Wedding Drama

Wedding Drama
Bagian 47_Kesalahan Rensi


__ADS_3

Vinda masih sibuk mempersiapkan minuman dan hidangan untuk Randy dan jugaAlice. Mamanya memilih untuk pulang dan tak mengganggu merkleka semua. Dia hanya diam sejak kedatangan keduanya, membiarkan Micahel mengenang masa lalunya bersama dengan Randy dan juga Alice. Dari pada hanya berdiam diri, Vinda memilih untuk menyibukan diri di dapur. Saat ini dia sedang tidak mood mengukuti apa yang dibincangkan suaminya karena tidak ada yang dimengertinya sama sekali. Ketika semua temannya membicarakan tentang trend saat itu, dia sendiri sibuk dengan tumpukan buku untuk membahagiakan Beni. Dia ingin menjadi putri yang membanggakan untuk ayahnya.


“Kamu di sini ternyata.”


Suara tersebut membuat Vinda mengalihkan pandangannya dari gelas berisi air minum yang tengah diaduknya. Matanya menatap gadis dengan celana jeans ketat dan juga baju tanpa lengan berwarna peach. Senada dengan kulit putih gadis tersebut.


“Kamu ngapain malah di dapur?” tanya Alice yang sudah melangkah mendekati Vinda dan langsung menyandarkan tubuh di meja tempat memasak.


“Aku harus menghidangkan jamuan untuk kalian semua, kan? Bagaimana pun kalian adalah tamu di rumah ini. Jadi, sudah selayaknya aku memberikan yang terbaik untuk kalian,” jawab Vinda dengan senyum sumringah. Dia benar-benar menekan rasa aneh yang menjalar dalam hatinya.


Alice yang mendengar hanya tersenyum dan memandang lurus ke depan. “Aku senang pada akhirnya ada gadis baik yang bisa buat dia luluh,” ucap Alice tulus. Vinda yang sejak tadi tak menghiraukan kehadiran Alice langsung diam dan menatap gadis tersebut.


“Kalian sudah lama saling kenal?” tanya Vinda yang sudah pasti tahu jawabannya. Dia merasa konyol karena menanyakan hal tersebut.


Alice mengangguk. “Karena kita berada di keluarga dengan lingkungan bisnis yang sama, kita sudah saling mengenal sejak kecil. Orang tua kita selalu bertemu dan itu pasti menjadi pertemuan kita juga. Sampai pada saat kami masuk bangku SMA. Aku dan Michael menjadi sepasang kekasih.” Alice menatap lurus, seakan menerawang ke masa di mana mereka menghabiskan waktu bersama.


“Kalian sepasang kekasih?” tanya Vinda masih tidak percaya. Rasanya ada yang terasa sakit di ulu hatinya. Ada rasa iri yang menjalar karena dia tidak bisa bersama dan mengerti Ael seperti Alice mengertinya.


Alice menatap Vinda yang masih menunjukan wajah ramahnya. “Kamu tahu, Vinda? Dia adalah orang yang benar-benar egois meski kita sudah berpacaran. Sifatnya terlalu mengekang. Tidak boleh inilah, tidak boleh begitu. Aku jadi sebel dan gak nyaman. Padahal dia begitu asyik ketika kita berteman,” lanjut Alice yang menunjukan perasaan kesalnya karena mengingat seberapa menyebalkannya seorang Michael, “dan ingat, dia juga pencemburu berat.”


Vinda hanya tersenyum. Dia pencemburu? Rasanya aneh karena wajah datar seorang Michael merasakan cemburu. Dia sendiri bahkan tidak pernah tertawa sama sekali.


“Dulu, dia itu bukan pria dengan wajah minim ekspresi. Dia tampak begitu bahagia meski tidak pernah tertawa lepas. Tetapi, sejak kita berpisah, dia memutuskan untuk mengurung diri selama beberapa hari,” ucap Alice tanpa yang kembali menerawang masa di mana mereka merasakan cinta yang sama.


“Dia merasa kecewa?” tanya Vinda yang mulai penasaran.


Alice menggeleng. “Dia bukannya kecewa padaku, tetapi dia sibuk dengan tumpukan buku. Ketika dia memasuki masa perkuliahan, aku mulai pergi dan ternyata semua di mulai pada saat itu. Dia menjadi pria dingin dan tak berperasaan. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi padanya. Randy yang tengah melanjutkan kuliah di kedokteran juga sempat kaget saat melihat tingkah Michael yang mulai berubah,” jelas Alice membuat Vinda merasa penasaran.


Apa Michael memang berubah karena suatu hal? Rasanya dia juga ikut penasaran dengan kisah pria tersebut. Namun, apa jadinya kalau dia bertanya seperti itu kepada suaminya? Yang ada dia bisa digorok sampai tak bernyawa.


