Wedding Drama

Wedding Drama
Bagian 33_Pencarian


__ADS_3

“Vinda, kamu di mana?”


Michael masih mengelilingi jalanan, mencari keberadaan Vinda. Dia sudah menyuruh anak buahnya untuk mengawasi rumah Dave dan ternyata memang tidak ada penghuni rumah tersebut sejak penangkapan Wijaya beberapa waktu lalu. Seluruh anggotanya sudah dikerahkan untuk mencari keberadaan Vinda.


Michael menggeram kesal dan memukul setirnya keras. Rasanya dia sudah benar-benar diambang keputusasaan karena tidak mendapat kepastian di mana Vinda berada saat ini. Penyesalannya semakin dalam mengingat dirinya dengan setengah hati berusaha menolong Vinda.


Michael melirik jam tangan yang menunjukan pukul tiga dini hari. Sudah hampir delapan jam dia mencari di seluruh jalanan dan menyusuri kembali ke tempat ke jadian. Dia berharap ada petunjuk yang mempermudah pencariannya. Namun, pencariannya nihil dan tidak ada apa pun yang ditinggalkan di bangunan tua tersebut. Kini, rasanya Michael benar-benar kehilangan arah.


“Arrgghh,” geram Michael sembari mengacak rambutnya hingga tak beraturan. Helaan napas terdengar dan Michael langsung menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi. Matanya memejam. Sejenak. Dia hanya ingin mengistrahatkan tubuhnya sejenak.


*Kamu janji akan menjemputku kalau sudah besar?


Aku janji. Saat aku sudah besar, aku akan menjemputmu dan aku akan menggantikanmu sebagai malaikat. Aku akan menjagamu*.


Baru sejenak dia memejamkan mata, ingatannya kembali berputar di masa saat itu, di mana dia menjanjikan sebuah kebahagiaan kepada malaikatnya. Namun, sayangnya dia salah dan malah menjadikan Vinda begitu sengsara bersamanya.


“Vinda, aku harus mencarimu ke mana lagi?” ujar Michael dengan nada frustasi. Dia bahkan mengabaikan rasa lelah yang sudah sejak tadi dirasakannya. Dia hanya ingin mencari Vinda secepatnya. Dia takut Dave akan menyakiti Vinda.


Michael mengambil ponselnya dan menekan nomor Vinda, tetapi hasilnya masih sama, suara operator. Sudah berulang kali dia mencoba menghubungi, tetapi hasilnya masih saja sama. Setelah itu, dia beralih menekan nomor Roy.


“Halo, Roy. Bagaimana hasilnya? Kamu sudah mendapatkan kabar di mana Dave menyekap Vinda?” tanya Michael setelah terhubung.


“Maaf, Tuan. Saya belum menemukan kabar di mana Dave membawa Nyonya Vinda,” jawab Roy di seberang.


“Bagaimana dengan yang lain?”


“Mereka juga belum menemukan di mana keberadaan Nyonya.”


“Baik. Secepatnya cari tahu keberadaan Vinda,” perintah Michael tegas. Michael langusng mematikan panggilan dan segera melajukan kembali mobilnya. Dia harus mencari cara lain untuk mengetahui keberadaan Vinda secepatnya. Dia tidak bisa membiarkan Vinda terluka lagi karenanya.


Aku akan segera menyelamatkanmu, Vinda.


_____


Rensi duduk di ranjang rumah sakit. Matanya menatap pemandangan di luar jendela dengan mata yang masih menatap lekat dan tidak berpaling sama sekali. Dia memikirkan begitu banyak hal yang menurutnya membingungkan. Dia yang menuruti ego dan mencampakan Michael hanya karena gosip di luaran, tetapi nyatanya seseorang yang selama ini dijadikan kekasihnya malah bertingkah kasar kepadanya. Rensi bahkan tidak menyangka jika Dave mampu menyakitinya.


Bukan dia yang menjadikan keluarga Dave dalam masalah. Semua memang salah Dave dan dia hanya mencoba mengatakan keinginnya yang ternyata di setujui. Rensi mencoba menyangkal semua tuduhan yang dilontarkan kepadanya dan di jadikan alasan untuk Dave melukai dan menyiksanya.


Rensi mendengus kesal dan menatap ke luar jendela. “Emang dasar dia aja yang bodoh. Harusnya dia sudah tau konsekuensinya dong,” gerutu Rensi sembari menunjukan wajah tanpa dosanya.

__ADS_1


Lamunan Rensi dibuyarkan dengan suara pintu terbuka. Dia langsung menatap ke asal suara dan melihat mamanya tengah menatapnya dengan pandangan lembut dan senyum sumringah. Tumben, pikirnya dalam hati.


