Wedding Drama

Wedding Drama
Bagian 60_Memberikan Pelajaran


__ADS_3

Eiren sudah turun dari motor ketika Bara baru saja mematikan mesin motor. Langkahnya semakin cepat memasuki rumah yang sudah dihuni selama beberapa bulan ini. Tangannya mengelus pelan perut rata yang sudah terisi janin oleh pria yang dicintainya. Dia enggan mendengar ocehan Bara yang akan memekakan telinganya.


Bara yang melihat langsung menyusul dengan langkah yang tidak kalah cepat. Dia langsung menuju ke kamar Rika yang hampir tertutup dan segera mencegah dengan tubuhnya. Dia harus mendapatkan penjelasan dari kakaknya mengenai janin yang dikandung saat ini.


“Bara, apa yang kamu lakukan?” pekik Rika yang melihat Bara ada di tengah pintu kamar yang hampir tertutup.


“Bara mau dengar penjelasan Kakak mengenai hal ini. Apa yang sebenarnya terjadi, Kak?” tanya Bara penasaran


Rika yang melihat menghela napas keras dan membuka pintunya semakin lebar, membiarkan Bara masuk ke dalam kamar. Dia melangkah mendekati ranjang dan duduk dengan mata menatap ke depan, di mana hamparan pepohonan dapat dilihatnya dari jendela kamar. Kepalanya semakin pusing menghadapi rasa penasaran Bara yang tidak berujung sama sekali.


“Kak, katakan sesuatu biar Bara tahu harus bersikap seperti apa,” ucap Bara yang menatap kakaknya dengan pandangan nanar.


“Tidak ada yang perlu kamu lakukan, Bara. Kamu hanya harus menjalani harimu dengan benar dan seperti biasanya. Anggap semua memang sudah takdir,” ujar Rika yang tetap ingin menjalani hari seperti biasa. Dia ingin Bara tetap fokus dengan kuliah dan juga lulus dengan cepat. Rika ingin memajukan toko kue miliknya dan mengurus anaknya seorang diri.


Seorang diri? Tentu aja karena dia sudah berniat menyembunyikan semua masalahnya dari Randy. Dia tidak berniat mengatakan tentang kehamilannya karena dia sendiri mampu menyelesaikan semuanya. Dia akan bisa mengurus anaknya nanti dengan benar tanpa mengganggu kebahagiaan Randy bersama dengan Alice.


Bara menghela napas keras dan mengacak rambutnya kesal. “Siapa ayah dari anak yang kamu kandung, Rika?” tanyanya dengan mata menyelidik.


Rika yang mendengar hanya diam tidak menanggapi. Dia tidak mau jika nantinya Bara malah akan memberitahukannya. Diam adalah pilihan terbaik kali ini.


Bara yang tidak mendapat jawaban langsung tertawa keras dan menatap Rika lekat. “Jika kamu diam aku rasa tahu siapa yang sudah menghamilimu. Randy. Apa benar tebakanku kali ini?” ucap Bara dengan nada yang terdengar tegas.


Rika masih tetap diam dan tidak menghiraukan apa yang dikatakan adiknya. Dia memilih untuk melakukan aktivitas lain seperti membenarkan seprei yang sebenarnya tidak kusut. Setelahnya, dia keluar kamar ingin melakukan pekerjaan rumah. Namun, ucapan Bara membuatnya berhenti melangkah.


“Kalau kamu masih diam dan tidak ada rencana untuk menghubunginya, aku yang akan mengatakannya,” ancam Bara dengan mata yang menatap nyalang. Dia benci dengan sikap kakaknya yang selalu merasa kuat dan mampu menjalani semuanya sendiri. Dia bahkan yakin Rika tidak akan mengatakan apa pun kepada Randy mengenai kehamilannya.


Rika membalikan badan dan menatap Bara dengan mata yang sudah menajam. “Hentikan omong kosongmu, Bara. Dia bahkan tidak tahu apa pun mengenai hal ini. Jadi, jangan buat seseorang salah paham hanya karena pemikiran kamu itu.”


“Kalau memang bukan dia, kenapa kamu harus kaget dan merasa terganggu, Rika?” ujar Bara dengan senyum sinis, “aku rasa memang benar dia orangnya.”


