
Alice menatap punggung Randy yang mulai menghilang. Kini, perasaannya sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya. Padahal tidak ada yang dilakukan sama sekali. Menyadari bahwa pria yang dicintainya telah mendapatkan kebahagiaan, hatinya tiba-tiba menghangat. Awalnya dia takut jika setelah kejadian ini, dia tidak akan memiliki teman sama sekali karena sejak kecil, dia hanya memiliki Randy dan Michael. Dia bukan tipe yang mudah bergaul. Meski dia memiliki banyak orang yang dekat, itu semua karena perbuatan Michael dan Randy yang perlahan mampu mengubahnya.
Helaan napas terdengar. Alice menyandarkan tubuhnya dan tersenyum manis. “Aku senang karena pada akhirnya, kita masih tetap berteman.”
Alice hendak bangkit dan meninggalkan cafe, tetapi suara ponsel membuatnya kembali terhenti dan duduk. Tangannya merogoh tas kecil dan mengambil ponsel. Matanya menatap layar menyala dengan tulisan ‘Nenek’ di depannya. Wajah ceria yang sejak tadi ditunjukan perlahan memudar, berubah menjadi kaku dengan sendirinya.
Alice menghela napas keras dan mengangkat panggilan tersebut dengan perasaan berdebar. “Halo, Nek,” ucap Alice dengan perasaan tak enak.
“Alice, kamu gagal bertunangan dengan Randy? Apa kamu itu memang tidak berguna sama sekali, hah?” suara wanita di seberang membuat Alice diam seketika.
“Maaf, Nek. Tetapi Ran...”
“Halah. Kamu itu emang gak ada gunanya. Menyesal saya membanggakan kamu,” potongnya dengan suara sinis, “kamu emang gak guna. Lemah.”
Alice hanya menghela napas perlahan dan menatap layar yang mulai meredup. Rencananya untuk keluar diurungkan. Dia jauh lebih memilih menidurkan kepala di meja cafe dan memejamkan mata.
“Kenapa dari dulu Nenek gak pernah suka sama Alice,” ucapnya lirih. Hatinya merasakan sakit karena seakan tidak diterima di keluarga papanya.
“Alice.”
Alice yang tengah memejamkan mata langsung mendongak dan menatap Vera yang ada di depannya. Tanpa menunggu aba-aba, Vera langsung duduk dan tersenyum begitu bahagia, seakan hidupnya tidak ada masalah. Sedangkan Alice, batinnya sudah mendesah kesal. Keputusannya untuk keluar hari ini adalah hal terburuk yang dipilih.
“Kamu ngapain sendirian di sini?” tanya Vera dengan mata menatap meja Alice yang masih ada sisa makanan Randy. “Kamu sama teman?”
Alice yang melihat hanya tersenyum canggung dan mengangguk. “Iya, Tante,” jawabnya jujur. Bukankah Randy adalah temannya?
“Terus, di mana teman kamu sekarang?” tanya Vera lagi dengan menatap sekeliling.
“Sudah pulang. Tante ngapain di sini?” Alice balik bertanya.
Vera tersenyum dan melambaikan tangan kepada pelayan. Setelahnya dia menyuruh untuk merapikan meja. Setelah selesai, matanya menatap Alice dengan senyum yang masih melekat.
“Sebenarnya tante gak berniat buat nemuin kamu sekarang sih, Alice. Tante tau kamu masih merasakan sakit hati dengan Randy. Tetapi, karena kita sudah bertemu, tante ingin bertanya sesuatu sama kamu. Boleh?”
Alice yang mendengar merasa heran. Sejak kapan Vera membutuhkan izinnya untuk bertanya. Namun, kepalanya mengangguk meski hatinya berontak untuk menolak. Dia merasa apa yang akan dikatakan Vera adalah hal yang tidak seharusnya didengar.
“Kenapa kamu seakan tidak peduli dengan pertunangan ini. Apa sebenarnya kamu tidak serius dengan perjodohan ini?” tanya Vera dengan suara tajam, meski tatapannya masih lembut.
Alice tersenyum sekilas dan menatap Vera. “Tante, Alice serius menerima perjodohan ini. Alice pikir Randy masih menyimpan perasaan suka untuk Alice. Tetapi, ternyata salah. Randy sudah memiliki wanita lain yang dicintainya.”
“Kalau kamu serius, seharusnya kamu tidak melepaskannya begitu saja, Alice. Usahamu untuk mencegah itu memang kurang,” ujar Vera kesal dengan sifat Alice yang terkesan lembek.
