Wedding Drama

Wedding Drama
Bagian 22_Pengantin Pengganti


__ADS_3

“Kamu bisa menjadi pengantin Michael hari ini, Vinda.”


Ucapan Tasya seketika membuatnya menegang dan menatap dengan mata membelalak. Dia meraa jantungnya akan lepas dan pikirannya tidak bisa mencerna dengan jernih. Mata beningnya menatap Michael yang saat itu tengah menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Rahangnya sudah mengeras dan itu membuatnya semakin ciut. Dia tidak pernah membayangkan pernikahannya dengan pria yang bahkan tidak pernah dikenalnya dengan status sebagai pengganti.


“Gak, Ma. Ael cuma mau Rensi dan Ael akan mencarinya. Dia pas....”


“Diam, Ael!” bentak Tasya dengan mata yang menatapnya tajam. Ada kekecewaan yang terpancar dari wajahnya dan itu membuat Ael diam seketika. Vinda bahkan tidak pernah menyangka bahwa seorang wanita yang selalu bertingkah lembut bisa bertingkah semengerikan saat ini. Vinda merasa tengah menatap sosok lain yang benar-benar jauh berbeda.


“Mama sudah bilang dan percaya bahwa kamu memilih wanita baik-baik yang tidak akan mengecewakan. Tetapi sekarang apa? Dia pergi meninggalkan pernikahan dan membuat malu kita semua,” ucap Tasya dengan amarah yang menggebu, “dan Mama tidak suka dengan perbuatannya yang dengan terang-terangan tidak menginginkanmu.”


“Tidak, Ma. Pasti terjadi sesuat....”


“Apa? Terima fakta bahwa kamu memang tidak diharapkannya,” desis Tasya dengan wajah yang tidak menunjukan senyum sama sekali.


Adelardo yang melihat tingkah sang istri hanya diam karena dia juga merasa kecewa. Saat dia turun dan tidak membawa pengantin wanita, semua orang akan bertanya. Keluarganya akan dipermalukan dengan kejadiaan seperti ini. Itulah sebabnya dia menerima solusi yang dikatakan istrinya. Menjadikan Vinda sebagai pengantin untuk Michael hari ini.


Vinda hanya diam menunduk dengan tangan yang masih saling bertautan. Dia merasa nyalinya semakin menciut ketika Tasya menatapnya dengan tajam. Beberapa kali dia membaca mantra untuk menguatkannya, tetapi tetap saja rasa takutnya lebih menguasai.


“Vinda, kamu akan menikah dengan Michael saat ini juga,” ucap Tasya dengan nada datar dan tidak menunjukan kelembutan sama sekali.


“Tidak. Tidak ada yang boleh menggantikan Rensi. Apa pun yang terjadi, hanya dia yang boleh menikah dengan Michael,” potong Nani yang masih shock dengan kejadian saat ini. Beberapa kali dia menggeleng, mencegah agar Tasya mau menunggu Rensi sampai anaknya ditemukan. Dia tidak akan rela jika Vinda yang menikah dengan Michael.


Tasya yang mendengar langsung menatap Nani dengan tatapan meremehkan. “Kamu berharap anak mu datang?” tanyanya dengan sebelah alis terangkat, “jangan bermimpi karena aku rasa dia sudah pergi jauh bersama dengan kekasihnya. Jadi, jangan mempersulit keadaan atau kalian akan kehilangan semuanya.”


Nani yang mendengar langsung merosot dari pelukan Beni dan menunduk lemah. Dia tidak bisa membiarkan Vinda menjadi pengantin Michael, tetapi dia juga tidak ingin menjadi gelandangan karena keluarga Aditama bisa melakukan apa pun yang diinginkan. Termasuk menghancurkan bisnis keluarganya.


Michael menatap Nani dengan tatapan yang sulit terbaca dan kembali menatap mamanya. Wajahnya semakin datar dan tidak menunjukan emosi sama sekali. “Ma, beri Ael kesempatan untuk mencarinya. Ael yakin, Rensi tidak akan pernah meninggalkan Ael ketika mengetahui semuanya.”


“Memangnya saat ini Mama memberimu pilihan, Ael?” tanya Tasya dan melirik ke arah anaknya tajam, “kesempatanmu sudah habis. Kamu memilih untuk tetap menjadi pewaris sah keluarga Aditama dengan menikahi Vinda atau memilih Rensi dan Mama akan mencoretmu dari daftar pemilik sah perusahaan kita.”


