Wedding Drama

Wedding Drama
Bagian 30_Rescue


__ADS_3

“Sial! Harusnya Rensi yang menjadi menantu keluarga Aditama dan bukan anak sialan itu,” teriak Nani sembari melemparkan tasnya ke sofa ruang tamu.


Nani mengepalkan tangannya erat dan menahan semua amarah yang sejak tadi siap meledak. Sejak di acara pembukaan restoran Dika, dia sudah menahan semua amarah yang hampir saja meluap. Dia tidak setuju dan tidak ingin Vinda merasakan bahagia, dengan siapa pun itu.


“Sial!” teriaknya dengan suara yang langsung menggema seisi ruangan.


Beni yang baru masuk ke rumah menatap istrinya dengan kening berkerut karena sejak tadi istrinya selalu marah-marah tidak jelas. Kakinya langsung mendekati Nani yang sudah duduk di sofa ruang tamu dengan wajah mengeras dan menunjukan kekesalannya.


“Kenapa? Ada masalah apa?” tanya Beni yang langsung duduk dekat Nani.


Nani berdecak kesal melihat Beni ada di sampingnya. Dia langsung bangkit dan melipat kedua tanganya di dada. “Semua itu salah kamu. Bukannya melarang Vinda menikah dengan Michael, malah merestuinya.”


Beni semakin menyipitkan mata dengan kening yang berkerut semakin dalam. “Apa maksud kamu?”


Nani yang ditanya langsung berbalik dan menatap Beni tajam. “Kamu tau, kamu itu jadi suami gak berguna. Harusnya yang menikah dengan Michael itu Rensi, bukannya Vinda.”


Beni yang mendengar tidak terima dengan ucapan Nani dan langsung bangkit. Dia meneliti wajah istrinya dengan rasa tidak percaya. “Kamu menyalahkanku untuk kejadian itu? Sekarang siapa yang hampir membuat kita dalam masalah? Kamu dan anak kamu. Masih untung Vinda mau menikah dan menyelamatkan kita dari rasa malu dan juga kehancuran.”


“Ya, itu memang kesalahan kamu. Kamu gak bisa jaga Rensi dan sampai membiarkannya keluar dari rumah saat dia akan menikah.”


“Apa? Aku yang salah?” tanya Beni sembari menajamkan telinganya dan tersenyum kecil. “Semua salah kamu, Nani. Kamu memaksa Rensi yang jelas-jelas tidak mau menikah dengan Michael.”


“Aku hanya melakukan yang terbaik untuknya!” teriak Nani enggan disalahkan terus-menerus.


“Tapi semua yang terbaik menurutmu, belum tentu baik menurutnya. Kamu harus ingat itu,” ucap Beni dengan wajah yang sudah menunjukan keseriusan, “dan kamu, jangan coba-coba mengganggu kebahagiaan Vinda. Dia sudah cukup bahagia dengan keluarga barunya.”


Nani yang mendengar langsung tertawa keras dan menatap Beni merendahkan. “Kamu suruh aku biarin dia bahagia? Gak akan pernah.”


“Nani!” bentak Beni dengan mata yang menatap penuh amarah.


“Apa?” Nani ikut berteriak tidak kalah keras, “kamu suruh dia hidup tenang dan memaafkan semua kesalahannya? Gak akan pernah. Sampai aku mati pun gak akan pernah memaafkannya. Dia harus menderita. Dia harus menebus semua kesalahan yang sudah diperbuatnya.”


“Nani, dia tidak bersalah dalam hal itu,” bela Beni dengan suara yang sedikit menenang. Dia menatap istrinya dengan wajah was-was.


Nani hanya menatap sinsi ke arah Beni. “Kamu membelanya? Kamu membela dia yang sudah membunuh istrimu sendiri? Kamu membela dia yang sudah menjadi penyebab kematian adikku?” teriak Nani dengan air mata berlinang dan mata yang membelalak menahan kepedihan.


“Nani, dia meninggal karena memang sudah takdirnya.”


“Dia tidak akan meninggal jika saat itu Vinda tidak ceroboh. Anak yang bahkan tidak tau asal-usulnya itu memang pantas menerima imbalan dari semua yang dilakukannya!” teriak Nani meluapkan semua kekesalannya.


