
“Kalian pacaran? Apa kamu masih mencintai dokter Randy?” tanya Vinda dengan mata menyelidik, “tetapi sebentar lagi dokter Randy akan bertunangan.”
Rika yang mendengar hanya tersenyum menahan luka yang masih terasa begitu nyata. Hatinya benar-benar teriris menyadari bahwa sebentar lagi, Randy akan menjadi milik orang lain. Mungkin selama ini dia memang tampak cuek dan terkesan tak peduli, tetapi nyatanya, dia begitu peduli dengan segala kehidupan Randy yang semakin berubah.
“Maaf, Vinda. Ada hal yang perlu aku luruskan. Kami sudah saling melepaskan dan aku tidak mencintainya sama sekali,” ucap Rika berusaha mengatakan apa isi hatinya, meski itu adalah sebuah kebohongan.
Vinda hanya mengangguk mengerti. Dia menatap Rika yang sudah menikmati makanannya. Ada hal yang terlihat dari matanya. Kekecewaan. Dia tahu hal tersebut karena sebaik apa pun seseorang menyembunyikan perasaan, matanya tak dapat menghilangkan hal yang dirasakan. Namun, lagi-lagi Vinda harus mengalah karena dia tidak mungkin ikut campur dalam ranah hubungan seseorang yang bukan kerabat dekatnya.
“Sudah berapa lama kalian pacaran?” tanya Vinda penasaran.
Rika yang masih menyendok makananya langsung terhenti dan tersenyum kecut. Senyum yang tak luput dari pandangan Vinda, meski setelahnya dia melihat gadis tersebut tersenyum. Rika mendongak dan menatap istri bosnya dengan senyum menawan.
“Hanya dua tahun,” jawab Rika tanpa melepaskan senyumnya lembut. Dia bahkan sudah memasang wajah cueknya.
“Dua tahun dan kalian memutuskan untuk putus?” Vinda menatap Rika lekat. Dia hanya ingin mengetahui apa ekspresi yang dihadirkan Rika nantinya. Dia masih penasaran dengan pikirannya yang mengatakan bawah Rika masih mencintai Randy.
Rika menghela napas pelan dan meletakan sendoknya. “Iya. Ada sebuah hubungan yang memang harus berhenti dan akan lebih baik jika berpisah. Karena hubungan yang tak sehat selamanya tidak akan sehat. Itulah sebabnya aku memutuskan berpisah dengan Randy.”
“Apakah kamu masih mencintainya?”
Rika diam sejenak dan menggeleng. “Aku tidak perlu mencintai kekasih yang sudah tidak menjadi kekasihku lagi. Aku harus memulai kehidupan baru dengan seseorang yang baru, kan?” Rika tersenyum menatap Vinda yang juga tersenyum.
“Apa kamu mau aku kenalkan dengan temanku? Dia orang yang baik dan juga pengertian. Jadi, kamu bisa mengajaknya ke pesta pertunangan Randy nantinya. Bagaimana?”
Rika yang mendengar tertawa kecil dan menggeleng. “Tidak perlu,Vinda. Aku yakin, akan ada pria yang nantinya begitu mencintai aku. Sama seperti tuan Michael yang begitu mencintai kamu.”
Vinda yang mendengar langsung merona. Pipinya bahkan sudah memerah mendengar penuturan Rika padanya. Apa Rika berusaha menggodanya? Dalam hati dia merutuki sikap Michael yang selalu menggodanya tanpa tahu tempat.
Rika semakin tertawa ketika melihat Vinda yang sudah memerah seperti lobster. Dia baru tahu alasan mengapa atasannya begitu suka menggoda Vinda. Karena memang wanita tersebut begitu lucu ketika malu.
“Sekarang aku tahu alasan tuan Michael begitu suka menggodamu, Vinda. Kamu benar-benar imut ketika malu,” ucapnya dengan senyum ditahan.
“Rika. Kamu itu malah mulai kayak Michael,” protes Vinda kesal.
Rika yang ditegur hanya tertawa kecil dan kembali melanjutkan makanannya. Vinda sendiri langsung bungkam dan tak mengatakan apa pun. Introgasi versinya sudah selesai sampai di sini. Dia sudah tidak mood membahas apa pun kepada Rika. Sampai akhirnya dia kembali ke kantor dan mempersilahkan Rika bekerja kembali. Padahal dia sudah meminta izin wanita tersebut sampai sore, tetapi ternyata hanya sebentar dan semuanya selesai. Bahkan, ketika Rika disuruh kembali ke rumah, dia menolak. Dia memilih untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.
“Sudah selesai, sayang?” tanya Michael yang baru saja keluar dari ruangan Mike.
Vinda yang mendengar langsung berbalik dan menatap suaminya yang sudah melangkah mendekatinya. Senyumnya terukir menatapnya. Entah sejak kapan, dia begitu menyukai ketika Michael memandangnya dengan lekat dan dihiasi senyum yang hanya dilontarkan untuknya.
