
Pagi-pagi sekali, Dave sudah harus meninggalkan villa tanpa ditemani Rensi. Dia sengaja meninggalkan kekasihnya di villa, didampingi oleh orang kepercayaannya. Setelah diizinkan, dia langsung mempersiapkan segalanya. Tujuannya bukanlah perusahaan yang saat ini tengah diambang kehancuran atau rumah sakit, tetapi dia menuju ke suatu rumah tua di tengah hutan. Rumah yang seharusnya sudah tidak layak pakai itu dijadikan sebagai tempat pertemuannya kali ini.
Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, Dava akhirnya sampai. Rumah yang dituju sudah ada di hadapannya. Dengan cepat dia turun, mengamati sekitar dan memastikan bahwa tidak ada yang mengikutinya sama sekali. Setelah dirasa aman, langkahnya langsung memasuki rumah tersebut.
Sepi. Itulah hal pertama yang dilihatnya. Rumah dengan cahaya matahari minim karena sinar yang tidak bisa menembus hutan tersebut menjadikan udaranya terasa lembab, ditambah dengan perabotan yang sudah tidak layak pakai. Hanya ada satu sofa yang masih terawat di tengah ruangan.
“Sam,” panggil Dave dengan suara tegas dan tanpa ada senyum yang terlintas.
Matanya melirik ke sekitar setelah dirasa tidak ada jawaban. Dia masih mengamati sekitar sampai suara derit pintu terbuka membuatnya mengalihkan pandangan. Dave mmebalik tubuhnya dan melihat pria dengan tubuh kekar berada di belakangnya dengan wajah tanpa ekspresi. Dave yang melihat hanya tersenyum puas melihat siapa yang datang saat ini.
“Anda memanggil saya, Tuna?” tanya Sam yang masih berdiri tegap dengan seragam serba hitam. Dia mengenakan kaca mata hitam, membuat Dave tidak bisa mengira apa yang ditunjukan oleh pria di hadapannya.
“Aku butuh bantuanmu,” ucap Dave dengan wajah sinis dan menatap tajam. Dia tau, Sam tidak akan pernah menolak permintaannya. Dia merupakan salah satu orang kepercayaannya.
“Apa yang bisa saya bantu, Tuan?” jawab Sam tanpa mengalihkan pandangannya.
Dave melangkah mendekat dengan senyum keji yang ditunjukan dan berhenti tepat di depan Sam saat ini berdiri. “Bunuh Michael Aditama.”
Meski Sam memakai kacamata hitam, Dave masih bisa memperkirakan raut wajah Sam yang tiba-tiba berubah. Dia tau anak buahnya tengah terkejut dengan permintaannya. Dave cukup sadar, membalas Michael secara langsung dan membuatnya menderi adalah hal percuma. Itulah sebabnya dia harus melenyapkan Michael saat ini juga dan membalaskan semua dendam keluarganya. Namun, sedetik kemudian, Sam kembali menormalkan riak wajahnya.
“Anda ada masalah dengan Michael, Tuan?” tanya Sam dengan suara datar.
Dave yang mendengar hanya mendengus kecil dan menatap Sam tajam. “Aku hanya memerintahmu dan kamu tidak ada hak untuk bertanya. Masalahku adalah masalahku dan kamu hanya berhak untuk melaksanakan tugas.”
“Maaf, Tuan. Tanpa persetujuan Tuan Daniel, saya tidak berani.”
Dave yang mendengar langsung menggeram marah dan melayangkan tinju ke arah Sam yang hanya diam menerima pukulan. Matanya menggelap dan menatap anak buahnya yang masih berdiri dengan mulut terkunci rapat. “Ayahku masuk penjara dan ibuku masih rumah sakit. Semua karena ulah Michael dan aku akan membalasnya.”
Sam yang mendengar hanya diam dengan ekpresi yang sulit ditebak. Meski sudah lama saling mengenal, Dave terkadang tidak tau apa yang dipikirkan oleh orang kepercayaan keluarganya.
“Baiklah. Saya akan laksanakan,” ucap Sam dengan suara datar.
Dave yang mendengar langsung tersenyum tipis dan menepuk pundak Sam pelan. “Aku percaya padamu, Sam. Jangan kecewakan aku,” ucapnya pelan dan hanya diangguki Sam.
