
Bara menatap Randy dengan pandangan tajam yang penuh dengan kekesalan. Dia masih tetap membenci pria di hadapannya. Pria yang sama yang selalu memberikan penderitaan untuk kakaknya. Awalnya dia ingin datang baik-baik dan mengatakan kebenarannya secara baik-baik. Namun, mendengar ucapan beberapa dokter membuatnya kembali merasakan panas di ulu hatinya.
Kakakku hamil anaknya dan dia asyik dengan wanita lain dan bahkan hampir menikah? Benar-benar tidak tahu diri, desisnya dalam hati.
Bara tanpa sadar melangkah dan segera memukul Randy dengan keras. Dia mencoba membuang semua amarah, tetapi bukannya melayangkan dengan pelan, tanganya mengenai dengan sekuat tenaga. Matanya mematap Randy yang sudah tersungkur dan menatapnya dengan kening berkerut. Maafkan aku, Kak. Aku tidak menuruti keinginanmu, batinnya takut jika Rika akan marah nantinya.
“Apa-apaan kamu, hah. Kamu sadar apa yang kamu lakukan? Kami bahkan tidak mengenalmu.”
Bara menatap gadis di sebelah Randy dengan mata menajam. Tidak ada kelembutan di dalam pandangannya dan itu membuat Alice yang sedang membantu Randy mengalihkan pandangan darinya.
“Jadi, kamu ingin mengenalku? Aku adalah adik dari orang yang sudah dia hamili,” jawab Bara dengan wajah datar dan tatapan dingin.
“Apa?” ucap Alice dengan mata yang tidak percaya.
Randy hanya diam dan memperhatikan Bara dengan pandangan bingung. Dia masih mencerna apa yang dikatakan oleh pria di hadapannya. Namun, belum juga dia menanyakan mengenai hal tersebut, Alice sudah lebih dulu menyahut dan memandang dengan tatapan membunuh.
“Jangan pernah berusaha meni....”
“Rika,” potong Bara membuat Randy langsung diam dengan mata membelalak, “aku adalah adik Rika, wanita yang sudah dihamili oleh pria sialan ini,” bentak Bara dengan emosi menggebu. “Aku bahkan tidak menyangka dia hamil dengan orang sekurang ajar kamu, Randy,” keluh Bara terang-terangan.
“Apa? Rika hamil?” tanya Randy memastikan.
Bara menghela napas keras dan menatap Randy dengan pandangan yang melunak. Bara mengangguk dengan bibir yang masih terkatup rapat. “Dia hamil dan itu adalah anakmu,” jelas Bara yang langsung disahuti senyum oleh Randy.
Alice yang melihat Randy tersenyum semakin merasakan sakit, tetapi sebiasa mungkin dia menahan perasaan kecewanya. Tanganya menggenggam erat lengah Randy yang masih diambang kebahagiaan.
“Randy, jangan percaya. Mungkin saja itu adalah anak orang lain dan dia menjadikanmu sasaran karena ayah dari anak yang dikandung tidak mau mengakui,” ucap Alice mencoba meracuni Randy.
Bara yang mendengar tertawa kecil dan menatap Alice degan tatapan sinis. “Kamu pikir kakakku adalah orang yang suka menjajakan diri kepada setiap orang? Dia bahkan jauh lebih suci darimu.”
Randy menghela napas keras dan menatap Alice tidak setuju. Tangannya melepaskan pelukan tangan Alice dan memandang lekat. “Alice, aku pernah salah menilainya. Namun, kali ini aku yakin jika anak yang dikandungnya adalah anakku. Dia darah dagingku.”
Alice yang mendengar merasa hancur. Semuanya terasa pahit, sampai air mata yang sudah ditahan meluncur begitu saja dan itu terasa memilukan. “Randy,” panggilnya lemah dengan air mata yang mengalir dari sudut mata.
Randy mengangguk dan tersenyum. Matanya menatap lekat Alice yang masih menggengam erat tangannya. Randy mendekat dan dan mengecup pelan kening Alice. Dia hanya ingin memastikan perasaannya memang masih untuk Rika. Lama dia mengecup dan melepaksan ciumannya dengan senyum melebar.
“Maaf, Rika. Aku sudah menemukan hidupku. Aku sudah menemukan wanita yang menjadi alasanku untuk hidup. Selama ini aku mencarinya karena merasa begitu bersalah. Maaf karena selama ini sudah menyembunyikan semua darimu. Aku tetap mencintai dan menyayangimu, sebagai teman yang akan selalu ada,” ucap Randy pelan.
Alice menitikan air mata dengan kepala yang menggeleng beberapa kali. “Tidak, Randy. Aku tidak membiarkanmu untuk pergi. Aku tunanganmu,” ucapnya dengan tangis terisak.
Randy mengelus pelan pipi Alice dan menghapus air mata tersebut dengan ibu jari. “Jangan pernah menangis untuk seorang pria sebrengsek aku, Alice. Kamu bisa mendapatkan yang lebih baik.”
“Tetapi aku mau kamu. Kita sudah bertunangan dan akan menikah. Bahkan kita sudah mempersiapkan semuanya,” ulang Alice mencoba menyadarkan Randy denagn setatusnya.
