
“Gak boleh. Vinda ini ke sini buat ketemu sama aku, bukan malah bantuin kamu,” protes Della tidak suka, “lagian, orang hamil juga masih di suruh bantuin. Sarap kamu, ya, Dik.”
Hamil? Vinda yang mendengar langsung menatap Della dengan kening berkerut. Dia bahkan tidak merasakan apa pun yang orang hamil rasakan. Dia tidak mual, tidak ingin makan apa pun dan tetap melaksanakan aktivitas seperti biasanya. Dika yang mendengar juga menatap Vinda dengan penuh tanya.
“Kamu beneran hamil, Vin?” tanya Dika penasaran.
Vinda menggeleng dan menonyor kepala Della pelan. “Sembarangan kalau ngomong. Aku gak hamil. Kalau ada yang denger, bisa berabe masalahnya, Del.”
Della yang mendengar hanya tersenyum sembari menunjukan deretan giginya yang rata dan putih. Dia memang sengaja mengatakan Vinda hamil agar Dika berhenti menyuruh Vinda membantunya merapikan restoran. Padahal niatnya dia ingin bercerita panjang lebar dengan sahabatnya, tetapi dia merasa memang salah mencari tempat.
Dika yang mendengar mendesah kecewa. Dia berpikir bahwa dia akan memiliki keponan nantinya. Sayangnya, semua hanya karangan Della yang berbicara tanpa pikir panjang. “Dasar sinting,” ucapnya sembari menjitak kening Della pelan, tetapi tetap saja membuat Della mengaduh.
Della mengusap keningnya dan menatap Dika kesal. “Kasar banget sih jadi cowok,” gerutunya dengan wajah masam.
“Ya makanya kalau ngomong itu dipikir dulu. Kalau sampai Tante Tasya dengar, nanti dikira beneran, tahu,” jelas Dika dengan wajah yang juga terlihat masam.
“Ya maaf sih. Lagian, dia ke sini buat ngobrol sama aku. Eh, kamu malah suruh dia bantu beresih restoran. Memangnya kamu berani bayar berapa untuk seorang Nyonya Michael Aditama?” cerocos Della tidak ada habisnya.
Nyonya Michael Aditama? Vinda yang mendengar hanya tersenyum pilu. Semua orang hanya tahu tentang dirinya yang berstatus menjadi istri Michael tanpa tahu apa yang akan terjadi padanya kelak. Di buang. Itulah kalimat yang tepat untuknya melukiskan gambaran tentangnya kelak. Ketika Rensi kembali, dia hanya akan menjadi barang bekas yang tidak dibutuhkannya lagi. Namun, ini semua adalah pilihannya. Dia akan menyerahkan Michael kepada Rensi. Mau atau tidak mau.
Vinda menghela napas panjang dan menatap keduanya dengan senyum sumringah. Dia mencoba melupakan semua masalahnya dan kembali pada kehidupan menyenangkan bersama dengan kedua sahabatnya. Sejenak. Dia hanya ingin menikmati kehidupannya bersama dengan Michael meski hanya sejenak.
“Kalian berantemnya udah?” tanya Vinda sembari menatap keduanya.
Della dan Dika diam, menghentikan pertengkaran tak penting yang sejak tadi dijalankan. Beradu argumen yang terasa sia-sia. Vinda menatap keduanya secara bergantian dan merangkul tangan mereka, melangkah semakin masuk ke dalam.
“Dari pada kalian berantem gak ada habisnya, lebih baik kita beres-beres. Acara di mulai jam tujuh nanti. Jadi, kita harus cepat bergerak,” ucap Vinda manis.
“Hah? Aku juga?” tanya Della sembari menunjuk dirinya, “gak mau aku. Aku ke sini mau ketemu sama kamu. Aku itu mau cerita banyak. Sudah lama kita gak ketemu,” tolak Della dengan terang-terangan.
Vinda menatap Della dan kembali tersenyum. “Semakin cepat kerjaannya kelar, kamu semakin cepat bisa bercerita sama aku. Jadi, gak ada asalan buat menolak,” ujar Vinda tidak mau dibantah.
Della yang mendengar hanya menghela napas panjang dan mengikuti keingin Vinda, meski hanya setengah hati. Dia enggan berdebat dengan Vinda karena pasti akan membuatnya kalah. Sedangkan di sisi lain, Dika tersenyum dengan wajah penuh kemenangan.
_____
“Rika, kosongkan semua jadwal saya nanti malam. Saya ada acara di pembukaan restoran Dika.”
