Wedding Drama

Wedding Drama
Harap Dibaca, Sayangkuh


__ADS_3

Hallo sayang-sayang Kim. Apa kabarnya hari ini? Selamat Natal untuk semua yang merayakan. Semoga berkahnya menjadi berkah kita semua.


Kali ini Kim datang bukan buat update cerita, tetapi mau memberikan sedikit informasi. Jadi, sebenarnya cerita ini sudah tamat. Tetapi, Kim akan berikan beberapa extra part yang akan Kim update tanggal 30 Desember 2019. Setelah cerita ini tamat, Kim berniat mengadakan Give Away kecil-kecilan. Pulsa 20k untuk 5 orang yang beruntung. Jadi, follow instagram Kim ya. @kimm.meili untuk tau update-update selanjutnya.


Selain itu, Kim akan revisi beberapa bab yang memang Kim cepetin. Awalnya karena terlalu lama kalau nunggu Vinda sembuh dan melakukan banyak terapi, tetapi sepertinya dipercepat malah aneh ya. Okelah Kim akan revisi nanti bersama dengan extra part ya sayang. Terima kasih untuk semua dukungan kalian selama ini. Kim sendiri tidak menyangka akan sampai dititik ini. Rasanya senang banget deh, sampai bingung mau ngucapinnya gimana. Tetapi, pokoknya terima kasih banget buat kalian semua.


Terus buat cerita Dave, Alice dan Bara sudah Kim upload di cerita lain ya. Judulnya “RELATIONSHIP GOALS”. Jangan lupa mampir, berikan like, comment, tambah ke favorit dan vote karena tanpa kalian, Kim tidak akan jadi apa-apa. Jadi, jangan lupa mampir ya sayangkuh.


Di bawah, Kim bakal kasih sekelumit cerita yang sudah Kim upate di cerita Relationship Goals. Selamat menikmati dan jangan lupa mampir sayangkuh.


Bagian 1_Bara Pradipta


Seorang pria dengan rambut dicukur undercut tengah melangkah melewati penuh sesak orang di bandara. Celana jeans dipadu dengan kaos ketat tampak serasi membalut tubuhnya yang memang tampak kekar. Matanya menatap jalanan dengan pandangan dingin dan segera melangkah mendekati pintu keluar bandara. Sesekali melemparkan lirikan mencari seseorang yang dikenalnya.


“Om Bara,” teriak seorang anak kecil yang terdengar begitu dekat.


Bara yang merasa namanya dipanggil segera mencari ke asal suara. Matanya menatap dua orang dewasa dan satu anak kecil yang tengah berdiri di antara mereka tengan melambai ke arahnya. Wajah datar yang sejak tadi ditunjukan perlahan berubah. Ada senyum tipis yang tercetak di bibirnya. Sangat tipis hingga tidak ada orang yang bisa melihatnya.


Bara segera melangkah mendekati kakaknya yang sudah tampak begitu antusias. Langkahnya semakin cepat ketika dilihat kakaknya juga ikut mendekatinya. Setelah sampai di depannya, Bara segera menjabat tangan kedua kakaknya dan menatap keponakannya dengan tampang gemas.


“Morning, kecil. Gimana kabarnya?” sapa Bara dengan wajah yang masih tampak kaku.

__ADS_1


“Jelas, dong. Makanya sekarang Gibran ada di sini. Jemput Om Bara,” jawab anak kecil berusia enam tahun tersebut.


Bara hanya terkekeh kecil dan menatap kakaknya yang sudah memandang dengan air mata menggenang di pelupuk mata. “Kakak kenapa nangis?” tanya Bara dengan pandangan hangat.


Rika yang mendegar segera menghapus air matanya dan menggeleng pelan. “Aku hanya merasa bahagia dengan kelulusa kamu kali ini. Aku benar-benar bangga,” ucap Rika yang langsung memeluk Bara erat.


Bara menghela napas dan memeluk kakaknya lembut. Dia merasa bahagia bisa bertemu dengan keluarga kecil kakaknya yang ternyata benar-benar bahagia. Randy menjaga kakaknya dengan begitu baik.


“Maaf, saat kamu wisuda kakak tidak bisa datang,” ujar Rika penuh penyesalan.


