Wedding Drama

Wedding Drama
Bagian 66_Restu atau Bukan?


__ADS_3

Rika masih membereskan piring bekas sarapannya bersama dengan Randy ketika suara ketukan pintu datang tanpa henti. Rika awalnya mengabaikan saja, tetapi setelah di rasa tamunya terus mengetuk tanpa henti, Rika menghentikan aktivitasnya dan mulai melangkah menuju pintu apartemen.


Rika baru saja membuka pintu saat seorang wanita sudah mendorong keras pintu apartemen, membuat Rika yang ada di belakang sedikit terdorong ke belakang. Meski tidak keras, Rika sampai membentur tembok. Matanya menatap wanita yang tidak asing dalam ingatan sudah ada di depanya dan menatap dengan wajah angkuh.


“Mama,” guman Rika dengan pandangan tidak percaya.


“Di mana Randy?” tanya Vera dengan wajah sinis.


“Randy sudah berangkat ke rumah sakit, Ma,” jawab Rika dengan wajah cemas.


Vera menatap Rika dengan pandangan datar dan duduk sofa ruang tamu. Matanya masih tetap menatap Rika yang sudah menutup pintu dan berdiri di balakang pintu. “Kamu tidak berniat menjamu seorang tamu, Rika?” ucapnya dengan pandangan merendahkan.


“Ah, maaf,” ujar Rika yang langsung berlari ke dapur.


Rika mulai menyiapkan teh hangat dan mengambil camilan yang sudah dibuatnya kemarin. Setelah selesai, dia segera membawa ke ruang tamu dan menghidangkan di meja. Matanya menatap lekat Vera yang mulai meminum teh buatanya.


Vera meletakan gelas tersebut dan menatap Rika dengan pandangan memelas. “Maaf, Rika. Aku bukan tipe orang penyuka manis. Bisa kamu buatkan aku teh lagi?” pintanya lembut.


“Baik, Ma,” ucap Rika sembari meletakan gelas berisi teh di nampan dan segera pergi.


Rika kembali ke dapur dan mulai menyiapkan teh kembali. Kali ini dengan sedikit gula. Setelah selesai, dia kembali lagi dan menyedikannya di meja.


“Terima kasih,” ucap Vera manis dan segera mencicip sedikit teh hangat tersebut. Namun, baru sedikit yang dicecap, Vera memuntahkan kembali teh tersebut. Rika yang melihat langsung mendekat dan menatap penuh rasa takut.


“Mama gak apa-apa?” tanya Rika dengan wajah tegang.


Vera mengelap bibirnya dan memandang Rika meneliti. “Kamu memanggilku Mama?” tanya Vera membuat Rika membeku seketika. Dia tanpa sadar memanggil wanita tersebut dengan sebutan Mama.


“Aku rasa tidak masalah. Mungkin aku harus mulai membiasakan diri dengan sebutan itu mulai sekarang,” lanjut Vera santai.


Rika yang mendengar mengerutkan kening heran. Apa maksud mama Randy? “Maksud Mama?” tanya Rika penasaran dengan maksud ucapan Vera.


Vera menatap Rika dan mengacungkan kembali gelas tersebut. “Aku juga bukan pecinta minuman pahit. Bisa kamu tambah sedikit gula lagi? Aku tidak bisa minum jika terlalu pahit,” ucap Vera dengan wajah datar.


Rika yang mendengar langsung mengangguk dan segera mengganti teh yang dibuat. Secepat kilat dia segera memberikan kembali kepada Vera. Ketika netranya menatap mertuanya yang meneguk pelan teh yang dibuat, ada rasa penasaran tentang rasanya. Namun, setelah dilihat sudah dua kali tegukan, senyumnya langsung merekah. Eiren duduk di kursi yang berhadapan dengan Vera.


“Mama mencari Randy? Aku rasa dia pulang malam hari ini,” ucap Rika dengan hati-hati.


Vera meletakan cangkir yang sejak tadi dipegangnya di atas meja. Tubuhnya bersandarkan dan menatap Rika dengan pandangan tajam. “Aku mencari kalian.”


“Kami? Ada apa ya, Ma?” tanya Rika dengan wajah mulai bingung.


“Kenapa? Memangnya mama gak boleh datang ke rumah anak mama sendiri? Mama juga ingin lihat kehidupan kalian,” jawab Vera santai.


“Maaf, Ma. Maksud Rika bukan begitu,” sesal Rika yang langsung menundukan kepala.


