
Rika baru saja terbangun dari tidur dan menatap sekeliling dengan pandangan bingung. Ruangan yang banar-benar asing untuknya dan bau ruangan yang didominasi dengan bau maskulin membuatnya mengerutkan kening bingung. Matanya menatap mencari pria yang sudah menjadi dalangnya hingga dia sampai di tempat saat ini. Randy. Namun, dia tidak mendapatkan apa pun. Tidak ada Randy di ruangan tersebut.
“Randy,” panggil Rika yang sudah bangkit. Kepalanya jauh lebih baik dari sebelumnya.
Tidak ada jawaban sama sekali membuatnya bertanya. Ke mana pria tersebut? Apa dia membuangnya? Rika mulai merutuki diri dan segera turun dari ranjang. Rika melangkah menuju ke pintu kamar dan segera membukanya. Baru akan melangkah meninggalkan ruangan, suara menggelegar membuatnya mengerutkan kening.
“Apa maksud kamu membatalkan pertunangan. Apa kamu gila?”
Suara tersebut membuat Rika semakin penasaran. Apa yang tejadi di bawah? Dengan tergesa di menuruni anak tangga dan berhenti tepat di tangga ke empat. Dia masih bisa mendengar ucapan dan perdebatan di bawah dengan samar-samar. Namun, yang dia tahu semua itu karenanya. Dia penyebab pertengkaran yang ada di ruang tamu Randy.
“Apa itu mamanya?” tanya Rika yang masih berdiri di tangga
Rika menghela napas dan siap keluar, tetapi ucapan wanita di bawah membuatnya buyar dan membeku. Jantungnya berhenti berdetak dan matanya membelakak sempurna.
“Tetapi dia sudah mengandung anak Randy, Ma,” ucap Randy yang ada di bawah.
“Kamu bisa merawatnya dengan Alice dan tinggalkan wanita itu.”
Jawaban dari wanita yang duduk bersebrangan dengan Randy membuat hati Rika hancur. Apa anaknya akan diambil? Apa pada akhirnya Randy mencarinya hanya untuk mengambil bayi yang dikandung dan merawatnya bersama dengan Alice?
Rika menggeleng keras dan kembali ke kamar dengan air mata mengalir. Sejak mengandung dia semakin sensitif dan jarang menggunakan logika. Dia bukannya turun dan keluar rumah, Rika malah memilih masuk ke kamar di mana dia sadar dan menangis sejadi-jadinya.
Aku gak mau anakku diambil, teriaknya dalam hati. Tangannya mengelus pelan perutnya yang masih rata. Dia tersenyum dengan air mata yang mengalir. “Kamu memang hadir tanpa kami inginkan, sayang. Meski begitu, mama tidak akan membiarkan siapa pun untuk mengambilmu. Kita akan pergi dari sini, sayang,” ucapnya sembari mencari cara untuk kabur.
_____
Randy menghela napas keras ketika mamanya sudah meninggalkan rumah. Rasanya lelah terus berdebat dengan mamanya yang kekeh untuk mengambil anaknya ketika lahir dan membuang Rika begitu saja. Langkahnya mulai menuju ke kamar di mana Rika tertidur.
Dia sudah bangun belum, ya?, batin Randy yang mempercepat langkahnya. Setelah sampai di pintu yang tertutup rapat dan langsung membukanya. Matanya membelalak menatap pemandangan di hadapannya, di mana Rika tengah berusaha turun dari lantai dua.
“Rika, “ teriak Randy dan langsung berlari.
Rika yang kaget hampir saja jatuh jika saja Randy tidak datang lebih cepat. Tangannya menggapai jemari Rika dan menariknya keras, membuat wanita tersebut ikut mendekat ke arahnya. Jantungnya benar-benar berhenti memompa ketika melihat Rika dengan nekadnya memilih turun dari tangga dan membahayakan diri sendiri serta janin dalam kandungannya.
“Kamu gila, hah? Apa yang kamu lakukan?” teriak Randy kesal karena Rika tidak pernah memikirkan sesuatu jika bertindak.
Rika mencoba melepaskan cengkraman tangan Randy di lengannnya, tetapi gagal. “Lepasin. Aku mau pergi. Aku gak mau tinggal di sini,” teriak Rika masih tetap berusaha.
