Wedding Drama

Wedding Drama
Bagian 13_Bukan Masalah


__ADS_3

Vinda menatap dirinya di pantulan cermin kamarnya. Ada luka di pipi sebelah kanan akibat tamparan dari sang ayah. Belum lagi sudut bibinya juga berdarah karena terlalu keras dia mendapatkan tamparan. Rasanya sakit dan juga perih. Bukan hanya fisiknya, tetapi juga batin yang merasakan pedih karena perlakuan kasar sang ayah. Dulu saat mendiang Ibu angkatnya masih hidup, dia hanya merasakan kasih sayang yang membuatnya selalu hidup dalam kepedihan.


Vinda menatap lekat. Dia tidak ingin lagi menitikan air mata kepedihannya dan harus tetap terlihat kuat. Tangannya membuka lemari kecil di sebelah ranjang dan menarik kotak putih berisi obat-obatan. Tangannya mengambil alkohol dan juga cotton bath dan membersihkan luka kecil di sudut bibir.


“Aduh,” ucap Vinda merasa perih. Namun, tangannya tetap saja berusaha membersihkan. Setelah dirasa bersih, dia memberikan obat merah di bibir dan menatapnya. Dia menyentuh pelan karena bibirnya tidak bisa digunakan untuk menganga lebar.


“Sakit juga ternyata,” ucap Vinda sembari menghela nafas panjang.


Vinda menatap bekas tamparan ayahnya dan melangkah keluar kamar. Gelap. Dia tidak ingin mengganggu pemilik rumah dan memilih untuk ke dapur secara mengendap-endap. Hanya lampu kamar yang menerangi langkahnya. setelah sampai di lemari es, tangannya segera membukanya dan mengambil es yang langsung diletakan di baskom besi yang baru saja diambil


Vinda menatap sekeliling dan berjalan kembali ke kamar. Dia memberikan sedikit air serta lap kecil yang digunakan untuk mengompres bekas luka tersebut. Dia tidak ingin ada yang tau seberapa mengenaskannya hari ini. Belum lagi tangannya yang sakit karena diinjak Rensi sekuat tenaga.


Vinda mulai mengompres dan menatapnya di layar kaca riasnya. Suasana sunyi dan perasaan lelah mulai menyergap. Sampai kapan dia akan tinggal dengan Rensi dan ibunya? Dia bahkan sudah merasa rumahnya seperti neraka. Namun, lagi-lagi hanya ayahnya yang menjadi penguatnya. Dia harus tetap berada di dekat ayahnya apapun yang terjadi.


Vinda masih asik dengan pikirannya, sampai pintu terbuka membuat Vinda berbalik dan menatap siapa pelakunya. Tampak pria tua dengan kerutan dan rasa penyesalan menatapnya. Mata teduhnya memandang dengan pilu wajah Vinda yang baru saja dihajarnya tanpa mendengarkan alasan terlebih dahulu. Beni menatap anak kesayangannya yang masih memegang lap kecil dan diletakan di pipinya. Dia tau pasti rasanya sakit.


“Apa Ayah mengganggu?” tanya Beni sembari menatap Vinda malu. Dia malu karena meragukan anaknya. Padahal dia yang mendidik dan kenapa dia sendiri juga yang merasa tidak yakin?


Vinda menggeleng dan tersenyum. Tetap senyum seorang Vinda yang begitu tulus tanpa paksaan. “Masuk saja, Yah.”


Beni yang mendengar langsung masuk dan menutup pintu. Langkahnya terasa getir ketika matanya menatap luka tepat di sudut bibir Vinda. Ini pertama kalinya dia melakukan kekerasan kepada anaknya. Padahal dulu dia selalu memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang. Dia hanya terbawa suasana karena takut Vinda terjerumus ke dalam pergaulan yang salah.


Beni duduk di ranjang Vinda dan menatap anaknya lembut. “Apa itu sakit?” tanyanya merasa bersalah.


Vinda yang menyadari perasaan tersebut hanya tersenyum tulus. “Hanya sedikit. Ayah tidak perlu memikirkannya.”


“Ayah minta maaf. Ayah terlalu gegabah. Ayah Cuma takut kalau anak kesayangannya terjerumus ke dalam pergaulan yang salah dan ternyata itu membuat emosi yang tidak tertahan,” ucap Beni sembari menatap Vinda yang masih tersenyum.

__ADS_1


“Ayah mencari kamu kemana-mana dan tidak menemukanmu. Ayah takut kamu kenapa-kenapa dan saat ditelfon, seorang pria yang mengangkat dan mengatakan bahwa kamu dari rumahnya. Ayayh…” Beni tidak melanjutkan ucapannya. Matanya sudah berbinar dengan perasaan bersalah. Dia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Vinda yang melihat langsung bangkit dan melangkah mendekati ayahnya. Tangannya menggenggam tangan lemah sang Ayah yang sudah begitu keriput. Meski wajahnya masih menunjukan usia muda, tidak dapat dipingkiri bahwa ayahnya sudah semakin tua.


“Gak, Ayah. Vinda salah karena tidak menghubungi. Malah, Vinda senang Ayah perhatian dan pedulis ama Vinda. Vinda merasa beruntung,” ucap Vinda dengan senyum tipis yang masih terlihat.


