Wedding Drama

Wedding Drama
Bagian 62_Penolakan


__ADS_3

Alice melangkah menyusuri jalanan panas dengan mata berlinang. Dia sengaja datang ke rumah sakit Randy diantar oleh supir pribadinya dan dia menyuruh untuk pulang. Awalnya Alice berpikir bahwa dia akan meminta Randy mengantar pulang. Namun, sekarang dia bahkan tidak sanggup untuk menatap wajah Randy yang tengah berbahagia dengan Rika dan bayi yang dikandung. Rasanya menyesakan jika dia mengingat kembali.


“Arrggghhhh...” teriak Alice merasa sudah benar-benar hancur.


Alice memilih untuk terus melangkahkan kaki meski tanpa arah. Jujur, dia tidak memiliki tujuan sama sekali. Kembali ke rumah juga dia merasa enggan. Ke rumah orang tua Randy dan mengatakan semuanya juga terasa percuma ketika pria yang sudah menjadi tunangannya juga tidak mencintainya lagi.


“Kenapa kamu harus hadir, Rika? Kenapa?” keluh Alice dengan mata yang sudah berlinang.


Alice memilih mendudukan diri di halte yang lumayan jauh dengan rumah sakit di mana Randy bekerja. Dia menutup wajahnya dengan telapak tangan dan langsung menangis tergugu. Rasanya dia enggan melakukan apa pun.


“Aku mencintaimu, Randy. Tetapi sayangnya kamu bukan lagi pria yang mencintaiku,” keluh Alice dengan wajah yang sudah disembunyikan diantara kedua kakinya.


Langit mulai tampak menggelap ketika mata Alice mulai mengabur. Sejak kepergian Randy, dia merasa begitu hancur. Membatalkan pertunangan? Rasanya dia tidak pernah berencana menjadi wanita seperti itu sebelumnya. Helaan napas terdengar ketika Alice kembali bangkit dari duduknya dan....


Buugghh..


Alice menabrak seseorang dan karena terlalu keras, dia sampai mundur ke belakang dan jatuh. Alice semakin merutuki hidupnya yang terasa begitu menyebalkan. Tidak ada nasib baik yang menimpanya hari ini. Kehilangan sang tunangan, jatuh di jalanan seperti orang bodoh dan sebentar lagi entah apa yang akan terjadi padanya. Rasanya dia benar-benar ingin pergi sejauh mungkin untuk menenangkan pikiran.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya seseorang yang tengah berdiri sembari mengulurkan tangan kepada Alice.


_____


Dave masih melangkah menyusuri trotoar jalan dengan wajah khawatir. Langit sudah menggelap karena mendung ketika dia mendengar kabar kesehatan mamanya yang memburuk. Dia memilih untuk meminta izin dan segera melangkah.


Tuhan, jagalah dia dan sembuhkanlah dia, batin Dave memohon.


Dave terus merutuki mobilnya yang harus macet di gang tidak jauh dari rumah sakit. Akhirnya, dia memilih berjalan kaki dari pada harus menunggu anak buahnya membetulkan mesin mobil yang rusak. Sampai tanpa sengaja dia menabrak seseorang sampai terjauh. Helaan napas terdengar dari arahnya dan berdecih kesal. Awalnya dia ingin segera pergi tanpa mempedulikan siapa yang ditabraknya saat ini. Namun, ketika dia menatap wajah gadis yang menurutnya tidak asing, Dave mengurungkan niat.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Dave yang langsung mengulurkan tangan. Dia menatap manik mata yang langsung menatapnya dengan pandangan ketus. Dave melihat ada air mata yang mengalir begitu saja dan dia langsung duduk menyamakan tinggi badan.


“Kamu tidak apa-apa? Apa ada yang sakit?” tanya Dave lagi dengan wajah khawatir. Apa sebegitu sakitnya sampai gadis di hadapanku menangis?, pikir Dave bingung.


Alice yang saat itu melihat Dave menghela napas dan menghapus air matanya dengan kasar. Dia mencoba membuat wajahnya kering meski dengan air mata yang masih mengalir. Selanjutnya, dia mendongak dan menatap wajah Dave yang masih memperhatikan lekat.


“Kalau jalan itu pakai mata dong. Main nyelonong aja. Dipikir ini jalanan pribadi,” celetuk Alice dengan wajah bersungut kesal. Dia langsung bangkit dan merapikan pakiannya.


