Wedding Drama

Wedding Drama
Bagian 48_Kisah Masa Lalu


__ADS_3

Rensi menggeliat dalam tidurnya. Tubuhnya terasa begitu remuk. Namun, dia masih tetap bergelung dalam selimut tebal yang membalut seluruh tubuhnya. Matanya bahkan masih terpejam sempurna ketika dering ponsel terdengar begitu nyaring dan mengaggu tidur nyenyaknya.


“Ish, ini masih pagi. Siapa juga yang menelpon, sih,” gerutunya dan tak ada niat untuk mengangkat panggilan tersebut.


Rensi menarik selimut tersebut hingga menutupi sebatas leher dan kembali memejamkan mata. Dia masih ingin menikmati waktu santainya tanpa ada gangguan. Namun, lagi-lagi, dering ponselnya mengganggu rencananya untuk memejamkan mata dan menikmati hari bersantai.


“Ih, ngeselin banget sih ini orang,” celetuk Rensi yang langsung meraba meja kecil di dekatnya. Tangannya mengambil ponsel yang sejak tadi berbunyi dan menatap layar ponsel. Papa. Menyadari nama tersebut, Rensi semakin enggan menerimanya.


“Gak penting banget sih,” omelnya dan segera meletakan ponselnya di ranjang.


Namun, namanya Beni, sekali tidak diangkat, dia akan terus menelpon dan seperti meneror. Dia terus menghubungi Rensi dan mengganggu tidur nyenyak wanita tersebut. Rensi segera meraih kembali ponselnya dan segera mengangkat panggilan dari nama yang sama.


“Kenapa?” sapa Rensi dengan wajah kesal dan suara tidak ramah.


“Kamu di mana, Rensi? Sudah hampir satu minggu kamu tidak kembali ke rumah,” tanya Beni tak menutupi rasa khawatirnya.


“Ke mana Rensi pergi, apa peduli Papa?”


“Hey, kamu anak Papa. Papa khawatir sama kamu. Pulang sekarang,” ucap Beni tegas.


“Rensi masih males pulang. Nanti deh kalau udah minat, Rensi bakal pulang,” sahut Rensi dengan suara cuek. Dia sudah tidak peduli jika nanti papaya marah. Lagi pula dia masih merasa sakit hati karena papanya lebih membela Vinda dari pada dirinya yang masih memiliki hubungan kekerabatan.


“Memangnya Papa memberikanmu pilihan, Rensi?” tegur Beni dengan suara tajam.


“Ada atau tidak, Rensi tetap tidak akan menuruti apa kemauan Papa,” jelas Rensi tanpa rasa takut.


“Kamu yakin?” tanya Beni dengan nada tajam, “jika kamu memang tidak ingin pulang, jangan pernah kembali. Papa beri kamu waktu dua jam dan kamu harus sampai rumah. Jika kamu menolak, jangan salahkan Papa kalau kamu tidak akan bisa kembali ke rumah ini,” ancam Beni dengan wajah menunjukan keseriusannya.


Rensi yang mendengar berdecak kesal. Jika tidak di rumah Beni, ke mana dia akan pergi nantinya? Rasanya memang dia tidak akan punya pilihan lain. “Iya-iya. Rensi pulang,” putusnya dengan terpaksa. Pasalnya dia masih enggan melihat wajah Beni. Lebih tepatnya dia belum siap melihat pandangan hangat pria tersebut yang sudah mulai berubah menjadi dingin dan membencinya.


“Good girl,” sahut Beni dan segera mematikan ponsel.


Rensi menghela napas panjang dan segera bangkit. Namun, baru saja dia hendak melangkah, matanya dikejutkan dengan tubuhnya yang tidak mengenai sehelai benang pun. Apa yang terjadi?


Rensi menepuk keningnya pelan dan segera melangkah ke kamar mandi, tanpa menghiraukan tubuhnya yang terekspos semuanya. Dia menatap pantulan tubuhnya yang dipenuhi bercak merah.


“Sial,” gerutu Rensi sembari meneliti tubuhnya.


Rensi memejamkan matanya. Ingatannya kembali berputar mengingat kejadian malam itu. Malam di mana dia bertingkah seperti wanita murahan. Tangannya langsung memijit pelan pelipisnya karena rasa pusing yang tiba-tiba diserangnya.


“Gila. Kamu gila, Rensi. Kamu membiarkan pria tak dikenal menikmati tubuhmu? Bodoh,” gumamnya dengan rahang mengeras.


Namun, saat ini bukan waktunya dia merutuki kesalahan yang dibuatnya. Rensi mengabaikan apa yang terjadi padanya dan segera mandi. Dia harus menghilangkah bau alkohol yang melekat di tubuhnya dan juga cairan bening yang sudah mengering di bagain bawahnya.


