Wedding Drama

Wedding Drama
Bagian 57_Bertanggung Jawab


__ADS_3

Alice menatap pantulan wajahnya di cermin rias dengan senyum sumringah. Sejak pagi dia sudah merasa begitu bahagia meski sebelumnya dia merasa sedikit kecewa karena Randy yang tidak bisa ditemuinya. Namun, ketika Vera menghubungi dirinya dan meminta untuk menemani Randy di pesta perusahaan Ael, di mana keluarga Randy juga memiliki saham di sana, dia benar-benar merasa senang. Semua kekesalan yang datang langsung menguap begitu saja.


“Aku sudah cantik, kan?” tanya Alice sembari meneliti make up yang sudah dipakainya.


“Anda cantik sekali, Nona,” ucap wanita di belakangnya dengan senyum sumringah.


Alice yang mendengar langsung tersenyum dan berbalik. Dia menatap penata rias yang sudah menatapnya dengan pandangan takjub. “Apa aku secantik itu? Malam ini aku akan pergi ke pesta dengan calon suamiku. Jadi, aku ingin melakukan semua yang terbaik untuknya,” kata Alice dengan mata berbinar.


Wanita tersebut langsung tersenyum dan menundukan sedikit badannya, menatap Alice semakin lekat. “Saya yakin, malam ini kekasih anda akan benar-benar takjub dan tidak akan memalingkan pandangannya. Anda benar-benar seperti seorang putri,” jawabnya dengan suara lembut yang begitu disukai Alice.


“Terima kasih,” ujarnya dengan senyum sumringah.


Wanita tersebut langsung menegakan kembali tubuhnya dan menatap Alice yang masih menatap kagum dengan hasil karyanya. Dia sendiri merasa begitu senang karena dia bisa menyalurkan hobinya untuk hal bermanfaat.


“Baiklah, Nona. Saya akan keluar. Silahkan anda bersiap untuk datang ke pesta dengan kekasih anda. Saya harap semua akan baik-baik saja dan anda selalu berbahagia.”


“Terima kasih, Marta,” sahut Alice yang menatap Marta-penata riasnya keluar ruangan.


Dia masih menatap wajahnay dengan kagum. “Pasti nanti Randy terpesona sama aku,” ucap Alice cekikikan.


Alice mengambil ponsel yang ada di dekatnya dan menekan salah satu nomor yang diberikan nama ‘beloved’. Dia memandang foto Randy yang begitu dikagumi. Dulu dia memang menganggap pria di tersebut hanya sebagai sahabat karena sifat nyaman dan baiknya seorang Randy. Alice bahkan tidak sadar mengapa dulu dia bisa berpacaran dengan Michael dari pada dengan Randy. Namun, dia mengabaikan masa lalu yang tida lagi penting untuknya. Jemarinya langsung menekan tombil hijau dan mulai memanggil Randy dan tidak lama kemudian, paggilannya tersambung.


“Halo, Alice,” sapa Randy dari seberang telfon.


Bukannya menjawab, dia malah diam dan menutup mulutnya rapat. Saat ini Alice hanya ingin tertawa. Bahkan hanya mendengar suaranya saja sudah membuat hidupnya teras begitu sempurna. Hatinya berbunga dengan sendirinya.


“Alice, kamu di sana? Jika tidak aku akan mematikan telfonnya,” ucap Randy santai.


“Jangan,” sahut Alice cepat. Bibirnya sudah manyun dan kesal dengan tingkah Randy yang jauh dari kata romantis. Padahal dia ingin sekali Randy berusaha membujuknya untuk berbicara dan berkata manis. Sejak pertunangannya dilakukan, dia merasa ada yang salah dengan pria-nya. Randy tidak sehangat dulu, meski masih terasa begitu baik.


“Kalau kamu ada di situ kenapa diam aja? Kamu lagi sakit?” ujar Randy membuat Alice semakin kesal.


“Aku berharap kamu bsia bertingkah manis dan membujukku untuk berbicara. Ini malah diancam mau dimatikan panggilannya,” ungkap Alice dengan nada kesal.


Terdengar helaan napas dari arah Randy dan itu membuat Alice semakin memberengutkan bibir kesal. Kenapa sejak pertunangan, Randy tampak begitu berubah? Apa dia sudah tidak mencintaiku lagi?, batin Alice mulai takut.