“Bara!” bentak Rika dengan emosi menggebu. Dia bingung bagaimana lagi cara mengatakan kepada Bara karena dia tahu seberapa kekeh keinginan adiknya untuk mengungkap kebenaran tentang kehamilannya.


“Apa, Rika?” tanya Bara dengan kesal, “aku hanya tidak mau melihat kakakku menjadi cemoohan orang-orang sekitar karena hamil tanpa memiliki suami.”


“Aku bisa melakukannya, Bara. Jadi, aku mohon rahasiakan semua ini darinya. Aku akui dia adalah ayah dari anakku, tetapi dia sudah bahagia dengan orang lain. Biarkan dia bahagia,” ucap Rika dengan air mata mengalir terus.


Bara menghela napas keras dan menatap Rika dengan pandangan kesal. “Apa yang sebenarnya kamu pikirkan, Rika? Kamu akan diam dan mengurus anakmu seorang diri? Kamu akan menyembunyikan rahasia ini darinya?” tebak Bara benar.


Rika yang mendengar hanya diam dan mengangguk. Dia bahkan sudah duduk di lantai dengan air mata mengalir. “Aku tidak mau jika nantinya dia akan merasa susah setelah mendengar kabar ini. Aku hanya ingin hidup dengan tenang dan merawat anakku sendiri. Apa itu salah?”


Bara menutup matanya rapat dan segera membuka. Berulang kali dia menghela napas agar mengurangi kekesalan dalam menghadapi sifat keras kepala seorang Rika. Namun, nyatanya semua itu salah karena dia masih merasa tetap marah dan ingin memaki Rika. Dia ingin mengatakan bahwa semua pemikiran Rika adalah bodoh dan konyol. Tetapi, dia sadar itu akan semakin membuat Rika merasa tertekan dan akan berdampak buruk untuk kandungannya.


“Konyol,” keluh Bara yang sudah keluar dan pergi membawa motor dan entah ke mana.


Rika yang melihat hanya mampu menangis dan berdoa semoga Bara tidak memberitahukannya kepada Randy. Tuhan, aku mohon jangan biarkan dia mengatakan kepada Randy mengenai hal ini, pintanya dalam hati.


_____

__ADS_1


Beni masih menikmati kopi hangat di hari yang begitu cerah. Dia masih membolak-balik koran pagi yang baru tersentuh olehnya dan mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Dia hanya diam dan mengerutkan kening bingung. Siapa yang datang ke rumahnya? Tubuhnya baru akan meninggalkan sofa empuk ketika dua orang wanita masuk dengan wajah angkuh. Beni yang melihat menghela napas keras dan tidak menyambut kedatangan anak dan istri yang sudah lama tidak tinggal bersamanya.


“Untuk apa kalian datang ke rumah ini lagi?” tanya Beni dengan suara yang terdengar tidak suka.


Rensi dan Nani yang mendengar langsung tersenyum meremehkan dan menatap Beni dengan pandangan yang memancarkan keangkuhan. “Apa itu sambutan yang baik untuk anak dan istri yang baru datang, sayang?” ujar Nani dengan suara yang dibuat semanis mungkin.


Beni yang mendengar langsung berdecih kesal dan menatap keduanya dengan mata yang menunjukan ketidaksukaan. “Aku bahkan sudah menganggap kalian mati. Aku kecewa dengan perilaku buruk kalian yang menghalalkan segala cara. Bahkan, kalian jauh lebih hina dari seorang wanita malam.”


Nani yang mendengar langsung tertawa kecil dan diikuti oleh Rensi yang masih berdiri dengan perut membuncit. Usia kandungannya sudah dua belas minggu dan dia begitu senang karena Michael memanjakannya. Bahkan, pria tersebut tidak absen untuk mengantarnya ke dokter kandungan di rumah sakit Randy.


Rensi menatap papanya dengan pandangan meremehkan. “Jangan terlalu membenci anakmu ini, Pa. Nanti kalau Papa sedang dalam kesulitan, tidak akan ada yang membantu.”


“Aku tidak membutuhkan bantuan dari orang seperti kalian,” desis Beni dengan pandangan yang menunjukan kebencian.