Vera yang mendengar hanya diam dengan tatapan tidak peduli sama sekali. Matanya terus mengamati ruangan yang didudukinya saat ini dengan pandangan takjub. Senyumnya terukir tipis, bahkan sampai tidak ada yang melihat.


“Ini siapa yang atur?” tanya Vera tanpa melihat ke arah Rika.


Rika mendongak dan menjawab, “Saya, Ma.”


“Bagus,” puji Vera membuat Rika merasa berbunga-bunga.


Rika mengumbar senyum dengan lebar. Memang bukan sesuatu yang spesial sampai dia bisa bersikap berlebihan seperti sekarang, tetapi mendapatkan pujian dari orang yang masih tidak menerimanya adalah hal luar biasa. Matanya masih menatap Vera dan berharap hal baik akan menimpanya.


Aku harap dengan ini Mama akan menerima hubungan kami, pinta Rika dengan sunguh-sungguh.


Vera yang sudah puas menikmati segera menatap Rika dengan senyum lembut. “Aku pernah menolakmu menjadi menantuku,” ucap Rika memecah keheningan yang sejak tadi tercipta. Matanya menatap Rika yang sudah menatap dengan pandangan bingung. “Aku rasa, memang percuma menjadi penghalang untuk cinta yang sudah digariskan takdir. Aku tahu, kalian saling mencintai. Semua orang membenciku, termasuk anak yang selalu aku sayangi. Dia jauh lebih memilihmu dari pada mamanya,” lanjutnya dengan pandangan lurus ke arah Rika.


“Maaf untuk itu,” cicit Rika merasa bersalah.


“Bukan itu yang ingin aku dengar, Rika,” sahut Vera dengan wajah datar, “aku ingin dengar bahwa kamu akan menjaga anak dan juga calon cucuku. Penerus generasi Stev Aditama.”


Rika menatap Vera dengan mata membola. “Ma...maksud Mama?” tanya Rika dengan suara gagap. Jantungnya berdetak lebih cepat dan itu membuatnya tidak bisa berkonsentrasi sama sekali.

__ADS_1


Vera yang mendengar hanya tertawa kecil dan mendekati Rika. “Aku merestui kalian.”


Satu kalimat berjuta makna untuk Rika. Hatinya bagaikan langit terang dengan jejeran bintang yang mulai muncul. Bahkan air matanya sudah mengalir dengan begitu saja. Rasa bahagia yang begitu membuatnya merasa lega. Tanpa sadar dia langsung memeluk tubuh Vera erat.


Vera yang melihat langsung tersenyum dan membalas pelukan Rika dengan lembut.


“Terima kasih, Ma,” ucap Rika dengan penuh rasa haru.


Vera tersenyum tipis dan melirik ke arah Rika tajam. “Tentu saja.”


_____


Vinda tengah berbaring di ranjang dan mulai membolak balik majalah yang disukainya dengan mata menatap tajam. Sudah beberapa hari dia tidak pergi ke mana pun, bahkan hanya untuk sekedar mengumpulkan tesis yang sudah dibuat sesuai aturan. Meski lagi-lagi Michael selalu memarahi dan mengatakan akan membantunya lulus tanpa harus bekerja keras.


“Kenapa dia itu jadi orang selalu semena-mena,” gerutunya dan langsung menutup majalah. Mood-nya mendadak berubah setiap kali mengingat ucapan Michael yang membuatnya kesal.


Vinda masih tetap diam dengan wajah berpikir ketika pintu kamar mandi sudah terbuka. Michael yang baru saja mandi menatap Vinda dengan pandangan bingung.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Michael sembari mengeringkan rambutnya yang basah.


Vinda yang ditegur langsung menatap suaminya dan menggeleng cepat. “Bukan apa-apa. Kamu sudah selesai mandi?”


“Hmm,” gumam Michael yang langsung mendekat dan ikut bergabung di ranjang.


Vinda yang melihat langsung mengerutkan kening heran. Matanya menatap Michael yang sudah mendekapnya dari samping dengan tatapan tajam. “Kamu gak ke kantor?” tanya Vinda dengan mata menyelidik.


Michael tersenyum dan menggeleng. “Hari ini aku mau di rumah sama istriku tercinta.”


Vinda hanya berdesis tidak suka dan kembali membuka majalah di hadapannya. Michael yang melihat hanya terkekeh kecil dan semakin mengeratkan pelukannya. Tangannya mulai mengelus perut rata Vinda lembut, menatap dengan senyum terukir.


Anakku ada di sini rupanya, batin Michael dalam hati.


Vinda menghela napas dan menatap Michael lembut. “Michael,” panggil Vinda pelan, “kemarin aku ke apartemen Rika sama Randy.”


