
Michael masih sibuk memandang Vinda yang merajuk di hadapannya. Bibir tipisnya dimanyunkan sebagai tanda kekesalannya pagi ini. Dia bahkan belum memakan apa pun sejak pagi karena kesal dengan tingkah Michael yang membatasi semua kegiatannya. Dia dilarang memasak, membersihkan kamar dan jalan terlalu jauh. Padahal, Michael tahu bahwa diriya merupakan tipe manusia yang tidak bisa diam sedikit pun. Tetapi, suaminya tetap saja melarang.
“Masih ngambek nih?” tanya Michael sembari mencubit pelan pipis istrinya.
Vinda hanya diam dengan mata yang enggan menatap Michael. Dia masih kesal karena bahkan untuk bimbingan tesis, dosennya yang datang ke rumah. Siapa lagi pelakunya kalau bukan pria yang asyik menggodana saat ini.
Michael sengaja memberikan batasan untuk Vinda karena mendengar nasihat dari Randy yang menyuruh Vinda untuk mengurangi pekerjaannya. Namun, setelah dibiarkan, istrinya tetap melakukan kegiatan seperti biasa. Membersihkan kamar, memasak dan bahkan tidak jarang dia menggantikan tugas menyapu halaman yang biasa dilakukan asisten rumah tangganya. Vinda terasa bebal dengan semua larangan Michael kepadanya.
“Hei, kalau nanti marah terus jadi jelek loh,” goda Michael sembari menekan telunjuknya di pipi Vinda.
Vinda merasa risih menghela napas kasar dan menatap Michael dengan tatapan mematikan. “Bisa diam gak? Gak usah buat orang marah-marah terus,” ucapnya ketus.
Michael yang mendengar malah tertawa kecil dan bangkit, mutar kursi yang dipakai Vinda untuk duduk saat ini dan kembali duduk. Matanya menatap Vinda yang masih tetap merajuk di depannya.
“Ngambeknya udah dong. Aku gak bisa kamu marahan terus begini,” ucap Michael dengan wajah memohon.
Vinda mengabaikan tatapan Michael dan membuang wajah kesal. Namun, Michael kembali meraih dagu Vinda dan kembali membuatnya saling menatap. Bibirnya tersenyum melihat istri kecilnya masih marah.
“Kamu marah gara-gara aku melarangmu untuk membantu tugas rumah dan pergi ke kampus?” tanya Michael memastikan.
Vinda yang sejak tadi diam berdecih kesal dan menatap suaminya. “Iyalah. Aku juga punya kegiatan lain, Baby. Aku juga mau ke kampus dan bertemu dengan teman-temanku. Aku juga mau memasak untuk kamu,” keluh Vinda dengan mata menajam.
Michael menangkup pipi Vinda dan mulai mengecup kedua mata istrinya secara bergantian. Dia memandang Vinda yang masih menatap dengan kening berkerut bingung.
“Hey, sayang. Aku hanya tidak mau kamu melakukan hal kasar hanya untuk membuatku bahagia. Jujur, masakanmu enak banget. Tetapi, aku mau kamu istirahat dan mulai memikirkan diri sendiri serta anak kita. Kamu tidak bisa memaksakan diri untuk menjadi sempurna. Karena apa pun yang kamu lakukan adalah hal sempurna di mataku. Kamu tahu itu?” ucap Michael dengan wajah lembut.
Vinda yang mendegar sebenarnya tersentuh, tetapi dia mengabaikannya dan hendak protes, tetapi Michael lebih dulu membungkam ucapannya dengan bibir. Hanya sekejap dan bahkan benar-benar begitu lembut. Tidak ada nafsu yan tersimpan di dalamnya. Vinda menatap Michael dengan pandangan diam.
“Aku akan izinin kamu memasak setelah anak kita lahir. Aku hanya ingin menjaga kalian berdua. Jadi, jangan buat semua terasa sulit, sayang,” ucap Micahel dengan tatapan memelas. Dia benar-benar tidak bisa jika melihat Vinda marah kepadanya.