“Alice, aku tidak ada waktu untuk bercanda seperti ini. Aku ada banyak pasien di rumah sakit,” keluh Randy dengan nada yang tampak menunjukan bebannya.


“Baiklah, maaf. Aku hanya ingin menanyakan jam berapa kamu akan menjemputku?” tanay Alice dengan suara lirih dan menahan kekesalannya.


“Maaf untuk itu, Alice. Aku ada sedikit urusan di rumah sakit. Jadi, bisa kamu berangkat sendiri? Kita akan bertemu di sana. Aku takut nanti kalau kamu menungguku malah akan terlambat,” jelas Randy membuat Alice semakin menundukan wajah sedih.


“Baiklah,” jawabnya dan langssung mematikan panggilannya. Alice menghela napas panjang dan menatap pantulan wajahnya di cermin.


“Padahal aku dandan secantik ini untuk kamu, tetapi kamu malah gak ada bisa jemput,” gumamnya dengan wajah lesu. Dia berharap Randy akan datang dan membawanya masuk ke dalam gedung tersebut. Membuat seisi ruangan menatap ke arah mereka dan memperkenalkannya sebagai kekasih, bukan lagi sahabat.


Kenapa kamu terasa begitu berubah, Randy, batin Alice dengan mata terpejam erat. Padahal sebelum mereka bertunangan, Randy selalu menjemputnya dan membawanya masuk ke dalam bersama. Namun, sekarang rasanya dia benar-benar berubah dan itu membuat Alice merasa kehilangan.


_____


“Ma, ngapain sih kita ke sini?” tanya Rensi yang sudah berada di sebuah rumah sakit. Awalnya dia hanya mengikuti saran mamanya dan berharap akan mendapatkan solusi untuk masalah kehamilannya. Setidaknya dia bisa mendapatkan dokter yang mampu membantunya menghilangkan janin dalam rahimnya.


“Diamlah, Rensi. Kita harus mengecek kondisi kandunganmu,” ujar Nani dengan mata yang masih menatap santai.


“Untuk apa?” tanya Rensi dengan kening berkerut bingung. Dia bahkan tidak mengharapkan kehadirannya di dunia.


“Untuk memberitahukan kepada calon ayahnya agar dia mau bertanggung jawab,” jelas Nani masih dengan wajah sumringah.


“Apa?” teriak Rensi membuat beberapa pasang mata menatap ke arahnya. Rensi yang sadar menjadi bahan tontonan langsung tersenyum canggung dan mendekati mamanya. “Aku bahkan lupa siapa ayahnya, Ma. Jadi, bagaimana bisa aku memberitahukan kehadirannya kepada pria itu?” bisik Rensi sembari menatap beberapa orang yang masih memandangnya dengan tatapan aneh.


Nani yang mendengar terseyum manis dan menatap anaknya dengan menampilkan senyum setan. “Apa kamu lupa siapa mamamu ini, Rensi? Mama memiliki ribuan cara untuk mendapatkan apa yang harusnya di dapatkan,” desisnya dengan pandangan yang sulit diartikan.


Rensi awalnya hanya diam dan mencerna ucapan mamanya. Dia bahkan lupa seberapa liciknya wanita yang duudk di sebelahnya saat ini. Rasanya selama ini mamanya sulit untuk mengerti jalan pikiran mamanya. Namun, satu menit kemudian, dia tersenyum senang dan menatap mamanya dengan pandangan yang sama dengan Nani.


“Mengerti apa maksud Mama?” tanya Nani mencoba memastikan.


“Tentu. Lalu kapan kita akan menemuinya?” ujar Rensi antusias.


“Malam ini,” sahut Nani bersemangat, “malam ini kita akan melakukannya. Ada pesta di aula kantor Michael dan mama yakin, ada banyak media yang meliput. Jadi, kamu akan dengan mudah membuatnya mengakui kesalahan yang tidak dilakukannya.”


“Mama memang paling hebat,” puji Rensi dengan wajah berbinar riang.


Nani dan Rensi hanya tersenyum penuh makna, sampai sebuah panggilan dari ruang dokter tersebut membuatnya terhenti. Akhirnya dia masuk ke dalam dan melakukan pemeriksaan kandungan. Mereka tidak sadar, ada mata lain yang sejak tadi menatap mereka dan mendengar semua percakapan dengan begitu jelas.


_____

__ADS_1


“Baiklah.”