Rensi segera mengganti pakaian dengan pakaian ganti yang memang selalu membawa ganti. Setelahnya, dia segera melajukan mobil menuju rumah. Meninggalkan klub yang masih terlihat sepi beserta kamar yang digunakan untuk meneguk kenikmatan semalam.


Tuhan, jangan sampai ada hal buruk yang terjadi, pintanya dalam hati karena dia sendiru tidak sadar dengan apa yang terjadi padanya malam itu.


_____


“Nama kamu siapa?” tanya bocah perempuan kecil dengan kuncir kuda dan senyum menawan. Sejak tadi tangannya sudah menujulur di hadapan bocah laki-laki di hadapannya. Namun, tidak juga mendapatkan jawaban. Bocah tersebut bahkan tak mengatakan apa pun dan mengunci rapat mulutnya.


“Hei, kamu punya nama, kan?” tanya bocah perempuan lagi karena merasa tidak juga mendapatkan jawaban.


Lama dia menunggu sampai membuahkan hasil. Bocah kecil tersebut mengangguk dan mulai membuka mulutnya. “Michael. Namaku Michael,” jawabnya dengan suara kecil.


Bocah perempuan tersebut tersenyum dan menarik tangan Michael kecil sehingga menjabat tangannya. “Salam kenal, Michael. Namaku Vi....”

__ADS_1


“Bocah sialan, di mana kamu?” teriak seseorang menghentikan ucapan gadis kecil tersebut.


Vinda yang saat itu baru berusia enam tahun langsung meneguk salivanya susah payah. Dia menatap Michael yang masih memperhatikannya dengan wajah bingung. Tanpa dikomando, tangannya segera meraih tangan Michael dan membawanya ke salah satu semak yang cukup tebal.


“Michael sembunyi di sini dulu, ya? Aku masih ada urusan. Jangan keluar sebelum semuanya beres,” ucap bocah perempuan dengan mata yang sesekali menatap ke belakang.


Michael yang tak mengerti apa pun hanya mengangguk patuh. Bocah kecil tersebut melangkah meninggalkan semak. Namun, belum juga dia melangkah jauh, seorang wanita dengan wajah sinis menatapnya. Michael hanya diam memperhatikan. Dia sendiri tidak sengaja datang ke taman tersebut. Dia lari tanpa arah karena baru saja dikejar oleh segerombolan pria berbau hitam yang berniat menangkapnya. Tidak disangka gadis kecil tersebut yang menyelamatkannya.


“Ternyata di sini kamu? Ngapain? Main?”


Bocah kecil tersebuh hanya menundukan kepala. Dia tidak menjawab sepatah kata pun, sampai sebuah tangan kekar menariknya paksa. Bahkan, langkahnya tak jarang terseok karena tidak kuat menandingi kekuatan wanita tersebut. Teriakannya melengking dan tak dihiraukan. Di sini, Michael dapat melihat wajah bocah tersebut yang mulai dibasahi air mata. Hatinya merasakan pilu melihat hal tersebut.


“Dan sekarang aku tidak akan membiarkan seseorang membuatmu menangis, Vinda,” ucapnya dengan senyum lembut. Michael menatap wajah Vinda yang masih tampak begitu tenang. Ingatan masa lalu yang membuatnya merasa nyeri karena pernah melukai seseorang yang menyelamatkannya. Tangannya mengelus pelan pipi lembut Vinda, membuat pergerakan dari wanita tersebut.


Vinda menggeliat dalam tidurnya dan membuka matanya perlahan, melihat pandangan indah yang sudah menungu sejak tiga puluh menit yang lalu. Wajah Michael semakin tampak begitu ceria ketika mendapati Vinda menatapnya dengan senyum tipis yang begitu manis.


“Morning, sayang,” sapa Michael sembari memberi kecupan ringan di kening Vinda.


Vinda yang disapa langsung merona malu dan hanya tersenyum tipis. Pipinya sudah bersemu merah dan itu membuat Michael tersenyum lembut. Tangannya meraih tengkuk Vinda dan memeluk istrinya erat, meletakan kepala Vinda tepat di dada bidangnya.


“Pagi juga, Mas,” sapa Vinda sembari menenggelamkan wajahnya dia dada bidang Michael.


Michael yang mendengar hanya tertawa kecil. Dia tahu kalau istrinya saat ini tengah merona. “Apa kamu selalu semerona ini jika sedang malu, sayang?” tanys Michal tanpa melepaskan pelukannya.


“Michael,” keluh Vinda pelan. Bahkan, tanpa dia menjawab sekali pun, dia tahu jika Michael sudah mengetahui jawabannya.