“Tetapi, setelah sekian lama, aku melihatnya kembali seperti dulu, bahkan jauh lebih ceria. Terima kasih,” kata Alice sembari menggenggam tangan Vinda erat.


Vinda hanya diam dan menatap Alice bingung. Memangnya apa yang sudah dilakukannya?


“Kamu sudah menjadikan Michael menjadi sosok yang seperti dulu lagi dan aku benar-benar berterima kasih untuk itu,” jawab Alice seakan mengetahui isi hati Vinda.


“Kamu begitu peduli dengannya, ya?” Vinda menatap Alice dengan senyum manis yang dipaksakan. Bolehkan dia merasa cemburu?


Alice yang tahu maksud Vinda hanya **** senyum dan menatap Vinda lekat. “Kamu cemburu denganku?” tebaknya tepat sasaran.


Vinda hanya diam dan menatap tak enak. Seharusnya dia senang karena teman suaminya datang, tetapi saat melihat Michael juga menunjukan wajah begitu mendamba kepada Alice, rasanya dia tidak tahu apa yang ada di pikiran suaminya saat itu.


“Iya,” putus Vinda jujur, “maaf karena aku terasa tidak tahu diri. Tetapi aku memang cemburu dengan apa yang terjadi. Aku tidak mengetahui apa pun. Sedangkan kamu, kamu tahu semua tentang dia.”


Alice tertawa kecil dan menatap Vinda dengan pandangan jenaka. “Kamu tahu, Vinda? Dalam hal ini harusnya aku yang cemburu sama kamu,” kata Alice sembari menggelengkan kepala, “aku yang sudah mengenalnya lama tidak bisa membuat dia tersenyum begitu lebar ketika bersama. Sedangkan kamu, kamu baru kenal sebentar dan bisa mengubah Michael kejam menjadi begitu manis. Dia bahkan bisa tertawa dengan begitu lepas dan itu hanya bersamammu.”


Vinda yang mendengar langsung mendongak. Benarkah apa yang dikatakan Alice? Rasanya dia benar-benar tersanjung dengan pujian gadis tersebut.


Alice menggenggam kedua tangan Vinda erat dan tersenyum begitu manis. “Kamu tahu, Vinda? Setiap orang memiliki posisinya sendiri di hati Michael. Kamu sebagai orang yang begitu dicintai dan aku hanya sebatas sahabat dari kecilnya. Kamu jauh lebih berarti untuknya. Lagi pula aku sudah tak tertarik dengan pria beristri,” ucap Alice sembari melepaskan genggamannya. Dia kembali menatap lurus ke arah pintu dan tersenyum sendiri.


“Lagi pula aku datang untuk menemui calon suamiku,” tambahnya dengan nada bangga.


“Calon suami? Kamu akan menikah?” Vinda mengerutkan kening heran. Jadi, gadis di hadapannya sudah memiliki calon suami? Untuk apa dia merasa cemburu?


Alice mengangguk senang dan penuh rasa bangga. “Iya. Aku datang memang khusus untuk menemui Randy.”


“Maksudnya?” Vinda semakin mengerutkan kening bingung.

__ADS_1


“Iya. Randy adalah calon tunanganku. Orang tua kami sudah setuju akan menjodokan kami dan aku juga menyetujuinya,” jelas Alice membuat Vinda diam kembali.


Vinda menatap Alice seperti menilai sesuatu. “Dokter Randy sudah tahu?”


Alice menggeleng. “Aku sengaja merahasiakannya sampa hari pertunangan datang. Aku sengaja ingin memberikan kejutan untuknya.”


“Kamu tidak takut dokter Randy menolak?”


“Tidak akan. Aku tahu dia mencintaiku sejak kecil. Jadi, aku yakin dia akan sangat bahagia.” Alice menatap lurus ke depan dengan wajah sumringah. Dia sudah tersenyum penuh kemenangan. Vinda sendiri hanya diam dan menata makanannya lalu segera melangkah ke ruang istirahat. Dia sudah terlalu lama mengobrol sampai lupa waktu.


_____


Rika menghembukan napasnya keras. Setelah makan dan beres-beres, dia langsung merbahkan tubuh dan berbaring di ranjang kecil miliknya. Bangunan kecil dengan satu kamar dan juga ruang memasak menjadi tempatnya berteduh saat ini. Sebuah kontrakan kecil yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama tiga tahun belakangan. Rasanya miris ketika dia biasa hidup bersama orang tuanya, sekarang dia harus mandiri dan bahkan menghidupi kebutuhannya sendiri.


“Ibu sama Bapak ke mana? Rika kangen,” bisik Rika sembari menatap langit-langit rumah. Matanya menatap lurus dengan pandangan mengabur.