Rika yang tengah berjalan di belakang Michael hanya mengangguk patuh. Langkahnya masih mengikuti Michael yang sudah lebih dulu berjalan. Sedangkan di belakang, tampak Roy yang juga tengah mengikutinya. Michael berhenti mendadak dan membuat keduanya ikut berhenti. Pria tersebut membalik badan dan menunjukan wajah datar seperti biasanya.
“Roy, kamu boleh pergi. Kamu cari mengenai Rensi berada saat ini dan kembali sebelum malam. Aku harus menyusul Vinda yang sudah di restoran Dika dan ikut merayakan peresmian,” perintah Michael dengan nada dingin, “dan aku gak mau kali ini ada kabar gagal. Sudah hampir satu bulan kalian mencari Rensi dan masih tidak ada kabar. Jadi, dalam waktu dua hari, kalian semua harus menemukannya,” tambah Michael dengan intonasi menekan.
“Baik, Tuan,” jawab Roy dan langsung berlalu pergi.
Rika yang ditatapan Michael dengan mata menajam hanya diam. Setelahnya, Michael kembali melanjutkan perjalanannya dengan Rika yang masih setia.
“Rika, siapkan apa yang harus saya selesaikan hari ini. Bagaimana dengan rencana peluncuran kantor cabang kita?” tanya Michael dengan tatapan yang masih lurus.
“Sudah hampir berjalan ke pembangunan, Tuan. Saat ini pihak keuangan tengah mengurus pembayaran tanah yang akan di jadikan kantor kita nantinya,” jelas Rika dengan perasaan was-was.
“Pastikan bahwa tidak ada yang melenceng dari perkiraan kita. Pastikan semua menerima uang sesuai dengan perjanjian yang ada.”
__ADS_1
“Baik, Tuan,”jawab Rika patuh.
Setelahnya, Michael hanya diam dengan mulut yang sudah terkunci rapat. Dia melangkah dengan wajah angkuh dan tubuh yang tegap. Semua karyawan yang melewatinya langsung menundukan setengah tubuhnya untuk menyapa. Tidak ada yang berani menyapa secara langsung karena mereka semua tahu, Michael bukanlah atasan yang suka dengan sapaan dan sifat sok ramah.
Michael memasuki ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya. Dia masih menunggu berkas yang disiapkan Rika untuknya. Matanya menatap bingkai foto yang masih menunjukan wajah Rensi dengan senyum menawannya. Tangannya menjulur dan meraih bingkai tersebut, membersihkan debu yang sebenarnya tidak begitu kentara.
“Kamu di mana? Aku khawatir kalau Dave melukaimu,” ucapnya dengan senyum manis. Ada gurat kekhawatiran yang terpancar jelas dari wajahnya.
Michael menatap figura Rensi dan diam sejenak. Dia sudah membuat skenario indah untuk memancing Dave agar keluar dari persembunyiannya. Namun, sampai hari ini, dia masih belum menemukan pria tersebut. Michael menghela napas panjang dan menatap foto Rensi frustasi.
Sebuah ketukan pintu menyadarkannya dari lamunan. Setelah Michael mempersilahkan masuk, tampak Rika dengan beberapa map tebal yang di bawa. Michael langsung meletakan bingkai tersebut.
“Maaf, Tuan. Ini adalah dokumen yang harus anda tanda tangani,” ucap Rika sembari meletakan berkas di meja Michael. Matanya menatap bingkai foto dan mengerutkan kening heran karena bukan foto Vinda yang ada di meja bos besarnya.
Rika menarik tubuhnya dan mundur menjauh, tetapi matanya masih menatap foto yang ada di bingkai tersebut. Namun, sedetik kemudian matanya kembali menatap Michael yang ada di hadapannya. Dia berusaha memendam rasa ingin tahunya mengenai sosok tersebut.
“Baik. Kamu boleh keluar,” ucap Michael yang kemudian larut dalam tumpukan berkas.
Rika mengangguk dan keluar dari ruangan tersebut. Dia benar-benar bersyukur karena nampaknya hari ini Michael tengah berada dalam mood yang baik. Dia tidak menyuruh Rika untuk menjelaskan tiap lembar dari isi kertas tersebut.
Rika menutup pintu ruangan dan kembali ke meja kerja. Sebenarnya dia sangat ingin tahu mengenai wanita yang ada di bingkai tersebut, tetapi dia mengurungkannya. Akalnya masih terlalu waras untuk ikut campur dalam urusan orang yang memiliki kewarasan di bawahnya. Membayangkan Michael mengamuk saja sudah cukup membuatnya bergidik ngeri.