“Gak akan. Kamu harus tinggal di rumahku sampai kapan pun,” bentak Randy dan menatap Rika dengan pandangan kesal, “sampai kapan pun kamu tidak diizinkan pergi jauh dariku,” desis Randy tegas.
“Gak akan!” bentak Rika dengan emosi menggebu, “aku gak mau ada di rumah ini. Sampai mati pun aku tidak akan menyerahkan anakku untuk kamu rawat bersama Alice.”
“Apa?” Randy yang awalnya kesal langsung mengerutkan kening dan menatap Rika dengan pandangan bingung.
Rika menyentak tangan Randy dan menatap dengan mata yang sudah memancarkan kebencian. “Jangan harap kamu akan mendapatkannya, Randy. Aku ibunya dan aku berhak untuk merawatnya. Aku tahu kamu ayahnya dan kamu jauh lebih kaya dariku, tetapi sebagai seorang ibu aku akan merawat dan melindunginya,” ucap Rika dengan air mata yang langsung berlinang.
Randy yang mendengar malah tersenyum dan menarik Rika supaya lebih dekat dengannya. Meski dia tahu, wanita tersebut sedang marah dan membencinya, tetapi dia tetap saja menarik Rika dan mendekapnya.
“Lepas,” desis Rika dengan tangan yang mencoba melepaskan pelukan Randy.
Randy masih tetap kekeh dan mengelus pelan rambut Rika, meresapi kebersamaan yang pernah dirindukan. Rasanya dia benar-benar bersyukur pernah memaksa Rika melayaninya meski tanpa kesadaran. Dia bersyukur pada akhirnya, hasil dari kebodohannya malah membuatnya sadar dan akan memiliki Rika sepenuhnya.
“Randy, lep....”
__ADS_1
“Tenanglah, Rika. Aku memang akan merawat anak ini, tetapi itu pun denganmu,” potong Randy tegas, “aku tidak mungkin memisahkan anak dari ibu yang sudah mengandungnya.”
“Lalu tadi?” tanya Rika lirih.
“Kamu mendengar?” Randy malah balik bertanya dan melirik ke arah Rika yang mengangguk. Senyumnya mengembang dan menghela napas pelan. Tangannya mengeratkan pelukannya dan mengecup puncak kepala Rika sekeilas.
“Makanya kalau mau nguping itu tunggu sampai selesai. Bukan cuma setengah-setengah dan setelahnya pergi tanpa tahu akhirnya,” lanjut Randy dengan nada kesal.
Flash back.
“Kamu bisa merawatnya dengan Alice dan tinggalkan wanita itu,” tegas Vera dengan wajah mengeras dan bibir yang terkatup rapat.
Randy yang mendengar langsung tertawa kecil dan menatap mamanya dengan pandangan merendahkan. “Mama bisa mengatakan itu kepada wanita lain? Mama ingin memisahkan seorang anak dari ibunya?” tanya Randy dengan nada ditekan.
Vera menatap Randy dengan pandangan tidak suka. “Iya. Mama gak mau memiliki menantu dari kalangan yang berada jauh di bawah kita.”
Randy langsung tertawa keras dan menatap mamanya dengan mata jenaka. Sesekali dia berdecih dan menahan tawa yang masih belum mereda. “Apa yang Mama pikirkan? Harta? Rasanya Randy baru tahu apa pandangan Mama tentang seseorang. Selama ini Randy salah menilai bahwa wanita yang sudah mengandungku selama sembilan bulan adalah orang yang tidak membedakan siapa pun.”
Vera masih diam dengan bibir tertutup rapat. Dia enggan menanggapi ucapan sinis anaknya. Matanya memilih untuk menatap sudut lain dan terhindar dari kebencian yang ditunjukan Randy kepadanya.
“Jika dulu pada akhirnya Randy ikut dengan Papa, apa yang akan Mama lakukan?” tanya Randy dengan suara tajam.
Vera yang merasa anaknya sudah berbicara omong kosong langsung bangkit dan menghela napas keras. Jemarinya menggenggam erat tasnya. “Mama tidak mau tahu dan tidak mendengar alasan apa pun. Kamu harus tetap menikah dengan Alice. Meminta maaflah dengan keluarganya.”
Randy yang melihat mamanya sudah akan meninggalkan rumah segera bangkit dan menatap datar. “Randy memang akan melakukannya. Randy akan meminta maaf dengan keluarga Alice karena menggagalkan pertunangan dengan putri mereka. Bukan untuk kembali menjadi tuangannya.”