Alice yang mendengar hanya menunduk sekejap dan kembali mengangkat wajah, menapilkan senyum tipis yang menandakan lukanya. “Tante tahu, Alice gak berhak buat memaksakan kehendak Randy. Dia memiliki kehidupan dan jalan pilihannya sendiri.”
“Kamu punya hak untuk mencegah dia dari pada cewek yang gak jelas itu. Kamu tunangannya,” sahut Vera terbawa emosi.
Alice yang mendengar hanya terkekeh kecil dan bangkit dari duduknya. “Tante salah. Rika jauh lebih berhak mendapatkan Randy dari pada Alice. Dia masih mengandung anak Randy, cucu tante. Rika jauh lebih membutuhkan dampingan ayah dari anaknya.”
“Tetapi, kalian bisa mengurus anak itu nantinya. Karena sampai kapan pun tante tidak akan pernah merestui mereka untuk menikah,” jawab Vera enteng.
Alice berdecih pelan dan menghela napas. “Tante mau memisahkan anak dari ibunya? Apa yang tante pikirkan? Tante seperti bukan seorang wanita,” jawab Alice dengan wajah tidak percaya, “Alice masih memiliki hati untuk tidak melakukan saran dari Tante. Dan satu lagi, Tante. Akan jauh lebih baik jika tante mulai menerima Rika karena bagaimana pun sekarang dia adalah menantu tante yang sudah sah di mata hukum dan agama.”
“Kamu mulai berani mengajariku, Alice?” desis Vera dengan mata menajam.
“Alice hanya mengatakan apa yang Alice rasakan, Tante,” jawab Alice santai.
Vera tersenyum meremehkan dan mentap Alice dengan pandangan rendah. “Kamu tahu, Alice. Sekarang aku tahu alasan Margaret tidak pernah menyukaimu. Kamu terlalu lemah dan bodoh.”
Alice hanya mengumbar senyum tanpa memasukan perkataan Vera yang mulai menusuk hatinya. “Membenci atau menyukai, itu urusan mereka, Tante. Aku hanya melakukan apa yang ada di hatiku. Aku tidak mau menjadi boneka yang hanya menuruti tuannya,” ujar Alice santai. “Kalau begitu, Alice permisi. Mungkin Tante dan Nenek harus belajar cara menghargai kebahagiaan dan keputusan orang lain.”
Alice segera melangkah meninggalkan cafe. Dia masuk ke dalam mobil dan diam sejenak. Air matanya mengalir begitu saja.
__ADS_1
Kamu tahu, Alice. Sekarang aku tahu alasan Margaret tidak pernah menyukaimu. Kamu terlalu lemah dan bodoh.
Ucapan Vera terngiang dalam benaknya. Kembali, rasa lelah dan perih merayap dalam hatinya. Mama, Papa, Alice rindu, ucapnya lirih.
_____
Rika menatap apartemen Randy yang sudah tampak begitu bersih. Sejak datang sampai suaminya pergi, dia merasa bosan dan akhirnya memilih untuk mengganti letak barang-barang di ruangan Randy. Pikirannya masih terpusat pada Randy yang memang sudah meminta izin untuk menemui Alice.
“Apa hubungan mereka akan baik-baik saja?” tanyanya dengan perasaan cemas.
Rika menghela napas keras ketika pikirannya semakin berkecambuk. Ada perasaan yang tidak enak yang kembali menyapa. Dia baru saja akan mengambil ponsel dan mengubungi suaminya untuk menanyakan bagaimana hasilnya. Namun, suara bel di depan apartemen membuatnya menghentikan niat awal.
Siapa yang bertamu? Rika melangkah mendekati pintu dan membukanya. Dia bahkan tidak melihat siapa yang datang terlebih dahulu. Namun, ketika matanya menatap tamu yang datang, wajah lelahnya menguap dan berganti dengan senyuman.
“Vinda,” ucap Rika dengan senyum mengembang.
“Hai, Rika. Apa kabar?” sapa Vinda dengan senyum sumringah.
“Kamu tahu aku di sini?” tanya Rika tidak percaya.
Vinda mengangguk dan menunjukan belanjaannya. “Kamu tidak mau mengizinku masuk? Aku membawa banyak belanjaan hari ini.”
Rika yang baru sadar langsung mempersilahkan masuk. Vinda langsung menuju ke arah dapur dan meletakan beberapa bahan makanan ke dalam lemari es. Rika hanya duduk dan menatap wanita yang saat ini sibuk di dapur.
“Kamu ngapain bawa belanjaan banyak banget? Kalau Tuan Michael tahu, dia bisa marah besar,” ujar Rika masih takut dengan sosok Michael.