“Baiklah-baiklah. Aku tidak akan menggodamu lagi. Tetapi ada syaratnya,” ucap Michael sembari menatap Vinda yang juga mendongak menatapnya.


“Syarat? Apa?” tanya Vinda penasaran.


“Cium aku,” jawab Michael semangat. Dia bahkan sudah menyerahkan bibirnya untuk dikecup.


Michael yang mendengar hanya diam dengan bibir manyun dan itu membuat Vinda tersenyum kecil. Matanya mengamati pria di hadapannya dengan lekat. Benarkah dia pria yang ditakuti di kantornya? Rasanya dia mulai ragu jika suaminya adalah CEO yang begitu ditakuti.


“Kalau begitu, aku juga harus memberikan syarat, dong,” ucap Vinda dengan menaikan kedua alisnya berulang kali.


“Hah?” Michael mengerutkan kening heran. Sejak kapan istrinya juga bersikap seperti dirinya?


“Iya, Michael. Bukankah itu akan saling menguntungkan?” kata Vinda dengan wajah dipenuhi kebahagiaan.


Michael mencubit gemas pipi istrinya. “Siapa sih ini yang ngajarin?” ucapnya gemas dan langsung menarik pinggan Vinda agar mendekat kepadanya, “jadi, apa yang kamu minta, sayang?”


Vinda membalas pelukan Michael dan menatap lekat. “Satu hari ini saja, aku minta Rika menemaniku. Hanya satu hari saja, Michael. Aku ingin berbicara empat mata dengannya,” ucap Vinda mulai serius. Dia benar-benar berharap agar Michael mengabulkan keinginannya karena dia harus mencari tahu hal apa yang sebenarnya di sembunyikan Rika. Dia yakin, jika Randy mengatakannya kepada Michael, suaminya akan memecat Rika tanpa mencari kebenarannya lebih dulu.


“Rika? Untuk apa kamu ingin berbicara sama dia? Kalian tidak cukup dekat untuk mengobrol masalah pribadi,” ucap Michael curiga.


“Ada deh, urusan cewek,” jawaban Vinda diiringi senyum kecil, membuat Michael semakin gemas dengan istrinya.


_____


Setelah perdebatan panjang dan alot dengan Michael yang masih tak mau mengalah dengan pendiriannya, Vinda hanya mampu bersyukur dengan apa yang didapatkannya sekarang. Dia kembali bernapas lega karena pada akhirnya, Michael menyetujui tanpa mempedulikan apa yang akan menjadi topik bahasannya saat ini. Matanya menatap gadis yang sejak tadi diam dengan kepala menunduk, tak memperhatikannya sama sekali.


“Rika, apa kamu tidak mau memakan makananmu?” tanya Vinda lembut.


Rika yang sejak tadi diam segera mendongakan kepala dan tersenyum tipis. “Maaf, Nyonya. Saya....”


“Vinda,” potong Vinda cepat, “panggil aku Vinda,” ulangnya dengan nada tegas.

__ADS_1


“Tetapi anda adalah....”


“Aku hanya istrinya dan bukan bosmu, Rika. Jadi, bisa kamu bersikap biasa saja? Anggap aku sahabatmu, oke?” ucap Vinda dengan senyum riang.


Rika yang mendengar hanya mengagguk. Rasanya dia percuma melawan wanita di hadapannya karena dia merasa, Vinda tidak beda jauh dari bosnya. Sama-sama keras kepala dan tak mau dibantah.


“Jadi, apa yang ingin kamu katakan, Vinda? Kamu bahkan meminta secara ekslusif agar hari ini aku tak berkerja dan hanya menemanimu,” tanya Rika penasaran. Dia berusaha bersikap sesantai mungkin sesuai dengan keinginan Vinda.


“Aku hanya ingi berbincang kecil denganmu, Rika,” jawab Vinda santai.


“Mengenai apa?” Rika mengerutkan kening bingung. Apa yang ingin dikatakan Vinda?


Vinda menyesap teh hangatnya dan meletakan kembali cangkir tersebut ke meja dan menatap Rika tajam. “Mengenai percakapanmu dengan dokter Randy tempo hari. Apa itu benar? Apa kamu bekerja di klub malam sebagai pemuas nafsu pria?” tanyanya dengan nada hati-hati. Dia tidak mau jika nantinya Rika tersinggung dengan pertanyaannya.


Rika yang awalnya masih bereaksi santai menjadi diam dan tak menunjukan ekspresi apa pun. Pada akhirnya, dia akan mendapati pertanyaan yang sudah ditebaknya sejak beberapa hari yang lalu, ketika Vinda tanpa sengaja mendengar ucapan Randy yang tengah mengoloknya.