Beni hendak menyadarkan Nani, tetapi istrinya sudah lebih dahulu melangkah keluar rumah. “Nani!” teriak Beni agar istrinya berhenti. Nyatanya, bukannya berhenti, Nani malah keluar membawa mobilnya, meninggalkan Beni yang sudah mengacak rambutnya.


“Dia gak bersalah sama sekali, Nani. Semua memang sudah takdirnya,” ucap Beni yang langsung mendudukan tubuhnya dan menghela napas panjang. Sejak dia menikah dengan Nani, dia selalu menduakan Vinda dan tidak jarang mengabaikannya. Tetapi, dia tidak sepenuhnya melepaskan Vinda begitu saja. Dia masih memantau semua yang dilakukan anaknya meski tidak dari jarak dekat.


“Maafin Ayah ya, Nak. Ayah gak bisa membela kamu selama ini,” ucapnya lirih dan penuh penyesalan. Dia tahu apa yang dilakukan istri dan anak tirinya, tetapi dia hanya diam. Sekarang, Beni benar-benar menyesal telah menyiakan Vinda.


_____


“Vinda, setelah ini kamu mau apa?” tanya Michael yang melangkah bersisisan dengan Vinda.


Vinda hanya diam dengan wajah berpikir. Mereka masih ada di restroran Dika dan siap untuk pulang ke rumah. Dia menatap Michael yang masih menunggu dengan tatapan penasaran ke arahnya. “Aku rasa aku tidak mau ke mana-mana. Aku ingin pulang saja.”


“Yakin? Memangnya kamu gak bosen di rumah terus?” Michael menatap Vinda dengan mata menyelidik.


Vinda menghentikan langkah dan mentap Michael dengan senyum sumringah. “Aku tau kamu capek kerja seharian. Jadi, aku gak akan setega itu untuk mengajakmu jalan-jalan, padahal sudah malam.”


Michael yang mendengar tertawa kecil. “Tapi aku gak masalah. Mau ikut ke suatu tempat?” ajak Michael dengan mata yang sejak tadi memperhatikan Vinda lekat. Dia bahkan enggan berpaling meski hanya sebentar.


“Ke mana?” tanya Vinda dengan mata berbinar.


“Ke rumah kecil yang dulu sering aku jadikan tempat persembuyian,” ucap Michael dengan senyum yang masih diumbar.


Vinda yang mendengar hanya diam dan mengulas senyum. Kepalanya mengangguk karena dia sendiri sudah lama tidak datang ke tempat mereka dulu bermain. Mereka? Vinda bahkan lupa bahwa hanya dia yang mengetahui ingatan tersebut. Sedangkan Michael, dia mengingat Rensi yang ada bersamanya dulu.


“Boleh. Aku mau lihat tempat persembunyian dari seorang Michael Aditama,” ucap Vinda menghilangkan perasaan mellow di hatinya yang sejak tadi hinggap.


Michael yang mendengar langsung mengangguk antuasias. Sudah lama tidak ada yang ikut bersamanya datang. Beberapa kali dia datang dan berharap malaikatnya juga akan datang. Sayangnya, harapannya sia-sia karena dia sendiri juga pindah rumah yang cukup jauh.

__ADS_1


Vinda menatap tangannya yang saat ini tengah digandeng Michael dengan tatapan sedih. Dia ingin tangan kekar pria tersebut selalu menggandengnya, selalu merangkulnya dan memberikan kehangatan. Namun, apa harapannya bisa terwujud karena selama ini Michael malah mencintai Rensi dengan begitu dalam dan bukan dirinya.


Vinda menatap punggung Michael yang tampak begitu lebar. Dia ingin menyimpan semua ingatannya dan menaruh di hati terdalam. Agar saat dia pergi meninggalkan Michael, dia tidak akan merasakan rindu yang begitu membuatnya sengasara.


Michael baru membukakan pintu mobil untuk Vinda, saat telfonnya berbunyi. Dia menghentikan langkahnya dan merogoh saku celana, menatap nama yang tertera di layar. Roy. Dengan cepat Michael mengangkat panggilan tersebut.


“Halo, Roy. Ada kabar?” tanyanya membuat Vinda mengalihkan pandangan dan menatap penasaran.


“Maaf menganggu, Tuan. Kami sudah mendapatkan kabar terbaru tentang Tuan Dave dan Nona Rensi.” Terdengar suara Roy dari seberang.