“Kata Michael kamu sama Randy baru pindahan. Jadi, aku tahu kalian pasti belum membeli bahan makanan. Itu sebabnya aku datang. Terus ingat, jangan sampai Michael tahu aku membawa barang belanjaan sendirian. Aku hanya meminta izin untuk menjengukmu,” saut Vinda dengan semangat dan mengerlingkan sebelah mata.
Rika yang mendengar hanya mengangguk pasrah. Dia tahu kenapa alasan Michael begitu takut kehilangan Vinda. Karena wanita di hadapannya memliki jiwa yang begitu tulus dan melakukan semuanya dengan hati. Rasanya dia bahagia pernah mengenal seorang Vinda dalam hidup.
“Vinda, terima kasih,” kata Rika dengan wajah sumringah.
“Semuanya,” jawab Rika dengan semangat.
Vinda yang mendengar hanya mengangguk. Selanjutnya, mereka asik degan obrolan tanpa arah antara keduanya. Vinda yang selalu mampu memulai lebih dulu mampu membuat seorang Rika yang biasanya diam menjadi banyak berbicara. Sampai sebuah bel kembali berbunyi. Rika akhirnya memutuskan untuk membuka terlebih dahulu.
Rika yang melihat tersenyum memandang pemuda di hadapannya. Wajahnya semakin bersinar menunjukan kebahagiaan.
“Bara,” panggil Rika yang ternyata bersamaan dengan Randy yang juga ada di lorong apartemen.
_____
“Kamu baru datang, ke mana aja?” tanya Rika yang sudah meletakan minuman di meja. Matanya menatap Bara yang hanya tersenyum menatapnya. “Kamu ngapain bawa koper segala?” Rika menatap koper yang dibawa Bara.
Bara hanya tersenyum melihat kakaknya. “Kakak bisa gak, jangan terlalu cerewet. Nanti Kak Randy bisa kabur kalau kamu tetap begitu.”
Rika yang mendengar hanya mendengus kesal dan memanyunkan bibir. Randy yang ada di antara mereka berdua hanya tertawa kecil melihat kelakuan istri dan adik iparnya. Matanya menatap Bara yang masih tetap menggoda istrinya meski berulang kali Rika memberikan pukulan pelan.
“Bara,” panggil Randy dengan mata menatapnya lekat, “kamu mau tingal bersama kami?” tanya Randy yang membuat Rika langsung menatap antusias.
Bara yang mendengar tersenyum senang. “Bara mau banget, Kak. Tetapi, tujuanku datang hari ini, cuma mau berpamitan sama Kak Rika dan Kak Randy. Hari ini aku akan kembali ke Jepang dan melanjutkan kuliah.”
Rika yang mendengar langsung menatap lekat. “Secepat ini? Kenapa gak bilang dari kemarin?” tanyanya dengan wajah kesal.
“Maaf, Kak. Aku gak mau ganggu kalian,” jawabnya dengan memerkan deretan gigi rata dan bersihnya.
Rika berdecih kesal dan bersedekap dengan tubuh yang disandarkan. Matanya menatap Bara dengan pandangan tajam, membuat adiknya salah tingkah. Randy tahu istrinya tengah merajuk langsung merangkulnya dari samping, membuat Rika menghela napas keras dan mendekapnya.
“Kenapa buru-buru? Kamu bisa di sini dulu,” ucap Randy santai.
“Aku harus kembali cepat,” ujar Bara dan menatap Rika yang masih merajuk dengan senyum manisnya. “Dan kamu, Kak. Aku akan kembali lagi. Jadi, jangan merajuk tidak guna seperti itu. Kamu terlihat jelek,” goda Bara membuat Randy tertawa tertahan.
__ADS_1
“Bara,” protes Rika dengan wajah yang masih bersungut kesal.
“Dan satu lagi, Kakak gak perlu kirimin uang ke Bara karena Bara gak akan menggunakannya.”
“Kalau gitu aku yang akan mengirimimu uang. Kamu butuh uang di sana. Beasiswamu tidak akan cukup, Bara,” celetuk Randy tegas.
Bara menggeleng. “Gak perlu. Kak Randy cukup bahagiakan kakakku dan itu semua cukup. Aku begitu menyayanginya. Dia adalah satu-satunya keluargaku yang masih tersisa. Aku tidak mau melihatnya merasakan sakit lagi,” jawabnya menatap Rika yang sudah memandangnya dengan air mata menggenang, “jadi, bisa kamu berjanji tidak akan meninggalkannya? Jangan buat dia menangis lagi. Dia adalah wanita yang berharga dalam hidupku. Dia Kakak sekaligus orang tua bagiku.”