Bara tersenyum dan mengangguk. “Tidak masalah. Aku tahu kondisi kehamilan kakak yang kedua tidak memungkinkan untuk datang ke sana,” ucap Bara yang langsung melepaskan pelukannya, menatap kakaknya dengan senyum menenangkan. Matanya menatap perut buncit Rika yang sudah semakin membesar dan tinggal menunggu waktu saja.


“Selamat untuk kelulusanmu, Bara,” ucap Randy yang sejak tadi dilupakan.


Randy menepuk pelan pundak Bara dan mengangguk. “Aku pasti menjaga mereka. Mereka jauh lebih penting dari apa pun.”


Bara yang mendengar langsung menganguk dan tersenyum. Matanya masih menatap Rika yang bergelanyut manja di lengannya. Hatinya benar-benar menghangat melihat begitu besar rasa cinta Randy untuk kakaknya.


“Kalau begitu, ayo kita pulang. Kakakmu akan menyiapkan makanan spesial untuk menyambut kedatanganmu,” ajak Randy.


Bara mengangguk dan kembali mengikuti langkah kakak iparnya yang sudah melangkah bersama dengan Gibran, putra pertama Randy dan Rika. Dalam hati Braa benar-benar merasa tenang. Setidaknya keputusannya untuk mengatakan kebenaran kepada Randy bukanlah hal yang salah.

__ADS_1


“Kakak bahagia dengan Randy?” tanya Bara sembari menatap kakaknya yang masi berjalan di dekatnya.


Rika yang ditanya mengangguk dan tersenyum. “Tentu. Aku sangar bahagia. Terima kasih karena kamu sudah mengatakan semuanya kepada Randy. Aku tidak tahu jika dulu aku masih tetap kekeh dengan pendirianku, akan jadi apa kehidupanku dan Gibran nantinya.”


Bara mengelus puncak kepala kakaknya dan tersenyum manis. “Aku cukup bahagia melihat keluarga kecil Kakak selalu bahagia,” ucap Bara tulus dan melangkah menyusul Randy dan Gibran yang suda semakin jauh.


_____


“Tetapi kakak penasaran, kapan pria yang bahkan sudah menyelesaikan study-nya di Jepang sampai strata dua ini akan datang mengenalkan kekasihnya?” tanya Rika dengan mata menatap adiknya.


Wajah ceria yang sempat ditunjukan Bara langsung berubah menjadi muram. Senyumnya menghilang berganti dengan wajah datar dan tatapan tidak suka. “Kak, kita pernah membahas masalah ini. Kakak tau apa pun aku....


“Bara,” potong Rika dengan suara yang masih tetap melembut, “kamu harus melupakan masa lalu, Bara. Kamu harus mulai menata hidupmu kembali. Tidak semua wanita sama. Buktinya Kakak tidak meninggalkanmu sama sekali,” kata Rika menyadarkan adiknya dengan dunia yang sudah berbeda. Menghilangkan semua pikiran buruk adiknya tentang wanita.


Bara menatap Rika dengan pandangan tajam dan terkesan menusuk. “Kakak berbeda. Kakak memiliki nasib yang sama denganku. Kita sama-sama ditinggalkan oleh ibu yang tidak berhati dan ayah yang tidak berotak. Kita sama-sama menderita. Itu sebabnya kita mampu saling menyayangi,”jelas Bara masih kekeh dengan perasaannya.


Rika menghela napas pelan dan mengelus adiknya. “Itu sebabnya, carilah wanita yang bisa menjadi seperti kakak. Mampu merasakan lukamu dan juga kabahagiaanmu. Carilah wanita yang membuatmu merasa nyaman dengan semua sikapmu. Kakak yakin, ada wanita yang bisa membuatmu merasakan bagaimna indahnya cinta, Bara.”


Bara menghela napas panjang dan menatap kakaknya dengan pandangan melembut. “Kak, Bara tidak mau membahas masalah ini lagi. Bara cukup senang hidup sendiri dan yang pasti, jika ada wanita yang Kakak katakan, Bara adalah orang pertama yang akan pergisejauh mungkin,” ucap Bara dan langsung pergi dari dapur. Dia enggan berdebat dengan Rika dan jauh memilih menghindar.


Rika yang melihat adiknya menjauh hanya menghela napas panjang dan menatap Bara sampai tidak terlihat lagi. “Mama telah meninggalkan trauma yang dalam sama Bara, Ma,” keluh Rika dengan perasaan bercampur aduk.

__ADS_1


_____


__ADS_2