Randy mendesah kesal dengan mata memejam sempurna. Dia merasa kali ini pikirannya benar-benar dalam keadaan kacau. Mencari tahu di mana Rika berada. Sedangkan di lain sisi, dia merasa kasihan dengan Alice yang notabennya adalah tunangannya saat ini. Rasanya dia benar-benar berada di dalam kubangan lumpur yang semakin menyeretnya untuk masuk dan mati di dalamnya.


“Ini gimana?” tanyanya kepada diri sendiri.


Randy mendesah kesal dan bangkit dari sofa dna duduk dengan mata menatap malas. Padahal dia hanya ingin bersantai di rumah atau malah pergi untuk mencari keberadaan Rika. Namun, pesta perusahaan Michael juga dilakukan di hari yang sama. Dia tidak mungkin menghindar karena keluarga besarnya ada di sana. Tidak mungkin juga dia mengatakan sakit atau sebagainya karena mereka semua akan datang ke rumah dan menyerbu dirinya.


“Kenapa malah runyam gini sih jadinya?” ujar Randy yang langsung bangkit dan melangkah ke dalam kamar. Dia butuh mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar menjadi lebih jernih dan bisa memikirkan langkah apa yang akan diambilnya nanti.


“Dia bahkan pergi meninggalkanku, kenapa aku harus pusing memikirkannya? Akan lebih baik jika aku melupakan semuanya dan menjalani hidup bersama dengan Alice. Mungkin itu yang diinginkan Rika ke depannya. Dia ingin benar-benar berpisah,” ucap Randy bermonolog dan menggeram kesal. Andai saja Rika ada di dekatnya, dia akan benar-benar menanyakan semuanya dan tidak membiarkannya pergi sebelum semua masalahnya menjadi jelas.


Randy melupakan sejenak mengenai Rika dan kembali memikrikan Alice. Bagaimana pun dia harus memukirkan gadis yang sudah menjadi tunangannya kali ini. Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Rika?, tanyanya dalam hati.


_____


Suasana di aula perusahaan tampak begitu ramai. Seluruh rekan bisnis dan semua teman diundang dalam acara kali ini. Acara akbar yang dilakukan satu tahun satu kali. Seluruh karyawan dari semua cabang bahkan sudah berkumpul sejak puku lima sore. Sedangkan media yang menyiarkan acara tersebut sudah datang sejak pukul empat sore. Michael memang membiarkan media meliput semua acaranya tersebut.


Michael baru saja datang bersama dengan Vinda yang sudah berdandan begitu cantik. Pakaian senada yang membuat mereka tampak begitu serasi. Michael bahkan sudah menggandeng tangan Vinda dan menatap dengan pandangan memuja. Berbeda dengan Vinda yang tampak begitu gugup karena ini adalah pertama kalinya dia datang. Biasanya dia hanya membaca beritanya di koran yang beredar keesokan harinya.


“Kamu kenapa, sayang?” tanya Michael karena tangan Vinda sudah benar-bena dingin da berkeringat.


“Aku takut, Ael. Aku malu. Ini pertama kalinya aku datang ke acara besar seperti sekarang,” ucap Vinda dengan wajah cemas.


Michael yang mendengar langsung tersenyum dan mengeratkan genggaman tanganya. “Tenanglah, di dalam bukan kandang macam yang akan memangsamu. Jadi, tdiak perlu takut. Ada aku di sini.”


Vinda yang mendengar tersenyum dan melangkah mengikuti Michael. Namun, baru lima anak tangga, Michael melepaskan genggamannya. Di ujung gedung, Roy seperti memberikan intruksi kepada suaminya dan langsung dituruti Michael. Vinda yang menunggu hanya menatap bingung ketika Roy memberikan ponselnya dan Micahel yang memandang dengan wajah serius. Ada apa sebenarnya?, pikir Vinda takut ada masalah dalam acara tersebut.


Vinda masih berkutat dengan pikirannya ketika sebuah suara memanggilnya dari belakang, membuat Vinda langsung berbalik dan menatap pria dengan pakaian serba hitam berdiri di belakangya. Membuat Vinda merasa tidak nyaman karena senyum yang masih ditunjukannya.


“Selamat malam, Nyonya Michael. Senang bisa bertemu dengan anda,” sapa pria yang saat ini berada di depannya.


“Kamu siapa?” tanya Vinda dengan mata menajam. Dia akan kabur jika pria tersebut berbuat macam-macam.


