Wedding Drama

Wedding Drama
Bagian 37_Merindukanmu


__ADS_3

Michael melangkah memasuki gedung pencakar langit yang menjadi perusahaannya dan memandang semua dengan wajah datar. Dia tidak berniat menyapa siapa pun dan seisi gedung tersebut juga sudah paham dengan sifat Michael yang terkesan dingin dan mematikan. Seluruh karyawan yang melihatnya mulai melangkah masuk langsung diam di tempat dan menundukan kepala karena takut. Mereka takut jika pandangan yang saling bertemu pandang tersebut akan membuat masalah untuknya.


Rika yang masih duduk dan merapikan beberapa berkas menatap ke arah lift yang mulai terbuka dan memunculkan Michael yang masih diiringi Roy di belakangnya. Dengan cepat dia bangkit dan menunduk hormat kepada atasannya.


“Selamat pagi, Pak,” sapa Rika dengan sopan.


Michael hanya berdehem dan memasuki ruangannya tanpa melihat Rika. Setelah masuk, Michael menutup pintu ruangannya dengan sedikit membanting dan menimbulkan suara menggema ke seisi lorong ruangannya. Rika yang mendengar hanya berjingkat sejenak, lalu menghela napas lega. Matanya menatap Roy yang masih diam di depan pintu ruangan dan menunjukan wajah datar.


“Roy, apa yang terjadi?” tanya Rika penasaran. Suaranya setengah berbisik agar tidak ketahuan bosnya.


“Nona Vinda hilang karena menyelamatkan Nona Rensi. Sudah beberapa hari Tuan Michael mencari, tetapi masih belum ketemu,” jawab Roy dengan wajah santai karena sudah mengenal Rika sejak dulu.


“Hah? Rensi? Siapa itu?” Rika malah semakin penasaran dibuatnya. Sesekali dia melirik ke arah pintu, memastikan bahwa Michael tidak keluar dari ruangan.


“Dia itu....”


“Roy, aku membayarmu tidak untuk bergosip. Masuk!” teriak Michael dari dalam.


Rika yang mendengar langsung menelan salivanya gusar. Dengan gesit dia menjauhkan tubuhnya dan Roy dan segera duduk, berpura-pura tengah melakukan pekerjaan. Sedangkan Roy, dia harus menanggung amarah Michael yang kembali meluap.


Roy memegang gagang pintu dan segera membukanya. Langkahnya masih tampak tenang ketika memasuki ruangan Michael. Namun, matanya menatap atasannya yang sudah menatap dengan mata menajam, seakan memperingatinya akan hal buruk. Aura gelap juga sudah terpancar disekeliling pria yang saat ini duduk angkuh di hadapannya.


_____


“Aku tidak membayarmu untuk bergosip dengan sekretarisku, Roy,” bentak Michael kesal karena pagi-pagi dia sudah dijadikan bahan gosipan.


“Maaf, Tuan,” ucap Roy dengan kepala menunduk.


“Aku menyuruhmu mencari Vinda dan membawanya ke hadapanku dengan selamat. Namun, sampai sekarang juga kalian tidak mendapatkan kabar apa pun. Jadi, selama ini kerja kalian itu apa, hah!” teriakan Michael menggema di seisi ruangan. Dia sudah menutup tirai gelap agar tidak ada yang melihat amarahnya.


“Maaf, Tuan. Kami masih berusaha,” jelas Roy ragu-ragu.


“Usaha, hah?” ujar Michael dengan wajah kesal dan bangkit, “selama ini kalian hanya usaha dan tidak ada hasil. Kalian mengecewakan.”


Roy menghela napas pelan agar tidak ketahuan oleh Michael. Dia yakin jika atasannya mendengar, pria di hadapannya akan semakin marah besar. “Maaf, Tuan.” Hanya itu yang dapat dikatakan olehnya. Maaf dan maaf.


Michael yang mendengar menatap Roy dengan pandangan kecewa. “Maaf terus? Aku bosan mendengarnya,” desis Michael sembari mengusap wajahnya pelan.


Michael menghentikan gerakannya dan menatap Roy dengan wajah mengeras. Tangannya mengepal menahan agar tidak ada kekerasan yang terjadi. Michael enggan menyakiti Roy terus menerus.


“Aku mau secepatnya kalian membawa Vinda ke hadapanku. Suka atau tidak, aku tidak peduli. Aku sudah lelah memberikan kalian waktu,” perintah Michael dengan tegas. Kali ini, amarahnya sudah semakin memuncak dan berharap ada yang digukakan untuk melampiaskan semuanya.


“Baik, Tuan,” sahut Roy tanpa berpikir. Apa yang dikatakan Michael adalah ketetapan dan harus segera di jalankan.