Nani melangkah memasuki ruangan anaknya dan meletakan rantang berisi makanan dan juga bingkisan buah yang langsung diletakan di meja kecil sebelah ranjang. Dia menarik kursi kecil dan menatap anaknya lembut.


“Kamu sudah mendingan?” tanyanya dengan senyum sumringah.


Rensi mengangguk malas. Dia masih enggan menatap mamanya. Rasanya masih menyakitkan ketika dirinya dipaksa menikah dengan Michael. Namun, melihat pengorbanan pria tersebut dalam menyelamatkannya, Rensi merasa sedikit luluh dan berpikir kembali untuk bersama dengan Michael. Dia yakin, masih ada perasaan yang jelas hanya untuknya.


“Rensi, sebenarnya Mama ingin marah sama kamu,” ucap Nani memecahkan keheningan, “kamu lari dari pernikahan dan malah pergi dengan pria lain. Kamu membuat keluarga kita dalam masalah dan lebih bodohnya kamu, kamu membiarkan Vinda yang menjadi pengantin pria kaya itu. Kamu benar-benar keterlaluan, Rensi.”


Rensi yang mendengar menatap mamanya datar dan menghela napas keras. “Ma, Rensi itu gak mau jadi istri Michael. Dia itu emang kaya, tetapi Mama tahu, kan, seperti apa dia dikenal. Dia itu pria kasar dan juga gak punya hati.”


“Gak punya hati kamu bilang? Kamu gak mikir siapa yang nolong kamu lepas dari penyekapan Dave?” tanya Nani dengan wajah kesal karena anaknya masih bertingkah menyebalkan, “dia yang menyelamatkanmu.”


“Ya itu urusan dia,” jawab Rensi santai. Dia masih enggan mengakui bahwa Michael memiliki sikap baik dan juga lebih bertanggung jawab. Dia bahkan rela mengorbankan diri hanya untuk menyelamatkannya, tanpa peduli jika nantinya terluka.


Nani menghela naps panjang dan menatap Rensi dengan tatapan tajam. “Mama gak mau tahu. Kali ini kamu harus menikah dengan Michael. Mau atau tidak. Mama gak mau kalau nantinya Vinda yang akan menjadi Nyonya Michael.”


“Tetapi dia sudah menjadi Nyonya Michael, Mama,” ucap Rensi menyadarkan.


Nani yang mendengar tersenyum pelan dan menatap Rensi dengan pandangan misterius. “Mereka hanya akan menjadi pasangan suami istri sampai nanti kamu kembali. Jadi, sekarang dia harus mengurus surat cerai dan menikahmu, kan?” ujarnya dengan nada ditekan dan suara yang menajam.


Nani yang mengerti maksud anaknya langsung mengangguk dengan wajah penuh kemenangan. “Mereka hanya menikah kontrak dan tidak ada kesepakatan untuk hidup bersama selamanya. Jadi, Michael memang selalu mencintaimu."


Rensi yang mendengar tersenyum senang. Jadi, sedalam itu Michael mencintainya? Rasanya kali ini dia benar-benar berada di atas awan. Namun, sekejap kemudian dia menatap mamanya dengan wajah panik. “Tetapi, Ma. Vinda tengah dibawa Dave. Bagaimana dia bisa bercerai dengan Michael nantinya?”


“Itu akan jauh lebih bagus,” celetuk Nani dengan senyum setan, “jika Vinda bersama Dave, kita bisa memintanya untuk menghabisi Vinda. Jadi, tidak perlu ada perceraian nantinya. Michael akan bisa menikahimu tanpa kamu dituduh oleh media sebagai perusak hubungan diantara mereka.”


“Rencana bagus.” Rensi setuju dan langsung tersenyum senang. Matanya menatap lurus ke depan dengan wajah angkuh.


Sekarang, aku yang akan menjadi Nyonya Michael, Vinda. Peranmu cukup sampai di sini.


_____


Dave membuka pintu kamar Vinda perlahan. Pandangannya hanya disuguhkan dengan ruangan gelap tanpa penerangan. Vinda tidak menghidupkan lampu sejak kemarin malam. Dave langsung meraih saklar di sebelah pintu dan menghidupkan lampu kamar tersebut. Pandangan pertama yang dilihatnya adalah seorang wanita yang tengah duduk di sofa dekat jendela dengan mata yang tak menunjukan kehidupan sama sekali.


“Vinda, aku rasa kamu belum memakan makananmu sejak semalam,” ucap Dave yang saat itu tengah meletakan nampan berisi makanan dan minuman. Tetapi, matanya menangkap piring lain yang masih diisi dengan makanan yang tak tersentuh sekali pun.