“Perkenalkan, nama saya Samuel. Anda bisa memanggil saya Sam,” jelas Sam yang sudah ada menatapnay dengan senyum ramah, tetapi diartikan lain oleh Vinda.


Vinda baru akan pergi, tetapi sebuah tangan sudah menarik pinggangnya. Vinda yang awalnya ingin berteriak langsung mengurungkan niatnya karena Michael yang melakukannya. Dia takut jika pria lain yang menyentuhnya.


“Apa kabar, Sam? Aku senang akhirnya kamu datang,” sapa Michael dengan wajah serius.


“Baik, Micahel. Aku senang bisa datang dan melihat istrimu yang begitu cantik,” celetuk Sam dengan senyum yang masih belum juga luntur.


Sam yang mendengar hanya tertawa kecil dan menatap Michael dengan tawa yang masih tersisa. “Santailah, Michael. Aku hanya bercanda dan ingin menunjukan rumor kantor yang mengatakan bahwa kamu begitu mencintai istrimu. Ternyata itu semua benar dan aku senang melihat kalian akur.”


“Tentu saja, dia istriku dan aku begitu mencintainya,” sahut Michael santai dan langsung mengecup pelan kening Vinda, membuat wanita tersebut langsung bersemu malu. Michael sudah menatap Sam yang hanya menatapnya lekat. “Nikmatilah pesta ini, Sam. Aku harap kamu bisa menemukan pendampingmu di sini.”


Sam hanya mengangguk dengan senyum yang masih mengembang.


“Baiklah, Tuan Micahel. Aku akan masuk dan mencari pasanganku,” ucap Sam dan langsung masuk ke dalam.


Michael yang melihat hanya berdecak heran. Itu orang yang begitu dipercaya papanya? Dia bahkan tidak yakin jika Sam bisa menembak dengan benar karena sifatnya yang tidak bisa ditebak sama sekali. Lalu, dia menatap Vinda yang masih memandangnya dengan mata mengawasinya.


“Ada apa, sayang?” tanya Michael penasaran karena istrinya tetap menatapnya lekat.


“Roy kenapa? Apa ada masalah?” tanya Vinda penasaran.


Michael yang mendengar langsung tersenyum dan menggeleng. “Dia hanya melaporkan masalah keamaan di sini. Tenang saja, tidak ada masalah sama sekali.”


Vinda yang mendengar langsung bernapas lega dan memeluk lengan Michael erat. Michael hanya diam dan langsung mengajaknya masuk ke dalam gedung tersebut. Tangannya juga menggenggam jemari Vinda erat. Dia takut jika kehilangan wanitanya lagi.


“Sayang, apa pun yang orang lain katakan, tolong tetaplah percaya padaku. Aku begitu mencintaimu. Jadi, jangan percaya siapa pun selain aku,” kata Michael membuat Vinda menatapnya curiga. Namun, dia mengabaikannya dan memilih mengangguk. Dia bahkan tidak berniat untuk meragukan cinta yang sudah diberikan Michael kepadanya selama ini.


_____


Acara begitu ramai ketika sudah memasuki acara resmi. Michael sudah berdiri di depan dan mengatakan pidato kecil yang sudah disiapkan. Matanya menatap ke arah pintu masuk dan berpaling menatap ke arah Vinda yang sudah berdiri diantara kedua orang tuanya. Dia benar-benar bahagia melihat semuanya akur. Michael tersenyum dan menatapVinda lekat.


Vinda merasa jantungnya akan lepas ketika namanya dipanggil Michael untuk maju ke depan. Setelah memberanikan diri untuk maju, kakinya segera melangkah pasti. Michael yang melihat langsung tersenyum senang. Micahel segera melangkah mendekati Vinda yang sudah siap menaiki tangga. Seperti adegan di film kerajaan, Michael mengulurkan tangan dan membantu Vinda naik. Membuat seisi ruangan menatap antusias kepada keduanya.


Vinda hanya diam ketika dia sudah sampai di hadapan semua orang dan mendaptakan banyak sekali tatapan. Mulai dari mengejek, memuja dan bahkan bisikan yang dia yakin semua ditunjukan kepadanya.