Vinda yang mendngar langsung mengangguk lemah. “Maaf, aku main marah gitu aja. Aku cuma mau menjadi istri yang baik,” cicitnya dengan suara pelan.
“Jadi istri baik itu gak harus menyiapkan segalanya, baby. Menurut juga hal yang bisa dikategorikan sebagai istri baik,” tambah Michael dengan senyum manis.
Vinda hanya mengangguk paham dan memeluk Michael erat. Dia merasa bersalah karena sejak pagi sudah mendiamkan suaminya. Padahal apa yang dilakukan Michael memang hanya untuk kebaikan dirinya.
Michael yang melihat sifat manja istrinya sudah kembali langsung tersenyum dan memeluk Vinda erat. Sampai sebuah deheman mengagetkan mereka berdua.
“Sepertinya kita datang hanya jadi pengganggu ini, Ma,” ucap Adelardo yang sudah melangkah mendekati meja makan, tempat di mana mereka tengah berpelukan mesra.
Vinda yang melihat kedua mertuanya datang langsung melepaskan pelukan dan bangkit. Senyumnya langsung muncul melihat kedua orang tua yang juga begitu menyayanginya.
“Mama, Papa, udah dari tadi?” tanya Vinda sembari menyalami Adelardo dan Tasya.
“Cukup lama untuk melihat drama kemesraan kalian,” jawab Tasya yang sudah menatap dengan senyum menggoda.
Michael yang sejak tadi masih duduk dan menatap kedua orang tuanya langsung berdecih kesal dan bangkit. Dia merangkul Vinda yang sudah berdiri dengan wajah malu dan kepala menunduk, mencoba menyembunyikan merah di wajahnya.
“Mama sama Papa ngapain ke sini?” tanya Michael sinis.
“Heh, kamu gak suka kami ke sini?” Tasya malah balik bertanya dengan tatapan mengancam.
__ADS_1
Michael berdecih kesal karena mamanya selalu berpikir dengan asumsinya sendiri. “Ma, Ael hanya bertanya. Apa salah?”
“Sudah-sudah,” potong Adelardo sadar jika dibiarkan akan terjadi pertengakarn tanpa henti diantara istri dan anaknya. Adelardo menatap Michael yang langsung diam dengan wajah serius. “Michael, ada hal yang harus papa katakan,” ucap Adelardo dengan wajah serius, membuat Michae yang langsung memandang dengan wajah tidak kalah serius.
“Apa ada hal penting, Pa?” tanya Michael dengan wajah was-was.
“Kita sudah melakukan kesalahan dengan membuang Rensi, Ael. Papa baru mendapatkan kabar mengenai siapa ayah dari anak yang Rensi kandung dari Adam,” ucap Adelardo dengan mata menatap tajam.
“Maksud Papa? Memangnya siapa ayah dari anak yang dikandung Rensi, Pa?” tanya Michael penasaran. Bahkan, Vinda yang ada di antara mereka berdua juga merasakan ketegangan yang sama. Vinda mengeratkan genggamannya pada lengan Ael.
Adelardo menatap Michael dan menghela napas keras. “Sam.”
“Michael!” teriak seseorang bersamaan dengan Adelardo yang menyebutkan nama sang pelaku.
“Michael, keluar!” teriak Sam di gerbang depan dengan kemarahan menggila.
Vinda yang mendengar langsung mengeratkan pelukannya. Michael tahu apa yang dirasakan istrinya kali ini. Tangannya segera melepaskan pelukannya dan menatap Vinda penuh keyakinan.
“Sayang, kamu ke kamar sama Mama, ya. Jangan lupa kunci pintu dan jendela,” ucap Michael sembari menatap mamanya memberi tanda.
Tasya yang mengerti segera datang dan mengelus pelan Vinda. “Kali ini mama mohon, jangan ikut campur dengan masalah Ael. Biarkan suamimu menyelesaikannya seorang diri.”
“Tetapi, Ma....” Vinda menggantung ucapannya dan menatap Michael lekat.
