
“Rensi? Ada urusan apa kamu datang ke rumahku.”
Michael yang mendengar keributan di ruang depan langsung mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar. Tadinya, dia berpikir ingin kembali ke kamar dan berusaha mengistirahatkan pikiran. Sayangnya, semua sia-sia karena suara gaduh yang terdengar jelas. Akhirnya, dia memutuskan untuk ke ruang depan dan menatap Rensi yang juga tengah menatap Roy dengan garang. Kenapa lagi dengan mereka, keluh Michael sembari memijat pelipisnya pelan.
“Ada yang kamu butuhkan?” tanya Michael sembari melangkah mendekati keduanya. Dia masih saja memasang wajah datar. Tidak ada pandangan penuh cinta yang pernah ditunjukannya seperti dahulu.
Rensi menelan ludahnya kasar dan tersenyum ragu. Dia masih takut jika ucapannya didengar oleh pria di hadapannya karena Michael bahkan tak seramah dulu lagi.
Michael menatap Roy yang berada di samping Rensi dengan wajah menunduk. “Roy, ada yang kamu butuhkan lagi? Apa kamu sudah tidak ada kerjaan?”
“Tidak, Tuan. Saya permisi,” ucapnya sembari meninggalkan ruangan yang menyisakan Michael dan Rensi yang hanya membisu.
Michael menatap Rensi yang hanya diam dan menundukan kepala. Dia sendiri tidak berniat menanyakan apa pun kepada gadis di hadapannya. Perasaannya masih sulit untuk percaya bahwa Rensi yang berniat menghilang darinya. Dia berpikir, Rensi akan menerimanya dan tidak akan mengecewakan. Setidaknya, jika dia menolak akan jauh lebih baik ketimbang menerima, dari pada menghilang dan mempermalukannya.
Rensi menghela napas panjang dan mendongakan kepalanya. Dia tidak tahan dengan keheningan yang diciptakan pria di hadapannya. Michael bahkan hanya berdiri dan menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan.
“Hai, Michael. Apa akabar?” tanya Rensi basa-basi. Dia tidak tahu harus memulai dari mana.
“Seperti yang kamu lihat, Rensi. Aku baik-baik saja,” ujar Michael santai, “dan ada urusan apa kamu datang kemari? Ada masalah?”
Rensi tersenyum menghilangkan kecanggungannya dan menatap Michael lembut. “Aku hanya ingin mengatakan terima kasih. Terima kasih karena sudah menolongku keluar dari jerat Dave. Aku senang karena itu kamu.” Rensi menatap Michael yang tampak terkejut mendengar ucapan terakhirnya, tetapi hanya sejenak dan wajah di hadapannya kembali datar.
Michael berdehem meredam amarah yang siap dilontarkan dan tersenyum tipis. “Aku hanya berusaha menolongmu, Rensi. Namun, ketika kamu berpacaran dengan Dave, apa ada tempat yang selalu dikunjungi Dave? Atau tempat rahasia yang sering diceritakannya?” tanya Michael mencoba mencari tahu. Mungkin saja, Rensi mengetahui sesuatu yang dapat di jadikan petunjuk untuk mencari Vinda.
Rensi yang mendengar mengerutkan kening bingung. “Tempat rahasia Dave? Untuk apa kamu menanyakan hal itu?” Rensi balik bertanya dengan nada curiga. Matanya semakin menajam menatap Michael yang masih tenang menatapnya.
Michael menghela napas panjang dan menatap Rensi dengan tatapan dingin. Ini pertama kalinya dia menatap gadis di hadapannya dengan pandangan berbeda. Jika biasanya dia selalu menatap dan bersikap hangat, kali ini Michael merasakan hal lain. Rasa sakit hati karena Rensi meninggalkannya tepat di hari pernikahan masih menganga lebar.
“Jangan lupa, Rensi. Istriku masih bersama dengan kekasihmu,” ucap Michael tajam.
Rensi yang mendengar diam dengan mulut terkunci rapat. Matanya menatap Michael dengan tatapan menantang dan tak suka dengan apa yang dikatakan Michael kali ini. Istri? Rasanya dia ingin tertawa keras mendengar Michael mengatakan hal tersebut. Lucu karena Michael benar-benar ahli dalam melakukan aktingnya.
“Istri?” ulang Rensi dengan nada meledek dan menatap Michael dengan tawa di tahan, “jadi drama ini masih belum kamu akhiri, Michael?”
“Apa maksud kamu, Rensi?” tanya Michael dengan alis yang sudah menyatu .
Rensi melangkah mendekati Michael dan menatap pria di hadapannya dengan senyum lembut dan tatapan menggoda. Tangannya bahkan sudah mengelus dada bidang pria tersebut dan menatapnya dalam. “Michael, bukankah aku yang kamu inginkan? Aku tahu sampai sekarang kamu masih mencintaiku. Jadi, untuk apa kamu masih mengharapkannya? Aku sudah kembali, jadi hentikan drama konyol yang kamu buat dengan Vinda. Kali ini, aku berjanji tak akan meninggalkanmu. Selamanya.”