Michael mengibaskan tangan, menyuruh Roy keluar dari ruangannya. Setelahnya, dia menarik napas dan menghembuskannya pelan. Kakinya melangkah, mendekati jendela kaca ruangannya, membuat matanya menatap hamparan bangunan yang ada di depan. Kedua tangannya sudah dimasukan di kantong celana dan menatap lurus ke depan.


“Di belahan dunia ini, kamu ada di mana, Vinda?” tanyanya tanpa berharap ada yang menjawab karena dia hanya seorang diri di dalam ruangan.


_____


“Dave, kamu mau ke mana?”


Vinda yang baru saja keluar dari kamar harus berhenti ketika melihat Dave sudah mengenakan kemeja kotak-kotak dipadu dengan celana jeans yang senada. Padahal biasanya Dave hanya menggunakan pakaian santai dan tak serapi saat ini.


“Kamu mau pergi?” tanya Vinda sembari mendekati Dave. Apa ini kesempatan untuknya?

__ADS_1


Dave hanya tersenyum canggung dan menatap Vinda. “Aku ada urusan sebentar. Nanti aku juga pulang lagi.”


“Boleh aku ikut?” pintanya dengan mata berbinar. Otaknya dengan gesit merencanakan untuk kabur dari tahanan Dave.


“Untuk kali ini aku tidak bisa mengajakmu, Vinda. Kamu tetaplah di sini. Aku hanya sebentar,” jela Dave sembari menuruni anak tangga.


Vinda yang melihat langsung mengekor dan menghadang langkah Dave, membuat pria tersebut berhenti seketika. Kedua alisnya menyatu, membuat lipatan di keningnya dalam.


“Kamu kenapa?” tanya Dave bingung.


Vinda yang sudah merentangkan tangan langsung menurunkannya dan menatap Dave penuh pengharapan. “Aku mohon, aku bosan di rumah ini terus. Aku ingin menikmati suasana baru di luar sana,” pintanya dan berharap kali ini Dave mau mengabulkannya seperti waktu itu.


Dave menghela napas panjang dan menatap Vinda malas. “Vinda, aku tidak bisa. Di sana cukup berbahaya. Jadi, lebih baik kamu di sini. Ada Bu Mina dan beberapa lagi yang akan menemanimu.”


“Tetapi aku gak mau di rumah ini. Aku benar-benar bosan,” kekeh Vinda enggan mengalah.


“Kamu bisa melihat taman mawar di bagian ujung barat dan juga ada taman anggrek di dekat kolam,” jelas Dave sembari melangkah menuju halaman rumah. Di sana sudah ada seseorang dengan seragam hitam dan menggunakan kacamata. Wajahnya tampak garang dan itu membuat Vinda mulai menciut.


“Dave, aku mohon. Sekali ini saja.” Vinda mengabaikan beberapa mata yang menatapnya penuh tanya. Dia menghilangkan rasa takut yang mulai menjalar.


Dave menaraik napasnya dalam dan menghembuskannya keras. Kali ini tatapannya mengarah lurus ke arah Vinda yang masih merengek tiada henti. Kesabarannya sudah di ujung batas dan mulai menipis. Tanpa aba-aba, dia menarik tangan Vinda dan menggenggamnya erat.


“Berhentilah merengek, Vinda,” desisnya dengan mata yang sudah membelalak.


“Aku hanya....”


“Aku bilang berhentilah merengek. Sampai kapan pun aku tidak akan tertipu dengan wajah polosmu ini. Jadi, jangan berharap aku akan membiarkanmu keluar dari gerbang rumah ini,” celetuk Dave dengan nada dingin dan menyetak Vinda menjauh darinya. Dia melepaskan tangan Vinda dan segera masuk ke dalam mobil.


Vinda yang melihat kepergian Dave hanya menggeram kesal. Kenapa kali ini Dave susah sekali diajak berkompromi? Vinda memutuskan untuk masuk kembali ke rumah dan berdiam di ruang keluarga. Matanya meneliti sekitar dan berharap akan ada hal yang bisa menolongnya. Namun, sayangnya Dave sudah mempersiapkan segalanya.


“Bahkan di rumah ini tidak ada telfon,” gerutunya sembari memutar bola matanya jengah.


Michael, aku merindukanmu, batin Vinda yang pada akhirnya mulai memejamkan mata.


_____


Michael menghela napas panjang ketika dia baru saja menapakan kaki di halaman luas yang bahkan sudah tidak asing untuknya. Matanya menatap tulisan besar di depan gedung yang begitu luas tersebut dengan begitu dingin. Di sini, dia berharap akan mendapatkan jawaban seperti yang diinginkannya.