“Aku akan mengatakan semuanya kepada kedua orang tua kita. Sekarang biarkan aku pergi menemui wanita yang sudah mengandung anakku. Aku begitu mencintainya, Alice. Maafkan aku sudah menyakitimu,” ucap Randy yang langsung melepaskan genggamannya. Dia menatap Alice sekilas dan segera masuk ke dalam mobil.
Bara sudah kembali dan menatap Alice dengan pandangan mengiba. Apa yang bisa dilakukannya ketika kakaknya juga membutuhkan pria yang sama? Bara mengabaikannya dan segera melajukan motor. Diikuti Randy yang ada di belakang.
Alice yang melihat semakin terisak dan tidak mampu mengatakan apa pun. “Randy,” panggilnya pelan ketika mobil hitam tersebut sudah menghilang dari pandangan. Matanya tertutup menyadari perasaan yang ternyata memang sudah bukan lagi untuknya.
Sekarang aku sadar, Randy. Seiring berjalannya waktu, perasanamu juga mulai terkikis oleh zaman. Aku menyesal pernah melepaskanmu. Andai waktu dapat diputar kembali, aku akan menyadari perasaanmu dengan cepat. Maaf karena aku terlambat, batinnya dengan air mata yang terus mengalir.
__ADS_1
_____
Seperti mendapatkan hadiah, sepanjang perjalanan Randy hanya terus tersenyum senang dan tidak pernah luntur sama sekali. Dia benar-benar merasa ada kebebasan yang diraihnya. Hadiah terbesar yang selama ini seakan dinantikannya. Rika hamil. Dia bahkan tidak pernah membayangkan bisa memiliki anak dari wanita yang dulu selalu dihinanya.
Hina? Jika mengingat kembali, dia merasa tidak pantas menjadi pria pertama yang menyentuh wanita tersebut. Namun, dia mengabaikannya dan merasa tidak sabar ingin melihat wajah Rika yang sudah sangat dirindukan. Ya, pada akhirnya dia kembali sadar alasannya mencari Rika selama ini. Bukan hanya karena perasaan bersalah atau hanya ingin meminta penejelasan. Namun, karena dia masih mencintai wanita yang dulu pernah membuatnya merasakan luka.
Randy masih asik dengan pikirannya ketika ponselnya bergetar. Dengan cepat dia langsung mengangkat telfon dan menerima panggilan dari Michael.
“Halo, Ael,” sapa Randy masih fokus dengan jalanan yang mulai terjal. Tangannya masih sibuk dengan kemudi.
“Kamu di mana, Randy?” tanya Micahel dari seberang.
“Aku sedang menjemput calon istri dan anak yang sedang dikandung,” jawabnya dengan wajah yang masih menunjukan kebahagiaannya. Dia yakin, siapa saja yang melihat pasti bisa menebak bahwa dia begitu bahagia.
“Maksudmu?”
“Iya, Rika hamil dan aku akan menjemputnya. Aku sudah bertekad akan menikah dengannya. Bukan karena dia hamil dan aku merasa bersalah, tetapi karena memang aku masih mencintainya,” jelas Randy dengan detail, “dan aku baru menyadarinya setelah dia pergi."
Dari seberang terdengar tawa Michael yang hanya diabaikan olehnya. “Akihirnya kamu sadar juga, Randy. Lalu Alice, bagaimana hubunganmu dengannya?”
Randy menghela napas keras dan senyumnya menghilang. “Dia sudah tahu semuanya, Ael. Aku akan memutuskan pertunangan ini dan hidup bahagia dengan Rika. Bagaimana pun, aku harus mulai menentukan sikap. Aku tidak bisa terlalu larut tanpa memberikan kepastian.”
“Dan pilihanmu jatuh pada Rika?”
“Hm. Aku masih mencintainya,”aku Randy tanpa rasa malu.
“Apa kamu yakin orang tuamu akan menerimanya?” tanya Michael dengan suara was-was. Pasalnya dia tahu dan paham dengan sifat orang tua Randy. Mereka merupakan tipe orang tua yang selalu mencarikan jodoh untuk anaknya dengan memandang bibit, bobot dan bebet.
“Baiklah. Sukses dan aku akan membantumu menyadarkan mereka.”
“Baik. Terima kasih.”
Randy mematikan ponsel tepat ketika Bara menghentikan motor. Randy ikut berhenti dan menatap rumah kecil yang ada di sebelahnya. Jadi, selama ini Rika tinggal di daerah terpencil seperti saat ini? Randy segera keluar dan mendekati Bara yang masih menunggunya.
“Ini rumah yang dibeli Rika. Kamu bisa masuk. Biasanya dia masih di dapur saat jam segini,” jelas Bara.
“Lalu kamu?”
“Aku akan pergi dulu. Aku harap jangan sakiti kakakku lagi. Aku sudah cukup melihatnya terluka. Jadi, kalau sampai kamu mnyakitinya, aku akan membalasmu sepuluh kali lipat,” ancam Bara.