Michael hanya diam sesaat dan memandang Vinda dengan kebencian yang semakin menjadi. Tatapannya benar-benar menusuk, membuat gadis tersebut hanya diam di tengah ruangan dengan wajah yang memucat. Jujur, kali ini Vinda benar-benar marah kepada Rensi karena sudah menjadikannya bahan pengganti. Dia membenci sikap Rensi yang tidak pernah berpikir panjang dalam melakukan sesuatu.


“Ya, Ael akan menikah dengan Vinda,” ucap Michael sembari menatap Vinda dengan tatapan mematikan. Suaranya terdengar begitu dingin, sampai Vinda meremang takut mendengarnya.


“Bagus, pilihan yang tepat,” sahut Tasya dengan senyum sinis mengembang dan menatap Doni, memberikan isyarat untuknya masuk dan mendandani Vinda. Matanya kembali menatap Vinda yang masih tetap berdiri tegap di tempatnya.


“Dan kamu, Vinda. Jangan coba-coba melakukan hal yang sama dengan Rensi. Jika itu terjadi, keluargamu yang akan menerima hukumannya,” peringat Tasya dengan nada kejamnya, “dan kamu memang sudah tidak memiliki pilihan.”


Vinda menutup matanya sejenak, meratapi penderitaannya yang tidak kunjung usai. Dia bahkan sudah merasa lelah menjalani hari. Ya, memang sudah tidak ada pilihan dan caranya hanya menikmati setiap detik yang akan dijalani bersama Michael. Hanya itu.


_____


Vinda diam dengan mata terpejam, mersapi tiap goresan make up yang ditaburkan Doni di wajahnya. Rasanya dia benar-benar ingin menjerit saat itu juga. Tidak ada pilihan untuknya saat ini. Dia takut jika nanti kabur, ayah dan ibunya akan tinggal di jalanan karena dia yakin, keluarga Aditama akan menghancurkan mereka. Dia pernah melihat sosok baik yang berubah menjadi serigala hari ini dan dia yakin, itu semua karena perasaan kecewa yang disebabkan oleh Rensi.


“Sudah selesai,” ucap Doni dengan wajah sumringah dan menatap Vinda takjub. Pasalnya, wajah Vinda menjadi jauh lebih cantik dari yang diperkirakan. Dia tersenyum menatap Vinda yang hanya diam dengan wajah menunduk penuh kesedihan. “Kamu terlihat cantik, Vinda,” puji Doni tulus.

__ADS_1


Vinda yang mendengar hanya tersenyum simpul dan menghilangkan garis luka yang sejak tadi diciptakan. “Terima kasih.”


Doni tersenyum melihat Vinda yang masih dengan tegar menghadapi takdirnya. “Aku tau kamu cukup sedih menjadi pengganti, padahal menikah hanya sekali dalam seumur hidup. Tetapi aku yakin, dengan keteguhan dan kebaikanmu, Tuan Michael akan luluh dan menjadikanmu wanita paling beruntung.”


Mendengar hal tersebut malah membuat hatinya semakin miris. Dia hanya mengnagguk mengiyakan. Dia berharap, ini adalah pernikahan pertama dan terakhir untuknya. Meski dia hanya menjadi pengganti, harapannya hanya satu, Michael akan mencintainya. Mungkin suatu saat nanti.


“Mari aku antar ke pelaminan,” ucap Doni sembari membantu Vinda membenarkan pakaiannya.


Vinda menatap pantulan dirinya pada cermin. Gaun putih yang menandakan kesucian. Gaun yang seharusnya dipakai Rensi pada hari ini. Namun, kenyataannya, saat ini Vinda yang mengenakan. Langkahnya mulai meninggalkan kaca besar di hadapannya dan meninggalkan ruangan. Menuruni satu per satu anak tangga dan mendapatkan banyak tatapan. Mulai dari kagum, haru, senang, iba dan tatapan kebencian.


“Tenanglah, jangan terlalu gugup,” ucap Doni sembari menggenggam tangan Vinda yang sudah mengembun.


Della yang melihat hanya bisa diam dengan mata berkaca. Samlao kapan dia akan terus terluka? Della tau semua kehidupan Vinda dan dia sangat berempati dengan apa yang menjadi takdir sahabatnya. Takdir yang seakan mempermainkan Vinda dan menjadikannya gadis paling malam semasa hidupnya.


Vinda mengumbar senyum yang menyembunyikan luka. Terutama saat tangan Michael yang mengulur dan hendak menyentuh tangannya. Matanya menatap Doni agar pria tersebut tidak menyerahkannya, tetapi semua hanya sia-sia. Michael meraih tangan yang sudah dilepaskan Doni dan membuat Michael menggenggamnya.