_____
Vinda menatap hasil karyanya dengan senyum sumringah. Akhirnya, seluruh restoran Dika sudah tampak begitu rapi. Semua persiapan sudah selesai dan saat ini, Vinda tengah duduk dari lantai atas, memperhatikan kerja kerasnya hari ini. Sudah lama dia tidak membantu sahabatnya tersebut.
“Nah, akhirnya selesai, kan? Kamu emang ter-the best, Vin,” puji Dika yang datang dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman.
Della yang mendengar langsung bangkit dari tidur ayamnya di sofa dan menatap Dika tidak suka. Tangannya melemparkan lap yang sejak tadi dibawanya dan membuat Dika berdecak tidak suka.
“Heh, kamu cuma puji Vinda? Gak sadar aku juga bantu?” protes Della kesal, “dasar pilih kasih.”
“Heh, kamu dengar ya Del. Di sini yang bantu paling banyak itu Vinda, bukan kamu. Jadi, berpikir realistis aja deh. Semua selesai karena tugas dia,” jelas Dika tidak terima dengan tuduhan Della.
Della yang hendak melayangkan protes langsung dihentikan oleh Vinda yang sudah angkat bicara lebih dulu. Di antara mereka bertiga, Vinda memang selalu jadi penengah. Sedangkan Dika dan Della, mereka benar-benar seperti tom and jerry, sulit akur.
Vinda menghela napas panjang melihat keduanya sudah saling bungkam dan hanya mendengus menahan kesal. “Dari pada kalian ribut, mending makan. Butuh makan, kan? Pasti laper dong. Udah makan aja.”
Vinda langsung mengambil satu gelas minuman dan sepiring nasi goreng yang khusus dibuatkan oleh Dika. Terdengar helaan napas dari arah ke dua temannya yang langsung mendekat dan mengambil porsinya. Mereka memang sengaja duduk lesehan di lantai kayu restoran Dika.
Hening. Sejenak mereka larut dalam makanan yang menggugah nafsu makan mereka semua. Sampai pada akhirnya, Dika membuka percakapan untuk mengurangi rasa sunyi di restorannya.
“Vin, gimana kamu sama Michael? Aku bener-bener kaget, ternyata kamu yang dinikahi dia. Padahal, awalnya dia udah buat aku harus mecat kamu,” ucap Dika masih dengan mulut mengunyah makanan.
Vinda baru membuka mulut dan hendak menjawab, tetapi Della lebih dulu melontarkan pertanyaan yang menohok hatinya.
“Bukannya kamu bilang kalau Rensi yang bakal menikah sama Michael, ya? Aku bingung kenapa jadi kamu? Apa kamu beneran di jadikan pengantin pengganti?” tanya Della masih tetap nyerocos.
Vinda hanya diam dengan senyum canggung yang mulai ditunjukan. Semua yang dikatakan memang benar. Namun, serapat mungkin dia akan menutupinya. Dia berharap media tidak akan tahu mengenai hal tersebut karena jika media tau, kehidupan Michael akan benar-benar dalam masalah.
“Kamu itu kerjaannya asal ngomoong aja ya, Del. Lagi pula mana mungkin mereka nikah paksa. Emang sih, Vinda tampak gak bahagia saat itu,” cetus Dika sembari menatap Vinda lekat, “kamu bahagia sama dia, kan, Vin? Michael gak jahat sama kamu, kan?” tanyanya dengan wajah dipenuhi kekhawatiran.
__ADS_1
Vinda yang ditanya langsung tersenyum dan menggeleng. “Dia sangat baik kok, gak pernah marah-marah. Selama beberapa hari ini dia yang merawatku.”
“Hah? Merawat? Memangnya kamu sakit apa?” tanya Della dengan suara melengkingnya. Padahal, dia masih mengunyah makanan di mulut.
“Cuma tertembak aja kok. Kata Randy, hanya luka kecil dan pelurunya gak sampai menembus dalam,” jelas Vinda santai.
“Apa? Kenapa gak bilang? Kalau tau gitu aku gak bakal suruh kamu bantu-bantu,” ujar Dika dengan wajah kesal. Dia memang tidak tahu mengenai hal tersebut.
“Udah, santai aja. Aku yang mau, kan? Lagi pula lukanya udah sembuh, kok.”