Randy hanya mengangguk dan menatap kepergian Bara. Setelahnya dia langsung masuk dan mencoba mencari di mana keberadaan Rika. Sampai pada akhirnya, dia menatap wanita yang dirindukan tengah memasak di dapur. Namun, tidak lama kemudian, dia melihat Rika seperti akan muntah dan benar saja, wanita tersebut mengeluarkan semua isi perutnya. Randy langsung melangkah cepat dan menekan tengkuk Rika pelan.
“Kelurakan semuanya,” ucapnya dengan wajah khawatir.
_____
“Kelurakan semuanya.”
Rika yang masih mersa mual hanya mengabaikannya saja. Namun, setelah dia merasa baikan, tubuhnya langsung menegak dan sentuhan tangan di tengkuknya langsung mengendur. Dia membalik badan dan menatap pria di hadapannya. Matanya membelalak dengan wajah yang menunjukan ketidakpercayaan.
“Randy,” panggil Rika pelan.
__ADS_1
Randy yang disapa tersenyum dan mengangguk. “Kamu sembunyi di sini? Kamu tahu aku sudah mencarimu ke mana-mana,” ucap Randy dengan nada lembut.
Rika yang mendengar hanya menelan ludahnya gusar. Perasaan yang sudah mati-matian ingin dihilangkah tanpa sadar malah kembali terbuka. Dia melangkah menjauhi Randy dan siap pergi ke kamar, tetapi Randy mencegah. Dia menggenggam pergelangan tangan Rika erat dan memeluknya dari belakang.
“Kamu mau pergi lagi?” tanya Randy dengan suara rendah.
“Lepaskan aku, Randy. Aku tidak mau kalau akhirnya kamu dan Ali...”
“Aku sudah memutuskannya, Rika,” potong Randy dengan mata memejam, “aku memilihmu. Aku ingin hidup denganmu dan anak kita.”
Rika yang mendengar menitikan air mata. Apa semua karena anak yang dikandungnya? Rasanya dia ingin merutuki kebodohan Bara yang memberitahukanya kepada Randy mengenai hal tersebut. Rika melepaskan genggama tanganya dan menatap Randy dengan pandangan mengamati.
“Jaadi kamu sudah tahu aku hamil? Itu sebabnya kamu datang kemari?” tanyanya dengan air mata yang mulai menetes.
“Aku ingin menjemput kalian. Aku ingin kita bisa membangun rumah tangga dan keluarga kecil kita, Rika,” ucap Randy jujur.
Rika yang mendengar hanya tertawa pilu dan menatap Randy dengan pandangan yang mengabur. “Kamu bahkan tidak seharusnya khawatir dan merasa bertanggung jawab, Randy. Dia bahkan bukan anakmu.”
Randy yang mendengar tertawa hambar dan menatap Rika tajam. “Lagi? Kamu mau membohongiku lagi, Rika? Tetapi maaf, aku rasa aku sudah tidak sebodoh dulu. Jadi, apa pun yang terjadi, aku akan tetap membawamu kembali ke rumah.”
Rika yang mendengar membelalak. Dia langsung berbalik dan siap berlari, tetapi Randy sudah lebih dulu menangkapnya.
“Randy, lepas,” teriak Rika yang mencoba melepaskan pelukan Randy.
Randy mengabaikanya dan segera menggendong Rika. “Maaf, Rika. Aku harus memaksamu atau kamu akan sulit untuk diatur. Kita akan pulang dan menikah. Kita akan merawat bayi itu bersama.”
“Randy, aku tid....” Rika menghentikan ucapannya dan memegang kepalanya pelan. Dia merasa begitu pusing yang kembalu nenyerang secara tiba-tiba.
Randy yang melihat langsung menatap khawatir. “Rika, kamu kenapa?”
Rika tidak menjawab dan memejamkan mata. Dia berharap akan merasa lebih baik nantinya. Randy yang melihat hanya diam dan memasukan wanita tersebut ke dalam mobil. Setelahnya, dia ikut masuk.
Randy menatap Rika yang masih memejamkan mata dan memasangkan sabuk pengaman. Sebelum dia menjaukan tubuh, Randy mengecup pelan puncak kepala Rika dan tersenyum.
“Tidurlah, aku akan membangunkanmu setelah sampai rumah,” ucapnya tidak dihiraukan oleh Rika yang sibuk meredakan sakit kepala yang masih menyerang.
Aku akan menjagamu, Rika. Maaf karena selama ini aku meninggalkamu, batin Randy sesekali menatap Rika yang masih memejamkan mata.
Di sudut lain, Bara sudah tersenyum menatap mobil Randy yang sudah pergi. Kamu berhak bahagia, Kak. Semoga setelah ini Randy akan benar-benar menjagamu, pinta Bara dengan senyum tulus.
_____
🍁🍁🍁🍁🍁
Hallo, selamat membaca. Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke favorit, vote dan follow Kim ya.
Jangan lupa juga baca cerita baru Kim, ya. Judulnya "Wedding with my lecturer". Ditunggu like dan commentnya sayang. Jangan lupa juga tambahkan ke favorit dan vote.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya sayang 😚😚😚
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1