
Randy memasuki gedung bertingkat tersebut dengan malas. Padahal dia baru saja keluar dan mengatakan kalimat tajam kepada Rika, tetapi dia harus kembali menemui gadis bermata indah tersebut. Rasanya dia benar-benar malas. Jika bukan karena gadis yang sejak tadi menggandeng lengannya tersebut, dia tidak akan pernah memasuki kantor Michael di hari yang sama.
“Randy, sudah berapa lama Michael menikah?” tanya Alice dengan mata menatap penasaran ke arah Randy.
“Gak ngitung. Yang pasti sih sudah lama. Lagian bukan aku yang jalani,” ucap Randy cuek.
“Ish ini anak, ditanya bener-bener kok malah jutek banget. Lagi PMS, pak?” sindir Alice dengan tampang tak suka.
Randy yang mendengar hanya tersenyum dengan cibiran Alice. Sahabatnya masih saja sama seperti dahulu. Bahkan, dia pernah mencintai gadis tersebut begitu dalam. Namun, ketika Alice memilih bersama dengan Michael, dia juga mulai menjalani kehidupan bersama dengan Rika. Sayangnya, hubungan diantara mereka kandas. Begitu pun hubungan antara Alice dan Michael yang memilih menjadi sahabat kembali.
Randy menatap Alice lekat. Apa sampai saat ini dia masih tidak memiliki perasaan apa pun? Itu yang dipikirkan Randy saat ini. Namun, dia menepis semua perasaannya dan memilih fokus kepada karirnya. Mengenai Rika dan Alice, dia tidak akan memikirkannya lagi. Jalani saja seperti arus mengalir. Itu yang dipikirkan Randy saat ini.
“Apa dia wanita yang cantik?” tanya Alice lagi dengan wajah menunjukan ekspresi berpikir, “apa masih cantikan aku?”
“Jangan terlalu percaya diri, Alice. Vinda adalah gadis yang baik dan begitu mencintai Ael. Dia bahkan pernah tertembak karena menyelamatkan Michael,” jelas Randy masih dengan nada suara jutek.
Alice yang mendengar langsung berhenti dan menatap Randy tak percaya. “Kamu seriusan?”
“Memangnya tampangku menunjukan tengah bercanda, hah?” Randy menatap Alice dan menjukan wajah seriusnya.
Alice hanya tertawa kecil dan kembali menggamit lengan Randy erat. “Aku hanya bertanya, Randy. Tetapi jika begitu aku senang. Akhirnya Michael mendapatkan gadis baik yang bisa melindunginya.”
“Bukannya harusnya cowok yang melindungi cewek,” sindir Randy sembari menatap Alice.
Alice berhenti dan menatap Randy tak suka. Tangannya bahkan sudah diletakan dipinggang dan menujukan tatapan tajam. “Kamu pikir cewek juga lemah dan tak bisa menolong, hah? Kamu meremehkan tenaga cewek?” ucap Alice dengan nada sombong, “apa kamu mau bukti kalau aku bisa mengalahkanmu?”
Randy hanya menghela napas panjang ketika matanya menatap Alice yang sudah bersiap-siap. Kepalanya menggeleng dan langkahnya kembali mengayun. Namun, baru beberapa langkah, dia kembali berhenti. Matanya menatap sosok gadis di hadapannya dengan wajah datar. Wajah cerianya juga menguap seketika.
Rika menundukan kepala dan memberikan hormat. Bersikap senormal mungkin meski seorang gadis datang dari arah belakang dan memeluk lengan Randy erat.
“Selamat sore, tuan Randy,” sapa Rika hormat.
“Michael masih di ruangan?” tanya Randy datar.
“Maaf, tetapi tuan Michael sudah pulang sejak siang bersama Nona Vinda,” jawab Rika sembari memperhatikan tingkah manja gadis di dekat Randy dan kembali mengalihkan pandangannya.
“Kita pulang, Alice. Aku akan mengantarmu ke rumah Michael,” ucap Randy dan langsung menggenggan tangan Alice erat. Rika yang melihat langkah ke duanya semakin menjauh hanya diam dan menatap dengan pilu.
“Kamu sudah menemukan pengganti, Ran? Aku ikut senang dengan hal itu,” ucap Rika pedih dan meninggalkan ruanga Mike.
