Wedding Drama

Wedding Drama
Bagian 40_Tertangkap


__ADS_3

“Vinda, apa yang kamu lakukan?”


Dave baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat Vinda tengah berada di kamarnya dan siap pergi. Keningnya mengerut heran karena Vinda begitu jarang berada di kamarnya. Dia merasa ada hal aneh. Mengingat kembali tingkah Vinda yang tak seperti biasanya.


Dave menatap Vinda yang sudah seperti kucing yang hendak memakan daging majikannya. Vinda hanya diam ketika di tanya dan tampak begitu gugup. Namun, tidak ada apa pun di kamarnya yang dapat diambil oleh Vinda.


“Ada yang kamu butuhkan, Vinda?” tanya Dave lagi. Matanya masih menatap tajam ke arah Vinda yang hanya diam di tempat.


Vinda menghela napas berulang kali agar detak jantungnya kembali normal. Dia benar-benar takut jika Dave melihat apa yang dilakukannya. Namun, melihat tingkah Dave yang masih begitu baik kepadanya, Vinda yakin pria tersebut tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Vinda langsung mengulas senyum semanis mungkin agar pria di hadapannya tidak merasa curiga.


“E..aku cuma mau tanya, kamu mau dimasakin nasi goreng aja, gak? Soalnya bahan makanan sudah habis,” ucap Vinda berbohong. Suaranya sedikit bergetar karena rasa takut yang mulai mendominasi.


Dave menatap tak percaya. Matanya masih meneliti wajah Vinda yang masih mengulas senyum, mengamati apa ada hal mencurigakan yang patut diwaspadainya. “Lalu kenapa kamu terlihat takut begitu? Bahkan sejak tadi aku tidak memarahimu sama sekali,” ucap Dave dengan mata menatap jemari Vinda yang tengah memainkan ujung pakaiannya.


Vinda menelan salivanya gusar. “Iya. Aku takut kamu marah karena masuk ke kamar tanpa permisi. Aku sudah mengetuk berulang kali, tetapi kamu tidak menjawab. Jadi, aku masuk untuk memastikan kamu baik-baik saja."


Benarkah? Dave merasa dia tidak mendengar ketukan sama sekali, padahal ruangannya tidak kedap suara. “Apa kamu yakin? Aku bahkan tidak mendengarnya, Vinda,” tanya Dave serius.


Vinda mengangguk cepat. “Aku sudah mengetuknya berulang kali, tetapi kamu tidak menjawab, Dave,” jelas Vinda, “kamu mengira aku berbohong?”


Dave yang mendengar memilih menggeleng dan percaya dengan ucapan Vinda. Dia tidak pernah melihat gadis tersebut berbohong kepadanya. Akhirnya, Vinda bisa bernapas lega. Dia langsung keluar dari kamar Dave, berharap Michael segera membaca pesan yang sudah dikirimnya menggunakan ponsel Dave.


Tuhan, tolong bantu hamba kali ini. Ibu, Bapak, maaf Vinda harus berbohong, ucapnya dalam hati dengan tangan yang sudah disatukan dan digenggam erat. Dia segera ke dapur dan menyiapkan makanan. Sedangkan Dave, dia masih memikirkan apa yang sebenarnya tengah dilakukan Vinda kali ini.


“Sebenarnya dia tidak mulai sakit jiwa, kan?” tanyanya kepada diri sendiri karena melihat tingkah Vinda yang berbeda. Pagi hari dia merengek untuk ikut ke luar rumah. Sedangkan saat dia pulang malam, Vinda masih menunggu dan bahkan membuatkan makanan untuknya.


“Awas saja jika kamu merencanakan sesuatu, Vinda,” celetuknya dengan senyum sinis. Dia merasa harus lebih menjaga Vinda. Setidaknya Vinda memang selalu tampak menurut dibandingkan dengan Rensi. Namun, siapa yang tahu di dalam otak cantik seorang gadis pendiam?


Dave tersenyum dan segera turun ke bawah. Dia harus memastikan Vinda tidak macam-macam dengannya.


_____


“Kamu tidak ingin pulang, Rika? Ini bahkan sudah malam. Saya tidak masalah di rumah sendiri. Nanti juga Micahel akan datang,” celetuk Tasya yang masih berbaring di ranjang.


Rika yang menunggu di kursi kecil sebelah ranjang menggeleng pelan. “Tidak masalah, Nyonya. Saya akan pulang setelah Tuan Michael datang. Lagi pula saya memang tidak ada kegiatan di kontrakan.”


“Kamu tinggal di kontrakan?” tanya Tasya dan dianguki Rika, “dengan siapa?”


“Sendiri, Nyonya,” jawab Rika pelan.


“Orang tua kamu?”