Michael mengecup pelan pipi Vinda dan menundukan tubuhnya, sehingga mata mereka saling berpandangan.
“Sudah selesai?” tanyanya lembut.
Vinda mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya. Matanya masih begitu asyik melihat pria yang tampak begitu sempurna di matanya. Wajah putih mulus membuatnya seperti tercipta tanpa kesalahan.
“Katanya mau sampai sore. Mainnya udah?” Michael menegakan tubuh dan menarik pinggang Vinda agar semakin dekat dengannya.
“Udah selesai, kok. Aku kira sampai lama, gak taunya bentar aja selesai,” jawab Vinda sembari tersenyum.
“Ya udah. Kalau gitu setelah ini kita pulang,” ucap Michael tegas, matanya menatap Rika yang masih terlihat sibuk dengan pekerjaannya.
“Rika, kirimkan semua laporan ke email,” perintah Michael yang kembali berwajah datar.
“Baik, Pak,” jawab Rika sembari menunduk.
Michael yang melihat hanya diam dan meninggalkan Vinda di depan ruangannya. Langkahnya mulai membawanya masuk ke dalam ruangan. Tidak butuh waktu lama karena Michael hanya mengambil ponselnya. Dia kembali keluar dan membawa Vinda pergi dari kantornya . Sepanjang perjalanan Vinda dan Michael tak mengatakan apa pun. Mereka hanya diam dan sesekali Ael mengangkat telfon dari rekan kerjanya. Sedangkan Vinda, dia hanaya sibuk dengan pikirannya mengenai Rika dan Randy. Entah apa yang terjadi padanya. Namun, kenyataan itu cukup mengusiknya.
Lupakan, Vinda. Kamu tidak sewajarnya memikirkan masalah orang lain lagi, batinnya mengingatkan.
_____
__ADS_1
“Sudah puas main-main di luarnya?” tanya Beni dengan tangan yang bersedekap di dada dan menatap anaknya dengan pandangan tajam.
Rensi yang baru saja keluar dari mobil hanya diam. Dia bahkan belum masuk ke dalam rumah dan papanya sudah menghadang di pintu masuk. Pandangannya bahkan membuat Rensi enggan mendongak. Bagaimana pun harapannya adalah Beni menyayanginya melebihi sayangnya kepada Vinda.
“Apa ini yang papa ajarkan sama kamu, Rensi?” tanya Beni lagi dengan suara tegas. Matanya menatap Rensi yang sejak tadi hanya diam dengan amarah yang sudah terpancar jelas. Rasanya dia ingin sekali menghanjar Rensi, tetapi dia tidak bisa karena hatinya benar-benar menolak.
“Kamu pergi dari rumah dan gak pulang-pulang. Kalau kamu memang gak mau pulang itu ya bilang aja. Papa bakal buang semua barang kamu di rumah ini,” ucap Beni yang sudah marah. Meski dia begitu kecewa dengan tingkah Rensi, dia tidak pernah melayangkan tangan untuk memukulnya.
“Sayang, udah. Nanti dulu, ya? Rensi baru pulang loh. Setidaknya biarkan dia masuk,” ucap Nani sembari mengelus pelan lengan suaminya, meredamkan amarah yang siap meledak kapan saja.
“Gak,” tolak Beni keras, “Rensi harus menyelesaikannya sekarang juga.”
“Iya, tetapi malu nanti kalau ada yang dengar. Nanti aja, ya?” pinta Nani dengan wajah memohon. Matanya melirik Rensi yang hanya diam dan tak menunjukan perasaan bersalah sama sekali.
“Rensi,” panggil Nani pelan sembari memberi isyarat agar anaknya meminta maaf kepada Beni. Namun, Rensi hanya diam dan tak berniat sama sekali melakukan perintah mamanya. Dia hanya menatap papanya yang sudah mengeraskan rahang menahan amarah.
“Ada yang mau kamu katakan, Rensi?” tanya Beni tajam.
“Rensi cuma mau bilang, sampai kapan Papa akan bertingkah pilih kasih kepada Rensi dan Vinda? Padahal dia adalah anak yang tidak memiliki hubungan kekerabatan sama sekali dengan Papa. Apa yang membuatnya begitu disayang dari pada Rensi?” ucap Rensi dengan wajah tenang.
Beni berdecih kesal dan melepaskan tangan Nani yang masih setia menggenggamnya. Matanya semakin menunjukan wajah yang begitu kesal karena ucapan Rensi yang kembali menyulut amarahnya. “Kamu bilang apa, Rensi?” tanya Beni sinis.
“Rensi tanya, apa yang membuat dia begitu disayang oleh semua orang padahal dia hanya anak pungut,” celetuk Rensi tanpa pikir panjang.