_____
Tasya memasuki rumah yang beberapa hari tampak begitu suram. Keadaannya sudah membaik dan dia memutuskan untuk ke rumah anak semata wayangnya. Matanya tak menangkap pasangan suami istri yang menjadi penghuni rumah. Ke mana mereka?
Tasya masih menyusuri ruang tamu dan berhenti tepat di ruang makan. Matanya menatap anaknya yang tampak begitu bahagia menggoda Vinda yang sibuk menyiapkan makanan malam. Rasanya dia benar-benar merasa lega ada sosok yang bisa mengerti anaknya. Bahkan, selama ini dia juga tidak pernah melihat senyum bebas dari Michael.
Tasya menghembuskan napas pelan ketika dirasa jiwa mellownya kembali memberontak. Dia kembali melangkah dan menatap keduanya dengan **** senyum bahagia. Dia rasa, semua orang juga tahu apa yang dirasakannya sekarang.
Tasya berdehem pelan, membuat Michael dan Vinda menatap serentak ke arahnya. “Apa mama mengganggu?” tanya Tasya dengan senyum lembut.
“Mama,” panggil Vinda dan Michael secara bersamaan.
__ADS_1
Tasya melangkah anggun mendekati menantu kesayangannya. Tangannya mengelus lembut rambut lurus Vinda dan menatap lekat. Dia benar-benar bersyukur karena Vinda baik-baik saja. Dia tidak ingin ada penyesalan pada diri Michael dan terlebih dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Vinda dengan benar.
“Mama kapan datang?” tanya Vinda dengan wajah penuh kebahagiaan.
Tasya tak menjawab dan malah memeluk Vinda erat. “Apa Dave menyakitimu, sayang? Apa kamu terluka?” tanyanya dengan tetes air mata.
Michael yang melihat hanya tersenyum memperhatikan. Dia merasa bahagia karena nyatanya, dua orang yang begitu dicintanya dapat hidup secara berdampingan. Bahkan, mamanya jauh lebih menyayangi Vinda dari pada dirinya.
“Ma, Vinda baik-baik saja. Ael datang tepat waktu,” ucap Vinda sembari melirik Michael yang tampak begitu bangga.
Tasya melepaksan pelukannya dan menatap Vinda sekilas. Kemudian, matanya menatap Michael yang masih begitu santai menikmati masakan istrinya. Dia merasa anaknya memang benar-benar menerima Vinda seutuhnya.
“Kalau kamu sampai buat dia terluka lagi, jangan harap kamu bisa bertemu Vinda,Ael,” ancam Tasya membuat Michael hampir tersedak makanannya.
“Mama,” protes Michael tak suka. Dia berpisah dengan Vinda? Jangan bermimpi. Bahkan ketika dia dihadapkan dengan ribuan Rensi sekali pun, Michael tidak akan pernah menukarkannya.
“Kenapa? Dulu kamu juga siksa dia terus. Kamu bahkan menyamakan Vinda dengan Rensi yang begitu kejam,” celetuk Tasya yang langsung duduk di kursi meja makan. Matanya tak menatap Michael yang sudah menatapnya tajam.
Michael benar-benar kesal dengan apa yang dikatakan oleh mamanya. Nyatanya, semua yang baru saja diungkapkan adalah benar adanya. Dia melukai Vinda dan terus membela Rensi. Bahkan, Michael masih ingat seperti apa dia berusaha membela Rensi meski salah. Mengelurkan Vinda dari kampus, mencabut beasiswanya dan bahkan dengan tega menyuruh Dika memecat Vinda. Dia merasa bahwa dulu dia benar-benar bodoh hanya karena penampilan Rensi yang jauh lebih modern, dibandingkan Vinda yang hobi berpakaian celana dan kemeja seadanya.
Vinda yang mendengar hanya tersenyum memperhatikan. Dia sendiri tidak merasa sakit hati atau apa pun. Matanya kembali menatap Tasya yang sudah duduk dengan wajah kesal. Tangannya baru menyendok nasi dan hendak menyiapkan piring Tasya, tetapi dihentikan ketika tangan mama mertuanya sudah memegangnya erat.
“Ada apa, Ma? Mama sedang diet nasi?” tanya Vinda sembari menatap bingung.