“Perhatian, semua,” ucap Michael membuyarkan obrolan seluruh tamu mengenai istrinya, “di sini saya ingin memperkenalkan seorang wanita yang begitu saya cintai. Seorang wanita yang dengan sabar menghadapi segala tingkah saya. Seorang wanita kuat yang bahkan rela mengorbankan nyawa hanya untuk menyelematakan saya. Seorang wanita yang saat ini menjadi Nyonya Micahel,” lanjut Michael dan menarik pinggang Vinda agar semakin mendekat.


“Dia adalah istriku. Istri yang begitu aku cintai,” ucap Michael dan melepaskan dekapannya. Matanya menatap manik mata Vinda yang sudah memandang dengan wajah kagum. “Malam ini, aku ingin memperkenalkanmu kepada seluruh dunia kalau kamu adalah istriku. Apa pun yang terjadi, kamu akan tetap menjadi istriku. Jadi, aku mohon jangan pernah pergi dariku apa pun masalahnya. Aku begitu mencintaimu.”


Vinda yang mendengar langsung diam dan menatap Michael lekat. Michael juga melakukan hal yang sama, tetapi terkadang matanya melirik ke arah pintu masuk, seakan menunggu seseorang untuk masuk ke dalam ruangan. Ketika Roy dari balik pintu memberikan kode yang sudah disepakati, Michael langsung tersenyum sinis dan kembali menatap Vinda.

__ADS_1


“Apa pun akhirnya, aku mau kamu tetap bersamaku. Apa pun, Vinda,” tegas Michael dengan senyum manis.


Vinda hanya terseyum dan mengangguk mengiyakan. Michael yang sudah melihat dua orang tengah melangkah dengan rahang mengeras langsung menjentikan jarinya, menyuruh Roy menyelesaikan semuanya. Sampai pada akhirnya, dua orang tersebut benar-benar diseret dan hilang dari kerumunan. Michael kembali menyerahkan acara kepada pembawa acara dan membebaskan seluruh tamu untuk menikmati hidangan.


_____


“Lepaskan!” bentak Rensi yang sudah di bawa ke sebuah ruang kerja Michael. Dia menatap Roy yang menjadi dalangnya dengan tatapan kesal. Nani yang juga menjadi korban langsung menggeram kesal dan menatap Roy dengan tatapan sinis.


“Apa yang ingin anda lakukan di pesta tersebut?” tanya Roy dengan tatapan datar dan suara dingin.


Rensi yang mendapat pertanyaan hanya tersenyum merendahkan dan menatap Roy dengan pandangan mengejek. “Apa yang akan aku lakukan bukanlah urusanmu, Roy. Jadi berhentilah untuk ikut campur. Kamu hanya bawahan Micahel dan tidak perlu tahu apa yang akan aku lakukan,” jawab Rensi dengan senyum sinis.


“Jelas itu ada urusannya dengan Roy, Rensi,” jawab seseorang dari arah belakang.


Rensi yang melihat Micahel sudah datang dengan aura dingin langsung tersenyum senang dan menatap antusias. Berbeda dengan Nani yang begitu tegang dan mempersiapkan diri untuk menghadapi seorang Michael.


“Asal kamu tahu, Rensi, Roy adalah orang kepercayaanku dan siapa pun yang merendahkannya, dia akan bermasalah denganku,” ujar Michael dengan tatapa tidak suka.


“Jadi, apa keperluanmu datang ke sini? Aku rasa aku tidak mengundangmu sama sekali,” tanya Michael dengan suara sinis.


“Tetapi kamu mengundangku, Michael,” sahut Nani yang sudah menatap Michael dengan senyum sumringah, “apa aku juga tidak diperbolehkan datang?”


“Ah, Ibu mertua,” celetuk Micahel dengan wajah seolah lupa dengan kehadiran wanita di sebelah Rensi.


“Maaf aku melupakan anda. Saya pikir hanya ayah mertua yang datang.”


“Aku memang tidak datang bersama dengan suamiku. Aku memiliki urusan lain denganmu,” ucap Nani mulai serius.


“Oh, baiklah. Apa yang ingin anda katakan, ibu mertua?” tanya Micahel dengan wajah mengamati.


Nani yang mendengar langsung merogoh tasnya dan memberikan amplop dengan nama rumah sakit di bagian depan. Dia segera memberikannya kepada Michael dan melihat pria tersebut membaca dengan seksama.