Dia pernah mencintai dua orang di hadapannya saat ini. Dulu, sebelum dia melihat kekejaman dari anak dan istrinya, dia hanya diam dan memaklumi. Namun, setelah semuanya, dia merasa begitu sulit untuk memaafkan. Vinda yang tidak pernah melakukan kesalahan apa pun menjadi korban dari kekejaman istri dan anak tirinya. Dia menyesal pernah menjadikan Nani dan Rensi sebagai bagian dari keluarganya.


“Yakin, Pa? Bahkan aku akan menjadi seorang Nyonya Michael Aditama. Sedangkan anak Papa tercinta, Vinda, dia akan diusir oleh Michael setelah semua urusan mereka beres,” ucap Rensi dengan wajah bangga dan diikuti dengan tawa Nani yang menggelegar. Beni hanya diam dengan mata membelalak.


Benarkah yang dikatakan istri dan anaknya?, batin Beni dengan pandangan tidak percaya.


“Jadi, kita datang hanya untuk mengambil pakaian kita yang masih tertinggal di sini. Karena sebentar lagi kita akan masuk ke dalam rumah Michael dan tinggal di sana,” sambung Nani dengan wajah bangga.


“Jangan terlalu bermimpi, Ibu mertua.”


_____


“Jangan terlalu bermimpi, Ibu mertua.”


“Michael,” panggil Rensi dengan wajah berbinar.


Rensi yang melihat kedatangan Michael langsung tersenyum dan hendak berhambur memeluk, tetapi dicegah karena tangan pria tersebut yang sudah menghentikan gerakanya. Michsel memberikan tanda agar dirinya tidak mendekati.


“Kenapa?” tanya Rensi bingung. Keningnya bahkan sudah mengerut bingung karena sikap pria di hadapannya yang sudah jauh berbeda dari beberapa hari lalu.


“Jangan pernah mendekatiku, Rensi,” ucapnya dengan nada tegas dan terkesan membunuh.


“Kamu ini kenapa, Michael?” tanya Rensi bingung.


Michael menghela napas keras dan menatap Rensi dengan pandangan meremehkan. “Kebohonganmu sudah berakhir, Rensi. Kamu benar-benar wanita yang tidak tahu malu.”


“Hentikan ucapanmu, Michael,” bentak Nani dengan nada tidak suka, “kamu tidak boleh mengatakan hal seperti itu kepada wanita yang bahkan mengandung anakmu,” peringatnya membuat Michael tertawa keras.


Michael menatap Rensi dengan tawa yang ditahan dan mata yang memancarkan tatapan membunuh. Rensi yang melihat langsung menelan ludahnya kasar ketika mendapati Michael tidak lagi bersikap seperti dulu lagi. Tidak ada kehangatan dan juga tawa di matanya.


Michael memberikan isyarat kepada Roy agar membawa map yang berisi semua buktinya dan langsung diuruti. Setah diterima, dia langsung menyerahkannya kepada Rensi dan tersenyum miring. Meski Rensi bingung, dia tetap menerimanya.


“Itu adalah bukti tes DNA yang aku lakukan beberapa waktu lalu. Kamu bisa lihat sendiri bahwa aku bukanlah ayah dari anakmu,” jelas Micahel dan melangkah mendekati Rensi dan Nani diam membeku.

__ADS_1


“Sebelumnya, bahkan aku sudah memperingatkan agar kalian tidak membuat masalah denganku, tetapi kalian mengabaikannya. Sekarang aku akan membuktikan apa yang kalian anggap sebuah mainan,” tambah Michael dan memberikan isyarat kepada Roy.


Roy yang melihat mengangguk dan melangkah mendekati Rensi dan Nani yang tampak gusar. Roy langsung memegang erat tangan Nani dan temannya yang lain memegang tangan Rensi tidak kalah erat. Mereka menatap dengan pandangan datar dan tidak merasa kasihan sama sekali.


“Kalian ini apa-apaan, hah?” teriak Rensi tidak terima. Dia menatap Michael dengan pandangan yang benar-benar menunjukan amarahnya. “Lepaskan,” teriak Rensi berusaha mengelak.


“Bawa mereka pergi dari kota ini. Jangan biarkan mereka masuk ke kota ini lagi,” perintah Michael dengan suara tegas.