Beni yang mendengar langsung menarik napas dan menatap datar. Dia sudah cukup lelah meladeni Rensi yang seperti tak ada habisnya menguras emosi. “Kamu jangan lupa, Rensi. Sampai kapan pun Vinda adalah anak papa. Bahkan ketika kamu menolaknya, dia tetap anak papa. Jadi, papa harap kamu meminta maaf atas perilaku kurang ajar kamu yang sudah mencelakai Vinda waktu itu,” ucap Beni dingin.
Rensi yang mendengar hanya tertawa kecil dan menatap papanya dengan pandangan mengejek. “Perlu papa ingat juga, sampai kapan pun seorang Rensi tidak akan pernah meminta maaf kepada Vinda.”
Rensi langsung menerjang papanya yang masih berdiri di pintu dengan tangan mengepal. Dia masih cukup lelah dan ingin beristirahat. Namun, baru sampai rumah papanya sudah membahas mengenai Vinda dan selalu Vinda. Meminta maaf? Jangan bermimpi.
Beni yang melihat sudah mengatupkan rapat mulutnya. Bahkan, amarahnya sudah benar-benar berada di ubun-ubun. “Rensi!” teriak Beni lantang, tetapi tidak juga menyurutkan langkah Rensi yang tengah menuju kamar. Rensi malah semakin cepat dan menutup pintunya rapat.
_____
Alice mengabaikan ucapan Randy dan memilih untuk fokus pada deretan perhiasan yang sudah tertata di hadapannya. Dia tidak menggubris rengekan dan gerutuan calon tunangannya yang tidak juga ada hentinya.
“Alice, memangnya kamu beli cincin buat apa? Lama banget,” gerutu Randy dengan wajah kusut.
Alice yang mendengar sendiri sampai kesal. Untuk apa? Jelas untuk pertunangan kitalah, batin Alice masih bisa mengontrol. Andai saja bukan karena ide bodohnya yang menyuruh semua bungkam, dia pasti akan merasakan kebahagiaan bersama ketika mencari perlengkapan. Setidaknya Randy bisa membantunya.
“Randy, diamlah. Aku sedang memilih cincin yang pas,” ucap Alice tanpa menatap Randy yang sudah benar-benar lelah.
Akhirnya, Randy memutuskan untuk duduk di sofa yang terletak di ujung ruangan dan menungu Alice yang tanpak begitu sibuk memilih bentuk cincin. Dia menatap tanpa minat dan melihat cincin kecil di dertan paling ujung. Ada permata kecil di tengahnya dan itu menari perhatiannya. Matanya menatap Alice yang sudah berpindah tempat, ditemani pelayan yang sejak tadi melayaninya.
Randy bangkit dan melihatnya. Seorang pelayan lain datang menghampiri Randy dengan senyum begitu ramah.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya pelayan tersebut dengan senyum yang tak pernah luntur.
“Bisa saya lihat cincin di kota biru ini?” ucap Randy sembari menunjuk barang yang diminta.
Pelayan tersebut mengambilnya dan meletakan di depan Randy. Randy mengamatinya dan tersenyum begitu senang. Rasanya dia seperti baru mendapatkan undian jalan-jalan gratis.
“Ini cincinnya sepaket sama kalung, Tuan. Jadi, apa anda akan mengambil sekalian kalungnya?” tanya pelayan ketika Randy akhirnya mengambil cincin tersebut.
Randy kembali terpana dengan kalung putih berbandul bulat kecil yang ada di hadapannya. Matanya benar-benar terpesona dan langsung mengambilnya tanpa pikir panjang. Matanya menatap Alice yang sepertinya tak menyadari jika dia mengambil cincin dan kalung yang berpasangan. Randy kembali duduk dan menyembunyikannya. Sampai pada akhirnya, Alice datang menghampirinya.
“Sudah dapat?” tanya Randy singkat.
“Sudah. Ayo kita pulang, dokter Randy,” ucap Alice dengan senyum menawan.
Randy hanya mengangguk dan segera bangkit. Dia membiarkan Alice membawa sendiri belanjaannya dan melangkah santai. Alice yang ada di sebelahnya memanyunkan bibir kesal karena pria yang melangkah bersamanya tidak memiliki rasa peka yang tinggi.
__ADS_1
“Randy,” panggil Alice kesal.
“Hm. Apa?” tanya Randy masih fokus ke depan.
“Apa kamu tidak berniat membawakan belanjaanku?” tanya Alice dengan pandangan memohon.
“Gak,” tolak Randy tegas, “kamu yang belanja segitu banyak dan kamu sendiri yang harus membawanya. Kamu hanya menyuruhku menemani dan bukan untuk menjadi kuli kamu, Alice.”