“Jadi, di mana mereka?” tanya Michael dengan wajah yang sudah berubah dingin.


“Saat ini Tuan Dave tengah menjadikan Nona Rensi sebagai tawanan di rumah kumuh di hutan barat. Saya dan rombongan sudah ada di lokasi, menunggu perintah Tuan Michael selanjutnya,” jelas Roy dengan suara pelan.


“Kalian tetap awasi pergerakan Dave dan aku akan ke sana. Jangan lakukan tindakan apa pun yang akan mencelakai Rensi nantinya,” perintah Michael dan langsung mematikan panggilan sepihak.


Vinda yang melihat menelan ludahnya gusar. Matanya menatap sorot mata menajam dari arah Michael dan juga genggaman tangannya yang semakin mengerat. Namun, dia enggan protes dan hanya memejamkan mata, menahan sakit karena Michael *** tangannya kuat.


Michael menghela napa panjang dan menatap Vinda yang memejam dengan bbibir meringis menahan sakit. Keningnya berkerut bingung. “Hey, Vin. Kenapa?” tanyanya tanpa rasa bersalah.


Vinda yang mendengar membuka mata dan memberi isyarat bahwa Michael terlalu kuat menggenggam tangannya. Michael yang sadar langsung melepaskan genggamannya dan menatap Vinda dengan perasaan bersalah.


“Sorry,” ucapnya tulus.


“Tidak masalah,” ujar Vinda sembari mengibaskan tangannya, mengurangi rasa sakit yang perlahan menghilang.


Michael menatap Vinda dengan wajah yang berubah serius dan datar. “Vinda, aku ada urusan. Kamu bisa pulang bareng Dika, kan? Aku harus segera pergi.”


“Pergi? Ke mana” tanya Vinda penasaran.


“Roy baru memberi kabar kalau Rensi sudah ditemukan. Dia sekarang dijadikan tahanan oleh Dave di rumah tua sebelah barat. Aku harus segera melepaskannya. Aku takut terjadi hal buruk dengannya,” ucap Michael dengan nada suara penuh kekhawatiran.


Jadi Rensi sudah ditemukan? Peranku sudah selesai? Vinda hanya mengulas bibir tipis dan perasaan yang mulai terasa sakit. Dia tidak bisa merelakan Michael. Dia salah karena terlalu mencintai pria yang saat ini ada di hadapannya.


“Aku akan pergi dulu,” kata Michael dan siap masuk ke dalam mobil, tetapi tangan Vinda mencekalnya dan membuat Michael menghentikan gerakannya. Matanya menatap Vinda penuh tanya.


“Gak boleh. Kamu baru saja sembuh dan aku gak mau kamu terluka lagi,” tolak Michael tegas.


“Aku janji gak akan terluka lagi.” Vidna mengacungkan ke dua jarinya dan menatap penuh harap.


“Vinda, di sana itu bukan tempat bermain. Di sana berbahaya dan kamu....”


“Aku akan jaga diri. Aku janji gak bakal susahin kamu,” potong Vinda dengan wajah penuh harap, “bagaimana pun dia adalah sudaraku. Aku gak mau kalau nanti terjadi hal buruk dengannya. Jadi, boleh ya aku ikut?” pinta Vinda dengan suara memelas.


Michael diam sejenak dan menimang apa yang akan dilakukannya. Matanya menatap Vinda yang masih menyatukan ke dua tangan dan memohon. Helaan napas terdengar dan disusul dengan anggukan setuju dari arah Michael.


“Tetapi kamu janji hanya akan ada di mobil dan jangan keluar. Kamu tunggu sampai aku datang bersama Rensi,” ujar Michael mengingatkan.


Vinda mengangguk yakin dan ikut masuk ke dalam mobil bersama Michael. Dia hanya ingin melewati malam terakhirnya dengan Michael. Matanya menatap Michael dengan tanpa berkedip, seakan takut jika dia berkedip, pria di depannya akan menghilang dari hidupnya.


Aku ingin menatap wajahmu lama dan menyimpannya. Agar saat aku menghilang, aku tidak akan merindukanmu.