Tasya menggeleng. “Vinda, jika Ael menyakitimu lagi, bilang sama mama, ya? Mama akan bawa kamu pergi dari dia dan mencarikanmu pria lain yang lebih kaya. Yang pasti lebih baik dan juga tampan,” ucap Tasya penuh semangat.
“Jika itu sampai terjadi, aku akan membenci Mama seumur hidup,” desis Micahel mulai tersulut emosi.
“Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikannya,” sahut Michael sembari menatap Vinda lekat. Dia dapat membaca wajah terkejut wanitanya. Apa dia berharap Michael akan meceraikannya? Michael langsung menggelengkan kepala, membuang pikiran buruk tersebut.
Matanya menatap Tasya yang menatapnya santai. Dia merasa mamanya benar-benar membuat emosinya meluap. Dia tahu mamanya memang sengaja melakukannya. Dapat diprediksi dengan *** senyum yang ditampilkan mamanya sejak tadi.
“Kenapa? Bukannya kamu mencint....”
“Karena aku mencintainya. Aku mencintai Vinda dan berharap dia menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Aku ingin hidup dan mati bersamanya. Membuka dan menutup mata dengan menatap wajahnya,” ucap Michael yang begitu takut kehilangan Vinda.
Vinda yang mendengar langsung membeku seketika. Apa dia tidak salah dengar? Apa semua yang dikatakan Michael benar? atau hanya bualan karena ada mamanya saja? Rasanya Vinda ragu dengan ucapan pria di hadapannya saat ini. Sampai sebuah tangan menggenggam erat jemarinya dan memandang begitu lembut.
“Vinda, aku ingin bilang bahwa aku hanyalah pria dengan begitu banyak dosa. Aku bukan pria baik yang akan selalu ada di sampingmu. Aku memiliki pekerjaan yang begitu banyak dan mungkin akan jarang untuk kita menghabiskan waktu berdua. Asal kamu tahu, aku juga memiliki begitu banyak musuh....”
“Aku tahu,” potong Vinda dengan mengulas senyum.
“Iya karena kamu sudah beberapa kali menjadi sasarannya,” ucap Michael setuju, “tetapi aku hanya ingin bilang, akan ada begitu banyak musuh yang nantinya mengincarmu. Tetapi, jika kamu mau hidup denganku, seumur hidupmu, aku akan benar-benar membahagiakanmu dengan sepenuh hatiku. Apa kamu mau menjadi pendamping hidupku selamanya?” lanjut Michael dan disaksikan Tasya. Dia tahu ini yang diharapkan mamanya.
“Ael, kamu....”
“Aku serius, Vinda. Aku tidak ingin kehilangan kamu untuk kesekian kalinya,” potong Michael tidak mendengar ucapan Vinda sama sekali.
“Kamu terlambat bilang. Kita bahkan sudah menikah,” ujar Vinda meledek.
“Tidak masalah. Kita bisa menikah lagi nanti kalau itu maumu,” saran Michael dengan mengumbar senyum, “jadi, bagaimana? Apa aku diterima?”
__ADS_1
Vinda diam sejenak dan menatap Tasya yang berpura-pura tak melihat keduanya. Pandangannya kembali dialihkan menatap Michael yang ada di hadapannya dengan penuh harap. Bahkan jemarinya masih digenggam erat. Tak ada niat untuk melepaskannya.
“Kalau aku menolak pun kamu akan tetap memaksa, kan?” jawab Vinda dengan **** senyum.
“Tentu saja,” kata Michael dengan wajah angkuhnya.
Vinda yang melihat hanya berdecih kesal dan kembali meletakan makanan di piring Tasya. Selanjutnya dia duduk di kursi lain dan menyantap makan malamnya dengan perasaan bahagia. Dia berharap semua akan baik-baik saja. Tidak akan ada masalah lain yang menghampiri.
_____
Rika menatap klub malam di hadapannya dengan pandangan nanar. Lampu kerlap-kerlip menjadi pertanda bahwa bangunan tersebut sudah mulai terbuka. Bahkan, ada dua pria berbadan besar dengan kepala botak yang sudah berjaga di pintu masuk. Rika menghela napas panjang dan melangkahkan kakinya dengan gontai. Saat ini sudah jam delapan dan banyak sekali pengunjung yang datang. Kepalanya bahkan sampai menggeleng heran karena pengunjung di diskotik tersebut tidak juga surut.
