Wedding Drama

Wedding Drama
Bagian 59_Kebenaran


__ADS_3

Michael baru saja menerima amplop mengenai Rensi dari Roy. Dia sudah mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari siapa ayah dari anak yang dikandung Rensi kali ini. Selain itu, dia juga menerima informasi tes DNA yang dilakukan di rumah sakit Randy tanpa sepengetahuan Rensi. Dia melakukannya ketika bayi yang dikandung sudah mencapai usia sebelas minggu. Dengan segala teknologi yang ada, hasilnya kini sudah keluar dan memang bukan dia ayah dari yang dikandung Rensi kali ini. Setidaknya itu akan menjadi bukti nyata ketika Rensi masih bersikeras bahwa dialah ayah dari anak yang dikandung saat ini.


Aku bahkan tidak pernah menyentuh wanita selain Vinda, bagimana bisa dia mengandung anakku, gerutu Michael dengan wajah datar dan tatapan mematikan. Dia akan menghukum Rensi dan memberikan pelajaran kepada keduanya dengan cara yang tidak pernah dibayangkan.


“Sayang,” panggil Michael dengan suara lantang dan menaiki tangga menuju kamar. Tangannya membuka pelan dan tersenyum, berharap Vinda tengah duduk dan menantikan kedatangannya di ranjang mereka. Namun, yang dilihat hanya kekosongan karena istrinya tidak ada.


Micahel mengerutkan kening bingung dan menatap sekitar. Kakinya mulai melangkah masuk dan mencari keberadaan Vinda yang tidak ada di kamarnya.


“Sayang,” panggil Micahel lagi dan langsung membuka kamar mandi. Di sana dia tidak menemukan Vinda sama sekali.


Michael baru akan melangkah keluar ketika netranya menangkap sebuah map di meja rias, padahal dia tidak pernah menaruh map apa pun ke dalam kamar mereka. Dengan rasa penasaran yang menggebu, Michael melangkah dengan kaki melebar. Rasanya dia benar-benar ingin tahu map apa yang diletakan di sana.


Setelah sampai, dia langsung mengambil dan membukanya. Matanya membelalak melihat kertas yang terdapat tanda tanganya. Namun, matanya menatap bagian Vinda yang masih belum tersentuh sama sekali. Tanpa sadar dia *** erat dan rahangnya semakin mengeras.


“Rensi, kamu akan benar-benar menyesal telah membuat masalah denganku,” geram Michael dan langsung membanting map tersebut. Dia baru akan keluar, tetapi matanya menatap sebuah tulisan yang ditempelkan di kaca besar di meja rias.


Buka laci dan aku harap kamu menentukan pilihanmu, sayang. Apa pun nantinya, aku akan menerimanya.


Sebuah pesan singkat dari Vinda yang ditinggalkan. Dengan cepat Michael membuka laci yang dimaksud dan mendapati sebuah kota kecil di dalamnya. Tangannya langsung membuka dan menatap benda yang ada di dalam.


“Vinda hamil?” tanyanya dengan mata yang sudah berbinar. Bahkan air matanya sudah hampir jatuh dan langsung disekanya. Jemarinya megang dengan begitu bahagia.


Helaan napasnya terasa begitu lega dan mendekapnya erat. “Cukup, aku bermain dengan kesalahan Rensi. Hari ini aku akan menuntaskan semuanya. Aku akan membuat Rensi menyesal telah menyakitimu selama ini,” gumam Michael dengan mata menatap tajam. Setelahnya dia langsung keluar dan mengikuti intruski yang ditinggalkan Vinda.


Aku menunggumu di ingatan masa lalu.


_____


Seorang anak kecil berambut panjang dengan kuncir kuda tengah bermain masak-masakan di sebuah taman tidak jauh dari rumahnya. Danau kecil yang terletak di sana membuatnya merasa begitu tenang. Hidup yang terasa hanya seorang diri membuat seorang Vinda kecil hanya selalu bermain tanpa teman. Di bagian ujung ada sebuah pohon kecil yang tampak begitu lebat dan membentuk hutan kecil. Jika di film kartun, itu adalah tempat seorang peri, tetapi di sini bukan. Itu adalah tempat bersembunyi paling aman bagi Vinda.


“Hai,” sapa seorang anak laki-laki yang jauh lebih besar darinya. “Kamu apa kabar?”


Vinda yang mendengar langsung mendongak dan menatap anak laki-laki tersebut dengan pandangan bingung. Dia langsung bangkit dan menatap Michael lekat. “Kamu bukannya kakak yang kemarin dikejar orang, kan?” Itu adalah kali kedua Vinda bertemu dengan Michael. Dia pernah bertemu sebelumnya di tempat yang sama dan dia menyembunyikan Michael di tempat persempunyiannya, menghindari mama tiri yang saat itu sedang mencarinya.