“Maaf, tetapi itu bukan urusan kamu,” jawab Rika tak mau ada yang tahu tentang hal tersebut.


“Jelas itu masalah,” sahut Vinda tegas, “kamu bekerja di kantor suamiku dan aku tak mau perusahaan yang sudah dibangunnya mendapati masalah dan pandangan buruk dari para kliennya.”


Vinda diam meneguk salivanya. Dia bahkan baru pertama kali berkata kasar seperti saat ini. “Jika kamu tidak mau menceritakan dan mengatakan semuanya, aku akan mengatakan kepada Michael dan dia akan memecatmu hari ini juga,” ancam Vinda sembari memegang ponselnya. Matanya melirik Rika yang tampak ragu.


Kenapa aku jadi seperti Michael? Jangan-jangan karena sering bergaul dengannya, aku jadi tukang maksa dan mengancam, tuduhnya dalam hati. Padahal Michael tak melakukan apa pun kepadanya, selain menggoda dan bermanja setiap hari.


Vinda menekan nomor Michael ragu. Dia bahkan sudah hampir menghubungi suaminya ketika Rika mencegahnya. Matanya menatap wajah gadis tersebut dengan tatapan bingung yang dibuat-buat. Sebenarnya dia tahu apa yang akan dikatakan Rika dalam hal ini.


“Aku akan menceritakan semuanya,” ucap Rika takut jika nantinya dia dipecat dan kehilangan pekerjaan. Padahal, bekerja di perusahaan Michael adalah impiannya dan salah satu cara untuknya menghidupi diri sendiri.


“Aku akan menceritakan yang sebenarnya sama kamu. Tetapi aku mohon, jangan katakan apa pun kepada tuan Michael. Aku benar-benar membutuhkan pekerjaan ini,” mohon Rika dengan wajah memelas.


Vinda yang mendengar langsung tersenyum. Ternyata cara Michael memang ampuh. Tangannya segera meletakan kembali ponselnya dan menatap Rika lekat. Tampak gadis tersebut menghela napas panjang dan tengah meyakinkan keputusannya.


“Semua bermula tiga tahun lalu. Ketika papa mengalami kebangkrutan dan mama tak bisa menerimanya,” ucap Rika sembari menunduk. Dia malu mengatakan aib keluarga yang selama ini disimpannya.


Vinda yang mendengar hanya diam dan memperhatikan. Dia masih mengawasi gerak-gerik Rika yang seakan ragu mengatakannya. Tetapi, dia harus mendengar apa yang dikatakan gadis di hadapannya. Jadi, ketika Randy mengatakan semuanya, dia bisa membela jika memang itu diperlukan. Dia tidak ingin Michael mengambil keputusan yang salah dan membuat banyak orang merasakan sakit hati.


“Mama pergi bersama kekasihnya dan Papa yang tidak terima malah ikut pergi entah ke mana. Mereka meninggalkanku bersama dengan adik semata wayang yang saat ini tengah berkuliah di Jepang karena mendapatkan beasiswa,” lanjut Rika dengan wajah menunduk.


“Rumah kami disita guna melunasi hutang papa. Aku yang hanya memiliki uang seadanya mencari rumah yang begitu murah. Masih untung ada seorang wanita baik yang memberikan rumahnya untuk aku tempati dengan harga yang cukup murah. Rumah tersebut berada tepat di belakang klub malam,” jelas Rika sembari menelan ludahnya serat.


Rika menghela napas dan kembali melanjutkan ucapannya, “saat itu Randy, maksudku dokter Randy melihatku membawa seorang pria mabuk yang bukan lain adalah adikku. Dia mengalami setres karena tidak bisa menerima kenyataan. Karena kesalahan pahaman ini hubungan kami berakhir.”


“Tunggu,” potong Vinda sembari menegakan tubuhnya, “hubungan? Maksud kamu, kalian sempat berpacaran?”


Rika membelalak. Dia terlalu terbawa suasana untuk menceritakan kisahnya. Dia menatap Vinda yang juga melemparkan tatapan tajam ke arahnya. Helaan napas kembali terdengar dari arahnya dan mengangguk. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Semua sudah menjadi bubur dan tak ada yang perlu disesali.


“Kalian pacaran? Apa kamu masih mencintai dokter Randy?” tanya Vinda dengan mata menyelidik, “tetapi sebentar lagi dokter Randy akan bertunangan,” lanjutnya membuat Rika hanya bisa tersenyum miris.


_____


🍁🍁🍁🍁🍁


Mau cowok macam Michael satu aja buat Kim dong. Hehe.


Selamat membaca semuanya. Jangan lupa like, comment, tambah ke favorit, vote dan follow Kim ya.


Terima kasih sayang-sayangkuh 😚😚😚

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2