Wedding Drama

Wedding Drama
Bagian 69_Goresan Takdir


__ADS_3

“Selamat pagi,” sapa Vinda ketika baru sampai di rumah Rika. Perutnya sudah semakin membuncit dengan kandungan yang menginjak delapan bulan. Tinggal satu bulan waktunya untuk menunggu jabang bayi hadir.


Rika yang melihat langsung tersenyum senang. Sejak kandungannya mencapai angka ke tujuh, Vinda sering sekali datang ke rumahnya, meski hanya sekedar untuk berbicara hal tidak penting dan menunggu Michael pulang. Ya, Rika memutuskan untuk pindah ke rumah Randy yang dulu. Jelas setelah banyak perdebatan antara Randy dan Vera-mama mertuanya. Randy masih menyangka kalau selama ini mamanya hanya berpura-pura. Namun, setelah Vera menunjukan segala keseriusannya, perlahan Randy mulai luluh dan mau menerima apa yang sudah dikatakan Vera kepadanya.


“Kamu sudah datang?” ucap Rika dengan senyum sumringah.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Vinda sembari melangkah masuk.


“Aku baik,” jawab Rika sembari melangkah mengikuti Vinda yang menuju ke arah kantor. “Kamu mau minum apa?”


“Gak perlu. Aku sudah bawa makan dan minum sendiri,” ujar Vinda sembari menunjukan bekal makanannya.


Rika yang melihat berdecak heran dan akhirnya duduk. “Bagaimana dengan kandunganmu?” tanya Rika sembari menatap Vinda yang sudah memasukan kakinya ke kolam renang.


Vinda tersenyum tipis dan menatap ke arah Rika. “Dia baik. Aku tidak pernah mengalami kesusahan sama sekali. Kata dokter dia juga tumbuh sehat,” ucap Vinda sembari menatap perutnya yang memang sudah seperti badut.


Rika menatap Vinda dengan pandangan simpati. “Apa Michael masih tidak membolehkanmu melakukan semuanya sendiri? Apa dia masih takut dan tidak membiarkanmu di rumah kalau dia tidak ada?” tanya Rika sembari menatap lekat Vinda.


Vinda mengangguk. “Aku tahu, itu semua dilakukan karena dia yang terlalu khawatir dengan kondisiku. Insiden tiga bulan yang lalu membuatnya benar-benar selalu panik. Itu sebabnya aku dititipkan di rumahmu selama dia pergi,” jelas Vinda sembari menatap Rika yang masih menatap dengan senyum kecil. “Kamu tahulah alasannya. Rumahmu jauh lebih dekat dari arah rumah sakit dan juga kantornya.”


Rika yang mendengar langsung tertawa dan menatap Vinda dengan wajah tidak percaya. “Kamu tahu, Vinda. Aku masih tidak percaya jika Michael menjadi suamimu sekarang. Dulu ketika aku bekerja dengannya, wajahnya selalu datar dan tidak pernah tersenyum.”


“Dan jangan lupa, Rika. Sampai sekarang dia masih tetap seperti itu,” sahut Vinda dengan tawa yang mulai menggelegar.


Rika menggeleng tidak percaya dengan kenyataan bahwa Michael selalu bersikap lembut kepada istrinya. Padahal dia dulu menyangka kalau mantan atasannya itu adalah orang kasar yang tidak memiliki perasaan. Namun, dia salah. Wanita yang saat ini duduk di depannya, dia adalah wanita yang mampu membuat seorang Michael bertekuk lutut dan tidak pernah berbuat macam-macam.


“Tetapi kamu adalah orang terhebat yang bisa mengalahkannya, Vinda. Kamu bisa membuat seorang pria keras kepala menjadi begitu lembut ketika bersama keluarganya. Aku benar-benar salud sama kamu,” ucap Rika sembari mengacungkan ke dua jempolnya.


Vinda yang mendengar hanya melengkungkan bibirnya tipis. “Dan aku beruntung mendapatkannya. Aku tidak tahu sampai kapan akan bersamanya, tetapi aku ingin dia tahu, selamanya aku mencintai dia,” ucap Vinda dengan mata teduh dan pandangan menatap lurus ke dalam kolam.


Vinda menghela napas panjang dan menatap Rika dengan senyum sumringah. “Lalu, bagaimana dengan hubungan Randy dan juga tante Vera?” tanya Vinda dengan mata menyelidik.