Michael kecil mengangguk dengan senyum polos. “Iya. Kakak ke sini mau bilang terima kasih sudah menyelamatkanku kemarin.”


“Aku tidak pernah menyelamatkan Kakak. Aku hanya tidak ingin nanti mama tiri aku memarahi Kakak karena makinan sama aku,” jelas Vinda dengan suara polos.


Michael yang mendengar hanya tersenyum dan mengangguk. “Iya, tidak masalah,” jawabnya dan menatap mainan Vinda yang masih berserakan, “kamu main sendiri?”


Vinda mengangguk dan menunduk sedih. “Semuanya takut mainan sama aku karena mama akan memarahi mereka. Aku jadi tidak punya teman,” keluh Vinda yang siap menitikan air mata.


Michael yang mendengar hanya terseyum menyadari kenyataan pahit yang diterima gadis kecil di depannya. Dia langsung berjongkok dan menatap Vinda dari bawah dengan kepala mendongak. “Bagaimana kalau kamu main sama aku?”


Vinda yang mendengar langsung mendongak dengan tatapan berbinar. “Benarkah? Kakak mau mainan sama aku?”


Michael mengangguk antusias. Dia menatap wajah Vidna lekat dan mencoba mematrinya dalam ingatan dan hatinya. Malaikat kecil yang sudah menyelamatkannya.


“Tetapi nanti Kakak dimarah sama mama aku,” keluh Vinda mulai takut. Dia menatap tidak tega ke arah Michael yang masih tampak santai.


“Tenang saja. Kakak sudah besar. Jadi kalau mama kamu marahin aku, nanti aku balik marahin diam,” jawab Michael menenangkan dan ternyata berhasil. Wajah bahagia Vinda langsung terbit begitu saja.


Sejak saat itu, Vinda selalu bermain dengan Michael dan menghabiskan waktunya bersama. Namun, setelahnya dia menunggu kedatangan Michael di taman yang sama, anak tersebut tidak juga datang. Membuat Vinda akhirnya menyerah. Dia kehilangan teman yang selalu ada di sisinya.


“Dan setelah kamu datang, aku harus melepaskanmu kembali,” ucap Vinda dengan air mata berlinang. Matanya menatap tempat di mana kenangan masa lalunya ada. Berbagai ingatan muncul membuatnya semakin merasa begitu sesak. Apa dia akan rela melepaskan Micahel hanya untuk kesalahan yang dia sendiri tidak yakin dilakukan oleh Michael?


“Kamu di sini rupanya.”


_____

__ADS_1


Michael sudah melaju ke tempat yang dimaksud dengan kecepatan di atas rata-rata. Dalam benak pikirannya adalah membeberkan semua bukti yang sudah didapatkannya dan menendang Rensi dari kota tersebut. Dia ingin Vinda juga merasakan bahagia. Dia ingin membalaskan semua rasa sakit yang diderita Vinda selama ini.


Tidak begitu lama dia sudah sampai dan dengan cepat dia keluar dari mobil. Matanya menangkap Vinda yang berdiri di dekat danau kecil di mana dirinya pernah bermain dengan istri kecilnya tersebut dan membuat senyumnya langsung terukir.


Michael menghela napas lega melihat Vinda yang terasa tetap mempercayainya meski beberapa kali istrinya itu meminta untuk berpisah. Namun, dengan Vinda memberikan lokasi di mana dia pergi, Michael merasa tidak sepenuhnya Vinda merasa kecewa dengannya.


“Kamu di sini rupanya,” ucap Michael yang sudah melangkah ke arah Vinda dan menatap lekat.


Vinda yang mendengar dan berbalik menatapnya dan ada air mata yang tersisa di pelupuk matanya. Michael yang menatapnya juga semakin khawatir dan mendekat. Dia tahu, jika wanita lain mungkin akan diam dan tidak mengatakan kebenarannya. Namun, Vinda tidak mau bertindak bodoh dengan menyembunyikan kebenaran.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Michael dan memeluk Vinda yang hanya diam tidak membalas.


“Ada yang sakit?” tanya Michael dengan tangan mengelus pelan rambut Vinda.


Vinda yang ditanya langsung mengangguk dan melepaskan pelukannya. Matanya menatap Michael dengan pandangan meneliti. Jika pria di hadapannya benar akan menceraikannya, dia berharap mampu menyimpan wajahnya dalam ingatan sampai kapan pun.


Vinda menatap Michael dan melihat map yang sama yang dibeirkan Rensi kepadanya sudah berada di tangan suaminya. Tanpa sadar air matanya semakin mengalir dan itu membuat Michael gelagapan.