Rika yang ditanya tersenyum sekilas dan kembali menunduk. “Orang tua saya bercerai, Nyonya. Saya dan adik saya ditinggalkan sendiri. Jadi, saya harus menghidupi kebutuhan saya sendiri. Sekarang, kami bahkan tidak tahu di mana mereka semua tinggal.”


“Lalu, di mana adik kamu sekarang?” Tasya malah semakin penasaran dengan kehidupan Rika yang tampak begitu menyedihkan. Matanya menatap lekat gadis di hadapanya dan mengelus pelan pipi lembutnya, membuat Rika terkejut dan membelalakan mata.

__ADS_1


“Kamu adalah kakak yang kuat, ya, Rika? Saya salud sama kamu,” ujar Tasya dengan senyum menenangkan.


Rika yang mendengar merasa tersentuh. Selama lima tahun dia hidup ke sana kemari dan membiayai segala kebutuhannya. Keluarganya? Mereka seakan lepas tangan dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Namun, satu yang patut dibanggakannya. Selama dia menjalani kehidupan yang berjungkir balik, Rika tidak pernah menyusahkan siapa pun. Dia selalu melakukan dan mencukupi kebutuhannya seorang diri.


“Jadi, kamu berapa bersaudara dan di mana adikmu tinggal?” tanya Tasya lagi karena dia masih merasa penasaran.


“Saya dua bersaudara, Nyonya. Adik saya tinggal di Jepang dan menyelesaikan study di sana. Dia mendapatkan beasiswa,” jelas Rika bangga. Setidaknya mereka dibekali dengan otak yang cerdas sejak lahir.


“Oh iya? Hebat adik kamu,” sahut Tasya dengan wajah sumringah. Dia merasa jauh lebih baik dari sebelumnya karena Rika selalu mengajaknya mengobrol, melupakan masalah Vinda yang terus saja membuat pikirannya tidak tenang.


Rika dan Tasy masih terus asik mengobrol ketika pintu kamar tersebut di buka, menampilkan pria dengan wajah datar yang sudah membuat Rika terluka. Randy masuk dengan wajah angkuh dan tatapan tidak nyaman dengan kehadiran Rika di sekitarnya.


“Tante sudah baikan?” tanya Randy dan mendapat anggukan Tasya. Tatapannya kembali menatap Rika yang sudah bangkit dan menundukan wajah. “Kamu bisa pulang.”


“Baik, Tuan. Permisi,” ucap Rika dengan perasaan bercampur aduk. Dia merasa ingin mengatakan sesuatu kepada Randy, tetapi langsung diurungkan. Biarlah apa yang dianggap Randy adalah sebuah kebenaran.


Kamu selingkuh dari aku dan bersama dengan pria lain? Memeluknya erat? Aku kecewa melihatmu menjadi wanita murahan, Rika!


Rika yang mengingat memejamkan mata, meresapi kesalahan yang dibuatnya dulu. Dia hanya tersenyum dan melangkah meninggalkan ruangan. Namun, langkahnya terhenti ketika Tasya memanggilnya dengan lemah.


“Rika,” paggil Tasya dengan tatapan lemah.


“Iya, Nyonya,” jawab Rika dan menatap Tasya bingung. Apa aku melakukan kesalahan?


Rika yang mendengar langsung menatap Randy dengan tatapan bingung. Dia ingin menolak, tetapi dia takut jika itu akan menjadi masalah untuk dirinya nanti. Matanya memandang Randy dengan permohonan agar pria tersebut menolaknya. Namun, harapannya sia-sia karena Randy hanya diam dan mengunci mulutnya rapat.


Rika menelan salivanya serat dan menatap Tasya dengan senyum sumringah. “Maaf, Nyonya. Saya bisa pulang sendiri. Lagi pula masih harus mampir ke suatu tempat.”


“Tidak masalah. Randy bisa mengantarmu sebentar,” paksa Tasya dan masih tidak mau mengalah.


Rika baru akan bebricara ketika Randy lebih dahulu menyela ucapannya.


“Aku akan mengantarmu,” ucap Randy membuat Rika langsung diam dan menutup mulutnya rapat.


Randy menatapnya dengan pandangan jijik yang benar-benar kentara. Rika hanya diam menerima semua yang diterima dari pria yang pernah mencintainya. Ya, Rika tahu keputusannya untuk bekerja di perushaaan Michael bukanlah hal bagus. Tetapi, dia juga membutuhkan uang dan berusaha mengabaikan Randy yang benar-benar tidak menyukainya.


“Tante, Randy pamit dulu,” ucap Randy dan segera mengantar Rika.


Di perjalanan, Rika hanya diam dengan mata menatap jalanan yang sudah terlihat sepi. Tidak ada yang memulai percakapan sama sekali diantara keduanya. Randy bahkan hanya sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedangkan Rika, dia hanya mencoba menenangkan hatinya. Dia tidak kuat melihat tatapan Randy yang terlihat begitu dingin.