“Randy!” bentak Vera dengan mata membelalak dan tangan mengepal.
“Mama tidak akan pernah merestuinya. Sampai kapan pun Mama tidak akan memberikan restu untuk orang yang bahkan tidak jelas di mana orang tuanya,” tolak Vera dengan tegas.
“Kalau begitu, untuk kali ini Randy benar-benar meminta maaf. Randy akan tetap menikahinya,” ucap Randy dengan tegas.
Vera menghela napas keras dan menatap sinis ke arah anaknya. “Silahkan lakukan apa yang kamu mau dan silahkan angkat kaki dari rumah ini. Akan akan mencoretmu dari daftar penerima ahli waris. Anggap kamu tidak pernah memiliki mama.”
Randy menutup matanya sejenak dan kembali membuka perlahan. Helaan napas lembut membuatnya merasakan kesedihan karena ucapan mamanya. Namun, dia juga enggan melepaskan Rika dan kembali kehilangan kebahagiaan. Terlebih, mengambil anak dari ibunya, itu tidak akan pernah dilakukan.
Randy menatap mamanya dengan pandangan melembut. “Baik. Randy akan kleuar dari rumah ini. Tetapi maaf, Ma. Sampai kapan pun Mama tetap Mama Randy,” ucapnya dan melangkah meninggalkan mamanya diam di ruang tamu.
Vera menitikan air mata dan segera berbalik. Langkahnya mulai meninggalkan rumah Randy yang terasa memilukan.
Flash back end
Rika yang mendengar langsung mendongak dan menatap pria yang masih mendekapnya erat. Dia melihat ada secercah kepedihan yang sengaja disembunyikannya. “Randy,” panggil Rika pelan.
“Aku tidak masalah, Rika. Aku sudah memilihmu dan anak kita,” jawab Randy dengan mata yang masih menatap jalanan. Tangannya bahkan tidak berhenti mengelus pelan rambut Rika, membuat wanita tersebut merasa begitu nyaman dalam dekapannya.
“Tetapi hubunganmu dan keluargamu menjadi berantakan,” ucap Rika sedih, “aku tidak masalah merawatnya sendiri. Kamu boleh menemuinya ketika kamu rindu.”
Randy yang mendengar tersenyum tipis dan melepaskan pelukannya. Matanya menatap Rika dengan kelembutan yang benar-benar lembut. Ibu jarinya menghapus setitik air mata yang akan turun dan mengecupnya pelan.
“Rika, apa kamu masih belum sadar aku melakukannya karena mencintaimu?” tanya Randy dengan pandangan meneliti, “aku mencintaimu. Itu sebabnya aku memilihmu.”
“Tetapi mama kamu tidak merestui kita, Randy,” keluh Rika kesal karena Randy terasa tidak mempermasalahkan mengenai hubungan keluarganya.
__ADS_1
Randy menegakan tubuh dan memeluk Rika kembali. “Kalau begitu ayo kita coba luluhkan mama bersama.”
Rika yang mendengar hanya diam dan mendongakan kepala. “Kamu mencoba melamarku?”
Randy tertawa kecil dan menatap Rika sembari mengangguk. “Aku ingin kamu bisa menjadi istriku, Rika. Aku ingin menjalani kehidupan bersamamu. Berjuang bersama. Jadi, kamu mau, kan, menikah denganku? Kita rawat Randy junior bersama,” ucapnya dengan senyum sumringah.
Rika hanya tertawa kecil dan memeluk Randy erat. “Dasar. Gak ada romantis-romantisnya,” keluh Rika mencoba mengacuhkan rasa lain yang mulai muncul. Mungkin benar kata Bara, seorang anak memang harus dekat dengan kedua orang tuanya.
Rika mengeratkan pelukannya dan menikmati kebahagiaan yang memang terasa kurang. Maafkan aku Alice. Kali ini aku bersikap egois, batin Rika dalam hati.
_____
Alice bodoh karena pada akhirnya dia malah datang ke rumah Randy yang sudah benar-benar menyakitinya. Awalnya dia berniat untuk pulang, tetapi perasaannya mengatakan untuk ke rumah pria tersebut dan melihat keadaan Rika. Dia juga penasaran dengan kehamilan wanita tersebut.
