
Rensi hanya diam dan menundukan kepala. Sejak pulang ke rumah, mamanya sudah memakinya habis-habisan. Kini, dia harus mendapatkan tatapan tajam dari papanya yang sudah duduk di depannya. Kali ini dia merasa, tak ada satu keluarga pun yang menyayanginya. Bahkan Mama kandung yang telah melahirkannya.
Rensi meneguk salivanya susah payah dan masih menunduk. Dia pernah sekali melihat papanya mengamuk dan itu masih terngiang jelas di kepalanya. Dia merasa takut setiap kali Beni memandangnya tajam. Namun, sejak saat dia berpindah ke rumah paman yang beralih menjadi papa, dia merasa begitu bahagia karena dia selalu dimanja. Rensi bahkan tidak segan-segan merebut Beni dari tangan Vinda dan itu selalu dituruti. Dari situ Rensi mulai merasa bahwa hanya dia yang pantas bahagia. Vinda sudah sering merasakan bahagia, sedangkan dia tidak pernah. Papa kandungnya bahkan sudah membuangnya dan tak menghiraukan keadaannya.
“Dari mana kamu, Rensi?” tanya Beni dengan suara dingin.
Ini adalah pertama kalinya untuk Rensi mendengarkan suara dingin papanya. Biasanya pria di hadapannya selalu tersenyum, bersikap ramah dan juga merupakan sosok pria yang hangat. Namun, sekarang semua terasa musnah dan itu semua hanya karena Vinda. Mengingat namanya saja sudah membuat Rensi mengepalkan tangan menahan amarah.
“Apa kamu mulai bisu, Rensi?” tanya Beni sekali lagi. Matanya masih menatap Rensi dengan wajah dingin dan rahang mengeras. Dia tidak menyangka, gadis yang dibesarkannya sudah menjadi pembunuh.
Rensi menghela napas panjang dan mulai mendongak. Matanya bertemu langsung dengan mata dingin Beni yang masih memperhatikannya. “Dari rumah Dave, Pa,” jawab Rensi dengan ketakutan yang melanda.
“Jadi selama ini, ini yang kamu lakukan di belakang Papa, Rensi?” tanya Beni lagi dengan suara yang semakin dingin.
Rensi hanya menunduk dan menutup mulutnya rapat. Memannya apa yang salah? Dia hanya ingin menyingkirkan Vinda agar tidak menjadi penghalang untuk kebahagiaannya. Vinda sudah terlalu sering merasakan bahagia. Jadi inilah saatnya semua berganti dan Vinda merasakan lukanya.
“Kamu hampir saja membunuh saudaramu, hah?” ucap Beni dengan wajah kecewa. Dia benar-benar kecewa dengan apa yang baru saja terjadi pada anaknya.
“Dia bukan saudaraku, Pa,” jawab Rensi dengan nada tegas dan menatap Beni lekat. Dia memang takut dengan kemarahan papanya, tetapi dia jauh lebih benci mendengar seseorang menyebut Vinda adalah saudaranya. Dia benar-benar tidak sudi.
“Apa yang baru saja kamu bilang, Rensi?” Beni menatap Rensi dengan tatapan datar dan pandangan yang sulit diartikan.
“Dia bukan saudaraku. Vinda bukan sudaraku karena dia bukan anak Papa atau anak tante. Dia tidak memiliki darah keturunan kalian semua,” jelas Rensi dengan suara datar.
Beni yang mendengar memejamkan mata dan menarik napas. Selanjutnya dia menghela keras dan membuka kembali matanya. Dia menatap Rensi yang masih menandangnya dengan wajah lesu dan tak bersemangat.
“Apa pun kenyataannya, bagi Papa Vinda adalah anak Papa. Sampai kapan pun,” tegas Beni tidak mau dibantah.
Rensi yang mendengar semakin terluka. Sebesar itukah cinta Beni untuk Vinda? Bahkan selama ini dia merasa kasih sayang yang diberikan tidak lebih besar dari yang diberikan papanya kepada Vinda. Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat dan membuat senyum miris.