Rika yang mendengar ikut menghela napas dan menatap Vinda tanpa semangat. “Aku sudah mencoba, Vinda. Aku mencoba meyakinkan Randy bahwa mama memang sudah merestui kami. Tetapi, tetap saja dia tidak bisa mempercayai mama sepenuhnya. Dia masih tetap memiliki rasa curiga. Di..aaahh..” Rika menghentikan ucapannya dan berteriak dengan tangan memegangi perut.


“Rika. Kamu kenapa?” tanya Vinda dengan mata membelalak. Dia sudah mengeluarkan kakinya dari kolam.


Rika hanya diam dengan wajah menunjukan segala kesakitannya. Tangannya masih memegang perut yang terasa begitu sakit.


“Ya Tuhan,” teriak Vinda dengan mata membelalak. Matanya melihat tetes darah keluar dari dalam pakaian Rika dan melewati kaki wanita tersebut. Jantungnya seakan berhenti berdetak.


“Roy,” teriak Vinda dengan suara bergetar. Dia ingat, Roy masih menunggunya di mobil. “Roy,” ulang Vinda dengan rasa tidak sabaran. Dia sudah memangku kepala Rika yang sudah tampak begitu lemah. Bahkan, keringatnya sudah mengucur dengan begitu hebat.


“Iya, Nyonya,” ucap Roy ketika baru sampai di depan pintu penghubung antara kolam renang dan juga bagian ruang tengah.


“Roy, angkat Rika ke mobil. Kita bawa dia ke rumah sakit,” perintah Vinda.


Roy yang melihat langsung sigap. Dengan cepat dia mulai membopong Rika dan membawanya ke rumah sakit. Diikuti Vinda yang sudah mengikuti dari belakang dengan wajah cemas dan air mata mengalir.


_____


Randy lari sekencang yang dia bisa ketika dia mendapat kabar dari Vinda yang mengatakan bahwa Rika mengalami pendarahan. Dia masih berada di lapangan, tempat papanya berniat membangun rumah sakit. Jantungnya seakan berhenti memompa dan bertugas sesuai dengan porsinya. Dia benar-benar merasa takut jika terjadi hal yang tidak diinginkan.


Randy memasuki rumah sakit yang juga menjadi tempatnya bekerja dengan tergesa. Dia menuju ke ruangan yang dimaksud dan tanpa sadar menabrak seseorang yang tengah berjalan. Randy baru akan mengucapkan maaf, tetapi melihat siapa yang ada di depannya, wajahnya langsung diam menujukan ketegangan yang sempurna.

__ADS_1


“Roy, kenapa kamu berdarah?” tanya Randy dengan air mata mengalir. Suaranya bahkan sudah bergetar menahan rasa takut yang mulai menyerang


“Nona Rika mengalami pendarahan. Saya hanya menggendong untuk membawanya ke rumah sakit,” jelas Roy dengan wajah datar.


“Lalu, di mana Rika sekarang?” tanya Randy dengan wajah cemas.


“Randy,” teriak Vinda dari ujung ruangan. Dia sudah melambaikan tangan ke arah Randy dengan wajah yang sudah membaik. Dia tidak setegang sebelumnya karena dia juga harus memikirkan kondisi bayinya.


Randy yang melihat langsung mengabaikan Roy dan segera melangkah ke arah Vinda. Matanya menatap Vinda dengan pandangan yang sulit sekali dijelaskan. Bahkan, hatinya juga sulit mengatakan apa yang dirasakan saat ini.


“Bagaimana Rika?” tanya Randy dengan wajah cemas.


“Dia masih di dalam. Ada yang salah dengan letak placentanya dan mengakibatkan pendarahan. Saat ini dokter sedang mencoba mengeluarkan bayinya,” jelas Vinda sembari memperhatikan Randy.


“Ya Tuhan,” ucap Randy sembari mengacak wajahnya. Penyesalannya mulai merayap dalam hatinya. Kenapa dia harus pergi? Seharusnya dia menjadi suami siaga dan orang pertama yang menolong Rika. “Dia bahkan baru mengandung tujuh bulan.”