__ADS_1
Michael menatap tangan Rensi yang masih betah bersandar di depannya. Tak ada kelembutan sama sekali ketika tangannya menyentak tangan Rensi agar menjauh dari tubuhnya. Kakinya melangkan menjauh dari gadis di hadapannya dan meneliti Rensi dengan pandangan tak suka.
“Aku memang mencintaimu, sangat. Bahkan aku tak melihat gadis lain yang ternyata jauh lebih baik dari kamu, Rensi. Namun, semua itu dulu. Ketika kamu belum memilih Dave dan meninggalkan aku,” jelas Michael dengan suara tajam.
Rensi menatap Michael tak suka. “Kamu yakin dengan hal itu? Kamu bisa kembali padaku sebelum kamu menyesal nantinya,” ucap Rensi dengan tatapan yang masih sama, “kamu hanya tinggal menceraikan Vinda, semuanya akan beres. Tidak akan ada yang tahu tentang pernikahan kontrak yang kalian lakukan dan aku akan menerimamu kembali. Beres, kan?.”
Michael yang mendengar langsung tertawa kecil dan menatap Rensi yang menatapnya dengan wajah bingung. “Dulu aku memang berpikir untuk menceraikan Vinda ketika kamu datang. Namun, sekarang aku berubah pikiran. Sampai mati pun aku tak akan menceraikan Vinda. Dan sampai kapan pun, aku tak akan lagi menikahi mu,” ujar Michael dengan suara dingin.
Rensi menatap Michael dengan tangan terkepal. Pria di hadapannya hanya menatap dengan wajah mengejek dan melangkah meninggalkannya. Rencananya untuk mendekati Michael gagal total. Napasnya bahkan sudah memburu karena menahan kesal.
“Ah! Lihat saja kamu Michael. Aku akan membuatmu berlutut memohon agar aku kembali padamu,” gumam Rensi sembari keluar rumah Michael. Tidak ada seorang pria mana pun yang dapat menolaknya, termasuk Michael.
_____
Dave masih memakan masakan yang Vinda siapkan. Padahal dia sudah melarang wanita yang saat ini berada di depannya untuk memasak karena dia juga sudah memiliki koki sendiri. Namun, namanya keras kepala tetaplah keras kepala. Seberapa besar dia mencoba melarang Vinda untuk tidak melakukannya, kalau dia sudah minat, tidak ada cara lain untuk bisa mencegahnya.
Matanya menatap Vinda yang masih menikmati makanannya. Dave tersenyum melihat Vinda yang bahkan tidak merasa dalam ancaman. Wanita di hadapannya masih tetap santai dan menikmati hari-harinya seakan saat ini dia tidak dalam penyekapan. Hal itu membuatnya merasa lucu dan tertawa kecil. Tawa yang membuat Vinda mengalihkan pandangan dari piringnya saat ini.
“Ada masalah? Atau masakanku gak enak?” tanya Vinda sembari menatap Dave penuh tanya.
Dave menggeleng. “Tidak. Masakanmu enak. Aku hanya menertawakan sesuatu yang lain.”
Dave menggeleng dan menatap Vinda dengan pandangan takjub. “Bukan. Aku hanya teringat film tadi malam yang baru saja aku tonton. Sangat lucu,” jawabnya berbohong. Mana mungkin dia mengatakan opininya kepada Vinda yang jelas-jelas menjadi tahanannya di tempat tersebut.
Vinda hanya mengangguk percaya dan kembali menikmati makannnya. Dia enggan memikirkan apa yang dikatakan Dave. Tak peduli berbohong atau tidak, dia hanya peduli dengan hidupnya saat ini.
Dave masih asik menyantap sarapannya ketika dering ponsel terdengar. Matanya menatap nama yang tertera dan tampak sedikit shock. Hal tersebut membuat Vinda menatap dengan tanda tanya. Siapa yang menelfon sampai dia tampak begitu kaget?
Dave berdehem dan menormalkan kembali raut wajahnya. Tangannya menggapai tisu tak jauh dari tempatnya saat ini dan mengelap mulutnya sampai bersih. “Aku harus menerima telfon,” pamitnya dan langsung bangkit, melangkah meninggalkan Vinda yang masih asik di meja makan.
Vinda menatap Dave yang menjauh darinya. Perlahan, dia mulai mengikuti pria tersebut dengan langkah sepelan kapas. Dia tidak bodoh dengan tidak menyimpan curiga karena tingkah Dave yang begitu ketara. Awalnya dia memang mempercayai Dave dengan sepenuh hati. Namun, melihat tingkahnya saat ini membuat hatinya kembali ragu.