Michael menghentikan usapan tangannya dan menatap Vinda lembut. “Bagaimana kondisi Rika? Dia baik-baik saja?”


Michael yang mendengar hanya menghela napas keras dan mengecup puncak kepala Vinda. “Tante Vera bukanlah orang yang gampang untuk diberikan pengertian, sayang. tante Vera itu orang yang cukup keras kepala.”


“Apa tidak ada cara lain untuk membuatnya merestui hubungan Rika dan Randy?” tanya Vinda penasaran. Dia masih ingat bagaimana seorang Rika mengadukan kehidupannya yang terasa rumit dengan senyum sumringah. Padahal Vinda tahu, Rika hanya menahan agar air matanya tidak mengalir.


“Kita akan tunggu sampai tante Vera memang memerlukan ancaman Kakek. Itu adala cara terakhir untuk membuat tante Vera sadar bahwa anaknya sudah bahagia.”


Vinda hanya bergumam dan mengangguk. Ingatannya kembali berputar ketika dirinya melihat Bara yang begitu menyayangi Rika. Hidup akur dan juga berbagi cerita. Senyumnya terukir pahit ketika mengingat kembali Rensi yang sudah berada entah di mna.


“Ael,” panggil Vinda lagi.


“Apa, sayang. Hari ini kamu banyak sekali memanggilku,” celetuk Michael dengan tawa kecil.


Vinda menelan ludahnya susah dan menatap Michael dari bawah. “Apa Rensi baik-baik saja?”


Michael langsung kehilangan senyum dan menatap Vinda dengan wajah menajam. “Kenapa kamu tanyakan dia lagi? Aku kira semua sudah selesai.”


“Ael, aku hanya menanyakan keadaannya saja. Bagaimana pun dia tetap saudariku. Dia anak dari kakak ibuku,” ucap Vinda pelan, berusaha membuat Michael tidak terpancing emosi.


Michael menghela napas keras dan melepaskan pelukannya. “Aku rasa semua pembahasan mengenai Rensi sudah selesai, Vinda. Aku tidak mau lagi mendengar namanya di rumah ini. Entah itu tentang keadaannya atau tentang kehamilannya.”


Michael baru akan turun dari ranjang ketika Vinda memeluk pinggangnya semakin erat. Helaan napas keras terdengar dan tangannya melepaskan genggaman tangan Vinda yang masih melingkar di pinggang erat.


“Lepaskan, Vinda. Aku mau keluar,” ucap Michael karena tidak mau menjadikan Vinda sebagai sasarannya.


Vinda menggeleng. “Jangan pergi. Aku mau kamu di sini,” ujarnya meredakan emosi Michael karena ucapannya.


“Kamu gak mau elus baby-nya lagi?” tanya Vinda dengan pandangan memohon.


Michael yang mendengar langsung mendesah kesal dan kembali berbaring di ranjang. Vinda yang melihat tersenyum senang dan tidur kembali dengan memeluk Michael.

__ADS_1


“Jangan marah-marah. Nanti dedeknya shock lihat papanya marah,” peringat Vinda dengan suara lembut, berusaha agar tidak membuat Michael marah.


“Aku hanya kesal setiap kamu menyebut namanya, sayang.”


“Aku cuma bertanya tentang keadaannya, Ael.”


“Meski pun, aku tetap tidak suka,” ujar Michael dengan pandangan tajam, “aku mau hidup kita itu tetap tenang dan tanpa ada nama dia di antara keluarga kecil ini. Aku hanya mau dia biasa merasakan apa yang pernah kamu rasakan. Kalau begini, rasanya....” Michael menghentikan ucapannya ketika Vinda tiba-tiba mencium bibirnya pelan.


Vinda melepaskan panggutannya dan mengelus pelan pipi suaminya. “Iya, aku tahu. Maaf karena aku membuatmu marah.”


Michael menghela napas dan memeluk Vinda erat. “Aku cuma gak mau kamu ingat-ingat wanita itu. Mereka jahat dan gak punya hati.”


“Iya, aku tidak akan pernah menyebutnya lagi,” sahut Vinda pasrah. Dia enggan melihat Michael yang mulai ngambek dan bersikap sepeperi anak kecil. Vinda jauh lebih memilih diam dan menurut.


“Lalu papa? Dia juga butuh pendamping,” ujar Vinda pelan.


“Gampang. Carikan lagi saja wanita yang baik,” jawab Michael yang langsung mendapat desisan tidak suka dari istrinya.