“Benar-benar lucu ya, Pa,” kata Rensi dengan air mata yang hendak menetes melewati pipinya, “anak yang bahkan tidak jelas asal usulnya bisa mendapatkan kasih sayang yang begitu besar dari seorang. Sedangkan aku, aku bahkan tidak mendapat kasih sayangnya sama sekali. Apa perlu aku menjadi seorang anak dari rahim tidak jelas agar bisa menjadi seperti Vinda?”
“Rensi!” bentak Beni tidak suka. Matanya semakin menggelap menatap Rensi yang menatapnya penuh luka. Nani yang ada di sana hanya diam dan memperingatkan anaknya yang masih menatap Beni dan siap beradu argumen. Namun, tatapannya tidak dihiraukan sama sekali karena Rensi tidak juga melakukan apa yang dikatakannya melalui isyarat mata.
“Apa, Pa? Apa?” teriak Rensi menahan kesal, “Rensi cuma bilang kenyataannya aja. Memangnya salah?”
“Kamu sudah keterlaluan, Rensi,” desis Beni yang sudah tidak bisa menghadapi Rensi dengan cara halus.
“Di mana letak keterlaluannya, Pa? Papa bahkan rela melukai keponakan yang sudah menjadi anak Papa hanya untuk membela seorang anak yang tidak jelas lahir dari wanita mana.” Rensi menggeram kesal karena Beni masih membela Vinda dan tak menunjukan kepeduliannya sama sekali.
Beni menggeram marah. Awalnya dia hanya ingin membahas mengenai perbuatan Rensi hari ini. Namun, semua berubah karena gadis di hadapannya malah membahas hal lain yang memancing emosi. Sebenarnya dari dulu hingga sekarang, Vinda adalah anaknya dan akan selalu begitu. Dia tidak peduli dari rahim siapa anaknya lahir.
“Papa tidak ingin membahas hal ini, Rensi,” ucap Beni mengalihkan pembicaraan. Jika dia terus membahas masalah asal-usul Vinda, Beni tidak yakin akan bisa menahan emosinya agar tidak membentak Rensi lebih kasar.
“Rensi tahu. Papa ingin membahas perbuatan Rensi yang hendak membunuh Vinda, kan?” jawab Rensi dengan senyum tanpa dosanya, “tetapi sayangnya dia tidak mati, Pa. Dan aku merasa sedih.”
“Kamu keterlaluan, Rensi,” desisi Beni merasa bahwa Rensi sudah benar-benar tidak wajar. Bahkan, tidak ada tampang bersalah sama sekali yang ditunjukan Rensi setelah mengatakannya.
“Vinda yang keterlaluan, Pa. Dia merebut semua yang Rensi miliki. Dia merebut Dave dan Micahel secara bersamaan. Dia serakah,” sahut Rensi dengan amarah menggebu.
“Kamu yang meninggalkannya.”
“Tetapi dia yang tak ingin melepaskan,” kata Rensi dengan penekan dan menatap Beni tajam, “dan aku akan merebut apa yang seharusnya menjadi milikku. Apa pun caranya.” Rensi memilih mengakhiri pertengkarannya dengan Beni dan keluar dari rumah. Dia bahkan mengabaikan teriakan Beni yang melarangnya keluar. Rasanya panas mendengar papanya membicarakan dan membela Vinda dengan begitu dalam. Hatinya merasa sakit dan nyeri secara bersamaan.
_____
__ADS_1
Silauan matahari membuat Vinda yang tengah asik memejamkan mata menjadi benar-benar terganggu. Tubuhnya menggeliat, tetapi matanya masih tetap menutup. Dia ingin bermalas-malasan hari ini. Tidak ada yang ingin dilakukannya. Namun, dia merasa ada sesuatu yang menempel di pinggangnya. Dengan perasaan malas, Vinda mulai membuka mata dan langsung membelalak kaget. Vinda bahkan sampai menutup mulutnya agar tidak berteriak dan mengganggu seseorang yang tengah memeluknya erat. Seakan dia akan pergi jika pelukannya lepas.