“Ini orang apa gak bosen ya?” ucap Rika sembari memperhatikan sekitar.
“Eh, Mbak Rika. Kok ngobrol sendirian, Mbak,” sapa salah satu pria kekar tersebut. Roni, nama pria tersebut.
“Iya nih, cuma pas pengen aja,” ucap Rika canggung.
“Jangan sering-sering, Mbak. Nanti dikira gila loh. Masa cantik-cantik gila,” sahut Bani, salah satu satpam di diskotik tersebut.
“Iya ini, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Rika yang langsung melangkah cepat melewati gang di diskotik. Dia segera melangkah cepat. Dia harus segera kembali ke rumah. Tubuhnya sudah benar-benar lelah dan ingin mengistirahatkan.
_____
Vinda, Michael dan Tasya baru saja selesai makan malam dan sudah duduk di ruang keluarga. Tasya masih bertanya panjang lebar tentang keadaan Vinda, sedangkan Michael, dia hanya sibuk dan terus menempel kepada Vinda. Dia benar-benar mirip anak kecil yang takut ditingal ibunya ke pasar.
Mereka masih asik berbicara dan dihentikan dengan suara melengking yang membuat seisi ruangan terdiam. Michael menatap siapa yang datang ke rumahnya. Tasya bahkan sudah membelalak dan tersenyum begitu lebar melihat tamu anaknya kali ini. Sedangkan Vinda, dia hanya diam karena tidak mengenal siapa yang saat ini ada di depannya.
“Michael sayang, aku datang,” ucap Alice dengan senyum lebar.
Michael yang disapa langsung bangkit dengan kening berkerut. Vinda hanya memperhatikan tingkah suaminya yang terlihat begitu terkejut. Ada rasa aneh yang menjalar dalam hatinya secara tiba-tiba.
Alice yang lupa dengan status Michael langsung berlari dan memeluk pria tersebut erat, membuat Vinda hanya diam dengan senyum canggung. Dia baru saja merasakan bahagia, tetapi sudah ada wanita lain yang datang dan seakan ingin merusak hubungannya.
“Maaf, Ael. Dia tidak sabar dan nyelonong masuk,” ucap Randy dan langsung melangkah ke arah Michael saat ini berdiri, matanya menatap Vinda yang hanya diam memperhatikan. “Hai, Vinda, apa kabar?”
Michael yang mendengar nama Vinda langsung melepaskan paksa pelukan Alice dan menatap Vinda sekilas.
“Hai Dokter Randy. Saya baik-baik saja,” jawab Vinda tak mau menatap Michael.
Michael yang tahu apa yang ada di pikiran istrinya langsung memeluk pinggang Vinda erat dan menatap Alice dengan wajah bangga. “Hey, jangan main peluk seenaknya dong. Sekarang aku sudah menjadi pria beristri. Jadi, jangan buat istriku salah paham?” ucap Michael tak mau ada pertengkaran diantara keduanya.
Alice menepuk pelan keningnya dan menatap Vinda penuh penyesalan. “Vinda, maafkan aku. Aku lupa. Aku pikir dia masih pria lajang yang suka marah-marah.” Alice menangkupkan tangannya dan menatap Vinda dengan tatapan memohon.
Vinda yang melihat mengangguk dan tersenyum senang. “Tidak masalah. Mungkin karena kalian lama tidak bertemu. Jadi aku rasa itu hal yang wajar,” jawab Vinda menutupi rasa cemburu yang siap meledak.
Alice yang mendengar langsung lega. “Aku benar-benar tidak bermaksud membuat kalian bertengkar. Serius,” ujar Alice sembari mengacungkan kedua jemarinya, “aku malah senang akhirnya ada yang mau dengan pria kejam satu ini. Dan ingat, aku benar-benar tidak datang untuk merusak hubungan kalian berdua. Oke?”
“Hei, jelas dia mau. Dia beruntung mendapatkanku dan aku rasa kamu akan menyesal telah meninggalkanku,” celetuk Michael tanpa sadar.
Vinda hanya diam mendengarkan. Apa maksud Michael? Apa pernah ada hubungan diantara keduanya? Vinda hanya mengabaikan pikirannya dan berusaha sibuk dengan hal lain. Dia tidak ingin kecurigaannya semakin menjadi dan membuat masalah.
__ADS_1
_____