Vinda yang melihat hanya diam dengan air mata yang menggenang dalam pelupuk matanya. Tangannya refleks mengusap pelan pundak Randy dan tersenyum menguatkan. “Tenanglah, Randy. Aku yakin Rika adalah wanita yang kuat. Dia akan selamat. Dan anakmu juga akan selamat. Mereka akan kembali dalam dekapanmu,” ucapnya menguatkan. Dia tahu apa yang dirasakan Randy saat ini. Putus asa.


_____


Setelah masa panjang yang dilalui, Randy dapat bernafas dengan lega. Saat ini anaknya sudah lahir dalam kondisi yang sehat dan Rikayang juga selamat. Keduanya dalam kondisi baik-baik saja, meski bayinya harus terlahir secara prematur. Randy berulang kali menghela napas lega dan berterima kasih kepada Tuhan karena sudah menjaga keluarga kecilnya.


Vinda masuk bersama dengan Michael dengan wajah riang. Kini giliran dia yang menunggu calon anaknya datang. Jujur, dia begitu senang ketika melihat bayi Rika hadir. Aku harap kamu juga dalam kondisi sehat, Nak, batin Vinda sembari mengelus pelan perutnya.


“Mas, anak kita akan sehat, kan?” tanya Vinda ketika sudah sampai di depan ruangan di mana anak Rika berada. Meski hanya melihat dari kaca pemisah antara ruangan dan lorong.


Michael yang melihat memeluk Vinda dari samping dan mencium puncak kepala istrinya pelan. “Tentu saja. Dia dan kamu akan sehat-sehat selalu.”


Michael mengangguk dan tersenyum. “Tentu. Kita akan merawatnya bersama-sama. Kita akan menjaga dia dan menyaksikannya tumbuh besar,” ucap Michael dengan senyum menenangkan.


Vinda yang mendengar merasa lega. Setidaknya hubungan yang dimulai dengan salah dapat membawanya ke dalam sebuah kebahagiaan. Vinda memeluk Michael erat dan menatap ke arah bayi Rika berada.


“Aku benar-benar sudah tidak sabar menunggu anak kita lahir, Mas,” ucap Vinda pelan.


“Sabarlah sayang. Sebentar lagi dia akan hadir diantara kita berdua,” jawab Michael sembari mengelus pelan perut Vinda.


_____


Vera masuk ke dalam ruangan Rika dengan senyum manis yang sudah ditunjukan. Dia memang sudah pasrah dengan apa yang dipikrikan. Dia lelah mencoba menjauhkan Rika dari anaknya karena pada akhirnya, bukan Rika yang menjauh, melainkan dirinya yang menjauh dari Randy.


“Sudah baikan?” tanya Vera dengan wajah lembut.


Rika yang mendapat perhatian langsung mengangguk dan tersenyum. “Sudah jauh lebih baik, Ma,” jawab Rika pelan.


“Lain kali, kamu itu harus jaga kesehatan. Jangan terlalu lelah dan juga banyak pikiran. Tetapi, terima kasih sudah memberikan mama cucu yang begitu menggemaskan,” ujar Vera dengan wajah senang. Dia senang melihat cucunya lahir dengan selamat.


Rika tersenyum dan memeluk Vera tanpa aba-aba. “Terima kasih, Ma. Terima kasih karena sudah mengizinkan Rika hidup bersama dengan Randy.”


Vera yang mendengar tersenyum dan membalas pelukan Rika lembut. “Iya. Kamu cukup berjanji untuk tidak meninggalkannya. Itu saja sudah cukup.”


“Mana mungkin dia meninggalkan Randy, Ma. Rika itu gak bisa hidup tanpa Randy,” celetuk Randy yang baru saja masuk.


Rika yang mendengar langsung mendengus kesal dan memanyunkan bibir. Kenapa suaminya masih saja bertingkah sok eksis. Randy yang melihat hanya tersenyum dan melangkah ke arah istrinya. Dia memberi salam kepada mamanya dan berpindah mengecup lembut kening Rika.

__ADS_1


Randy memperhatikan Rika dengn senyum sumringah. “Sayang, ada tamu yang mau ketemu.”


“Oh iya? Siapa?” tanya Rika penasaran.


“Sebentar,” ucap Randy dan memberikan tanda agar tamu yang ada di balik pintu masuk ke dalam.