Vinda mendongak dan menatap wajah Michael yang masih tertidur lelap. Wajah dingin yang biasanya ditunjukan kini berubah seperti bayi kecil yang begitu tenang. Tampan. Itulah kalimat pertama yang terbesit di benaknya. Vinda terlalu asik menikmati pahatan yang benar-benar mirip sang dewa di hadapannya dan tak sadar dengan mata hazel yang kini sudah terbuka dan ikut menatapnya.
“Jangan melihatku seperti itu. Ini masih pagi dan aku takut kamu terlalu mengagumiku,” ucap Michael sembari **** senyum.
Vinda yang ditegur langsung salah tingkah. Dia ingin melepaskan pelukan Michael, tetapi tidak diizinkan. Michael malah semakin erat memegang pinggang istrinya dan mendekatkan tubuh mereka. Tangan satunya digunakan untuk mengelus rambut lembut wanitanya dan meletakan di dada bidangnya. Rasanya benar-benar nyaman.
“Michael,” panggil Vinda yang sudah benar-benar gugup setengah mati. Dia takut jika nantinya Michael tahu bahwa detak jantungnya tidak bekerja dengan normal. Apa aku mengidap penyakit jantung?, batin Vinda karena rasanya benar-benar tidak nyaman.
“Hmm,” gumam Michael sembari mengelus lembut rambut Vinda dan mata tertutup kembali.
“Bisa lepaskan pelukannya? Aku ingin ke kamar mandi,” ucap Vinda lembut.
“Kamu mau ngapain?” tanya Michael tanpa menatap Vinda.
"Ini sudah siang dan aku harus memasakanmu sarapan. Lagi pula, memangnya kamu tidak bekerja?” ujar Vinda sembari mendongak dan menatap wajah Michael yang sudah begitu dekat dengannya.
Mendengar kata bekerja membuat Michael membuka matanya sempurna. Hari ini dia memiliki beberapa rapat dan harus segera menyelesaikannya. Namun, saat matanya bertemu dengan Vinda, dia tidak yakin untuk meninggalkan wanitanya di rumah. Meski penjagaan sudah begitu ketat, dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Dave nantinya karena dia masih berkeliaran. Di sini Michael mulai mengutuk papanya yang mencegahnya untuk memasukan Dave ke jeruji besi.
“Ael, kamu tidak bekerja?” tanya Vinda lagi karena dia yakin, Micahel bukan seorang yang bisa bersantai di rumah dan meninggalkan tugasnya.
“Kamu sudah baikan?” Micahel malah balik bertanya.
Vinda langsung mengangguk dan tersenyum. Dia memang sudah merasa baikan. Hanya sedikit lecet dan luka di kepalanya tidak terlalu dalam. Jadi, dia memang sudah sembuh sejak dia berada di rumah dan meminum obat yang diberikan Randy kepadanya.
“Bagus,” ucap Michael yang langsung melepaskan pelukannya, “segera mandi dan ganti pakaian. Kamu ikut aku ke kantor.”
“Apa?” Vinda langsung membelalak kaget dan segera bangkit, “aku tidak bisa, Ael,” tolak Vinda dengan mata melembut.
Michael yang tengah bersiap ke kamar mandi langsung menghentikan langkahnya dan menatap Vinda yang masih berada di ranjang dengan tatapan memohon. “Kenapa? Apa alasanmu menolak ajakan ku, Vinda?”
Michael menatap Vinda dengan tatapan tajam. “Dan jangan lupa Vinda, bahwa akulah pemilik kampus di mana kamu mendapatkan beasiswa dan harus menyelesaikan S2. Aku bahkan bisa meluluskanmu sekarang. Jadi, apa masalahnya?”
“Michael, aku tahu itu. Tetapi aku ti....”
“Aku tidak menerima penolakan, Vinda,” potong Michael tegas, “ikut denganku atau kamu tidak berkuliah sama sekali.”