“Hei, kenapa?” tanyanya dengan wajah panik.


Bukannya menjawab, Vinda malah memeluknya dengan erat. “Biarkan begini sejenak, sebelum akhirnya kamu menikah dengan Rensi, Michael.”


“Apa?” ujar Michael kaget dan langsung melepas paksa pelukan Vinda. Dia menatap mata Vinda yang sudah tampak sembab akibat terlalu sering menangis. “Siapa yang bilang aku akan menikah dengannya, sayang?”


“Rensi,” jawab Vinda dengan wajah polos.


“Memangnya dia bilang apa, hm?” Michael menundukan tubuhnya dan menatap Vinda dengan pandangan lembut dan penuh kasih sayang.


“Katanya kamu akan menikahi dia dan dia juga memberikan surat yang kamu tanda tangani,” adu Vinda seperti seorang anak kepada ayahnya.


“Terus kamu percaya?”


“Sayang, sampai kapan pun tidak akan pernah ada yang namanya perpisahan diantara kita berdua. Kamu harus ingat itu semua dengan baik.”


“Tetapi Rensi....”


“Dia hanya membual, sayang. Aku tidak akan pernah berpisah dengan istri dan anakku sampai kapan pun,” jelas Michael dan langsung memeluk Vinda erat.


“Tetapi aku tidak ingin berbagi, Micahel,” ucap Vinda kesal karena sifat egois seorang Micahel masih saja sama.


“Tidak akan ada yang memintamu untuk berbagi, sayang. Aku masih tetapi milik kamu seutuhnya. Sama seperti dulu.”


“Lalu Rensi?” tanya Vinda yang mendongakan kepala menatap Michael penuh harap, “dia mengadung anakmu.”


Michael menggeleng dan mengelus pelan pipi istrinya. “Dia bukan mengadung anakku, Vinda. Dia mengandung anak pria lain.”


“Terus kenapa kamu mengakuinya?” tanya Vidna yang langsung menjauhkan badannya. Dia bahkan sudah tidak merasakah marah atau kecewa seperti beberapa menit yang lalu. Entah apa yang terjadi padanya, tetapi mood-nya membaik setelah Michael datang.


“Aku hanya ingin memberikannya pelajaran, sayang. Dia harus berhenti mengganggu kita. Itu sebabnya aku mengakui itu adalah anakku. Setidaknya aku akan memiliki alasan untuk mengusir atau bahkan membalasnya,” jelas Michael detail, “aku tidak bisa membalas seseorang yang bahkan tidak memiliki masalah denganku, sayang.”


Vinda yang mendnegar hanya diam dan memeluk erat Michael. “Tetaplah menjadi suamiku sampai kapan pun.”


“Tentu,” jawab Michael dengan tawa kecil dan mendekap istrinya erat. Rasanya dia lega karena memiliki Vinda yang begitu mempercayainya.


_____


Suasana ramai di toko kue membuat Rika begitu kewalahan. Dalam sehari, kue yang dihasilkan langsung ludes setiap pukul lima sore. Meski masih ada pelanggan yang mencari, dia enggan membuatkannya kembali karena dia juga ingin beristirahat. Seperti hari ini, Rika benar-benar kewalahan. Untung masih ada Bara yang membantunya. Ya, adiknya itu memilih untuk mengambil cuti kuliah selama satu semester. Alasannya untuk membantu Rika mengelola toko kue agar lebih maju.


“Kak, kamu sakit?” tanya Bara dengan wajah cemas karena wajah Rika yang tampak begitu pucat.

__ADS_1


Rika menggeleng dan tersenyum. Tangannya masih sibuk mengolah terigu menjadi makanan yang siap dijual. “Aku hanya merasa lelah saja. Nanti juga kalau selesai dan istirahat akan baikan,” jawab Rika santai. Sudah hampir dua bulan dia sering sekali merasakan mual dan juga pusing. Namun, Rika mengabaikannya begitu saja.


“Kalau sakit gak usah dipaksa, ditinggal saja, ya,” ujar Bara dengan wajah semakin cemas. Kakaknya juga tampak begitu kurus dan tidak terawat.


“Gak usah, kayak apa aja. Aku baik-baik saja, kok,” celetuk Rika yang masih tersenyum dengan begitu tulus. Dia enggan membuat Bara menjadi repot sendiri hanya karena badannya. Rika memilih mengabaikan rasa mual dan pusing yang semakin membuatnya merasa tidak enak badan.


“Udahlah, di tutup aja tokonya. Lagian cuma tinggal sedikit, kan?” ujar Bara dan langsung menutup toko. Rika yang melihat hanya menghela napas kasar melihat kelakuan adiknya.


“Ini masih sedikit, loh. Kenapa kamu tutup?” protes Rika dengan pandangan tidak suka.