Michael langsung masuk dan melangkah dengan wajah tanpa senyumnya. Kali ini dia memutuskan untuk pergi sendiri dan tanpa pengawasan dari Roy. Meski biasanya dia selalu didampingi Roy. Namun, hari ini dia memilih untuk melaksanakan tugasnya sendiri dan membiarkan Roy mencari tahu di mana keberadaan Vinda.


“Pak Michael,” sapa seorang pria denga seragam dan tersenyum ke arah Michael.


Michael yang melihat hanya tersenyum tipis dan berhenti. Dia menunggu pria dengan tubuh kekar yang sudah melangkah ke arahnya.


“Apa kabar, Pak?” tanya pria tersebut sembari mengulurkan tangan.


“Saya baik-baik saja, Pak Wendi,” jawab Michael masih dengan tampang galaknya. Dia menatap sekitar yang tampak begitu ramai. Ada beberapa orang yang dipaksa masuk ke dalam ruangan berjeruji besi.


“Pak Michael, ada urusan apa anda datang ke sini? Apa ada hal penting yang anda perlukan?” tanya Wendi yang merasa aneh karena Michael bisa sampai di tempat kerjanya saat ini. Biasanya dia selalu menyuruh anak buah atau hanya sekedar menelfon untuk meminta bantuannya. Michael hanya datang ketika dia merasa masalahnya begitu penting.


Michael menghentikan matanya yang meneliti bangunan tersebut. Dia kembali menatap Wendi yang masih memandangnya penuh harap. “Saya ingin bertemu dengan Tuan Wijaya. Apakah bisa?” tanyanya dengan suara tegas.


Wendi yang mendengar mengangguk. “Silahkan anda tunggu di ruang tunggu dan Tuan Wijaya akan menemui anda.”


Michael hanya mengangguk dan mengikuti langkah Wendi yang menuntunnya menuju ruang tunggu yang cukup sepi. Michael menunggu dengan santai dan tidak lama kemudian, seorang pria dengan wajah tegas datang di hadapannya. Pakaian yang digunakan bahkan tidak berbeda dengan penghuni lain dan itu membuat Michael tersenyum senang.

__ADS_1


“Apa kabar, Tuan Wijaya?” sapa Michael dengan nada ramah yang terdengar palsu.


“Untuk apa kamu datang ke sini, Michael?” tanya Wijaya dengan pandangan tidak suka. Dia benar-benar membenci pria yang ada di hadapannya saat ini.


Michael yang mendengar jawaban sinis dari arah Wijaya hanya tersenyum kecil dan kembali menatap tajam pria dewasa di hadapannya saat senyumnya menghilang. Dia tidak dalam rangka mengunjungi keluarganya yang tengah menjalani masa tahanan saat ini. Namun, ada hal lain yang perlu dibicarakan.


“Saya datang ke sini bukan untuk main-main, Tuan Wijaya. Saya memiliki penawaran untuk anda,” ucap Michael dengan wajah serius. Kakinya sudah disilangkan dan matanya menatap pengawas yang masih berdiri di ujung ruangan. Memberikan perintah agar pria tersebut keluar agar tak mengganggu acaranya bersama dengan pria di hadapannya dan langsung dituruti.


Michael kembali melemparkan tatapan tajam ke arah Wijaya ketika terdengar pintu ditutup. Meski pria di hadapannya masih memandangnya dengan tatapan penuh kebencian, Michael tidak merasa takut sama sekali. Dia bahkan terlihat jauh lebih santai dan tak menunjukan emosi yang biasanya meledak-ledak.


“Aku tau, penawaranmu hanya akan menguntungkan satu pihak dan aku tetap akan dirugikan, Michael,” desis Wijaya dengan wajah yang sudah tidak lagi ramah.


Michael yang mendengar hanya tersenyum kecil dan menatap Wijaya semakin tajam. “Anda terlalu membenciku, Tuan Wijaya. Anda bahkan belum mendengar penawaranku dan sudah menolaknya? Anda akan menyesal nantinya,” celetuk Michael dengan wajah mengejek.


Wijaya menghela napas panjang dan menatap tidak suka ke arah Michael. “Jadi, apa penawaranmu?” tanya Wijaya karena dia juga merasa penasaran dengan apa yang akan ditawarkan oleh Michael. Meski dia tahu, pemuda di hadapannya jauh lebih licik dari semua pebisnis meski usianya masih begitu muda.


Michael menyilangkan kakinya dan bersedekap menatap Wijaya dingin. Sudah tidak ada keramah dalam pandangannya. “Saya memberikan tawaran untuk anda. Anda cari tahu di mana anak anda membawa istri saya pergi dan anda akan mendapatkan keringanan masa tahanan. Bagaimana?”