Vinda yang mendengar hanya berdecih kesal. Kenapa Michael yang dikenalnya tidak sama dengan Michael yang saat ini hidup satu atap dengannya? Dengan perasaan kesal, akhirnya Vinda mengangguk. Dia enggan berlama-lama berdebat dengan Micahel karena dia yakin, dia akan kalah dalam hal semacam ini.
“Bagus,” sahut Michael dan segera melangkah menuju kamar mandi. Sedangkan di sisi lain, Vinda masih saja menggerutu dengan ajakan Ael. Dia merasa setibanya dia dari penculikan Dave, Micahel malah semakin bertingkah dan dia merasa aneh.
Jangan memperlakukanku terlalu baik, Ael. Aku tidak mau jika nantinya aku harus terlukan seorang diri. Aku tidak mau jika nanti sulit melupakanmu, batin Vinda sembari menatap pintu kamar mandi yang tertutup.
_____
Dave mengamati ruangan yang saat ini tengah digunakan untuk mengurungnya. Meski dia dikurung dia apartemen, tetap saja dia merasa tidak enak. Bagaimana pun kali ini dia langsung berurusan dengan Adelardo. Apa pria tua itu jauh lebih jahat ketimbang Michael? Atau dia malah lebih bisa berpikir jernih dan tak berniat menyakiti siapa pun? Memikirkannya saja membuat Dave merasa frustasi. Semalaman dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pikirannya berkelana ke mana-mana.
Dave hanya menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tamu dan berharap akan ada yang membukakan pintu dan memberikan kejelasan kepadanya. Apa yang sebenarnya diinginkan Adelardo? Baru saja memikirkan hal tersebut, suara pintu dibuka membuat Dave menengok ke asal. Terlihat seorang pria yang sudah seusia papanya, tetapi ketampanannya jauh berbeda tengah berdiri dan menatapnya dengan wajah datar. Wajahnya tampak begitu tegas dengan tatapan tajam, tetapi masih bersahabat. Berbeda dengan Michael yang memiliki pandangan mematikan.
“Apa tidurmu nyenyak, Dave?” tanya Adelardo yang sudah melangkah masuk. Adam yang berada di belakangnya langsung menutup pintu dan mengikuti langkah Adelardo yang sudah duduk di sofa berhadapan dengan Dave.
“Apa kabar, Dave? Aku harap malammu menyenangkan,” ucap Adelardo dengan nada tidak bersahabat.
“Apa yang anda inginkan? Aku bahkan sudah kehilangan segalanya. Bahkan keluargaku,” desis Dave dengan pandangan tidak suka, “anak anda sudah mengambil semuanya.”
__ADS_1
“Itu sebabnya aku menyuruhmu untuk tidur di apartemenku, Dave,” sahut Adelardo dengan tampang serius, “aku ingin membahas semua yang sudah dilakukan Micahel selama ini.”
“Maksud anda?” tanya Michael bingung. Keningnya sudah mengerut dan menatap bingung.
Adam yang melihat tangan tuannya memberikan kode langsung memberikan berkas yang dibawanya. Adelardo langsung menerima dan meletakannya di meja, menyodorkannya ke arah Dave. “Ini adalah dokumen mengenai rumah utamamu. Aku mengembalikannya. Mengenai perusahaan, aku tidak bisa mengembalikannya karena hanya Michael yang berhak melakukannya,” jelas Adelardo santai.
“Lalu Papa?” tanya Dave penuh harap.
“Untuk urusan papamu, aku tidak bisa membebaskannya. Dia terbukti melakukan penggelapan uang perusahaan dan harus mendapatkan hukuman yang pantas. Ini murni karena kesalahannya, bukan karena ulah Michael,” jawab Adelardo tegas.
Dave yang mendengar hanya menghela napas keras. Dia bingung harus merasakan apa. Apa dia harus bahagia karena rumahnya kembali. Atau dia harus merasa sedih karena pada akhirnya, dia tidak bisa membuat papanya keluar dari jeruji besi.
