Wedding Drama

Wedding Drama
Bagian 39_Mencoba Pergi 2


__ADS_3

Rika baru saja keluar dari kamar Tasya sembari membawa baskom berisi air hangat yang sudah mendingin. Dia ditugaskan untuk datang dan merawat Tasya hingga ada anggota keluarga yang datang atau dokter Randy yang sudah menjadi dokter keluarga. Sebenarnya dia benar-benar malas jika harus berhubungan dengan Randy. Namun, dia harus bersikap profesional dan menjalankan tugasnya dengan baik. Dia tidak bisa mengelak atau pun membantah ucapan Michael karena hasilnya akan sangat tidak baik.


Rika baru saja meletakan baskom tersebut di meja masak dan mengisinya dengan air hangat kembali. Kakinya baru saja hendak kembali ke kamar Tasya, tetapi langsung dihentikan karena pria yang berdiri di hadapannya saat ini. Pria dengan pakaian kerja dan snelli yang hanya diletakan di lengann.


“Dokter sudah datang? Maaf saya tidak mendengar mobil anda,” ucap Rika dengan wajah menatap datar.


Randy memilih mengabaikan ucapan Rika dan menatap gadis di hadapannya tajam. “Di mana, Tante?”


“Nyonya ada di kamarnya. Mari saya antar,” jawab Rika dan segera melangkah mendahului Randy.


Randy hanya menurut dan tidak berniat menyapa Rika sama sekali. Meski dia tahu di mana kamar tantenya, dia memilih untuk diam dan mengikuti gadis tersebut dalam diam. Matanya menatap setiap gerik Rika yang membuatnya merasa jijik dan pandangan penuh hina.


Rika membuka pintu ruangan Tasya dan segera mempersilahkan Randy masuk. Pria tersebut hanya diam dan segera mengeluarkan alat-alatnya. Mulai memeriksa bagian-bagian penting yang dikeluhkan Tasya.


“Tante gak makan ya beberapa hari? Mag-nya kambuh,” jelas Randy sembari menuliskan sesuatu di kertas.


“Tante gak nafsu makan, Randy. Tante masih kepikiran sama Vinda. Tante takut dia kenapa-napa nanti,” jelas Tasya dengan wajah yang sudah mulai pucat.


Randy yang mendengar tersenyum. “Tante harus makan. Kalau Tante sakit, gak bisa bantu cari Vinda nanti. Lagi pula Randy yakin, Michael akan menemukan Vinda. Percayalah.”


Tasya yang mendengar hanya mengangguk. Sebenarnya dia yakin jika Michael bisa menemukan Vinda dengan cepat. Namun, dia takut karena Michael tidak mencintai Vinda sama sekali. Itu sebabnya dia terlalu banyak pikiran dan enggan memakan apa pun yang dihidangkan.


Randy merobek kertasnya dan menatap Tasya dengan senyum lembut. “Tante, Randy harus pergi sekarang. Masih ada pekerjaan di rumah sakit. Nanti malam, Randy akan datang dan mengecek lagi,” ucap Randy, “tidak masalah, kan?”


Tasya yang mendengar tersenyum dan mengangguk. “Tidak masalah. Lagi pula ada Rika yang merawat tante sejak tadi,” jawab Tasya sembari menatap Rika lembut.


Randy yang mendengar hanya tersenyum tipis dan enggan menatap gadis yang sejak tadi berdiri di sebelah ranjang. “Kalau begitu, Randy pamit dulu ya, Tan.” Randy menyalami Tasya dan segera berlalu keluar.


Rika mengikuti dari belakang dan berniat mengantar Randy sampai pintu depan. Namun, baru menuruni anak tangga terakhir, kakinya dihentikan oleh langkah Randy yang juga berhenti. Pria tersebut menatap Rika dengan pandangan yang sulit diartikan.


Randy menyodorkan kertas tersebut dan menatap tidak suka. “Ini resep obat yang harus kamu beli. Buatkan bubur untuk Tante dan jangan beri makan yang kasar,” jelas Randy yang langsung diangguki oleh Rika, “dan lagi, jaga tante Tasya. Aku dan Michael akan datang malam. Mungkin sekitar pukul sepuluh. Jadi, harap kosongkan jadwal malammu dan jangan berusaha pergi.”


Rika yang mendengar menutup matanya sejenak dan menarik napas dalam, lalu dihembuskannya perlahan. Dia kembali membuka mata dan menatap mata hazel milik pria di hadapannya. Namun, ada luka yang dirasakannya karena Randy menatapnya dengan pandangan penuh kebencian.