Beni yang mendengar semakin merasa bersalah. “Siapa pemuda tadi, Nak?”


Vinda berfikir. Ponselnya tertinggal di mobil Michael dan di dalam terdapat dua pria. Jadi, siapa yang mengangkatnya? Dia sendiri tidak berfikir Michael yang mengangkat karena sifat tak acuh pria tersebut kepadanya.


“Suaranya begitu arogan,” lanjut Beni dan membuat Vinda mengerutkan kening heran. Hanya Michael yang memiliki suara arogan di mobil tersebut karena dia yakin, Roy jauh lebih manusiawi.


“Itu Michael, Ayah. Jadi, Vinda datang ke rumah Tuan Adelardo karena ada masalah dengan kuliah Vinda. Mungkin karena kecapean, jadinya pingsan. Jadilah Michael yang mengantar pulang. Terus ponsel Vinda tertinggal. Itu sebabnya Vinda tidak bisa hubungi Ayah dan saat ditelfon, Michael yang mengangkat,” jelas Vinda berharap ayahnya akan paham dan tidak salah sangka, “Vinda gak pernah melakukan hal yang melanggar aturan, Ayah.”


Beni yang mendengar tersenyum lembut. Rasanya dia lega sekaligus merasa bersalah. Tangannya mengelus pipi lembut sang anak dan mengangguk yakin. Dia jauh lebih percaya dengan apa yang anaknya katakan karena dia tau, Vinda tidak akan membohonginya.


Vinda yang mendengar hanya mengangguk patuh. Dia merasa senang karena ayahnya begitu perhatian. Meski terasa sakit, dia jauh lebih merasakan kebahagiaan yang langsung menguapkan lukanya begitu saja.


Ibu, Ayah masih menyayangiku, batin Vinda begitu senang.


_____


Pagi-pagi sekali Vinda sudah bersiap. Hari ini ayahnya di rumah, jadilah dia tidak mengerjakan tugas rumah dan semua dilakukan oleh Nani, mama tirinya. Dia merasa lega karena untuk sejenak dapat beristirahat dan mencari pekerjaan lagi nantinya. Dia harus menghidupi semua keperluannya sendiri karena enggan meminta terus kepada ayahnya.


“Semangat,” ucap Vinda sembari keluar dari rumah.


Setelah sarapan dan berpamitan dengan ayahnya, Vinda memilih keluar dan langsung menuju ke halte tidak jauh dari rumahnya. Hanya butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai di halte tersebut. Tujuannya bukan kampus, melainkan café Dika. Bukan untuk meminta kembali dipekerjakan, tetapi untuk menanyakan apakah ada lowongan di tempat lain.

__ADS_1


Vinda melangkah riang menyusuri jalanan yang masih terlihat sepi. Matanya menatap penuh kebahagiaan dengan pemandangan sunyi tanpa debu yang bertebaran. Tidak ada asap yang membuat polusi udara. Ini juga masih terlalu pagi untuk seorang mahasiswi berangkat ke kampus.


Ketika Vinda masih asik dengan pikirannya dan semua yang direncakan pagi ini, sebuah mobil BMW berwarna hitam berhenti tepat didepannya. Membuat Vinda menghentikan langkah dan menatap penasaran. Siapa?


Matanya tidak lepas menatap siapa pemilik mobil yang menurutnya mengganggu tersbeut. Sampai semua pertanyaannya terjawab dengan pria yang keluar dari dalam mobil dan menatapnya ramah. Rasanya dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Roy tersenyum ke arahnya?


“Pagi, Nona. Anda butuh tumpangan?” tanya Roy dengan wajah yang sudah menyerupai manusia.


Vinda yang melihat sendiri ikut tersenyum dan menggeleng. “Tidak perlu. Aku tidak ingin menyusahkan anda lagi, Pak.”


“Roy,” sahut Roy cepat, “panggil saja Roy. Aku tidak suka dipanggil dengan sebutan, Pak. Aku belum seberapa tua, kan?”


Vinda yang mendengar hanya mengangguk mengerti. “Baiklah. Bisa kamu memanggilku Vinda saja?”


“Tentu,” ucap Roy semangat, “jadi, apa kamu mau menumpang?”


“Tidak. Aku tidak membutuhkan tumpangan, Roy. Jauh lebih baik kamu mengantar Michael agar dia tidak marah-marah lagi,” tolak Vinda langsung.


“Tuan Michael sudah berangkat ke kantor sejak dua jam yang lalu. Sekarang, aku bebas. Aku memang memiliki urusan denganmu, Vinda.”


“Aku?” Vinda menunjuk dirinya sendiri. Dia merasa tidak memiliki urusan apapun dengan Roy.


“Kamu merasa kehilangan sesuatu? Aku hanya ingin mengembalikannya,” ucap Roy sembari mengacungkan ponsel Vinda.


Vinda yang melihat langsung tertawa kecil. Dia sampai lupa jika ponselnya sejak kemarin ada di mobil Michael. Dia akhirnya mengangguk dan menerima tumpangan Roy. Namun, tujuannya berubah dan niatnya diurungkan. Dia tidak ingin jika Michael tau karena dia yakin, semua rencananya akan dikacaukan. Michael tidak akan membiarkan hidupnya tenang.


_____

__ADS_1


__ADS_2