Rika menghela napas panjang kembali. Dia menatap meja nakas di sebelahnya dan memandang dua bingkai foto yang selalu dipajangnya. Rasanya dia benar-benar hampa. Ketika seluruh keluarga pergi meninggalkannya, sosok yang menjadi penguatnya ternyata juga pergi tanpa mendengarkan alasannya.


Rika tersenyum menatap bingkai foto yang menampilkan dirinya dan Randy tersenyum begitu bahagia, hingga terasa tak ada yang akan mampu memisahkannya. Mengingatnya membuat hatinya kembali merasakan luka yang teriris pilu. Apa yang baru saja dilakukannya? Dia merasa benar-benar bodoh karena memikirkan Randy yang jelas-jelas sudah tak memikirkannya sama sekali.


“Lupakan, Rika. Lupakan. Dia sudah bahagia dengan yang lain,” ucap Rika mengingatkan diri sendiri. Dia cukup sadar diri dengan kondisi yang tak akan mendapatkan restu dari kedua orang tua Randy. Hidup tanpa tujuan, tak memiliki keluarga sama sekali. Mana mungkin ada pria yang menerimanya begitu saja dan tak mempermasalahkan mengenai bibit, bebet dan bobot. Rika sendiri tak yakin untuk membangun rumah tangga nantinya.


Rika menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ingatannya kembali menerawang di saat di mana Randy melihatnya bersama dengan seorang pria tepat di depan diskotik yang terletak di depan kontrakannya. Dia sendiri tidak menyangka jika Randy ada di tempat itu untuk mengawasinya.


“Kamu berselingkuh dariku, Rika?” tanya Randy saat itu dengan mata menujukan kemarahan.


“Randy, aku bisa menjelaskannya,” ucap Rika dengan wajah panik. Pasalnya, dia tengah membawa seorang pria mabuk bersamanya.


“Tidak perlu” sahut Randy begitu marah, “lagi pula kenapa kamu ada di diskotik? Sejak kapan kamu keluar masuk tempat seperti ini?”


“Aku benar-benar kecewa sama kamu, Rika. Awalnya aku melihat dan berpikir semua adalah kebetulan. Sekarang, aku melihatmu lagi, bahkan bersama seorang pemuda kecil yang berada jauh di bawahmu. Aku benar-benar kecewa sama kamu, Rika,” kata Randy dengan wajah menunjukan semua perasaan kecewanya.


“Randy, aku....”


“Aku harap ini pertemuan terakhir kita. Aku tidak mau memiliki kekasih seorang wanita murahan dan sudah disentuh banyak pria. Aku tidak mau melihatmu lagi. Hubungan kita cukup sampai sini,” jelas Randy dan langsung pergi meningalkan Rika tanpa penjelasan.


Rika yang mengingat hal tersebut tetap saja merasa terluka. Dia pergi tanpa mengatakan apa pun. Awalnya dia ingin menjelaskan semuanya, tetapi langsung diurungkan. Dia cukup sadar diri dengan apa yang terjadi pada mereka. Randy adalah pria dari keluarga terpandang, sedangkan dia? Dia hanya gadis miskin yang tak memiliki keluarga. Orang tuanya bahkan sudah pergi meninggalkannya seorang diri.


Rika menitikan air mata merasakan semua penderitaannya selama ini. Dia memeluk erat kedua bingkai foto tersebut. Di mana salah satunya adalah dirinya dan Randy. Sedangkan di bingkai lain menunjukan figura dirinya beserta ke dua orang tuanya.


“Aku merindukan kalian semua,” ucapnya disela-sela tangisnya.


_____


Jika membicarakan tentang luka, akulah orang yang paling terluka.


Rensi menatap lantai dansa yang begitu ramai dengan pandangan tajam. Sudah beberapa hari dia memutuskan untuk tidak pulang ke rumah dan memilih menginap di hotel. Dia enggan bertemu dengan wajah papanya yang sudah membuatnya merasakan terluka dan begitu terhina. Tak ada yang mempedulikannya sama sekali. Bahkan, tak ada yang menyayanginya.


“Vinda, kamu memang wanita kurang ajar,” desisnya yang sudah mulai hilang kesadaran.


Sudah beberapa hari dia selalu datang ke klub tersebut dan mabuk. Tak jarang dia juga tidur di ruang penginapan di klub karena sudah terlalu mabuk. Dia hanya ingin menghilangkan sedikit perasaan kecewa dan terluka yang masih menghampiri. Setidaknya dengan alkohol dia akan bisa melupakan semuanya. Meski pada akhirnya, ketika pagi datang semua akan kembali menyerang hatinya.


“Kamu itu memang anak sialan, Vinda,” ocehnya sembari memainkan gelas berisi alkohol.


“Hei, sendiri?” tanya seseorang yang langsung duduk di bangku sebelah Rensi.