Vinda menghela napas pelan ketika mendengar jawaban dari Michael. Memangnya dia pikir semua dapat dengan mudah dilakukan, batin Vinda merasa konyol dengan ide Michael.


_____


“Sial!” bentak Sam dengan rahang mengeras, “kenapa aku tidak sadar kalau Rensi adalah saudara Vinda.”


Sam mengacak rambutnya frutasi dan memandang pria yang duduk di depannya dengan mata menggelap. Adam, pengawal pribadi Adelardo tengah menatap dengan senyum tipis dan memainkan gelas kaca yang sudah diisi minuman kesukaannya. Matanya memperhatikan wajah Sam yang mulai tampak begitu frutasi di depannya.


“Apa kamu tidak tahu bahwa Michael sudah membuangnya dari kota ini? bahkan, Michael memberikan larangan untuknya masuk,” jelas Adam santai.


“Apa?” Sam menatap Adam dengan pandangan membelalak.


Adam mengangguk pelan dan meletakan gelasnya di meja ruang tamu rumah Sam. “Michael sudah memberikan ultimatum itu sejak lama. Bahkan sudah dua minggu Rensi tidak berada di kota ini lagi. Dia diusir dalam keadaan hamil.”


“Hamil?” ulang Sam dengan kening berkerut dalam, “jadi Rensi hamil?”


Adam mengangguk. “Iya dan sayangnya dia tidak tahu siapa yang menghamilinya.”


“Lalu, di mana dia sekarang?” tanya Sam dengan wajah penasaran.


Adam mennaikan kedua bahunya ringan dan menggeleng pelan. “Aku bahkan tidak ikut dalam acara itu. Bukankah kamu tahu bahwa aku adalah pengawal Adelardo dan bukan pengawal Michael?”


Sam menghela napas keras dan menyandarkan tubuhnya kesal. Dia sudah mencari Rensi dalam waktu yang lama, memastikan bahwa anaknya sudah tumbuh di rahim wanita tersebut. Namun, semua gagal karena ulah Michael yang tanpa perasaan membuang wanitanya.


“Kenapa kamu tampak gelisah, Sam?” tanya Adam dengan pandangan tajam.


Sam menghela napas keras dan menggeleng. “Bukan apa-apa. Aku harus pergi.” Sam langsung meraih kunci mobilnya dan keluar rumah.


Adam yang masih asyik di sana hanya diam dan memainkan gelas kaca yang kembali dipegangnya. Senyumnya terukir sama melihat tingkah Sam yang menurutnya terkesan dramatis.


“Kamu pikir aku tidak tahu siapa ayah dari anak yang dikandung Rensi, Sam?” ucapnya kepada diri sendiri, “aku bahkan sudah tahu sejak lama, sebelum Rensi menuduh Michael sebagai ayah dari anak yang dikandung.”


“Aku sangat menyayangkan karena kamu adalah ayahnya, Sam. Aku cukup menyesal mengatakan ini, tetapi aku rasa setelah ini kamu bukan lagi orang kepercayaan Tuan Adelardo,” katanya dengan mata yang menatap mobil yang mulai melaju di hadapannya.


Adam menghela napas kasar dan segera bangkit. Langkahnya tampak angkuh ketika keluar dari rumah Sam. “Kita lihat, Sam. Apa yang akan terjadi selanjutnya.”


_____


🍁🍁🍁🍁🍁


Loha sayang-sayang Kim. Maaf ya, baru nongol, terus bawanya cuma 1 episode doang lagi, hehe. Beberapa hari Kim gak update dikarenakan tubuh yang mulai terkena dampak cuaca alias demam. Sekarang pun, masih lemes sih, jadi cuma 1 episode aja nih yang di update. Namun, setelah sehat, Kim bakal update banyak bab buat kalian semua. Ini janji no PHP, karena Kim aja gak suka kok di PHP-in haha, curcol dikit gaes.


Oh iya, Kim juga mau bilang, setelah Wedding Drama selesai, Kim mau adain Give Away pulsa 20K untuk 5 orang terpilih. Untuk syarat, ketentuan dan kapan diadakan, bisa cek di instagram Kim ya. @kimm.meili. Jangan lupa follow. Maaf ya, cuma bisa kasih pulsa aja, soalnya Kim mah apa atuh. Cuma remahan peyek aja.


Jangan lupa juga mampir di cerita terbaru Kim yang judulnya “Wedding with my lecturer”. Jangan lupa like, comment, tambah ke favorit, vote.


Selamat membaca sayangkuh. Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke favorit, vote, dan follow Kim. See you next chapter yang lebih banyak.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2