Dave melangkah keluar dari rumah tersebut dan masuk ke dalam mobil, siap meninggalkan tempat kumuh tersebut. Dia harus segera pergi ke villa dan memastikan bahwa Rensi tidak kabur darinya. Dia mengurungkan niat untuk ke rumah sakit karena dia yakin, Michael akan mengawasi semua gerak-geriknya.
_____
Vinda baru saja keluar kamar dan mendapati rumah dalam keadaan kosong. Setelah mendengarkan ceramah Roy mengenai peraturan rumah yang begitu banyak, langkahnya memilih untuk ke dapur. Kali ini tujuannya bukan untuk memasak, tetapi untuk mengambil minum karena dia cukup haus hari ini. Cuaca di luar juga cukup panas, membuatnya enggan meninggalkan rumah Michael yang sangat dingin karena seluruh ruangan diberi AC.
Vinda membuka lemari pendingin ketika Ria masih sibuk dengan masakannya. Jika dia diberi pilihan, dia akan memilih untuk membantu ketimbang menonton. Jujur saya, kebiasaannya di rumah untuk bersih-bersih membuatnya jadi terbiasa.
“Maaf ya, Bu. Saya ternyata malah nyusahin Ibu,” ucap Vinda yang melihat Ria fokus.
Ria yang mendengar langsung berbalik dan tersenyum. Sejak tadi dia fokus dengan sayuran dihadapannya sampai tidak sadar bahwa istri tuannya sudah ada di belakang dan memperhatikannya.
__ADS_1
“Aku malah buat Ibu hampir dipecat,” tambah Vinda dengan wajah penuh penyesalan, “sekali lagi Vinda minta maaf, Bu.”
“Tidak masalah, Nyonya. Lagi pula Nyonya baru dan saya belum memberitahu peraturan yang ada,” jawab Ria dengan sneyum lembut.
Vinda yang mendengar hanya diam dan tersenyum. Dia benar-benar merasa bersalah jika Ria diberhentikan oleh Michael saat itu. Dia jauh lebih memilih untuk melangkah meninggalkan wanita tersebut yang kembali sibuk dengan pisau dan berbagai macam sayuran lainnya.
Vinda melangkah menaiki anak tangga, sesekali dia meneguk air dingin yang sejak tadi dibawanya. Langkahnya berhenti ketika melewati pintu besar yang berada di sebelah kamarnya. Itu kamar Michael. Entah kenapa perasaannya begitu penasaran dengan isi di kamar tersebut. Dengan hati-hati, matanya mengamati sekitar dan setelah dirasa aman, tangannya segera membuka kenop pintu dan mengintip isi ruangan.
Dia gak di rumah, kan?, ucap Vinda dalam hati.
Bukannya berhenti dia malah semakin penasaran. Vinda perlahan membuka pintu lebih lebar dan mulai melangkah masuk. Setelah tubuhnya masuk dengan sempurna, dia mulai menutup pintu dan mengamati sekitar. Ruangan yang didominasi dengan warna dark membuat kesan yang terlalu menyeramkan. Namun, masih untung karena jendela kamarnya terbuka, membuat ruangan tersebut masih terkesan manusiawi.
Vinda melangkah menikmati ruangan Michael yang benar-benar berbeda dengan kamarnya. Ada lemari besar dan pintu yang menghubungkan kamar Michael dengan ruang kerjanya. Namun, perlahan langkah Vinda mulai memelan, matanya memperhatikan vigura yang terpajang di nakas sebelah ranjang pria tersebut.
“Aku seperti kenal,” ucap Vinda dan langsung melangkah mendekat. Langkahnya semakin cepat saat netranya menangkap sosok dalam foto tersebut.
Vinda langsung meraih dua bingkai foto yang ada di nakas dan menatapnya dengan mata menyipit, memperhatikan sosok yang ada dengan cermat. Ingatannya berputar, mengingat anak kecil berbaju kemeja kotak tengah tersenyum bersama dengan wanita yang mengenakan dress berwarna maroon. Vinda yakin itu adalah Michael karena wanita di sebelahnya adalah Tasya. Saat matanya menatap bingkai yang lain, matanya kembali dibuat terkejut. Dia melihat seorang gadis kecil tengah berpelukan dengan seseorang yang sangat dikenalnya.