Vinda menatap Dika yang saat itu juga hadir di acara pernikahan tersebut. Senyumnya masih terus ditunjukan, senyum bahagia yang pada dasarnya hanya tipuan. Michael membawanya ke tempat, di mana pernikahan akan berlangsung.


“Kamu akan menyesali keputusan ini, Vinda,” bisik Michael membuat Vinda meneguk salivanya susah.


_____


Vinda hanya memejamkan matanya ketika Michael melangsungkan akad pernikahannya. Mengucapkan sumpah setia dan janji suci untuk pernikahannya di hadapan yang kuasa. Dia tau, semua hanya bualan semata karena pada nyatanya, Michael tidak akan bisa mencintainya. Takdir memang selalu menyakitkan.


Setelah selesai, tepuk tangan meriah membuat Vinda tersenyum. Bukan karena dia yang bahagia dengan pernikahannya, tetapi karena dia bahagia sudah menyelamatkan keluarganya. Setidaknya, dia akan menangani Michael seperti biasanya. Kamu pasti kuat, Vinda. Kamu bisa kalahkan Michael dengan tekad kuat. Jangan mau mengalah dengan pria tidak bertanggung jawab seperti dia.


Vinda hanya tersenyum dan mengangguk. Dia bingung harus mengatakan apa kepada dua orang yang saat ini berdiri di hadapannya dengan wajah sumringah. Sampai sebuah tangan kekar mendekap pinggangnya erat, membuat Vinda mengalihkan pandangannya, menatap Michael yang menatap Tasya dengan wajah mengeras.


“Ini yang Mama mau?” suara Michael dengan suara tidak suka dan itu membuat Vinda yang saat ini tengah dirangkulnya hanya diam mematung. Pasalnya, Michael memegang pinggangnya erat, bahkan menyerupai remasan.


“Sekarang dia adalah istrimu, Ael. Apa pun yang terjadi, kamu harus tetap membahagiakannya. Jangan buat dia sakit karena ulahmu.” Tasya menatap anaknya tajam dengan wajah ramah yang menguap.


Michael yang mendengar hanya terkekeh mendengar ucapan mamanya. Dia menatap Vinda yang merasa tidak nyaman dengan pelukan tangannya dan tersenyum miring. “Bukankah dia istriku, Ma?” tanya Michael dengan senyum penuh makna.


Tasya yang melihat mengerutkan kening heran dan menatap Michael penuh tanya. Apa yang akan dilakukan putranya? Perasaannya mulai tidak enak melihat wajah mengeras Michael yang sudah menatap Vinda tanpa berkedip.


Setelah puas melihat Vinda, matanya kembali menatap Tasya yang masih memperhatikannya. “Jadi, semua mengenai Vinda adalah urusan Ael. Mama atau Papa tidak berhak ikut campur,” desisnya dan langsung menyeret Vinda keluar dari acara pesta pernikahannya.


Vinda diseret paksa berusaha melepaskan genggaman erat tangan Michael di lengannya yang terasa sakit, tetapi gagal. Michael-pria yang sudah menjadi suaminya terus saja menyeret hingga berhenti tepat di mobil yang sudah dihias dengan begitu apik.


“Masuk,” geram Michael dengan wajah tidak ramah sama sekali.


“Tidak. Aku mau tetap di sini,” kekeh Vinda tidak mau menurut.


“Sekarang aku adalah suamimu. Jadi masuk ke dalam atau aku akan memakasamu dengan caraku,” desis Michael dengan mata menggelap.

__ADS_1


Vinda benar-benar kehilangan nyalinya. Dia memilih untuk menurut dan masuk ke dalam mobil dan menatap beberapa keluarga yang menatapnya dengan iba, termasuk ayahnya yang tampak begitu lemah. Vinda harus mengumbar senyum agar wajah cemas ayahnya berganti dengan tatapan yakin bahwa dia akan baik-baik saja.


“Jalan, Roy,” ucap Michael dan langsung diangguki Roy yang langsung menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran rumah Vinda.


_____


Michael tidak henti-hentinya menyeret Vinda yang berjalan terseok di belakangnya. Bahkan, sepatu hak tinggi yang digunakan dalam acara pernikahan sudah tidak menjadi alasnya. Beberapa kali Vinda mengaduh pun tidak didengarkan oleh pria tersebut. Michael masih dengan amarah yang meluap membawanya memasuki bangunan kayu yang tampak begitu kokoh.