_____


“Dave. Lepasin aku!” teriak Rensi yang melihat Dave hanya berdiri di hadapannya dengan senyum licik. Wajahnya tidak menunjukan keramahan seperti dulu lagi. Bahkan, Rensi sudah benar-benar kacau karena permohonannya tidak didengarkan oleh Dave sama sekali.


Dave hanya menyandarkan tubuhnya di kusen pintu dan menatap Rensi yang masih berusaha kabur. Sebagaimana pun dia mencoba, tetap tidak akan pernah bisa melepaskan ikatannya karena Dave sudah menalinya dengan rapi.


Dave melangkahkan kaki mendekati Rensi yang menatapnya ngeri. Ada ketakutan yang jelas terpancar di wajahnya. “Kenapa, sayang? Kamu sepertinya takut denganku?” tanya Dave dengan nada suara lembut dan jemari mengelus pipi Rensi pelan.


Rensi yang mendapatkan perlakuan seperti itu langsung memalingkan wajahnya jijik. Dia jijik melihat Dave. Dia menyesal telah meminta pria tersebut untuk membawanya kabur.


“Kamu menghindari sentuhanku, sayang? Padahal dulu kamu yang memohon agar aku membawamu pergi. Apa sekarang kamu menyesal?” ucap Dave masih dengan nada halus, tetapi terasa menakutkan.


Rensi menatap Dave tajam dan mata memancarkan kebencian. “Dan sekarang aku menyesal telah percaya dengan orang gila sepertimu,” desisnya tepat di depan wajah Dave.


Dave mengeratkan rahangnya dan siap melayangkan tangan seperti yang biasa dilakukan. Bahkan, pipi Rensi sudah tampak membiru karena ulahnya. Namun, gerakannya terhenti karena ketukan di pintu kamar dan menghadirkan salah satu anak buahnya. Dave mengurungkan niatnya dan melangkah mendekati pria berpakiaan serba hitam.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Dave dengan suara tidak suka.


“Michael akan segera datang, Tuan,” jawabnya setengah berbisik.


Dave yang mendengar langsung tersenyum setan. “Bagus. Kita akan sambut dia dan siapkan semua keperluan kita untuk menyambutnya.”


“Baik, Tuan.”


Dave menegakan badan dan menatap Rensi yang masih sibuk dengan tangannya yang diikat. Dia hanya tersenyum menatap gadis yang sangat dicintainya menderita. Namun, setelahnya senyuman itu menghilang dan menatap Rensi tajam.


“Kamu tidak usah susah-susah melepaskan tali itu, sayang. Bantuanmu sudah datang. Michael sudah menemukanmu dan akan segera menyelamatkanmu,” ucap Dave dengan senyum sumringah. Rencananya berhasil. Dia memang sengaja membuat agar anak buah Michael mengetahui keberadaan Rensi saat ini.


“Itu pun jika dia tidak mati lebih dulu,” tambahnya dan menutup pintu. Rensi yang ada di dalam menggeram kesal dengan tingkah Dave yang benar-benar berbeda. Yang dia tau, Dave adalah orang romantis dan baik. Bukan seorang yang kejam seperti saat ini.


“Sial!” geramnya dengan hentakan kaki yang masih terikat.


_____


Michael sudah datang bersama dengan Vinda dan langsung menyusun rencana. Vinda hanya dibolehkan untuk duduk di dalam mobil dan menguncinya. Sedangkan Michael masuk melalui pintu depan. Roy dan yang lain sudah di tugaskan untuk berjaga di sekitar rumah takut-takut kalau ada yang terjadi pada Michael nantinya. Vinda menurut dan langsung masuk mobil.


Michael berjalan mengendap dan melihat rumah di hadapannya dengan kening berkerut karena terlihat begitu tenang. Apa dia ditipu? Tetapi pikirannya langsung terjawab ketika dia melihat seseorang yang tidak sebegitu dikenalnya tengah berdiri dengan wajah angkuhnya. Tepuk tangan meriah langsung terdengar dan Michael hanya berdiam diri di tengah ruangan.


“Michael Aditama. Selamat datang di rumah baru ku,” ucap Dave sembari bertepuk tangan keras. Dia mentap Michael yang masih berdiri sombong dan tanpa rasa takut meski dia sudah di todong oleh para anak buahnya.


“Mana Rensi? Kembalikan dia,” kata Michael datar.