“Percaya sama aku, sayang,” ucap Michael lembut, “itu hanya Sam dan kami tahu bagaimana cara menanganinya. Dia adalah orang kepercayaan Papa dan aku yakin, dia tidak akan pernah macam-macam.”
Vinda awalnya ragu. Namun, setelah dirasa Michael memang bisa diandalkan, Vinda memilih untuk menurut dan mengikuti langkah Tasya yang membawa ke kamar. Sesekali matanya menatap Michael yang sudah melangkah menuju gerbang depan, ditemani dengan papanya.
_____
“Michael!” teriak Sam dengan emosi menggebu.
Sejak dari rumah dan sampai di depan rumah Michael, emosinya tidak surut sama sekali. pikirannya saat ini hanya mencari keberadaaan Rensi yang tidak diketahui. Dia harus memastikan bahwa anaknya dalam kondisi baik-baik saja.
“Michael! Keluar kamu!” teriaknya dengan suara melengking karena tidak juga mendapatkan tanggapan dari sang pemilik rumah.
Sam baru akan memukul keras gerbang di depannya. Namun, seseorang yang berada di belakan membukanya, membuat Sam mengurungkan niatnya. Roy yang sudah melihat Sam hanya berdiri diam dengan wajah datar.
Sam yang melihat langsung membuang ludah dengan wajah meremehkan. “Di mana atasanmu? Di mana tuanmu sampai kamu yang hanya seorang bawahan yang menyapaku?” tanya Sam meremehkan Michael.
“Tuan Michael sedang ada tamu. Anda bisa menunggu jika ingin bertemu dengannya, Sam,” jawab Roy dengan wajah tanpa ekspresi.
Sam berdecih kesal dan menatap tajam ke arah Roy. “Panggil dia atau aku akan....
“Ada apa, Sam?”
Suara dari dalam membuat Sam mengalihkan pandangan dan menatap dua orang pria yang dikenalnya tengah melangkah dengan wajah tenang. Sam mengabaikan Roy dan segera melangkah masuk.
“Apa kabar, Sam? Lama tidak melihatmu,” sapa Adelardo dengan suara tenang.
“Baik, Tuan. Tetapi maaf saya membuat keributan. Ini semua kar....”
__ADS_1
“Aku tahu,” potong Adelardo dengan wajah mengamati.
Sam yang mendengar mengangguk dan menatap Michael masih dengan pandangan tidak suka. Bagaimana pun, jika ada hal yang terjadi kepada keduanya, dia akan meminta pertanggung jawaban dari Michael.
“Aku tahu apa yang ingin kamu katakan. Tetapi, bisa amu dinginkan terlebih dahulu kepalamu, Sam? Aku tidak mau ada keributan di rumah anakku,” tegur Adelardo yang melihat Sam masih menahan amarah.
Sam menghela napas berulang kali dan mengangguk. Setelah dirasa sudah membaik, Michael dan Adelardo membawa Sam untuk duduk dengan santai di ruang tamu. Bagaimana pun marahnya seorang Sam, Adelardo akan mampu mendiamkannya karena rasa hormat yang berlebih kepada Adelardo membuat Sam mampu diatur.
“Katakan apa tujuanmu ke mari, Sam? Selain mencari Rensi tentunya,” ucap Adelardo dengan wajah tenang dengan garis ketegasan abadi.
Sam melirik ke arah Michael dengan tatapan tajam. “Aku ingin meminta pertanggung jawaban dari Michael, Tuan. Aku ingin meminta penjelasan kenapa dia mengusir Rensi ketika wanita itu hamil,” jawab Sam dengan jemari yang sudah digenggam erat.
Michael menghela napas pelan dan menatap Sam. “Maaf, Sam. Aku tidak tahu jika itu adalah anakmu,” kata Michael dengan suara rendah. Kali ini dia bahkan mau meminta maaf untuk hal yang menurutnya benar. Dia tidak mau jika nanti Sam mengamuk dan menjadikan Vinda sebagai sasarannya.