“Baik,” jawab Rika sembari menekan batin yang terasa tersiksa.

__ADS_1


Randy hanya diam dan segera pergi. Dia sudah muak melihat wajah Rika yang tampak begitu polos, tetapi nyatanya berbeda. Randy segera meninggalkan rumah orang tua Michael, meninggalkan Rika yang terduduk di lantai dengan air mata mengalir. Rasanya begitu menyakitkan mendapatkan tatapan penuh rasa jijik dari seseorang yang pernah menatapnya penuh cinta.


“Kamu masih berpikiran seperti apa yang dikatakan mereka, Randy?” tanya Rika dengan mata berlinang air mata. Namun, dia kembali mengusap dan menghapus air matanya. Dia harus segera menyuruh salah satu penjaga di rumah tersebut untuk membeli obat yang dibutuhkan dan dia yang segera membuat bubur di dapur.


_____


Dave baru saja keluar dari bangunan menyeramkan yang saat ini menjadi tempat tinggal papanya. Langkahnya baru akan memasuki mobil yang sudah terparkir jauh dari tempatnya berkunjung harus terhenti karena genggaman lembut di lengannya. Matanya menatap tangan mungil tersebut dan memutar tubuh menghadap sang pelaku. Matanya menajam ketika mendapati siapa yang ada di belakangnya.


“Apa kabar, Dave?” sapa gadis yang saat ini berdiri dengan wajah angkuhnya. Matanya menatap dengan pandangan mengejek dan penuh rasa kasihan, membuat Dave muak melihatnya.


Dave menyentak tangan Rensi dan menatap tajam. “Ada urusan apa kamu datang kepadaku, Rensi? Kamu menyesal meninggalkanku? Atau kamu ingin aku mengikatmu kembali?”


Rensi berdecih dengan senyum kecil yang ditunjukan. Wajahnya menatap Dave dengan tatapan tidak suka. “Kamu berharap aku menyesal meninggalkanmu? Jangan bermimpi.”


“Kalau begitu, kenapa kamu menemuiku? Aku tidak banyak waktu untuk mengurusi orang gila seperti mu, Rensi.” Dave menatap tak suka ke arah Rensi. Dia merasa wanita di hadapannya begitu gila karena setelah dia membuat masalah dan memasukan keluarganya dalam bahaya, dengan rasa percaya diri dia malah mendekati Michael tanpa rasa malu sama sekali.


“Bukankah kita sama-sama gila, Dave?” tanya Rensi dengan suara lembut yang dibuat-buat, “jadi, apa bedanya aku dan kamu? Kita sama-sama gila, dan orang gila ini mempunyai penawaran untukmu.”


Dave memutar bola matanya jengah. Dia menatap Rensi tanpa minat sama sekali. Penawaran? Dia bahkan yakin jika Rensi tidak akan memiliki penawaran bagus untuknya. Jangankan membayar dengan tumpukan harta. Sekarang saja perusahaan keluarga Rensi juga tengah berada di masa sulit dan hampir bangkrut.


“Apa lagi?” tanya Dave sembari menatap tak suka.


Rensi melepaskan tangannya dan menunjukan wajah santai, meski jantungnya sejak tadi berdetak cukup keras dan tak beraturan sama sekali. Namun, dia masih bisa mendongakan kepala dan menatap dengan begitu congkaknya.


“Aku ingin memberikan penawaran untukumu, Dave,” ujar Rensi kesal karena Dave seperti tak menghiraukan ucapannya sama sekali.


“Dan aku tidak tertarik sama sekali, Rensi.”


“Aku hanya ingin kamu mneyerahkan Vinda dan aku akan membantumu membalaskan dendam kepada Michael,” ucap Rensi mengabaikan ketidakpedulian Dave dengan rencananya.


Dave diam sejenak. Matanya menatap Rensi yang masih memasang wajah datar dan tenang. Namun, Dave **** senyum mendengar tujuan Rensi yang dirasa begitu mustahil. Dia bahkan melihat sendiri bagaimana seorang Rensi mengejar Michael dan sekarang dia ingin membalas dendam? Apa tidak terlalu konyol?


“Berhentilah melawak, Rensi. Kamu bahkan masih mendekat Michael untuk membuat hidupmu menjadi begitu tenang. Lalu sekarang kamu bilang akan membantuku membalas dendam?” Dave meraih tangan Rensi dan menggengamnya erat, matanya bahkan sudah membelakak dengan bibir terkatup rapat, “ada satu hal yang harus kamu tahu, Rensi. Aku tidak ingin membalas dendam dalam hal apa pun. Aku hanya ingin Michael mengembalikan perusahan dan membebaskan papa. Cukup,” desis Dave sembari menghempaskan tangan Rensi keras.