“Ayah,” cicitnya dengan suara pelan. Dia merindukan ayahnya saat ini. Namun, matanya kembali mengeja tulisan yang ada di foto tersebut.
Rensi, malaikatku. Malaikat? Vinda meletakan kedua foto tersebut dengan napas tersengal. Dia baru sadar dengan ingatannya yang lalu. Senyumnya mulai mengembang dan ada setitik air mata yang mulai mengalir.
“Jadi selama ini dia salah mengira jika Rensi adalah malaikatnya?” ucap Vinda dengan tangis bahagis. Matanya menatap foto Michael kecil dan mengelusnya. “Kamu menepati janji, hm? Aku akan datang dan mengatakan semuanya.”
Tanpa pikir panjang, Vinda langsung keluar kamar dan berlari menuruni anak tangga. Dia ingin mengatakan perasaannya dan mengangkat semua bebannya. Vinda memutuskan untuk melepaskan hatinya dan menyerahkan seutuhnya kepada Michael. Pria yang sudah lama ditunggunya. Pria yang saat ini menjadi suaminya. Takdir mempersatukan kita dengan cara berbeda, Ael.
_____
“Maaf, Tuan. Sampai saat ini Nona Rensi belum ditemukan,” jawab Roy yang berdiri di belakang Michael, menatap ke depan dan menunjukan wajah serius.
Michael menghentikan aktivitasnya sejenak dan menghela napas. “Apa kalian sudah melaksanakan tugas dengan baik?”
“Tentu, Tuan. Perusahaan Wijaya sudah mengalami kehancuran. Sejak saat kita menarik saham yang ada, banyak investor yang menarik saham dan juga proyek mereka. Tuan Wijaya sendiri sudah dalam masa penyelidikan dan dapat dipastikan Dave akan segera keluar dari persembunyian,” terang Roy.
“Bagus.” Michael yang mendengar langsung tertawa puas. Dia akan mendapatkan Rensi dan membalaskan perasaan dipermalukannya karena Dave dengan tidak tahu malunya membawa calon pengantinnya pergi.
Kamu yang memulai, Dave dan aku yang akan mengakhiri. Kita lihat, seberapa besar pengorbanmu untuk membalaskan semuanya. Kita lihat siapa yang kalah nantinya.
Michael kembali fokus dan mulai larut dalam tumpukan tugasnya. Hampir dua puluh menit sampai semua tugasnya selesai. Michael langsung menekan tombol interkom yang langsung terhubung dengan sekretarisnya yang berada di luar ruangan dan menyuruhnya masuk. Tidak lama kemudian, ketukan pintu terdengar dan menghadirkan Rika dengan pakaian kerjanya.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Rika dengan nada sopan. Dia tidak biasa jika berhadapan dengan Michael meski sudah lama bekerja bersama pria tersebut.
Michael memberikan tumpukan berkas tersebut dan menatap Rika dengan wajah tajam. “Ini semua berkas yang sudah saya koreksi. Saya ada urusan dan jika ada tamu katakan untuk datang lain kali. Saya tidak mau diganggu.”
“Baik, Tuan.” Rika sedikit membungkuk dan kembali tegak. Langkahnya dengan cepat meninggalkan ruangan bos besarnya dan langsung duduk di meja kerjanya. Diikuti dengan Michael dan Roy yang juga meninggalkan ruangan.
__ADS_1
_____
Vinda menatap bangunan besar yang ada di hadapannya dengan wajah sumringah. Dia sudah sampai di kantor Michael, diantar sopir pribadi yang sudah disiapkan untuknya. Setidaknya itu yang diucapkan pria dengan wajah datar yang melarangnya untuk pergi sendiri.
Vinda menghela napas pelan dan segera keluar dari mobil mercedes hitam yang sudah terparkir di depan perusahaan. Kakinya langsung melangkah dengan terburu-buru. Dia harus mengatakan semuanya kepada Michael. Dia tahu jika dia bisa mengatakan saat pria itu kembali nanti malam, tetapi perasaannya mengatakan untuk segera datang ke perusahaan tersebut.