Alice yang mendengar semakin kesal. Dia semakin kesal karena Randy meninggalkannya dan melangkah lebih dulu. Mimpi apa aku menerima pertunangan dengan orang tidak peka seperti dia, batin Alice sembari mendengus kesal.
_____
Vinda sudah selesai membereskan sisa makan malamnya bersama dengan Michael. Sepulang dari kantor, dia hanya diam dan memikirkan apa yang harus dilakukannya. Bahkan, ketika dia datang ke cafe Dika, dia hanya diam dan tak mengatakan apa pun.
Vinda memasuki kamarnya dan melihat Michael tengah sibuk dengan laptop. Kakinya melangkah mendekat dan meletakan cangkir berisi kopi yang begitu disukai suaminya. Matanya menatapnya lekat. Apa Michael mengetahuinya? Vinda menghela napas panjang dan segera duduk di sebelah Michael.
“Ael,” panggil Vinda pelan.
Michael yang masih sibuk menghentikan pekerjaannya dan menatap istrinya lembut. “Apa, sayang?”
Vinda menatap Michael dan berusaha menegakan tubuh. “Boleh aku bertanya sesuatu?” Vinda masih ragu jika Michael akan menjawab pertanyaannya. Namun, dia masih harus tetap harus mencoba apa pun hasilnya.
“Apa?” Michael melatakan laptopnya di meja dan fokus dengan wanitanya. Dia melihat ada keraguan saat Vinda hendak mengutarakan perasaannya. Tangannya mengelus pelan pipi Vinda dan membuat istrinya tersadar dari lamunan.
“Ada apa? Ada masalah?” tanya Michael karena Vinda hanya diam dan tak mengatakan apa pun.
Vinda hanya diam dan menyandarkan kepalanya di pundak Michael. Tangannya menyatu dengan buku jari Michael dan menghela napas panjang. “Michael, apa kantor tidak memiliki rumah untuk karyawannya?” tanya Vinda dengan mata menatap lurus ke depan.
“Tidak. Kantor memang tidak menyediakan rumah untuk karyawannya. Memangnya kenapa, sayang?” Michael melirik Vinda dan melepaskan genggaman jari Vinda. Tangannya beralih memeluk istrinya dari samping.
Vinda menghela napas panjang dan menatap Michael lekat. “Ael, kamu tahu kisah cinta dokter Randy?” tanyanya penasaran.
“Randy? Untuk apa kamu menanyakan kisah cintanya?” Michael menatap Vinda dengan kening berkerut.
“Aku hanya penasaran saja. Apa dia hanya mencintai Alice saja selama hidupnya?”
Michael yang mendengar hanya tertawa kecil dan mengeratkan pelukannya. “Sayang, Randy dan aku itu tidak satu kampus. Jadi, aku tidak tahu berapa mantan pacarnya dan apa yang terjadi dengan hubungan mereka. Jadi, bisa kita bahas masalah yang lain?”
“Maksudnya?” tanya Vinda tidak mengerti.
“Ya, lebih baik kita bahas masalah kita,” ucap Randy sembari mengerlingkan matanya menggoda Vinda.
Vinda hanya diam dan menatap Michael yang sudah mematikan laptopnya lalu bangkit. Tanpa aba-aba, Michael langsung mengangkat tubuh mungil Vinda dan membuatnya berteriak kaget. Tanpa sadar tangannya sudah mengalung di lehar Michael karena takut jatuh.
“Aku ingin punya anak, sayang,” bisik Michael membuat Vinda semakin bersemu malu.
Vinda hanya diam dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Michael. Suaminya itu membuatya merona malu. Michael meletakan Vinda di ranjang besar di tengah ruangan dan menatap istrinya dengan lembut.
“I love you, baby,” bisik Michael pelan.
Vinda yang mendapat perlakuan sedemikian hanya pasrah. Akhirnya, Michael memadu cintanya bersama dengan Vinda tanpa ada perasaan benci seperti sebelumnya. Sampai pada akhirnya dia menumpahkan semua benihnya dan membiarkan Vinda tertidur.
Michae menarik selimut dan menutupi tubuh keduanya. Tangannya memeluk Vinda dan mulai memejamkan mata. Dia juga merasa lelah karena baru selesai melakukan olahraga malamnya. Dulu dia melakukannya secara kasar kepada Vinda, tetapi malam ini, dia benar-benar melakukannya dengan penuh cinta. Michael tidak mau jika nanti Vindanya pergi lagi. Tidak untuk kedua kalinya.
Cepat hadir, sayang. Kami menantikanmu, ucapnya sembari mengelus perut rata Vinda.
_____
🍁🍁🍁🍁🍁
Semoga Michael junior cepat hadir ya abang Ael. 😉
__ADS_1
Hey-hey, selamat membaca. Jangan lupa like, comment, tambah ke favorit, vote dan follow Kim. 😚😚😚
🍁🍁🍁🍁🍁