Rensi baru akan menjawab kembali, tetapi diurungkan karena mata Dave yang sudah menyala penuh amarah. Dia membiarkan pria tersebut masuk ke dalam mobil dan meninggalkannya seorang diri.

__ADS_1


“Aarrrgghhh. Semuanya menyebalkan,” teriak Rensi dengan napas tak beraturan. Dia benar-benar dibuat frustasi. Dave bahkan tak membantu apa pun.


“Tidak berguna,” desisnya dengan mata dipenuhi amarah.


_____


Matahari sudah mulai tenggelam dan berganti sang bulan yang menghiasi langit teduh. Vinda masih saja mondar-mandir dengan perasaan cemas. Otaknya masih memikirkan cara indah agar bisa kabur dari rumah tersebut tanpa adanya perang dan juga baku hantam. Dia tidak mau jika usahanya untuk kabur malah membuat banyak orang terluka.


Vinda melirik jam dinding yang terus saja bergerak. Sudah hampir satu hari Dave keluar dari rumah dan tidak juga kembali. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk melaksanakan semua rencananya. Jantungnya bahkan sudah tidak berdetak dengan normal. Tangannya juga dibuat dingin dengan telapak tangan berkeringat.


“Tenang, Vinda, tenganglah. Yakin semua akan baik-baik saja. Kamu bisa,” ucap Vinda merapalkan mantra penenangnya.


Suara deru mobil terdengar memasuki pekarangan rumah. Vinda yang merasa penasaran langsung melangkah cepat menuju jendela kamar. Matanya menangkap sosok Dave yang baru saja keluar dari mobil dan melangkah menuju ke dalam rumah. Vinda yang melihat langsung bersorak gembira. Dengan penuh semangat, dia segera keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Namun, tinggal beberapa langkah, Dave sudah ada di hadapannya dan membuat Vinda berhenti.


“Kamu mau ke mana? Semangat banget,” tanya Dave yang merasa aneh karena Vinda begitu semangat. Padahal, baru tadi pagi dia membentaknya yang merengek ikut keluar rumah.


“Memangnya aku bisa kemana, Dave? Aku hanya senang kamu sudah kembali. Sejak tadi aku menunggumu,” ucap Vinda tidak berbohog. Dia memang tengah menunggu Dave pulang.


“Menungguku? Memangnya kau kenapa?” tanya Dave sembari menunjuk ke arahnya. Memangnya dia akan membawa oleh-oleh?


“Aku ingin memasakan sesuatu untuk kamu. Kamu mau apa?”


Dave menghela napas. “Terserah, Vinda. Aku ingin mandi karena begitu lelah. Jadi, bisa kamu siapkan sekarang? Aku akan kembali setelah selesai mandi.”


Vinda yang mendengar langsung mengangguk dan menatap Dave yang melangkah menuju lantai dua. Matanya masih terus mengawasi sampai beberapa menit setelah Dave masuk. Vinda mengamati sekitar dan segera naik ke atas, mengikuti Dave yang sudah masuk ke dalam kamar.


“Kamu pasti bisa, Vinda,” ucapnya menyemangati diri sendiri.


Vinda sudah berdiri di depan ruangan Dave, memastikan tidak ada yang melihatnya. Setelah dirasa aman, dia segera mengintip ke dalam dan ternyata tidak ada Dave. Vinda dengan begitu pelan memasuki kamar pria tersebut, mencari benda pipih yang bisa digunakan untuk menghubungi Michael.


Gotcha. Baru beberap menit mencari, matanya menatap ponsel yang diletakan di meja nakas tak jauh darinya. Dengan cepat, Vinda segera membuka ponsel Dave dan ternyata tidak ada kode pengaman sama sekali. Vinda langsung bersorak dalam hati. Sepertinya takdir masih berpihak padanya hari ini.


Vinda langsung membuka aplikasi chat dan segera mengontak Michael. Dia mengirimkam tempat di mana dia dikurung saat ini. Setelah sudah terkirim, Vinda segera menghapus pesannya agar tidak ketahuan Dave. Dengan cepat, dia meletakan kembali ponsel Dave dan siap keluar.


“Vinda, apa yang kamu lakukan?” tanya Dave yang sudah berada di belakang Vinda.

__ADS_1


_____


__ADS_2