Adelardo yang merasa sudah selesai dengan urusannya langsung bangkit dan menatap Dave yang masih bingung. “Aku harus pergi. Jika kamu masih ingin di apartemen, silahkan.” Adelardo langsung pergi begitu saja dan meninggalkan Dave yang masih mencoba menelaah semua kejadian yang menimpanya. Apa ini nyata?
_____
Vinda menatap bangunan yang ada di hadapannya dengan mata meneliti. Langkahnya mengikuti Michael yang sudah menggandengnya masuk dan membuat seluruh karyawan menatapnya lekat. Ini pertama kalinya mereka melihat atasannya membawa seorang wanita, terlebih dengan tangan yang menggedeng erat.
Michael tak menghiraukan semuanya dan tetap melangkah dengan Vinda yang sudah menunduk malu. Michael langsung membawa Vinda masuk ke lift dan menekan lantai di mana ruangannya berada.
“Michael, bisa lepaskan?” ucap Vinda ragu. Dia enggan mendapatkan semprotan maut dari pria di sebelahnya.
“Memangnya kenapa?” tanya Michael dengan wajah datar.
“Aku malu dilihat semua karyawanmu,” jawab Vinda jujur. Dia memang malu karena dijadikan objek seisi ruangan. Dia lebih suka tak ada yang mengenalnya sama sekali.
“Jangan hiraukan,” balas Michael tanpa menatap Vinda. Matanya masih asik menatap pintu lift dan menunggu terbuka.
Vinda baru akan menjawab ucapan Michael, tetapi pintu lift sudah terbuka. Akhirnya, dia memilih untuk diam dan mengikuti langkah pria tersebut. Di depan sudah ada Rika yang bangkit dan menunduk hormat karena melihat bosnya datang.
Michael berhenti dan menatap Rika tajam. Vinda menelan ludahnya kasar melihat penampilan suaminya yang ternyata lebih dingin ketika di kantor. Pantas saja semuanya takut, pikir Vinda dalam hati.
“Rika, kamu sudah menyiapkan semua berkas yang akan dibawa ke rapat?” tanya Michael dengan nada dingin.
“Sudah, Bos,” jawab Rika sembari menunduk.
Michael tak menjawab sama sekali dan hendak masuk. Namun, ketika dia sadar ada tangan lain yang digenggamnya. Dia menghentikan kembali langkahnya dan menatap Rika dengan tatapan tajam.
“Hari ini kamu tidak usah ikut ke rapat. Kamu cukup di kantor, Rika,” ucap Michael membuat Rika mendongak dan menatap bosnya dengan tatapan terkejut. Jelas saja terkejut. Bagaimana tidak? Michael selalu mengajaknya rapat ke mana pun karena terkadang dia membutuhkan sesuatu yang harus diambilnya dengan segera.
“Hari ini, temani Vinda selama aku rapat. Jangan keluar kantor atau pergi ke mana pun. Kalian cukup berada di ruanganku,” jelas Michael dan menatap Vinda yang sudah tersenyum menatapnya.
“Tidak masalah, kan?” tanya Michael seolah meminta persetujuan dari Vinda.
Vinda mengangguk. “Tidak masalah.”
Michael yang mendengar merasa lega dan segera membereskan berkas. Meninggalkan Vinda yang hanya bersama dengan Rika di ruangannya hingga Michael menyelesaikan urusannya. Sampai saat itu, Vinda hanya asik bercengkrama dengan Rika dan berbagi cerita.
_____
🍁🍁🍁🍁🍁
Sorry ya updatenya telat. Soalnya di rumah Kim sinyalnya jelek, dari tadi gangguan mulu.😢😢😢
Selamat membaca. Semoga part kali ini gak gaje ya. 😆😆😆
__ADS_1
Jangan lupa like, comment, tambah favorit dan vote Kim ya. Terima kasih sayang-sayangkuh. 😚😚😚😚
🍁🍁🍁🍁🍁