Vinda yang ditegur hanya menatap Dave dengan pandangan kosong. Dia sudah tidak memiliki alasan untuk hidup sama sekali. Ayahnya yang semakin jauh darinya. Michael yang ditunggu ternyata sudah berpaling tidak menginginkannya. Sedangkan ibunya, wanita yang selalu memeluknya dengan erat itu sudah pergi meninggalkannya. Lalu, apalagi alasan untuknya hidup saat ini?

__ADS_1


“Vinda, aku rasa kamu harus makan sebelum nantinya sakit. Aku tidak mau repot....”


“Tidak perlu,” potong Vinda cepat, “kamu tidak perlu mengurusku ketika aku sakit, Dave. Ini adalah pilihanku dan kamu tidak perlu bertanggung jawab untuk itu.”


Dave yang mendengar hanya diam dan menggeram marah. Sejak semalan Vinda bertingkah seenaknya saja tanpa memikirkan hidupnya sendiri. Dave tahu, dia memang sengaja mengurung Vinda untuk keselamatan hidupnya. Dia sadar, dia masih memiliki dendam karena Vinda telah menggagalkan rencananya. Namun, membuat Vinda mati dengan perlahan bukanlah tujuannya. Jika itu yang terjadi, Dave rasa dia yang akan hancur dan bukan Michael.


Dave melangkah mendekati Vinda yang masih duduk di sofa sembari memeluk kakinya. Kepalanya di sandarkan di punggung sofa lemah. “Kamu mau mati sekarang?” tanyanya dengan tangan dimasukan ke dalam kantong.


Vinda yang mendengar pertanyaan Dave mendongak dengan senyum tipis yang masih ketara. “Memangnya kamu mau melakukannya untukku?”


Dave menghela napas perlahan dan menatap Vinda melembut. “Kamu yakin akan mati dan membiarkan Michael menanggung beban sendiri? Aku memang jahat karena berniat membalas dendam untuk segala kekacauan yang telah Michael perbuat. Tetapi, aku tidak cukup hati untuk melenyapkan kamu yang tidak bersalah dalam hal ini. Itu sebabnya aku hanya akan menjadikanmu jaminan agar proses diskusiku dengan Michael berjalan dengan lancar,” jelas Dave sembari mengamati wajah Vinda lekat.


Vinda hanya mengulas senyum dan membalas tatapan dari Dave. “Kamu tidak akan pernah mendapatkannya, Dave.”


“Kenapa?”


“Karena bukan aku yang diharapkan olehnya. Jadi, percuma kamu menjadikanku sebagai jaminanmu,” celetuk Vinda sembari menertawakan perbuatan Dave. Dia menjadikannya sebagai alasan agar Michael tidak menyakitinya? Konyol. Bahkan Vinda berani bertaruh, jika Michael akan dengan tega membiarkannya mati di tangan Dave.


“Kamu yakin, Vinda?” tanya Dave dengan sebelah alis terangkat, “aku rasa kamu salah.”


Vinda hanya diam dan tak menjawab apa pun ucapan Dave. Dia juga tak berniat membalas dan bahkan lebih memilih untuk membuang muka. Dia kembali menatap hamparan pepohonan yang terbentang di depannya. Sepanjang mata memandang, dia hanya melihat pepohonan besar yang ada di depan kamarnya.


“Vinda, aku rasa kamu harus mulai menyadari apa yang ada di hadapanmu. Kamu tahu, Vinda? Aku merasa Michael mencintaimu.”


Ucapan Dave seakan menusuk hatinya semakin dalam. Vinda memejamkan matanya erat dan menghela napas panjang. Tangannya menggenggam tirai di hadapannya dengan erat. Ketika terdengar suara pintu terkunci, Vinda menatap pintu tersebut dengan pilu.


“Andai semua itu benar, Dave. Tetapi, sayangnya semua itu salah. Kamu salah mengira bahwa Michael mencintaiku,” gumamnya dengan mata yang sudah berlinang. Vinda mengabaikan wajahnya yang sudah tampak begitu kacau. Matanya bahkan sudah membengkak karena beberapa hari ini dia menangis terus-menerus. Menangis menaratapi kebodohannya yang terlalu nyaman dan menjatuhkan hatinya kepada Michael, seutuhnya.


Ibu, Vinda ingin bersamamu, pintanya dan langsung memejamkan matanya. Tubuhnya terasa lelah menjalani kehidupan yang seakan tak berpihak padanya. Takdir yang seolah mempermainkan.


_____


🍁🍁🍁🍁🍁


Loha..selamat menjalani hari minggu. Buat yang jomlo, jangan sedih ya. Karena minggu gak harus dijalani dengan pacar kok. 😊😊


Selamat membaca. Jangan lupa klik favorit, like dan comment ya sayang-sayangkuh.


Jangan lupa bahagia 😚😚😚😚

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2