“Apa! Anak saya membawa istri kamu? Jangan asal bicara kamu, Michael!” bentak Wijaya yang sudah menggebrak meja kesal. Dia bahkan sudah bangkit dan menatap Michael dengan tatapan membunuh.


Michael hanya diam dan memasang wajah tenang. Matanya menatap Wijaya dingin dengan bibir tertutup rapat. Bola matanya mengamati wajah menua Wijaya yang bahkan sudah hampir seumuran dengan papanya.


“Apa anda tidak tahu alasan apa anda ada berada di tempat ini?” tanya Michael dengan wajah dingin, “semua salah anak anda. Dave.”


“Apa? Apa maksud kamu, hah?” Wijaya menatap dengan mata membelalak karena penjelasan Michael.


“Dave sudah membawa pergi calon istri saya dan pada akhirnya, saya harus menikah dengan orang lain. Setelah gadis yang saya cintai sudah kembali, dia malah mengambil jaminan lain. Dia menyekap istri saya dan membawanya kabur entaj ke mana,” jelas Michael dengan wajah serius, “jadi, saya memberikan penawaran untuk anda. Cari tahu di mana anak anda membawa istri saya dan anda akan mendapatkan keringanan hukuman.”


Wijaya yang mendengar langsung tercekat dan menatap Michael tidak percaya. Wajah menuanya semakin terlihat menua karena ulah Dave dan juga kecemasan yang melanda. Tangannya mengepal dan siap menghantam siapa pun. Matanya kembali menatap Michael yang sudah berdiri dengan wajah angkuh dan menatapnya tanpa ekspresi.


“Saya akan berikan waktu dua puluh empat jam kepada anda, Tuan Wijaya. Semua terserah dengan keputusan anda. Tetapi ada satu hal yang perlu saya ingatkan, jika Dave tetap mengurung istri saya, anda juga akan mendapatkan hukuman yang jauh lebih lama dari sebelumnya,” ucap Michael dan melangkah meninggalkan ruangan. Namun, saat tangannya hendak membuka pintu, ucapan Wijaya membuatnya berbalik dan menatap dengan wajah semakin ganas.


“Aku harap dia akan membawa istrimu pergi agar kamu merasakan bagaimana rasanya jauh dari keluarga,” celetuk Wijaya sembari melemparkan tatapan benci.


“Jika itu terjadi, maka anda juga akan membusuk di bangunan ini. Saya pastikan, anda akan dihukum selama-lamanya dan tak ada keringanan sama sekali,” sahut Michael, “jangan lupakan dengan fakta bahwa saya bisa melakukan apa pun untuk membuat anda semakin menderita, Tuan Wijaya.”


Sejenak dia melupakan siapa sosok di hadapannya. Wijaya mengusap gusar wajahnya dan kembali memperhatikan wajah Michael yang masih menatapnya dengan wajah tegas.


“Ada yang ingin anda ucapkan lagi? Jika tidak, saya harus segera pergi karena saya tidak memiliki waktu banyak untuk menemani anda,” ujar Michael yang harus segera pergi karena ada rapat dadakan.


“Bagaimana jika penawarannya di ganti. Kamu mendapatkan istrimu dan aku keluar dari sini?” usul Wijaya dengan wajah percaya diri.


Michael yang mendengar tersenyum kecil dan menatap Wijaya meremehkan. “Di sini saya yang memberikan penawaran, Tuan Wijaya. Jadi, anda tidak berhak mengubah apa pun isi penawarannya. Iya atau tidak sama sekali,” tegas Michael dengan wajah serius.


Wijaya menghela napas. “Baik. Saya terima.” Meski setengah hati, dia harus menerima semua keputusan Michael. Setidaknya dia tidak akan lama ada di bangunan tersebut dan pastinya tidak lagi berurusan dengan Michael kembali. Dalam hati dia benar-benar merutuki kebodohan anaknya.


“Keputusan bagus,” ucap Michael dengan senyum sadis, “saya akan menunggu kabar baik anda selanjutnya.” Michael langsung melangkah keluar ruangan dan kembali ke kantor. Dia tidak memperhatikan mata lain yang saat itu tengah menatapnya di dalam mobil hitam dan menggunakan topi hitam.


Apa yang dia lakukan di sini? tanya Dave pada diri sendiri.


_____


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai-hai. Maaf ya updatenya lama. Soalnya kemarin Kim ada sedikit kendala. 😉😉😉

__ADS_1


Jangan lupa like, comment dan tambahkan ke favorit. Untuk yang sudah memperbarui aplikasi Noveltoon, bisa berikan Vote untuk Kim ya. Terima kasih dan selamat membaca. 😚😚


🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2