Alice memilih berhenti jauh dari rumah Randy dan berjalan untuk masuk. Dia menekan hatinya sedalam mungkin dan menghilangkan rasa kecewa yang masih diterima. Semua perasaan konyol yang dirasakannya kali, semua harus mulai menghilang.
“Kamu harus menyelesaikan semuanya, Alice. Biarkan mereka berbahagia dan tanpa ada rasa penyesalan. Aku harus mengatakan maaf ke Rika dan mengatakan bahwa aku sudah melepaskan semua,” ucapnya dengan yakin.
Alice baru akan masuk ketika sebuah mobil keluar dari rumah Randy. “Tante Vera,” ucapnya lirih. Dia merasa ada yang aneh karena setelahnya mobil tersebut melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.
Alice merasa khawatir berniat masuk, tetapi langkahnya kembali terhenti ketika melihat tindakan Rika yang hendak melompat dari lantai dua. Tetapi, tidak lama kemudian dia menatap Randy yang berusaha menolong Rika.
Alice menghembuskan napas keras menatap kemesraan keduanya. Air matanya siap turun kalau saja tidak ditahan olehnya. Rasanya begitu menyakitkan. Beberapa kali mendongakan kepala dan menghalau air mata agar tidak kembali ke luar.
“Randy, kamu sudah benar-benar mendapatkan wanita lain yang begitu kamu cintai. Aku bahagia untuk itu,” ucap Alice dan langsung berbalik.
Namun, sebuah dada bidang berada di belakannya. Jadi, ketika dia berbalik, Alice langsung menabrak dada tersebut. Belum sempat dia memprotes, sebuah tangan kekar menarik kepalanya dan meletakannya di dada tersebut.
“Menangislah jika itu membuatmu merasa lebih tenang. Maaf karena kedatanganku membuat semuanya merasakan luka. Tetapi aku tidak tega melihat kakakku selalu menjalani hari sendiri dan menahan luka sendiri. Jadi, menangislah dan aku akan berpura-pura tidak melihat,” ucap Bara yang masih menatap kakaknya tanpa ekspresi.
Alice awalnya hanya diam dan masih kekeh dengan pendiriannya. Dia bukan wanita lemah yang akan menangis hanya karena pria yang sudah tidak menginginkannya. Dia akan menunjukan kekuatan dan ketegarannya. Dia akan melupakan Randy dan menjalani kehidupan baru dengan baik. Namun, kata-kata Bara yang lain membuatnya luruh.
“Kamu tidak harus menjadi wanita yang terlihat kuat. Kamu berhak menangis dan meluapkan segala kepedihanmu. Menangislah dan setelah itu, aku harap kamu akan berdiri tegar dan bisa mendapatkan takdir terbaik,” tambah Bara masih dengan nada yang sama.
Bagaikan hipnotis, Alice melakukan semuanya. Dia mengungkapkan segala kepedihan yang dirasakannya kali ini. Tangisnya benar-benar pecah saat itu juga. Bara juga hanya diam dan merasakan pakaiannya mulai basah karena air mata Alice yang begitu deras.
Maaf, Alice. Memang harus ada yang terluka untuk merasakan bahagia, batinnya sembari menatap pintu balkon yang tertutup.
Semoga kali ini kamu tidak melakukan hal bodoh, Kak. Semoga setelah ini kamu merasakan bahagia. Setidaknya ada Randy yang akan menjadi penolong dan penopangmu. Aku percayakan kamu dengannya. Aku yakin dia akan membuatmu bahagia, ucap Bara dengan senyum sumringah. Dia sudah memutuskan untuk kembali ke Jepang dan melanjutkan study-nya. Dia akan berangkat besok dan kali ini benar-benar dengan bahagia.
Bara menunduk dan melihat Alice masih menangis. Dia hanya diam dan mengeratkan pelukannya. Berharap itu akan mampu menebus kesalahan karena sudah merebut tunangan gadis tersebut untuk kakaknya.
_____
🍁🍁🍁🍁🍁
Selamat membaca. Jangan lupa tinggalkan like, commemt, tambaha ke favorit, vote dan follow Kim ya. 😆😆😆
Kim juga punya cerita 1 lagi. Judulnya "Wedding with My Lecturer". Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya. Like, comment, tambah ke favorit.
See you next chapter sayang-sayangkuh 😚😚😚
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1