“Kembalikan? Jadi menurutmu apa yang terjadi? Aku yang menculik dan mempengaruhinya?” tanya Dave dengan senyum mengejek, “semua salah, Tuan Michael. Dia yang meminta ku membawa dia kabur karena tidak mau menikah denganmu,” jelasnya dengan wajah prihatin.


“Aku tidak peduli siapa yang salah. Sekarang kembalikan dia.” Michael masih menatap Dave dengan pandangan tajamnya.


Dave yang mendengar langsung tertawa keras dan kembali menatap Michael dengan tatapan penuh amarah. “Kamu menyuruhku untuk melepaskannya? Apa kamu bertanya alasan aku melakukannya? Kamu tidak peduli dengan hal itu?” tanya Dave dengan suara yang dibuat-buat.


Saat Michael masih berdiskusi dengan Dave, Vinda menyelinap masuk ke dalam rumah tersebut melalui pintu belakang. Sudah tidak ada pengawasan karena semua anak buah dave hanya mengincar Michael dan semua langsung berkumpul ke ruang tamu. Hal tersebut memudahkan Vinda untuk masuk dan menyelamatkan Rensi. Dari kejauhan, dia melihat Rensi di kamar atas. Itu sebabnya dia masuk dan akan memudahan Michael dalam penyelamatan mereka kali ini.


Vinda menatap sekitar dan menaiki anak tangga dengan pelan. Sampai di atas dia tidak melihat ada yang menjaganya sama sekali. Dengan langkah cepat dia membuka salah stau pintu kamar dan melihat Rensi tengah diikat di kursi kayu di tengah ruangan.


“Rensi,” kata Vinda dengan mata membelalak kaget.


Rensi yang masih sibuk langsung menengok dan menatap Vinda dengan amat penuh harap. “Vinda, lepaskan aku.”


Vinda langsung masuk dan mulai melepaskan tali yang melilit tangan dan kaki Rensi. Setelah selesai, mereka langsung keluar dari kamar. Vinda membawa Rensi keluar melalui pintu dari belakamg. Vinda yang melangkah lebih dulu merasa aman saat keluar, tetapi saat Rensi yang melangkah, anak buah Dave menangkapnya.


Rensi berusaha memberontak dan enggan di seret ke dalam. Sedangkan Vinda, dia bersembunyi dengan jantung yang berdebar keras. Dia hampir saja ketahuan.


“Bos, Rensi mencoba kabur,” ucap anak buahnya ketika sampai di ruang depan.


Michael yang melihat membelalak kaget dan hendak mendatangi Rensi yang saat itu tengah mengaduh kesakitan dalam genggaman Dave. Dave menatap Michael yang menahan amarahnya kali ini.


“Bagaimana, Michael? Kamu ingin menghancurkanku?” tanya Dave dengan nada suara sinis.


“Lepaskan dia, Dave,” geram Michael dengan tangan mengepal.


“Lepas?” ulang Dave dengan mata menajam, “ambil saja wanita gila ini. Dengan syarat, kamu harus mati,” matanya menatap Rensi yang diam. “Atau dia yang harus mati?” desis Dave.


Michael yang mendengar membelalakan mata. “Aku mati? Jangan harap.”


Dave yang mendengar langsung tertawa keras dan menatap Michael meremehkan. Dia mendorong Rensi menjauh darinya. Dia menatap Michael yang ada di hadapannya dan menodongkan benda pipih dengan beberapa peluru yang sudah disiapkannya ke arah Rensi.


Dor.


Michael menatap Rensi yang saat itu langsung diam di tempat. Matanya semakin menajam saat tembakan pertama di layangkan Dave yang sengaja dipelesetkan. Michael berlari ke arah Rensi yang akan menerima tembakan ke dua. Dia tidak mungkin lari ke arah Dave karena jarak mereka yang cukup jauh. Sedangkan Rensi, gadis tersebut berada dekat dengannya.


“Kamu ingin menyelamatkannya, Michael? Terlambat,” ucap Dave dengan senyum penuh kemenangan. Matanya menatap Michael yang memeluk Rensi erat. Tubuh wanta tersebut sudah menggigil menahan takut.


“Kita akan berpesta, Michael,” desisnya dengan tangan yang langsung menarik pelatuknya.


Door..dooor...doooorr...

__ADS_1


_____


__ADS_2