Dave yang saat itu sudah mengulurkan tangan hanya diam dengan pandangan melongo. Rasanya dia bingung dengan gadis yang saat ini ada di depannya. Bukankah dia baru saja menangis? Dave langsung bangkit dan menatap Alice dengan kening berkerut.


“Aku seperti pernah melihatmu, tetapi di mana, ya?” gumam Dave sembari menatap Alice.


“Gak usah sok kenal. Kita itu gak saling kenal,” jawab Alice dengan wajah yang masih sinis dan sesekali terisak karena tangisnya. Bahkan, suaranya masih terdengar serak karena sejak tadi hanya menangis.


Dave berdecih kesal memperhatikan wajah Alice yang sudah membaik. Rasanya dia menyesal telah menghkawatirkan gadis di hadapannya. “Terserah,” ucap Dave dan langsung melangkah. Namun, baru beberapa langkah dia terhenti karena remasan di pundaknya.


“Eh, siapa yang bilang boleh pergi. Orang udah buat salah itu ya harus tanggung jawab,” ucap Alice yang sudah menatap dengan wajah menantang.


Dave yang mendengar mendesah keras dan berbalik menata Alice yang sudah melepaskan remasannya. “Apalagi? Bukannya udah sembuh? Gak ada yang luka dan lecet, juga. Lagi pula, aku rasa kamu udah baik-baik saja. Buktinya udah ngomel.”


Alice mendengus kesal ketika Dave menatapnya dengan pandangan meneliti. “Memang. Tetapi aku harus meminta ganti rugi karena kamu sudah membuat jatuh,” ucap Alice, “mana uangnya.” Tanganya bahkan sudah terjulur dengan wajah tanpa dosa yang sudah menunggu uang dari Dave. Dia tidak cukup bodoh untuk pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Alice masih sadar jika tas yang dipakainya ada di mobil Randy. Itu berarti uang dan ponselnya juga ada di sana.


Dave menggeleng beberapa kali dan sampai akhirnya dia menyerahkan uang kepada Alice. “Cukup buat ngobatin pantat kamu yang gak terluka sama sekali itu, kan?” tanya Dave dengan nada kesal.

__ADS_1


Alice yang menerimanya langsung tersenyum senang, meski sesekali dia masih seperti orang menangis. Tanpa mengucapkan terima kasih atau sebagainya, dia langsung pergi dan menaiki taksi yang kebetulan lewat. Dave yang melihat hanya menggeleng heran.


Ada ya cewek seperti dia, batin Dave yang langsung melanjutkan langkahnya.


_____


Vinda menatap Michael yang masih memasang wajah penasaran. Tasya yang saat itu ada di sana setelah semua kejadian yang menimpa anaknya sudah terselesaikan juga menatap bingung. Michael seolah memikirkan sesuatu sampai keningnya berkerut dalam, membuat Vinda dan Tasya sama-sama bingung dibuatnya.


“Ael, ada masalah?” Tasya memilih untuk buka suara pertama kali dan menatap anaknya dengan pandangan santai, tetapi wajahnya menunjukan kebingungan dengan sikap anaknya.


Michael yang mendengar mendongak dan menatap mamanya lekat. Senyumnya tiba-tiba muncul dan itu membuat Tasya merasakan firasat buruk dari anaknya. Dia akan berharap tidak menanyakan hal itu jika pada akhirnya anaknya akan meminta hal yang sulit dikabulkan.


“Ma, masih ingat sama Rika?” tanya Michael karena sebelumnya Tasya memang sudah pernah bertemu dengan wanita tersebut.


Tasya mengangguk dan masih memperhatikan lekat. “Mama masih ingat sama gadis malang itu. Memangnya kenapa?”


“Aku rasa kali ini Michael butuh bantuan Mama untuk meyakinkan tante Vera, Ma,” ucap Michael dengan wajah berubah serius.


“Untuk apa?” tanya Tasya dengan kening berkerut bingung.


“Untuk meyakinkan bahwa Rika adalah gadis baik agar bisa menikah dengan Randy,” jelas Michael dengan wajah penuh harap.


Tasya hanya melongo mendengar ucapan dari anaknya. Dia membujuk Vera? Seperti hal yang benar-benar mustahil untuk dilakukan. Dia bahkan enggan berurusan dengan wanita bernama Vera jika mengenai sebuah pandangan mengenai suatu hal. Ditambah menerima Rika? Dia tidak yakin itu adalah hal yang bisa dilakukan, mengingat Vera selalu memandang derajat yang dibedakan.