Rika menatap ke arah pintu dengan penuh rasa penasaran. Dia ingin tahu, orang seperti apa yang datang dan dijadikan surprise untuknya. Matanya menatap antusias ketika pintu tersebut terbuka. Bibirnya tersenyum senang ketika melihat siapa yang datang, tetapi senyumnya perlahan menghilang ketika matanya bertatap pandang dengan wanita yang berdiri di belakang pria tersebut.


“Alice,” ucap Rika pelan.


Randy yang mendengar langsung menolehkan kepala menatap ke arah pintu. Vera juga hanya diam dengan mata menatap bingung. Sedangkan Bara yang baru datang ikut berbalik dan menatap Alice yang ada di belakangnya.


Alice tersenyum tipis dengan mata menatap ramah. “Hai,” sapa Alice sembari menampilkan senyumannya.


_____


Suasana menjadi hening ketika Alice sudah masuk ke dalam kamar dan duduk di sofa tidak jauh dari ranjang Rika, ditemani Vera dan Randy. Sedangkan Bara, dia memilih untuk duduk di kursi kecil sebelah ranjang Rika.


“Hai, apa kabar, Rika?” tanya Alice dengan suara ramah yang membuat Randy dan Vera merasa begitu merasa bersalah.


Rika yang ditanya tersenyum kecil dan menatap Alice lekat. “Baik. Kamu sendiri bagaimana, Alice?”


“Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja,” jawab Alice dengan wajah ceria. Dia bangkit dan membuat kedua orang yang ada di dekatnya mendongak dan mengikuti langkahnya menuju ke ranjang Rika.


“Sejak kamu mengambil Randy dariku, aku belum sempat menyapamu secara langsung. Itu sebabnya aku datang ke sini,” ucap Alice pelan.


Rika yang mendengar merasakan luka. Dia menunduk dan tidak berani menatap Alice yang sudah berada di sebelah ranjang. Bara sendiri menatap Alice dengan pandangan datar dan tidak banyak bicara.


“Maaf,” cicit Rika dengan perasaan bersalah.


Alice yang mendengar tertawa kecil dan membuat Rika mendongak menatap gadis tersebut. Keningnya bekerut karena Alice malah tertawa dan bukan marah kepadanya.


Alice menepuk pelan pundak Rika dan kembali melemparkan tatapan lembut. “Kamu tenang saja, Rika. Aku sudah melepaskan Randy. Aku akan mendapatkan kekasih lain yang jauh lebih baik darinya. Yang pasti juga lebih tampan,” ucapnya bergurau.


Rika yang awalnya merasa begitu bersalah merasa jauh lebih baik. Dia kira Alice akan memaki dan menyalahkannya. Namun, permintaan maaf yang baru saja dikatakan memang sudah ingin di katakan sejak dulu. Hanya saja belum ada waktu yang pas untuk menemui Alice.


“Aku benar-benar sudah tidak membutuhkannya, Rika. Jadi, berhentilah untuk merasa bersalah dan lain sebagainya. Kamu harus hidup dengan baik,” kata Alice lagi dan diangguki oleh Rika.


Alice tersenyum dan menatap Bara yang masih diam dengan pandangan datar. Dia sudah tahu jika pria di hadapannya memang tidak pernah bersikap ramah dengannya. Alice memilih untuk tetap berceloteh sampai akhirnya dia lelah.


Alice langsung berpamitan dan keluar dari ruangan Rika. Hatinya merasakan sesak meski berulang kali dia sudah mengatakan ikhlas dan rela dengan segala yang ditetapkan takdir. Namun, tetap saja rasa sakit itu masih ada.


Alice menghela napas pelan dan meremas pakaiannya. Air matanya hendak mengalir, tetapi ditahan dengan sekuat tenaga.


“Tuhan, kuatkan aku,” ucap Alice dengan suara pelan.


Masih sibuk dengan rasa sakit yang diterima, tiba-tiba sebuah tangan menepuk puncak kepalanya pelan. Alice hanya diam dan menatap siapa yang menjadi pelaku. Matanya menatap pria tinggi kurus yang ada di depannya.


“Good girl,” ucap Bara singkat dan berlalu.


Alice yang mendengar hanya diam dan menatap Bara yang sudah melangkah menjauh. Tangannya menghapus kasar pipinya, mengilangkan air mata yang meleleh. “Dasar aneh.”


_____

__ADS_1


__ADS_2