Rensi menatap pria dengan tubuh kekar di sebelahnya dan tersenyum. Matanya menatap pria tersebut dengan senyum menggoda. “Apa urusan anda, tuan?”

__ADS_1


“Aku hanya bertanya, Nona. Mana pasangan anda?” tanya pria tersebut sembari menatap sekeliling.


“Aku tak butuh pasangan. Aku bahkan bisa hidup sendiri,” jawab Rensi sembari turun dari kursi bar.


Dia melangkah menuju tempat dansa dan menari ke sana ke mari. Dia meliukan tubuhnya dengan begitu lincah. Bahkan, pria yang sejak tadi ada di sebelahnya menatap dengan kening berkerut. Rensi yang melihat tersenyum dan memberikan isyarat agar pria tersebut mendekat dan langsung dituruti.


“Apa kamu berusaha menggodaku, Nona?” tanya pria tersebut sembari meliukan tubuhnya.


“Apa kamu merasa tergoda?” Rensi malah balik bertanya. Jemarinya menyentuh dada bidang pria tersebut dan berusaha mengukir apa yang ada di dalamnya.


“Jika memang iya, apa kamu akan meredamnya?” bisik pria tersebut tepat di telinga Rensi. Tangannya bahkan sudah memeluk pinggang gadis tersebut erat.


Rensi yang mendengar langsung tersenyum dan mengalungkan tangannya di leher pria tersebut. Matanya menatap pria tersebut dengan lekat. Senyum sinis tercetak begitu jelas. “Tentu saja aku akan melakukannya. Dengan senang hati,” jawab Rensi tepat di telinga pria tersebut.


Pria dengan pakaiann hitam melekat langsung tersenyum. Dia menarik Rensi keluar dari kerumunan dan melangkah ke arah pojok ruangan. Setelah memesan kamar, langkahnya segera menuju ruangan dan masuk. Rensi hanya diam karena pengaruh alkohol yang sudah menguasainya.


“Kamu yang meminta, Nona,” ucap pria tersebut sembari melepaskan dasi yang sejak tadi melilit.


Rensi yang mendengar hanya tersenyum kecil dan duduk di ranjang, menunjukan gerakan eksotis yang akan membuat semua pria kehilangan kendali atas dirinya. “Dan aku begitu menantikannya, tuan.”


Pria tersebut melangkah dengan senyum setan dan segera menidurkan Rensi. Tangannya sudah bergerilya di tubuh gadis tersebut. Dengan tergesa, pria tersebut mulai mencium Rensi, menikmati setiap jengkal tubuh gadis tersebut. Selanjutnya, hanya terdengar erangan penuh nikmat. Rensi bahkan hanya membiarkan pria tersebut membuang semua benihnya di dalam rahim tanpa peduli apa yang akan terjadi nantinya.


Rensi bernapas memburu dan mulai memejamkan mata. Pria tersebut tersenyum dan menatap Rensi lekat. Tangannya menarik selimut dan menutupi tubuh telanjang keduanya. Tangannya mendekap Rensi erat, membuat wanita tersebut menyembunyikan wajahnya dia dada bidang pria yang sudah memberikan kenikmatan untuknya malam ini.


“Siapa namamu?” tanyanya sebelum Rensi terhanyut dalam tidurnya.


“Rensi. Rensi Pirnanti,” jawab Rensi masih memejamkan mata.


“Terima kasih untuk malam ini, Rensi. Aku benar-benar puas,” sahut pria tersebut.


Rensi hanya diam tak menjawab. Dia sudah benar-benar lelah dan memilih memejamkan mata. Hingga alam tidur kembali menyapanya. Membuat semuanya menjadi gelap. Napasnya sudah terdengar teratur. Dia bahkan tidak penasaran dengan pria yang sudah menidurinya malam ini. Memberikan kenikmatan yang sudah sangat didambanya.


Pria tersebut tersenyum dan mengecup kening Rensi sekilas. “Semoga kita bertemu lagi, Rensi.”


_____


🌾🌾🌾🌾🌾


"Kamu itu bodoh, Rensi. Kamu membuat kesalahan yang sama seperti Mama dulu. Kamu lupa alasan apa papamu mengusir kita pergi dari rumah?" teriak Nani dengan wajah menahan amarah.


"Rensi gak sengaja, Ma. Terus gimana?" Rensi menatap Nani dengan wajah panik.


"Mama akan pikirkan cara memperbaiki masalah ini."


🌾🌾🌾🌾🌾


🍁🍁🍁🍁🍁


☝☝☝☝☝


Itu sedikit cuplikan tentang Rensi. Gak ada yang penasaran nih sama ceritanya Rensi yang bisa jadi maniak kasih sayang? hehehe


Selamat membaca. Jangan lupa like, comment, tambahkan ke favorit, vote dan follow Kim ya.


See you next part sayang-sayangkuh 😚😚😚


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2