“Ayolah, Ma. Aku mohon, kasihan Rika masih hamil anak Randy,” tambah Michael dengan penuh harap. Hanya mamanya yang bisa menolong kali ini.


“Apa, Rika hamil, Mas?” tanya Vinda yang mulai ikut nimbrung dalam percakapan.


Vinda yang mendengar hanya mengangguk dan tersenyum menatap Michael. Sejak tadi dia hanya diam dan enggan mengatakan apa pun. Vinda masih memilih diam dan mengamati keduanya yang tampak asyik. Sedangkan dia hanya bergelanyut manja dan mendekap lengan Michael erat.


“Dia hamil anak Randy?” tanya tasya penasaran.


Michael mengalihkan pandangannya dari istrinya ke mamanya. Dia mengangguk. “Sekarang Randy masih dalam perjalanan untuk membawa Rika ke rumahnya. Dia berniat akan menikahi Rika secepat mungkin. Tetapi Ael sadar, tante Vera tidak akan pernah setuju.”


Tasya menghela napas keras dan menatap anaknya sembari mengangguk. “Nanti mama coba bujuk dia supaya merestui keduanya. Bagaimana pun anak yang dikandung Rika harus mendapatkan kasih sayang orang tuanya.”


Michael yang mendengar tersenyum dan langsung mengangguk. Setidaknya dia sudah mencoba dan membantu Randy melalui mamanya. Mungkin jika nantinya memang sulit, dia akan meminta bantuan papanya untuk memaksakan restu orang tua Randy. Namun, kini ingatannya berganti pada sosok lain yang tidak diketahui bagaimna nasibnya.


Alice. Sebenarnya dia ingin menghubungi dan sekedar menanyakan kabar, tetapi perasaannya seolah mencegah. Dia tidak mau jika nantinya Vinda salah paham. Belum lagi istrinya masih mengandung anaknya dan dia tidak tahu apa yang akan membuatnya kesal. Setahunya, mood orang yang tengah mengandung memang tidak terprediksi. Semoga kamu baik-baik saja, Alice, pinta Michael masih mendengarkan celotehan dua wanita di hadapannya.


_____


“Apa dia baik-baik saja?” tanya Randy dengan wajah begitu cemas.


Seorang wanita berseragam putih tengah menatapnya dengan pandangan yang benar-benar sulit diartikan, membuat Randy yang sudah cemas semakin cemas. Wanita tersebut menghela napas dan mengamati wajah Randy yang tidak setenang biasanya.


“Dia siapa?” tanya wanita tersebut dengan pandangan menyelidik.


“Dia...” Randy diam sejenak dan menatap wanita yang memiliki profesi sama dengannya, “Dia calon istriku,” jawabnya dengan tegas.


Wanita tersebut menghela dan tersenyum. “Kenapa gak diperiksa sendiri saja? Biar kamu tahu apa hasilnya.”

__ADS_1


“Aku takut. Tetapi aku rasa dia tidak memiliki masalah serius. Sakit kepalanya hanya disebabkan oleh kurang tidur dan terlalu banyak memporsir diri untuk bekerja,” terang Randy dengan wajah yang masih menunjukan ketegangannya. Dia takut jika ungkapan yang diberikan salah.


Wanita tersebut mendengus kesal dan menatap Randy dengan pandangan memprotes. “Kamu udah tahu terus ngapain panggil aku buat memeriksanya? Kamu benar-benar ngeselin, ya,” celetuknya dengan tangan mengepal dan siap menonjok Randy.


“Aku hanya meminta pendapat lain. Takut kalau aku salah memeriksa,” jawab Randy dengan senyum sumringah dan menunjukan deretan gigi putih dan ratanya.


“Baiklah. Aku harus kembali ke rumah sakit. Aku rasa kamu sudah tahu apa yang harus dilakukan. Jangan buat dia banyak pikiran dan jaga kesehatannya,” pesan wanita tersebut dan langsung diangguki oleh Randy. Selepas wanita tersebut pergi, Randy menatap Rika yang masih memejamkan mata dengan rapat.


Randy menutup pintu dan segera naik ke ranjang, menggenggam tangan Rika yang bahkan tidak mau membalasnya. Dia hanya tersenyum dan sesekali mengecup buku jari wanita tersebut lembut.