“Ada apa kamu menelfonku? Kamu lupa, sekarang kita tidak memiliki urusan apa pun, Rensi.”
Suara Dave terdengar kesal. Vinda semakin menajamkan pendengarannya dari balik tembok pemisah di antara keduanya. Jantungnya sempat berdetak keras ketika Dave menyebut nama sang penelfon. Rensi. Untuk apa saudaranya menelfon Dave?
“Kamu gila, hah? Kamu menyuruhku menghabisi Vinda? Konyol.”
__ADS_1
Deg.
Vinda yang mendengar langsung mematung. Wajahnya memucat mendengar bahwa Rensi berniat menghabisinya. Namun, Vinda tidak bodoh dan berusaha menegakan tubuhnya, memberikan kekuatan untuknya agar tetap bangkit. Sekarang bukan saatnya dia menjadi wanita lemah dan mudah menyerah. Dia tidak mau mati tanpa melakukan usaha apa pun. Sekarang dia bukan Vinda yang berharap untuk mati seperti sebelumnya. Dia harus mendapatkan kehidupan yang sejak dahulu sudah diimpikan.
“Jadi, Michael mencarinya? Itu bagus untukku. Dan untukmu, aku tidak akan pernah mau menuruti perintah gadis bodoh penyebab masalah. Urusan kita berakhir. Apa pun yang kamu ingin lakukan, lakukanlah sendiri. Aku akan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan.”
Vinda mendengar Dave mematikan ponsel. Dia kembali melangkah pelan dan menuju ke ruang makan. Dia berpura-pura merapikan piring yang ada di meja makan agar saat Dave kembali, pria tersebut tidak akan curiga dengannya.
Jadi kamu mencariku, Ael? Menyadari kenyataan itu membuatnya benar-benar bahagia. Senyumnya bahkan sudah terukir dengan jelas dan semangat hidupnya semakin kuat. Dia harus mencari cara agar Dave tidak tahu rencananya untuk kabur.
Michael, bantu aku, mohonnya dalam hati.
_____
“Sial!” Rensi melemparkan ponselnya kasar, membuat benda pipih tersebut berserak di lantai dan menjadi beberapa bagian. Layarnya bahkan sudah retak di banyak tempat dan dapat dipastikan itu tak akan bisa digunakan lagi. Baterai ponselnya bahkan pergi entah ke mana.
Rensi menghempaskan tubuhnya di sofa apartemennya dan menggeram marah. Harapannya hanya Dave, tetapi sayangnya, pemuda tersebut malah menolak usulannya. Bukannya Dave mengurungnya karena ingin membalas dendam dengan Michael? Tetapi kenapa kali ini Dave malah enggan melenyapkan Vinda?
“Arrgghh,” teriak Rensi berusaha meredam amarahnya yang sudah ingin meluap.
“Kenapa, Rensi? Apa yang Dave katakan?” tanya Nani yang baru saja keluar dari dapur dengan dua cangkir cappucino.
Rensi menatap mamanya kesal. “Dia menolak.”
“Oh iya?” Nani menatap anaknya santai dan duduk, “sudah, jangan dipikirkan. Nanti juga Dave akan melakukan yang kita inginkan.”
“Tetapi sekarang Michael sudah mencintai Vinda, Ma,” tekan Rensi dengan nada kesal. Dia pernah meninggalkan Michael ketika pria tersebut merangkak kepadanya. Namun, sekarang semua berubah. Michael bahkan tak mengharapkannya sama sekali dan itu membuat harga dirinya menjadi terluka. Itu sebabnya dia berniat akan membalas penghinaan yang diterimanya.
“Tenanglah, sayang. Dunia bahkan masih terlalu panjang untuk tetap berdiri. Jadi, kenapa kamu harus terburu-buru?” ucap Nani yang langsung menyesap cappucinonya.
Rensi menatap mamanya dengan mata menajam. “Apa maksud Mama?”
Nani tersenyum melihat anaknya mengerti ada maksud lain dari perkataannya. “Seperti yang Mama bilang. Dunia masih memiliki banyak hari. Jadi, bukankah kita juga masih memiliki cara lain untuk membuat Michael menjadi milikmu?” ujarnya dengan senyum sumringah.
Rensi yang mendengar langsung tersenyum senang. “Jadi, apa yang sudah Mama rencanakan?
“Apa pun untuk membuat Michael kembali menjadi milikmu,” jawab Nani dengan nada sinis dan wajah misterius. Dia bahkan sudah memiliki rencana lain agar Rensi bisa menjadi istri Michael dan menyingkirkan Vinda sejauh mungkin.
__ADS_1
“Kamu tidak pantas untuknya, Vinda,” gumam Nani dengan senyum merendahkan.
_____