“Ke mana kita?” tanya Randy singkat.


“Ke tempat di mana kamu memutuskanku,” jawab Rika dengan perasaan terluka. Randy benar-benar membuatnya semakin hancur karena ketika dia membutuhkan dukungan, Randy malah pergi meninggalkannya.


Selanjutnya, Randy hanya diam dan segera melaju cepat. Dia tidak bisa bersama dengan Rika terlalu lama. Hanya butuh dua puluh menit hingga akhirnya dia berhenti di salah satu bangunan megah dengan lampu berkelip-kelip. Rika yang melihat sudah sampai langsung bersiap turun.

__ADS_1


“Kamu bahkan masih tetap bekerja di tempat ini? Apa di perusahaan Michael gajimu masih kurang sampai harus menjajakan diri di tempat semacam ini?” tanya Randy sembari menatap Rika merendahkan, “berapa tarifmu semalam?”


Rika yang mendengar hanya diam dengan mata yang siap mengelurkan tetesannya. Namun, dia langsung mencegah dan menatap Randy tajam. “Itu bukan urusanmu.” Rika memilih menyembunyikan rahasia yang disimpannya sejak lima tahun belakangan.


Randy yang mendegar mendengus mengejek. “Aku beruntung tidak melanjutkan hubungan dengan wanita yang sudah begitu kotor sepertimu, Rika.”


Rika hanya diam dan segera turun. Dia akan semakin sakit hati jika mendengar ucapan Randy yang terus-menerus menyakiti perasaannya. Rika memilih untuk diam dan menatap Randy yang langsung pergi dengan begitu cepat.


“Semoga kita tidak akan pernah bersama, Randy,” ucap Rika dengan air mata berlinang. Dia berharap tidak akan bersama dengan Randy selamanya. Bukan karena dia membenci semua yang dikatakan pria tersebut, tetapi dia yakin, keluarga Randy tidak akan pernah menyetujui hubungannya.


Aku tidak pantas untukmu.


_____


Michael baru saja keluar dari pergudangan setelah berdiskusi panjang dengan Sam yang akan membantunya. Jelas saja dia begitu senang karena dia akan mendapatkan bantuan yang benar-benar diharapkan. Membujuk Dave bukanlah kahliannya. Berbicara dengan Wijaya juga terasa tidak membuahkan hasil. Michael merasa semua jalannya telah buntu.


Michael mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh dan berharap segera sampai rumah dengan cepat. Dia mengurungkan niat untuk ke rumah orang tuanya dan akan menjenguk mamanya besok pagi saja. Hari ini dia harus benar-benar mengistrirahatkan tubuhnya.


Michael menekan klakson ketika sudah sampai di depan rumahnya dan gerbang segera terbuka. Pria yang sudah ditugaskan berjaga di rumahnya menatap Micahel dan mempersilahkannya masuk, membuat mobil tersebut kembali melaju, berhenti tepat dipelataran rumah.


Michael keluar dan memberikan kunci mobilnya kepada salah satu anak buah dan segera melangkah masuk. Tangannya merogoh kantong celana dan segera meraih ponsel. Sejak di pergudangan, Michael memutusan untuk mengabaikan semua pesan masuk.


Michael mengerutkan kening melihat sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenalnya. Ada beberapa pesan yang membuat penasaran dan segera membukanya.


**Ael, aku Vinda. Dave membawaku ke sebuah tempat, tetapi aku tidak tahu ini di mana.


Aku mengambil ponsel Dave dan akan menghapus pesannya.


Jika kamu memang mencariku, tolong datang dan selamatkan aku**.


Selanjutnya hanya ada lokasi yang sudah dikirimkan Vinda melalui aplikasi maps. Michael yang melihat langsung menekannya dan memperkirakan di mana Vinda berada saat ini. Pulau terpencil dengan jarak yang cukup jauh dari kota.


Michael segera keluar dari aplikasi tersebut dan menekan nomor Roy. Tidak lama setelahnya langsung tersambung.


“Siapkan semua. Kita akan menemui Vinda?” perintah Michael dengan tegas.


“Nyonya Vinda ketemu, Tuan?” tanya Roy dari seberang telfon.


“Iya. Aku akan mengirimkan lokasinya.”


Michael mengakhiri panggilannya dan segera keluar dari rumah. Dia mengurungkan niatnya untuk beristirahat malam ini. Vinda jauh lebih penting untuk saat ini. Michael memutuskan untuk keluar rumah, tanpa sadar ada sepasang mata yang mengawasinya dari belakang. Seorang gadis yang diam di dalam mobilnya.


“Ke mana, Michael akan pergi?” tanya Rensi yang melihat Michael keluar dari rumah.


_____

__ADS_1


__ADS_2