“Michael, tunggu. Kamu harus mendengar penjelasanku lebih dulu,” bentak Rensi dengan mata menggelap.


“Tidak ada yang perlu kamu jelaskan, Rensi. Aku sudah pernah memberimu peringatan dan kalian mengabaikan. Jadi, terima saja hukumannya sekarang,” desis Micahel dengan pandangan tidak suka.


Rensi masih tetap berusaha keluar dari masalah. Nani juga melakukan hal yang sama. Mereka hendak dibawa keluar, tetapi matanya menatap Vinda yang hanya diam menjadi penonton.


“Vinda, tolong aku. Bicara kepada Micahel, jangan usir kita. Kita akan memperbaiki semuanya. Mama mohon,” ucap Nani dengan mata memelas.


Vinda hanya diam dengan tangan yang mengepal menahan rasa yang mulai bangkit. Dia merasa kasihan menatap keduanya dibawa Roy keluar dari rumah. Namun, dia juga benar-benar ingin melihat Rensi merasakan hal yang sama dengannya.


Maafkan aku, Ma, Rensi. Sekali ini, biarkan aku menjadi seseorang yang egois, batinnya sembari menatap Rensi dan Nani yang sudah berada di mobil.


Michael mendekat ke arah Beni dan Vinda berdiri sembari menatap ke arah mobil yang sudah melaju. Tangannya merangkul Vinda dan mengecup pelan puncak kepala istrinya. “Maafkan aku, sayang,” bisiknya dan hanya diangguki oleh Vinda.


“Maafkan aku, Pa,” ucapnya menatap Beni.


Beni mengangguk dan mengusap pelan punggung Michael. “Tidak masalah. Biarkan mereka merasakan buah dari perbuatannya.”


_____


“Randy, kamu sudah selesai dengan pekerjaanmu?” tanya Alice yang sudah berada di ruangannya.


Randy yang baru saja masuk menatap Alice dengan tatapan datar. Dia masih lelah dan enggan melakukan apa pun. Setiap malam selalu digunakan untuk mencari Rika yang entah di mana keberadaannya. Dia hanya ingin tahu alasa wanita tersebut menipunya.


“Kamu ngapain di sini, Alice? Aku bahkan masih memiliki pekerjaan hari ini,” ucap Randy yang sudah duduk di bangkunya.


Alice tersenyum dan memandang kekasihnya dengan lekat. “Aku hanya ingin datang menjenguk calon suamiku,” jawabnya santai.


Calon suami? Randy yang mendengar hanya tersenyum kecut menyadari hal tersebut. Dia bukanlah seorang pria yang patut dibanggakan oleh seorang istri sebaik Alice. Nyatanya, tanpa sepengetahuan wanita tersebut, dia malah mencari wanita lain yang tidak memiliki hubungan apa pun dengannya.


“Kamu mau makan siang bareng?” tanya Alice dengan wajah penuh harap.


Randy awalnya ingin menolak, tetapi dia mengurungkan niatnya dan segera mengangguk. Mungkin setelah berdua dengan Alice dan mencoba menghabiskan waktu bersama, dia akan merasa baikan dan bisa menjernihkan otak yang hanya berkutat tentang Rika.


Alice tersenyum senang dan segera melangkah keluar dari rumah sakit. Dia menggandeng tangan tunangannya erat dan enggan melepaskan. Membuat beberapa perawat dan dokter lain menyapa mereka dan mengucapkan selamat. Randy sendiri hanya menanggapinya dengan santai dan segera keluar.


Randy baru akan membuka pintu mobil ketika sebuah hantaman keras membuatnya tersungkur. Bibirnya bahkan sudah mengeluarkan darah. Alice yang melihatnya langsung membelalak dan mendatangi Randy yang masih mehanan perih akibat hantaman tersebut.


“Apa-apaan kamu, hah. Kamu sadar apa yang kamu lakukan? Kami bahkan tidak mengenalmu,” teriak Alice sembari membantu Randy untuk bangkit.

__ADS_1


“Jadi, kamu ingin mengenalku? Aku adalah adik dari orang yang sudah dia hamili,” ucap Bara dengan mata menggelap. Membuat Alice dan Randy langsung diam seketika.


_____


__ADS_2