“Karena aku gak mau kamu sakit, terus maksain diri buat jualan. Uang kita masih cukup kok untuk makan hari ini,” ucap Bara dengan wajah kesal.


Rika baru akan memprotes ucpan Bara, tetapi perutnya semakin bergejolak. Dia langsung bangkit dan segera menuju ke kamar mandi, mengeluarkan seisi perut yang langsung melunucur dengan sendirinya. Bara yang melihat langsung menyusul dan menepuk pelan leher Rika sampai kakaknya merasa baikan.


“Sudah baikan?” tanya Bara.


Rika mengangguk. “Lumayan.”


“Lebih baik kita ke dokter aja, Kak. Kamu harus segera berobat biar cepat sembuh.”


Rika yang awalnya menolak dan mengatakan tidak mau akhirnya memilih untuk menurut dan pergi ke klinik bersama dengan Bara. Hanya butuh waktu lima menit hingga dia sampai di sebuah klinik kecil yang tampak begitu sepi.


Setelah turun, Bara segera mendaftar dan langsung membawa kakaknya masuk. Rika hanya pasrah ketika seorang dokter wanita yang masih begitu muda tengah memeriksanya. Lalu, senyumnya langsung terpacar begitu saja menatap Rika yang hanya diam dengan wajah bingung.


“Dok, Kakak saya kenapa, dok?” tanya Bara dengan rasa cemas yang menggebu. Dia takut jika kakaknya mengalami sakit keras atau sebagainya.


Dokter tersebut langsung menatap Bara dan tersenyum. “Tenanglah, Kakak kamu tidak apa-apa. Dia hanya terlalu banyak bekerja dan kurang istirahat. Lagi pula, muntah dan pusing biasanya dialami oleh ibu hamil di bulan-bulan pertamanya.”


“Apa?” ucap Bara dengan mata melebar dan menatap tidak percaya. Hal yang sama terjadi pada Rika yang masih berbaring. Tanpa sadar dia mulai mengelus perutnya yang masih rata.


“Dokter yakin? Tetapi Kakak saya tid....”


Ucapan Bara terpotong ketika sebuah tangan menyentuhnya dengan lembut. Rika memberikan isyarat kepada Bara agar dia diam dan tidak mengatakan apa pun.


“Ada apa?” tanya dokter muda tersebut dengan tatapan bingung karena pria di hadapannya langsung diam.


Rika yang mendengar langsung tersenyum dan menggeleng. “Tidak apa-apa, doketr. Adik saya hanya shock karena akan memiliki ponakan pertamanya.”


Dokter tersebut mengangguk dan langsung memberikan resep kepada Rika. Bara yang menerima langsung membeli di apotik klinik. Setelah selesai, dia menatap Rika yang hanya diam dengan senyum sumringah.


“Jelaskan apa maksudnya ini, Kak,” tanya Bara sudah tidak sabar ingin mengetahui kebenarannya. Yang dia tahu, kakaknya adalah wanita baik dan tidak akan pernah melakukan hal konyol seperti saat ini.


“Apa yang perlu dijelaskan, Bara?” Rika malah balik bertanya dan menatap Bara santai. Dia tidak ingin menangis atau meratapi nasibnya yang hamil tanpa pernikahan, meski hatinya hancur. Namun, dia harus mengingat bahwa saat ini ada janin yang tinggal di rahimnya dan harus mendapatkan ketenangan agar tetap sehat.


Bara mengusap wajahnya gusar dan menatap Rika dengan emosi yang siap meletup. “Siapa ayah dari anak yang kamu kandung, Kak?” tanyanya lebih jelas.


Mendengar itu Rika langsung diam. Dia hanya mengelus perutnya pelan dan menatap Bara dengan tatapan tajam. “Siapa ayahnya itu sudah tidak penting, Bara. Sekarang aku hanya akan fokus untuk kesehatan anakku. Aku ingin dia lahir dengan sehat dan akan menemaniku. Aku yang akan merawatnya.”


Bara yang mendegar hanya tersenyum kecut dan diam. Jika jawaban kakaknya seperti itu, sepertinya dia tahu siapa pelaku yang harus bertanggung jawab untuk semuanya. Randy.


_____


🍁🍁🍁🍁🍁


Selamat membaca. Jangan lupa like, comment, tambah ke favorit, vote dan follow Kim ya. Sampai ketemu di chapter selanjutnya.


Jangan lupa baca cerita Kim yang lain ya. Judulnya ‘Wedding with my lecturer’. Jangan lupa juga tinggalkan like, comment, tambah ke favorit. Jangan sampai ketinggalan kisan Eiren dan Elio sayang-sayangku.😚😚😚


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2