Dika hanya menghela napas pelan dan mengangguk beberapa kali. Dia tau, jika sampai Michae tau, dia akan mati dihajar. Dia yakin, terlepas dari bagaimana mereka menikah, saat ini sudah ada cinta yang tertanam di hati saudaranya. Dia tau karena tidak mungkin seorang Michael rela merawat seseorang yang tidak ada di hatinya. Sekarang, rasanya dia lega karena sahabatnya mendapatkan kebahagiaan yang sempurna.
“Vin, aku harap kamu dan Michael benar-benar bahagia. Aku harap tidak akan ada masalah yang menyerang kalian lagi,” doa Dika tulus.
Vinda yang mendengar mengangguk dengan senyum manis. Dia juga berharap hal yang sama. Sekarang, dia benar-benar berharap Rensi pergi dari kehidupan mereka selamanya. Setidaknya, dengan cara itu dia bisa mendapatkan hati Michael dan mempertahankan pernikahannya. Selamanya.
Aku boleh egois, kan, kali ini?, batinnya sembari melanjutkan makan.
_____
Vinda masih menyapa tamu yang datang ke undangan Dika. Saat ini, dia dan Della sudah datang lebih dulu karena Dika ngotot membelikan mereka berdua gaun agar tidak harus pulang ke rumah. Maka, jadilah mereka berdua menjadi tamu pertamanya hari ini.
Vinda masih asyik bercengkrama dengan Dika dan Della yang sejak tadi berbicara ngelawak, dikagetkan dengan sentuhan lembut di pundaknya. Secepat kilat menoleh dan mendapati seorang wanita tersenyum kepadanya dan menyalurkan rasa bahagianya.
“Mama,” ucap Vinda sembari menyalami Tasya dan Adelardo secara bergantian.
“Kamu sudah datang?” tanya Tasya dan mencari kebaradaan anaknya.
“Iya, Ma. Tadi Vinda bantu-bantu Dika, jadi Vinda udah datang duluan deh,” jawab Vinda dengan senyum sumringah.
“Terus, mana Michael?” tanya Adelardo karena tidak melihat anaknya.
“Oh, Ael nanti menyusul, Pa. Mungkin sebentar lagi,” ucap Vinda.
Tasya yang melihat mengelus wajah mulus Vinda yang cantik tanpa make up. Dia merasa begitu kasihan dengan nasib Vinda yang menurutnya benar-benar tak berpihak. “Kamu sudah baik-baik saja, sayang? Masih ada yang sakit?”
Vina menggeleng pelan. “Vinda sudah baik-baik saja, Ma. Ael merawat Vinda dengan baik.”
“Ael merawatmu?” timpal Adelardo dengan kening berkerut heran.
“Pa, Ael gak sejahat itu sampai membiarkan Vinda sakit sendiri, Pa.”
Suara bariton yang baru saja ikut menimbrung membuat Tasya dan Adelardo yang berada di depannya terpaksa membalik badan dan melihat Michael dengan pakaian resmi dan satu tangan yang dimasukan ke dalam kantong celana. Michael menatap orang tuanya dengan decihan tidak suka dan mendekati Vinda yang sudah tersenyum ke arahnya.
“Hey, kenapa berangkat duluan. Aku jadi sendiri, kan?” ucap Michael sembari meraih pinggang Vinda dan mengecup puncak kepala wanita tersebut.
Tasya yang melihat langsung tersenyum melihat kedekatan anaknya dengan Vinda. Dia merasa ada hal baik yang terjadi sekarang. Setidaknya, mereka mengalami perubahan baik dalam menjalani hubungan.
Akhirnya, mereka larut dalam obrolan panjang. Bahkan Michael yang jarang sekali berbicara, malam ini ikut berbicara panjang lebar. Terkadang dia tersenyum mendengar celotehan yang lain. Bahkan, tidak ada yang sadar dengan pandangan tajam dari sudut ruangan. Nani memperhatikan suasana di depannya dengan tangan *** kuat.
“Kamu lihat saja, Vinda. Itu tidak akan berlangsung lama. Saat Rensi datang, kamu akan benar-benar dihempaskan oleh Michael dan tinggal di jalanan,” desisnya dengan wajah tidak menunjukan keramahan sama sekali. kebenciannya semakin menjadi saat melihat Vinda bisa tertawa bahagia.
__ADS_1
“Kamu ingat, gak akan ada kebahagiaan buat kamu sampai kapan pun,” tambahnya dengan wajah yang sudah mengeras. Dia benar-benar masih memendam dendam yang tidak akan pernah dihilangkan olehnya. Sampai kapan pun.
_____