Michael yang sudah selesai langsung menatap keduanya dengan wajah yang masih tampak begitu tenang. “Kamu hamil, Rensi?” tanyanya dengan wajah datar, “bukannya kamu belum menikah? Lalu siapa yang menjadi ayah dari anakmu?”


“Kamu,” jawab Nani dengan santai.


“Aku?” ulang Michael dan langsung tertawa keras. Matanya menatap ke arah Rensi dan Nani dengan seksama dan pandangan mengejek. “Aku bahkan tidak menyentuhnya sama sekali, ibu mertua. Apa kalian berusaha menjebakku kali ini?” tanya Michael tepat sasaran.


“Kamu mabuk saat melakukannya. Aku baru mengatakan karena aku pikir tidak akan mengandung anakmu,” jelas Rensi dengan air mata yang berlinang.


Michael menghela napas kasar dan menatap keduanya menyelidik. “Apa benar yang kalian katakan? Apa itu adalah anakku?” tanyanya dengan antusias.


“Iya dan aku mau kamu bertanggung jawab. Nikahi Rensi, Ael,” ujar Nani dengan pandangan menajam. Meski begitu, hatinya benar-benar menciut dan merasakan ketakutan.


Michael hanya diam ketika melihat keduanya kekeh dengan pendapat yang mereka lontarkan. Matanya melirik ke arah Roy yang juga memadang ke arahnya dan tersenyum sinis. Dia kembali menatap dua orang yang tengah melakukan drama konyol di hadapannya.


“Baiklah. Aku akan bertanggung jawab untuk semua yang terjadi,” jawab Michael santai.


Rensi dan Nani yang mendengar langsung tersenyum senang. Nani bahkan berpikir bahwa ternyata Michael tidak sepandai rumornya. Bahkan, dia percaya dengan bualan yang baru saja dibuatnya. Rasanya dia menyesal telah membuat rencana dengan begitu matang, tetapi tidak dapat digunakan. Dia berpikir, Michael akan menolak keras apa yang dikatakannya. Jadi, Nani membuat rencana lain dengan mengganti foto Dave dengan fotonya.


“Michael, kamu yakin di....” Dave yang saat itu ada di dekatnya juga mulai angkat bicara. Dia sejak tadi diam dan melihat drama murahan yang dibuat oleh Rensi dan Nani. Namun, belum juga selesai bicara, Michael sudah mengangkat tangan dan mengintrusikan agar Dave diam.


Michael langsung menatap tajam ke arah Rensi dan Nani dengan tatapan yang sulit diartikan. Randy yang ada di sana juga langsung mengangguk memberikan tanda kepada Michael dan langsung dimengerti.


“Baiklah, Rensi. Berapa usia kandunganmu saat ini?” tanya Michael dingin.


“Empat minggu,” jawab Rensi polos.


Michael menatap Randy dan tersenyum miring. “Baiklah, kapan kita akan memeriksakan kandungan anak kita? Aku sudah tidak sabar untuk melihatnya,” ucap Michael dengan senyum mengerikan, “dan aku harap kamu tidak sedang bermain denganku. Karena jika itu terjadi, kamu akan mengerti sendiri konsekuensinya.”


“Michael.”


Panggilan lirih tersebut membuat Michael diam sejenak dan membalikan tubuh. Di belakang sudah ada Vinda yang menatapnya dengan mata membelalak. Bahkan, ada genangan air mata yang terbentuk di pelupuk matanya. Michael sendiri hanya diam dan tidak melakukan apa pun. Dia hanya memandang istrinya dengan lekat.


Kali ini, Vinda. Percaya padaku, batin Michael berteriak.


_____


🍁🍁🍁🍁🍁


Eitz..eitz..jangan marah dulu sayang. Masih ada penjelasan dengan sikap Micahel kali ini. Tenang..tenang. Kalau kata orang bener, KARMA ITU SELALU ADA.


Kim mau minta pendapat nih, kalau crazy up tetapi tetap update harian, Kim rasa Kim gak akan kuat. Jadi, untuk beberapa hari, Kim gak update dulu untuk menambah bab yang mau Kim upload nantinya. Atau Kim upload setiap hari dua bab sekaligus. Kasih jawaban ya.


Sembari menunggu kembali update, kalian bisa mampir ke cerita baru aku ya sayang. Judulnya ‘Wedding with my lecturer’. Jangan lupa tinggalkan like, comment dan tambah ke favorit.

__ADS_1


Selamat membaca .


🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2