Vinda menatap sekeliling dengan wajah bingung. Ini pertama kalinya dia datang ke perusahaan suaminya dan tidak tahu dimana ruangan Michael. Matanya menatap seorang wanita yang berdiri di balik meja tepat di pintu masuk.
“Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?” tanya wanita bernama Sinta-setidaknya itulah nama yang tertera di name tag wanita tersebut.
“Saya ingin bertanya. Ruangan Michael ada di lantai berapa?” Vinda menatap dengan wajah yang sudah menunjukan ketidaksabaran.
“Ruangan Tuan Michael ada di lantai lima. Nyonya silahkan naik lift, di sana akan ada sekretaris yang akan membantu anda sampai di ruangan Tuan Michael,” jelas Sinta dengan suara ramah.
“Terima kasih,” ucap Vinda dan langsung meninggalkan resepsionis yang masih menatapnya dengan ramah.
Tanpa menunggu lama, Vinda langsung masuk ke dalam lift dan menekan tombol lima. Perasaannya masih tidak sabar menunggu pintu lift terbuka. Padahal dia baru saja masuk. Saat pintu besi tersebut terbuka, Vinda melangkah dengan terburu-buru dan setengah berlari. Dia melihat seorang wanita dengan dandanan tipis tengah sibuk dengan komputernya dan beralih saat dia sampai di hadapan wanita tersebut.
“Ada yang bis....”
“Apa Michael ada?” potong Vinda dengan wajah yang sudah berantakan. Bahkan tidak ada kesan santai jika melihat penampilannya yang sudah terlihat begitu kacau.
“Maaf, apakah anda sudah membuat janji dengan beliau?” tanya Rika dengan nada sopan.
“Belum.”
“Maaf, jika ada belum memiliki janji, anda tidak bisa bertemu dengan beliau. Anda harus....”
“Aku istrinya,” potong Vinda dengan senyum canggung. Dia bahkan tidak pernah mengatakan hal tersebut selama menikah. Dia bisa melihat wajah kaget yang tergambar jelas di wajah Rika meski hanya sesaat.
“Anda Nyonya Vinda? Maaf karena saya tidak tahu. Tuan Michael sudah keluar beberapa menit yang lalu. Dia memiliki urusan di luar.”
Vinda yang mendengar langsung diam. Dia tidak bertemu dengan Michael saat di luar. Tanpa menunggu waktu, Vinda memilih pergi tanpa mengatakan apa pun, bahkan ucapan terima kasih.
Vinda memasuki lift dan saat sudah di lantai dasar dia melangkah tergesa. Matanya melihat Michael yang masih membelakanginya dan berbicara dengan seseorang. Senyumnya langsung merekah dan dengan langkah terburu, Vinda mulai mendekati Michael yang masih tidak menyadari kehadirannya. Namun, itu hanya berlaku sejenak, saat matanya menatap sosok mencurigakan yang mengintip ke arah Michael.
Siapa dia? Vinda menatap dengan mata menyipit dan sat sadar ada sesuatu yang menuju ke arah Michael, matanya membelalak. Tanpa berpikir lagi, Vinda langsung berlari dan menjadikan dirinya tameng untuk Michael yang sekarang berada tidak jauh di belakangnya.
Dor...
Vinda sedikit tersentak menerima satu hantaman peluru yang mengenai tepat di atas dadanya. Sedangkan Michael yang kaget melihat ke belakang dan matanya membelalak melihat wanita yang jatuh dengan bersimbah darah.
“Vinda,” teriaknya dan langsung berlari menghampiri.
Vinda hanya *** dadanya kuat, menahan rasa sakit yang mulai menjalar. Darahnya sudah keluar cukup banyak. Michael yang melihat langsung membopong Vinda dan memasukannya di mobil. Dia masih dengan jelas mendengar suara cemas pria tersebut yang membuatnya semakin merasa tenang. Setelahnya dia sudah tidak dapat mengingat apa pun karena kesadarannya mulai berkurang. Sampai pandangan menggelap. Semua terlihat hitam. Vinda mulai kehilangan seluruh kesadarannya saat semua pandangannya terlihat gelap. Vinda pingsan dengan perasaan yang terlihat lega.
__ADS_1
Setidaknya aku masih mampu menjadi malaikatmu.
_____