“Dia menjadikanku sasarannya dan terus mengganggu Vinda. Aku tidak tahan dan langsung saja mengusirnya. Aku mau mengaku sebagai ayah dari anaknya hanya untuk mengambil sampel untuk dites DNA. Aku benar-benar tidak tahu jika kamu adalah ayahnya,” tambah Michael dengan wajah penuh penyesalan.
Sam yang mendengar menghela napas kasar dan mengacak wajahnya resah. “Aku sudah mencarinya ke mana-mana dan ternyata dia adalah saudara istrimu. Aku benar-benar pusing mencarinya, Michael.”
Michael hanya diam dan tidak menanggapi ucapan Sam. Kali ini dia hanya ingin menjauhkan Sam dari istrinya. Seberapa baik seseorang, jika sudah menyangkut mengenai keluarga kecilnya, pasti akan berbeda sifat. Dia tahu bagaimana sifat tidak berperasaan seorang Sam yang bahkan tega menghabisi orang dalam sekali tebas. Dia tidak mau Vinda dan anaknya menjadi sasaran. Itu sebabnya dia memilih untuk mengalah.
Sam menatap Michael dengan pandanga yang sulit diartikan. “Lalu, di mana sekarang Rensi berada?” tanya Sam dengan mata menajam.
“Roy akan mengantarmu. Tetapi, saat kamu akan membawanya pulang, pastikan dia tidak akan mengganggu Vinda. Istriku sudah jauh lebih menderita karena ulahnya, Sam,” pinta Michael dengan wajah penuh permohonan.
Sam yang mendengar mengangguk. “Aku pastikan dia akan menjadi wanita baik setelah ini,” janjinya dan langsung melangkah keluar
Roy yang memang sudah ditugaskan langsung menuruti perintah dan mengantar Sam keluar dari rumah untuk menemui Rensi. Sedangkan Michael, dia hanya diam dan berharap apa yang dikatakan Sam adalah benar.
Adelardo yang sejak tadi hanya menjadi penonton segera melangkah mendekati Michael dan menepuk pundak anaknya pelan, membuat Michael yang sejak tadi diam kembali menatap ke arahnya.
“Terkadang kita memang perlu menjadi seorang yang tampak lemah hanya untuk memecahkan batu, Ael. Jadi, Papa harap mulai kendalikan emosimu dan jangan lakukan hal yang membuatmu merasa sulit. Sekarang kamu hidup dengan Vinda dan calon ana kalian. Jadi pikirkan dampak yang akan mereka terima juga nantinya,” ucap Adelardo memberikan petuah.
Michael yang mendengar mengangguk. Ya, sekarang dia memang hidup dengan Vinda dan anak yang masih dikandung istrinya. Senyumnya mengukir sempurna menatap papanya. “Terima kasih, Pa,” ucapnya dengan senyum sumrigah.
Adelardo hanya mengangguk dan kembali mengajak Michael masuk. Ada orang yang benar-benar mengkhawatirkannya kali ini. Terbukti ketika dia baru saja naik ke kamar, Vinda langsung memeluknya erat sembari menitikan air mata dengan begitu deras.
“Kamu gak terluka, kan? Aku takut,” ucap Vinda merasa lega karena Michael datang dalam keadaan baik-baik saja.
Michael yang mendengar tersenyum dan membalas pelukan Vinda erat. “Aku baik-baik saja, sayang.”
Tuhan, terima kasih telah menghadirkan wanita ini dalam hidupku, ucap Michael dengan penuh kebahagiaan.
_____
🍁🍁🍁🍁🍁
Loha semua kesayangan Kim. Part kali ini terasa gaje banget ya? Maaf ya. Ini dikarenakan suara riuh yang buat gak konsen. 😢😢😢 (padahal semua part gaje😄😄)
Selamat membaca sayang-sayangkuh. Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke favorit, vote dan follow Kim.
Jangan lupa juga baca cerita Kim yang berjudul "Wedding with my lecturer". Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke favorit, vote. Sampai ketemu lagi sayang. 😚😚😚
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