“Sebenarnya aku ingin tahu alasan kamu meninggalkanku. Aku ingin tanya, apa alasan kamu membohongiku. Tetapi aku rasa, itu sudah tidak diperlukan. Tetaplah di sampingku, Rika dan itu semua terasa tidak ada gunanya,” ucap Randy seorang diri karena Rika sedang tertidur setelah perjalanan dari desa yang dia tinggali.


Sejak sampai rumah, Randy memilih untuk menidurkan Rika di ranjang empuk miliknya dan terus menjaga. Dia sendiri sudah memeriksa kondisi wanita tersebut, tetapi juga memanggil teman satu profesi untuk menguatkan apa yang didapatkannya.


Randy masih asik menatap wajah tenang Rika ketika sebuah ketukan pintu terdengar. Dia menatap ke asal suara dan mulai turun mendekati pintu. Tampak seorang wanita dengan usia berkisar tiga puluh lima berada di depannya dengan wajah menunduk.


“Ada apa, Bi?” tanya Randy dengan suara lembut.


“Maaf, Tuan. Ada Nyonya besar di luar,” jawabnya lirih.


Mama? “Baik. Terima kasih,” ucapnya dan membuat wanita di hadapannya pergi.


Randy diam sejenak dan menghela napas panjang, mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi wanita yang pernah mendung dan melahirkannya. Randy hendak keluar, tetapi matanya menatap Rika yang masih tetap tenang di ranjang, membuat senyumnya terukir.


“Tetap di sana, aku akan segera kembali,” ucapnya lirih dan langsung turun mendatangi mamanya.


_____


Vera menatap Randy yang sudah turun dari tangga dan melangkah ke arahnya. Dia menatap pria yang sudah melangkah semakin dekat dengan wajah datar dan tatapan dingin. Perasaannya bercampur aduk ketika orang tua Alice menghubunginya dan mengatakan bahwa Randy membatalkan pertunangan. Jelas saja kabar tersebut membuatnya begitu shock dan segera mendatangi kediaman anaknya dengan emosi dan pertanyaan yang menggebu.


“Ada apa, Ma? Tumben ke sini,” sapa Randy dengan suara ramah dan senyum yang terukir. Dia masih tetap berusaha bersikap senormal mungkin untuk menghadapi mamanya kali ini.


“Mama tidak suka basa-basi,” jawab Vera dengan suara tegas dan mata yang menajam, “mama ingin tanya dengan kamu, Randy. Apa maksud kamu membatalkan pertunangan. Apa kamu gila?” teriaknya dengan emosi yang menggebu.


Randy hanya diam dan menatap mamanya. Dia tahu bahwa inilah yang membawa mamanya datang ke rumah malam-malam. Matanya menatap mamanya masih dengan pandangan yang sama, berharap wanita tersebut akan menerima keputusannya.


“Kamu memutuskan tanpa ada alasan jelas, Randy. Kamu benar-benar gak waras,” bentaknya dengan mata menggelap.


“Randy punya alasan, Ma,” jawab Randy tegas.


“Apa?” tanya Vera dengan suara menyerupai desisan.


“Randy sudah memiliki pilihan lain, Ma. Sejak awal bertunangan, Randy memang tidak mencintai Alice. Randy hanya menganggap bahwa dia sahabat sekaligus adik yang harus dijaga. Tidak lebih,” ucap Randy tenang, “dan sekarang Randy sudah memiliki wanita lain yang Randy cinta.”


“Tinggalkan,” sahut mamanya cepat, “kamu harus tetap bertunangan dengan Alice dan mama tidak menerima penolakan.”


“Tetapi dia sudah mengandung anak Randy, Ma,” tambah Randy dengan mata yang menatap tajam. Tinggalkan? Dia bahkan butuh perjuangan untuk membawa Rika sampai di kediamannya dan mamanya menyuruh untuk meninggalkan? Mimpi.


Vera yang mendengar menatap Randy dengan mata membelalak dan itu hanya berlangsung beberapa lama. Wajahnya kembali datar dan membuang pandangan dari Randy.


“Kamu bisa merawatnya dengan Alice dan tinggalkan wanita itu,” tegas Vera dengan wajah mengeras dan bibir yang terkatup rapat setelahnya.

__ADS_1


_____


__ADS_2