Randy yang mendengar merasa terharu dan mengangguk. “Tentu. Aku akan membahagiakannya.”
Bara menghela napas lega. Rika menatap adiknya penuh kebahagiaan. Matanya mengamati wajah adiknya lekat. “Jangan jutek-jutek sama cewek, ya. Biar kamu cepat dapat pasangan,” celetuk Rika dengan tawa meledek. Dia menghapus air matanya pelan dan menghela napas keras. Meski Bara selalu bersikap hangat kepadanya, bukan berarti dia akan melakukan hal yang sama kepada orang lain.
Tuhan, buat Bara melupakan apa yang sudah Mama lakukan kepada kami. Aku ingin dia bahagia dan mendapatkan wanita yang mencintainya, pinta Rika tidak mau melihat adiknya terus-terusan menjauhi wanita yang ingin dekat dengannya.
_____
Vera menggeram dengan amarah menggebu. Berulang kali dia membuang barang yang ada di sekitarnya dan membuang entah ke mana. Hatinya terasa begitu sulit untuk menerima apa yang baru saja didegar. Randy menikah dengan Rika dan tidak membutuhkan restunya?
“Sial!” teriaknya dengan amarah menggebu. “Kenapa semua orang membela wanita yag tidak memiliki asal-usul itu? Kenapa?” bentaknya kepada pantulan wajahnya di cermin.
“Aku tidak mau Randy menikah dengan Rika. Aku gak mau memiliki menantu sepertinya. Aku tidak mau dijadikan gunjingan di antara teman-temanku,” ujarnya dengan tangan mengepal.
Vera menghela napas keras. “Alice juga bodoh. Bukannya melarang malah pasrah. Dia memang gak berguna sama sekali.”
Vera diam sejenak dengan mata menatap cermin rias di hadapannya. Jemarinya mengepal dan memanang lurus. “Rika, kamu benar-benar seperti hama dalam keluargaku,” desisnya dengan mata menggelap.
Vera memejamkan mata sejenak dan membukanya perlahan.
Tetapi dia sudah mengandung anak Randy, Ma.
Tetapi dia sudah mengandung anak dari Randy yang berarti dia tengah mengandung cucumu.
Kamu tetap saja tidak berubah, Vera. Ini yang membuatku dulu berniat mengajukan gugatan cerai. Karena kamu masih saja bersikap membedakan dan menilai seseorang dari hartanya.
Tante salah. Rika jauh lebih berhak mendapatkan Randy dari pada Alice. Dia masih mengandung anak Randy, cucu tante. Rika jauh lebih membutuhkan dampingan ayah dari anaknya.
Vera menatap tampilan dirinya dengan mata menajam. Senyumnya langsung terukir dan menatap ke depan cermin dengan tatapan membunuh. Tangannya bahkan sudah memegang botol kecil berisi minyak wangi dan memainkan di depan wajah.
“Semua orang membelamu, Rika? Semua orang yang dekat denganku bahkan mengatakan aku gila dan tidak berperasaan. Jadi, mau aku tunjukan bagaimana rasanya tidak berperasaan?” ucapnya seorang diri.
Veran menarik tas santainya dan melangkah dengan menyunggingkan senyum termanis, tetapi mematikan.
Aku lelah menghadapi sifat kamu yang seperti ini. Jika kamu tidak mau menerimanya sebagai menantu, biar aku saja yang menerima. Kamu tidak perlu ikut dan menyaksikan mereka menikah. Lagi pula aku rasa Randy tidak butuh seorang Mama yang tidak memikirkan kebahagiaannya anaknya.
Ucapan Stev kembali terngiang dalam otaknya. Dia tersenyum penuh keyakinan.
“Kita lihat, Stev. Apa mama yang tidak berperasaan ini akan benar-benar tidak berperasaan?” ucapnya tajam, “Rika, aku akan menunjukan seperti apa seorang mama yang ingin merebut anaknya. Kita mulai hari ini,” lanjutnya menyerupai desisan.
_____
🍁🍁🍁🍁🍁
Loha semua kesayangan Kim.Maaf ya kemarin Kim gak update karena ada urusan mendadak.
Selamat membaca. Jangan lupa tinggalkan jejak like, comment, tbah ke favorit, vote dan follow Kim.
Jangan lupa juga baca cerita Kim yang baru. Judulnya "Wedding with my Lecturer". Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke favorit dan vote.
See you next chapter sayang-sayangkuh 😚😚😚
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1