Michael membawa Vinda ke salah satu tempat singgah yang sudah dibelinya, tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya. Dia tau, saat dia membawa Vinda ke rumahnya, orangtuanya akan menghalanginya untuk menyakiti Vinda.


“Michael, lepaskan. Tanganku sakit,” keluh Vinda yang masih berusaha melepaskan genggaman tangan Michael.


Michael terasa tuli dan tidak mendengarkan ucapan Vinda. Dia berbalik, menatap Roy dan masih setia di belakangnya. “Kamu cari tahu mengenai pria bernama Dave secepatnya. Aku yakin, dia yang membawa Rensi pergi.”


“Baik, Tuan,” ucap Roy yang menundukan kepala. Saat dia mendongak, matanya bertemu dengan mata penuh air mata milik Vinda.


Vinda menggeleng melihat Roy yang hendak meninggalkannya. Beberapa kali dia menggeleng, tetapi tetap tidak dihiraukan. Dia tau, pria yang saat ini menggenggam erat tangannya tidak akan memaafkan jika ada yang membantah. Berarti semua usahanya sia-sia karena tidak akan ada yang menolongnya. Bahkan dai melihat beberapa pasang mata yang mengintipnya tanpa mau berusaha menolong.


“Dan kamu, ikut denganku,” desis Michael tepat di depan wajah Vinda.


Vinda merasa Michael membawanya dengan tidak berprikemanusiaan. “Michael, lepaskan. Aku bisa jalan sendiri.”


Michael hanya diam dan membawa Vinda menaiki anak tangga dengan buru-buru. Vinda bahkan sampai tersandung dan pria tersebut tidak peduli sama sekali. Langkahnya terhenti ketika sudah berdiri di sebuah pintu kayu dengan ukiran di sepanjang kayu tersebut. Tanpa basa-basi, Michael menarik Vinda dan menyentaknya masuk. Tatapannya sudah menggelap dengan otot yang mulai nampak.


“Michael, aku tidak ada pilihan lain. Tetapi aku janji, akan berpisah denganmu ketika Rensi sudah ditemukan,” cicit Vinda ketika menyadari Michael mengunci pintu kamar tersebut, "biarkan aku pergi," mohon Vinda membuat Michael semakin senang.


“Tanpa kamu berjanji pun, aku akan menceraikanmu ketika Rensi kembali,” desis Michael dengan langkah pelan, menatap wajah Vinda yang sudah memucat.


Vinda menengok seisi ruangan, mencari jalan untuk keluar. Namun, semua terasa percuma karena dia tidak mendapatkan jalan sama sekali. Jendela yang sudah dipasangi tralis besi, pintu yang terkunci dan tatapan Michael yang sudah menatapnya dengan begitu tajam.


“Mencoba kabur, hm?” tanya Mihchael dengan wajah mengejek, membuat Vinda semakin takut dibuatnya, “jangan bermimpi, Vinda. Tidak ada tempat untuk kabur lagi. Itu semua salahmu karena menerima jatuh pada sosok Michael Aditama,” ucapnya menggelegar.


Vinda yang mendengar sudah benar-benar menciut, nyalinya menguap seketika. Dia hendak berlari, tetapi sebuah tangan kekar sudah lebih dulu menangkap bagian pinggangnya dengan erat.


“Mau kabur?” tanya Michael lagi dengan senyum mengerikan. Dia menatap Vinda dan menghempaskannya ke ranjang. Membuat Vinda terlentang dengan gaun acak-acakan.


Michael melangkah mendekat dan melepaskan ikatan dasi yang sejak tadi melilit lehernya, melemparkan jasnya ke sembarang arah. Tangannya masih melepaskan satu per satu kancing kemeja putih yang digunakan, membuat Vinda bergidik ngeri.


“Michael, jangan,” kata Vinda dengan perasaan was-was.


Vinda hendak kabur saat Michael menarik kakinya dan langsung **** tubuhnya. Senyum mengerikan terpampang jelas di wajahnya. “Mari kita mulai perayaannya, Vinda,” ucap Michael yang langsung melepaskan gaun Vinda yang memang hanya sebatas dada dan tanpa lengan, membuatnya menampilkan dua gundukan yang langsung membuat Michael tersenyum menang.


Vinda masih berusaha memberontak, tetapi usahanya sia-sia karena Michael jauh lebih kuat darinya. Pada saat yang sama, dia sadar, harapan dan hidupnya sudah hancur saat ini.


Kehidupanku sudah hancur ketika aku menerimanya, batin Vinds pilu.

__ADS_1


_____


__ADS_2