari kamar dan melangkah dengan riang. Jemarinya baru membuka pint utama dan siap pergi. Namun, langkahnya terhenti karena sosok yang dikenal. Mata yang baru saja menampilkan wajah bahagia terpaksa kembali merasakan luka. Senyumnya langsung menghilang dan dadanya terasa begitu sesak.
Tuhan, kenapa engkau hadirkan dia di saat yang tidak tepat?, batin Alice merutuki nasib yang mengenaskan.
__ADS_1
“Alice, bisa kita bicara?”
“Sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, Randy,” ucap Alice pelan.
“Tetapi aku rasa masih ada yang harus aku jelaskan. Aku tidak mau setelah ini persahabatan kita menjadi jauh. Aku ingin kita bisa tetap berteman dengan baik seperti semula. Jadi, bisa kita bicara sebentar?” jelas Randy dengan wajah memohon.
Persahabatan? Bahkan setelah semuanya? Alice yang mendengar memejamkan mata dan meresapi segalanya. Rasa luka dan juga penderitaan yang kini dirasakan.. Namun, semenit kemudian, dia membuka mata dan tersenyum manis.
“Baik. Di mana kita akan membicarakannya?”
_____
Randy memang sengaja datang untuk meminta maaf kepada Alice dan keluarganya. Dia bahkan sudah mendapatkan tiga kali memar di wajah karena pukulan keras dari Papa Alice. Namun, Randy tidak membalas apa pun dan hanya diam. Semua memang salahnya yang kurang tegas dalam mengambil keputusan. Andai saja dia lebih tegas, tidak akan banyak orang yang tersakiti karena perbuatannya.
Matanya menatap Alice yang tampak cantik di depannya. Senyumnya terukir melihat penampilan Alice yang sudah membaik. “Maaf,” cicit Randy menarik perhatian Alice yang sejak tadi tampak tak acuh dengan kehadirannya, “maaf karena aku tidak tegas dalam memilih. Aku menyakiti dan meninggalkamu untuk wanita lain. Aku memang brengsek meninggalkanmu di saat kita akan menikah. Maaf untuk semuanya, Alice.”
Alice yang mendengar menghela napas keras dan menatap Randy datar. “Jujur, aku begitu terluka denganmu, Randy. Aku kecewa dengan semua pilihan yang sudah kamu buat. Meninggalkanku dan menggagalkan rencana pernikahan. Kamu pikir setelah ini aku akan bisa mencintai orang lain seperti aku mencintaimu sekarang?”
Randy yang mendengar langsung menghela napas keras dan masih menatap Alice dengan pandangan yang tidak menunjukan penyesalanan sama sekali. “Maaf juga untuk itu. Tetapi, Alice, aku rasa kamu tidak perlu merasa bahwa semua pria sepertiku. Aku yakin, kelak akan ada yang bisa mencintaimu seperti kamu mencintainya.”
Alice berdecih kesal dan menatap Randy yang masih menatapnya dengan santai. “Apa kamu tidak bisa memasang wajah bersalah, Randy? Kamu meminta maaf, tetapi kamu tidak menunjukan simpatimu sama sekali. Kamu tahu, aku baru saja menjadi seorang janda bahkan sebelum menikah. Aku sudah berusaha melupakan dan mengabaikan, tetapi kenapa kamu malah datang lagi,” celetuk Alice kesal.
“Maaf untuk itu, Alice.”
Alice mendengus kesal dan menatap Randy dengan wajah mengeras. “Aku bosan mendengar maafmu, Randy. Lagi pula meski aku tidak memaafkanmu, kamu tetap tidak akan kembali, kan?” sindirnya dengan suara ketus.
Randy yang mendengar tertawa kecil dan mengangguk. “Aku tidak akan pernah meninggalkannya, Alice. Apa pun sebabnya. Selamanya aku akan teus berada di samping Rika.”
Alice yang mendengar hanya terseyum kecil. “Kenapa?”
“Karena aku sudah mencintainya sejak lama,” balas Randy, “sewaktu kuliah, aku hanya fokus untuk belajar dan terus belajar. Aku berusaha melupakanmu. Lalu, dia datang dan selalu menggangguku. Aku terbiasa dengan sifat bawel dan juga keras kepalanya. Aku nyaman dengannya. Itulah alasan mengapa aku menjadikannya kekasih. Aku takut kehilangannya dan karena sebuah kejadian, aku benar-benar melepasksannya.”
“Lalu sekarang kamu sudah mendapatkannya dan kamu tidak berniat melepaskannya?” lanjut Alice dengan senyum kecil. Dia hanya ingin menutupi rasa sakitnya karena penjelasan Randy.
Radny mengangguk dan tersenyum. “Iya. Aku sadar, dari dulu sampai sekarang aku memang mencintainya.”
Ternyata sudah dari dulu kamu melupakanku, batin Alice pedih.
Alice menghela napas keras dan menatap Randy dengan pandangan bersahabat. “Aku turut berbahagia untuk kalian. Aku harap, setelah ini tidak akan ada masalah dalam hubunganmu dan Rika.”
Randy mengangguk. “Dan aku harap kamu segera mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik."
“Tentu saja,” balas Alice dengan senyum seakan tidak ada masalah.
Mana mungkin aku bisa melupakanmu secepat itu, Randy. Aku takut mencintai. Aku takut berharap untuk kedua kali pada orang lain. Aku takut, batin Alice perih.
"Jangan buat Rika pergi lagi," ujar Alice dengan senyum menggoda. Dia hanya ingin melupakan perihnya.
Randy yang mendengar tertawa keras. "Siap," ucapnya sembari menebarkan senyum bahagia.
_____
__ADS_1